Pagi yang cerah... ah, bicara apa aku.
Hari ini gelap seakan badai akan datang. Angin dingin bulan Februari yang
meniup melalui jendela kamarku itu menusuk ke tulang-tulangku, membuatku
menggigil dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku sedikit kelelahan, dan ada sedikit
benjolan yang muncul di belakang kepalaku setelah pertarungan tadi malam. Meski
begitu, aku sudah memiliki jadwal yang ketat untuk hari ini.
Setelah ini aku akan ke SMP ku lagi dan
mengerjakan pekerjaan untuk Silver Butterfly. Nindy dan Niira akan bersamaku
saat itu, jadi aku tidak khawatir akan menyulitkan, namun tetap saja.
Yang aku ingin lakukan hanyalah tidur,
atau bermain game saat ini.
Kemudian malam ini, aku bersama Silver
Butterfly akan bertemu dengan seseorang yang penting bagi Project Silver
Butterfly. Siapa? Mana aku tahu. Yang aku tahu, setelah pak Revan memukuli para
agen Divisi Khusus itu menjadi abon, banyak hal terjadi setelahnya. Dan dia
akan menjelaskan pada kami apa yang terjadi pada Silver Butterfly setelah itu.
Sungguh, aku tidak masalah jika Silver Butterfly dibubarkan. Namun kurasa itu
hanya impianku saja.
Ya, tentunya tidak akan mungkin semudah
itu, Ferguso.
Aku keluar dari kamarku, dan turun ke
ruang TV. Seperti biasa, ayah sudah menghilang, meninggalkan jejak cangkir
kopinya yang belum dicuci. Dia juga belum mematikan televisinya, namun aku akan
tetap bungkam berhubung dia yang membayar biaya listriknya.
Aku mengeluarkan sebuah telur dari dalam
kulkas, dan membukanya ke dalam mangkuk.
“...dalam sebuah investigasi bersama
Divisi Khusus dan Project Silver Butterfly, pembunuh berantai yang dikenal
sebagai ‘The Sinner’ berhasil tertangkap di Distrik Herma, pada Jumat 11
malam...”
Oh, ini akan menarik. Aku membalik telur
dadarku sembari melihat televisi dan mendengarkan beritanya. Hm, apakah aku
masih memiliki saus?
“...menurut keterangan kepolisian
Distrik Herma, tindakan yang dilakukan oleh Project Silver Butterfly ini
dianggap merusak kasus yang sudah mereka bangun terhadap salah satu tersangka,
Fizel Marko...”
Distrik Herma... ah, maksudnya distrik
enam, ya. Oh, para polisi itu membenci kami, kelihatannya. Kami tidak pernah
terlihat seperti orang baik di mata mereka. Aku bingung apa yang memicu
kebencian dari para kepolisian itu terhadap tindakan kami. Apakah itu karena
kami adalah penyihir? Atau karena latar belakang keluarga Niira? Aku rasa aku
tidak akan tahu jawabannya. Namun aku memiliki sejumlah kecurigaan. Dan ‘mereka
terlibat dalam masalah WesternSpy’ adalah hal terakhir yang ada di pikiranku.
Aku mulai sedikit memahami teknik
pencarian Findle Search setelah aku menjelajah internet semalam, dan aku
menggunakan itu untuk mencari informasi mengenai sihir. Ya, aku selama ini
tidak begitu peduli dengan teori dan sejarah mengenai sihir, selama aku tidak
membutuhkan informasi itu; namun melihat hal-hal yang belakangan ini sudah
terjadi, aku merasa aku harus melakukannya. Dan yang aku temukan dari pencarian
tersebut ada cukup banyak.
Pertama, ada banyak orang yang membenci
sihir—bahkan di tahap sampai mereka akan menyerang siapapun yang menggunakan
sihir di depan mata mereka. Aku sudah tahu soal ini sejak lama, namun
kelihatannya mereka masih melakukannya walau hanya dalam skala kecil.
Kedua, teori sihir memang benar
diperlukan – sebagian. Memang sihir didasarkan dari imajinasi dan kekuatan dari
tubuh, dan memanipulasi elemen yang ada di sekitar penggunanya; setidaknya
bagian itu masih sama. Namun ada sejumlah hal yang bisa dipelajari olehku.
Seperti bagaimana cara menggunakan sihir elemen pikiran untuk memperkuat diriku
secara sementara. Atau apa yang sebenarnya Niira berikan padaku saat bertarung
dengan kakek tua si peminjam ilegal. Ya, itu adalah sebuah awakening stone,
kurang lebih. Dan hanya Niira yang bisa membuatnya.
Ketiga, mengenai artefak. Setelah Niira
mengenali tachi milikku secara tiba-tiba,
aku merasa aku perlu menyelidiki lebih banyak hal mengenai artefak milikku ini.
Artefak benar-benar memiliki konsep yang aneh. Sistem sihirnya berbeda dengan
teori sihir yang aku ketahui – imajinasi, kemampuan sihir, kemampuan hati.
Namun lebih menjadi ritual, pelafalan sihir, dan semacam level pengetahuan.
Kenapa artefak bisa memiliki sistem yang berbeda dengan sihir biasa? Saat aku
menanyakan ini kepada Niira, dia hanya berkata,
“Ya, aneh kan? Kenapa artefak butuh
pelafalan sihir sedangkan kemampuan sihir nggak? Ditambah ada sistem leveling yang nggak ada di sihir biasa.
Tapi sistem artefak itu lebih balanced dari
sistem sihir kita, sih...”
Sungguh, gadis itu mengingatkanku pada karakter-karakter NPC yang bisa membaca masa depan atau dari dunia lain, lalu merespon ke pemain dengan ucapan-ucapan yang sangat samar.
Namun karena aku menelusuri internet
semalaman, itu menjadi satu dari dua alasan kenapa aku belum tidur sama sekali.
Ah, kopiku sudah jadi. Aku menuangkan sedikit susu ke dalam kopiku dan mulai
mengaduknya.
“...jadi
apakah Silver Butterfly, klub SMA yang berada di bawah Divisi Khusus ini,
sebuah tim pembantu, atau tim pengganggu? Kami tersambung kepala direktur
Divisi Khusus, Bapak Marv Alimann.”
Wah, keluar karakter SSR yang super langka.
Marv Alimann. Orang ini adalah sebuah misteri, tidak ada yang tahu kapan dia
memimpin, atau bagaimana, atau latar belakangnya. Kurasa itu adalah hal yang
normal mengingat Divisi Khusus adalah perangkat intelijen rahasia, mirip
seperti badan intelijen namun untuk kasus abnormal dan paranormal. Rambutnya
yang botak mengkilap dan otot lehernya yang terlihat seperti kekar itu
membuatnya terlihat seperti piala. Dan masih ada beberapa memar di wajahnya...
eh?
“Bapak Marv. Silver Butterfly ini berada
di bawah naungan Divisi Khusus. Apa sebenarnya yang dituju dari Divisi Khusus
untuk Silver Butterfly kali ini?”
Ponselku berdering, dan itu adalah pesan
grup obrolan kami yang langsung ramai. Kelihatannya mereka semua
menyadarinya... kecuali Niira. Dia tidak muncul dalam pesan obrolan. Mungkin
dia belum melihat ponselnya dan belum melihat beritanya.
Alicia: “Guys, kita masuk televisi”
Zakiel: “Ya, aku melihatnya”
Yuvi: “Untung ga ada wajah kita hehe ^^”
Rika: “Maak aku masuk tivi OwO”
Alicia: “AYAH MUKULIN DIREKTUR DIVISI
KHUSUS!?”
Yuvi: “Kamu fokus ke sana, ya -_-“
Aku mendengarkan percakapan antara
pembawa berita itu dengan si botak memar itu, sebelum merespon pada mereka.
Ruma: “Jadi dugaan ayahmu benar,
Alicia.”
Ruma: “Silver Butterfly memang jadi
senjata mereka.”
Grup obrolan itu hening dalam sesaat.
Ah, aku baru saja merusak mood mereka pagi ini. Aku mengangkat telurku dari
penggorengan, dan meletakkannya pada sebuah piring kosong. Ah, aku lapar. Aku
benar-benar butuh energiku sekarang. Hari ini akan menjadi hari Sabtu yang
menyebalkan, namun apa boleh buat. Aku membawa piring dan kopiku ke meja makan,
dan menarik sebuah kursi untuk duduk sembari menonton berita.
Meski Silver Butterfly dianggap sebagai
senjata oleh para Divisi Khusus sialan itu, aku ingin menantang mereka
melakukannya, setelah pak Revan memukuli direktur mereka dan akan mengawasi
secara langsung permintaan yang diajukan dari Divisi Khusus.
Selain itu, pak Revan tadi malam bilang
pada kami untuk mengubah nama Silver Butterfly Investigation Club menjadi
Silver Butterfly Helper Club... atau Silver Butterfly Assistant Club? Request
Club?—Entahlah, itu urusan Yuvi—lalu mengubah sistem klub kami untuk
menyesuaikan aktivitas klub kami sebagai ‘permintaan’.
Sistemnya jadi begini: Seseorang meminta
tolong pada Silver Butterfly secara formal atau informal, dan anggota Silver
Butterfly akan memilah yang mana yang mau mereka kerjakan. Ya, termasuk
permintaan dari Divisi Khusus. Barulah anggota yang mengambil pekerjaan itu
pergi dan melakukan apapun yang ada di permintaan itu. Setelah semuanya
selesai, Silver Butterfly akan membuat laporan. Orang mengirim permintaan,
permintaan dipilih, anggota berangkat ke orang itu, anggota pulang dan membuat
laporan.
Dan karena kami bisa mengabaikan
permintaan dari Divisi Khusus, yang Divisi Khusus miliki sekarang adalah
senjata macet di tengah peperangan. Aku ingin melihat wajah mereka ketika kami
tidak datang dalam peperangan yang mereka buat.
Lalu, anggota Silver Butterfly bertambah
satu. Dia berperan sebagai Headquarters kami,
yang bertugas untuk mencari informasi agar Alicia bisa fokus dalam pekerjaannya
sendiri. Namun aku harus mengawasinya dengan mikroskop agar dia tidak
menghilang dan mencari informasi terlalu jauh lagi.
Ya, Nindy bergabung dengan Silver Butterfly.
Kelihatannya keanggotaan Silver Butterfly tidak memiliki batasan apapun. Kita
bahkan boleh mengundang anak SD atau bayi baru lahir, jika kami mau. Mungkin
itu supaya kita bisa memasukkan anggota Divisi Khusus ke dalam Silver
Butterfly, jadi agak ironis ketika kita abusing
peraturan yang dibuat oleh Divisi Khusus untuk mengekang kita.
“...tunggu sebentar, saya mendapat
informasi terbaru. Pertempuran sihir di Revore yang sudah berlangsung selama
berhari-hari terlihat terhenti tanpa alasan. Reporter kami Manila berada di
lokasi menggunakan helikopter—Halo, Manila?”
Adegan di layar berganti pada seseorang
yang menggunakan headphone besar dan memegang mik di dalam interior helikopter.
Serius, mukanya sangat generik aku bingung bagaimana mendeskripsikan wajahnya.
“Terima kasih—Pertempuran sihir yang
berlangsung selama berhari-hari di jalan Malaka tiba-tiba terhenti begitu
saja,”
Adegan di layar kini berganti menjadi
sorotan deretan perumahan yang sudah babak belur, dengan jalan yang
berlubang-lubang, rumah yang berlubang-lubang, jasad yang tergeletak
dimana-mana. Puluhan orang terlihat mengintip dari rumah-rumah itu dari
berbagai sisi, melihat kepada seorang gadis berambut pirang panjang sepunggung
dengan gaun pendek berwarna putih sedang berjalan di antara mereka... tunggu,
siapa itu?
“pertempuran ini tiba-tiba terhenti
sepuluh menit lalu ketika anggota dari mafia tiba-tiba berhenti menembakkan
sihir mereka kepada geng Equinox. Dan ketika seorang gadis tiba-tiba melewati
jalan Malaka, geng Equinox juga ikut menghentikan serangan mereka juga...”
Gadis itu berjalan, kadang ia melambai
ke sejumlah orang dari sisi mafia, dan mafia itu membalas lambaiannya. Kamera
masih mengunci pada gadis itu ketika gadis itu berhenti dan melihat ke arah
sisi geng Equinox.
Geng Equinox itu hanya diam dan terpana
di tempatnya, tak mampu bergerak. Tidak ada yang berani menyerang gadis itu.
Malah, para geng itu melangkah mundur dari tempat mereka bersembunyi, bahkan
mereka berteleportasi ke entah berantah. Sejumlah orang mengambil motor mereka
yang masih bertahan dan pergi menjauh. Para mafia juga melakukan hal yang sama,
dan berteleportasi. Gadis itu melanjutkan perjalanannya, namun tiba-tiba
menghilang seakan ia tidak pernah berada di sana.
Aku entah bagaimana lupa kalau Niira
adalah anak dari bos mafia. Jelas semua orang takut bos mafia itu ikut turun
tangan dan menghancurkan gengnya. Fakta bahwa mafia Rieko berhenti menembak
paling awal berarti mereka tahu kalau Niira akan datang. Dan ketika geng
Equinox berhenti menembak ketika Niira terlihat oleh mereka, berarti mereka
tahu bahayanya menyerang Niira. Itu, atau mereka terpana oleh Niira. Harta,
tahta, wanita. Laki-laki memang sederhana, ya.
Itu, atau sebenarnya Niira memiliki kemampuan
untuk menghancurkan geng Equinox dalam sekali serang. Hanya itu alasan yang
bisa menjelaskan kenapa mereka kabur.
“...Oke, terima kasih, Manila.
Selanjutnya, laporan cuaca dan wawancara dengan kepala Divisi Khusus setelah
yang satu ini. Sedikit spoiler: Hari
ini akan dingin.”
Ah, akan dingin ya hari ini. Sialan, di
tempatku melakukan pekerjaanku ini, akan ada penghangat ruangan tidak ya? Aku
hanya bisa memikirkan itu di kepalaku ketika sebuah ketukan pintu mengembalikan
pikiranku.
*
“Oke, semuanya! Ini adalah zona
pertarungan kalian! Lupakan semua beban yang ada di hati kalian, kita nggak
punya banyak waktu untuk beban! Sekarang, terjunlah ke sana. Buktikan padaku
kalau kalian nggak membuang waktuku.”
Aku mondar-mandir di hadapan mereka yang
terlihat gemetaran. Tubuh mereka basah kuyup sampai ke rambutnya, dan nafas
mereka tersengal-sengal. Aku menegapkan tubuhku untuk menyampaikan sebuah pesan
kalau aku serius dalam mendidik mereka.
“Dan Ruma akan mentraktir kalian makan
kalau kalian menang, jadi semangatlah~”
“””Siap!!!”””
Aku, Nindy, dan Niira tidak mau terjun
ke sana sampai kita benar-benar dibutuhkan. Kami bertiga tidak mau terjun ke
sana, jadi kami membiarkan mereka bertiga terjun lebih awal dan berlatih
sendiri.
“Sungguh, ya,” aku berucap dengan kesal,
memeluk diriku sendiri karena kedinginan.
“orang gila mana yang mengadakan lomba
renang di musim semi!!?”
Serius, ini dingin! Aku memakai baju
renang sekolah yang sama sekali tidak melindungiku dari rasa dingin—tunggu,
jika baju renang sekolah cukup tebal untuk melindungi dari dingin, maka kita
memiliki problem yang lebih buruk dari itu—pokoknya, aku tidak akan masuk ke
dalam air kecuali aku benar-benar harus melakukannya!
“Sudahlah, sudahlah~ Ini adalah event pertama yang dibuat oleh
mereka~!”, Nindy menepuk bahuku.
Aku berharap aku sudah menyiapkan kamera
ketika tiga gadis dan kaptennya ini melihat Nindy. Terutama setelah Nindy
mengenakan makeup yang menyeramkan
karya Niira. Mereka lari terbirit-birit dengan wajah yang lebih pucat daripada
hantunya. Apakah sekolah ini memiliki kamera CCTV? Ah, tentunya tidak.
Ketika mereka sadar kalau Nindy
sungguhan masih hidup, mereka bertiga (dan kaptennya) berencana untuk
menyerahkan lomba ini pada Nindy—lagi. Namun Nindy menolaknya.
“Aku bilang kan? Aku gak mau ikut lomba kali ini~”, ucap
Nindy.
Mereka pasti berpikir kalau Nindy
menolak agar mereka dapat bertarung dengan tangan mereka sendiri, atau noble cause lainnya yang membuat Nindy
terlihat seperti seorang pahlawan. Padahal, alasannya sederhana: Dia tidak mau
berenang di musim semi.
Tahun ini, negara Ethera mencapai suhu
terendah dari tahun-tahun sebelumnya. Musim dingin sebelumnya tidak buruk,
namun entah kenapa musim semi kali ini jauh lebih dingin dari normal. Dan
diprediksi cuaca akan makin dingin sampai Februari akan berakhir.
Ya, lebih baik daripada pemanasan global
di negara Republica sana. Kudengar bahkan di musim hujan, suhu mereka bisa
mencapai 35 derajat Celcius sampai seseorang bisa menggoreng kerupuk dengan
sinar matahari.
Ngomong-ngomong, mereka bertiga sungguhan
kembar. Rambut hitam pendek, mata hitam, tinggi yang sama, isi tubuh yang sama;
aku sampai mengikatkan pita berwarna-warni pada rambut mereka agar aku bisa
membedakannya. Aku hanya bisa membedakan mereka melalui masalah mereka kemarin.
Gadis berpita merah itu adalah si
Mengambang bernama Mina. Masalahnya kemarin adalah keseimbangannya pada air
membuatnya terhambat, dan kini dia berlatih bersama sang kapten untuk
menyejajarkan tubuhnya dengan air. Tubuhnya terlalu tegang, itulah masalahnya.
Gadis berpita kuning adalah si Sesak
bernama Mimi. Masalahnya adalah ia melamban ketika ia kehabisan nafas, dan
kelihatannya nafasnya terlalu pendek. Aku yang mengajarinya untuk bernafas
lebih dalam, menggunakan teknik bertarung kakek. Ya, teknik bertarung bisa digunakan
untuk hal-hal yang lain.
Gadis berpita hijau adalah si Ultimate
Kick bernama Miku. Aku mengingat namanya disebut oleh Nindy saat penyelidikan
kami kemarin. Masalahnya adalah gerakan kakinya menghambat kecepatannya.
Berdasarkan pengalamanku, tendangan itu tidak begitu bermanfaat dalam
meningkatkan kecepatan; kayuhan tangan yang bermanfaat. Dan kurasa Nindy setuju
dengan pendapatku, karena itulah yang sedang dia ajarkan sekarang pada Miku.
Si kapten itu bernama Eren. Rambut hitam
dan mata coklat dengan ekspresi serius, ia benar-benar mengingatkanku pada
sebuah anime yang suka memotong tengkuk leher.
Seseorang, belikan aku Three-Dimensional Grappling Hook dan
sebuah pedang.
Anehnya, padahal dia memegang-megang
tubuh lawan jenisnya, namun dia tidak terlihat terkecoh atau malu atau
memikirkan hal aneh sedikitpun. Apakah preferensi dia bukan wanita?
“Kak Ruma dari SMP 1 juga kan?”, ucap
Mi...ku. Ya, itu Miku. Aku hanya hilang fokus sejenak, dan aku sudah lupa yang
mana mereka semua. Aku hanya menjawab ‘Hm’ secara singkat.
“Kalau gitu, kenapa kakak waktu itu gak
ikut klub renang?”, tanya dia lagi. Mungkin dia meragukan kredibilitasku, atau
dia hanya penasaran... aku sebaiknya tidak menceritakannya karena saat itu
adalah masa kelam, namun sebaiknya aku melakukannya untuk mengajarkan padanya
arti keadilan dan rasisme.
Jadi aku menceritakannya dengan
sungguh-sungguh pada masa itu. Masa dimana penyihir sangat dibenci (terutama
penyihir perempuan), dan dianggap sebagai pembunuh dan perusak. Saat aku kehilangan
ibuku, sihirku bangkit dan membuatku memiliki mata berwarna merah dan sebuah
skill bernama Eye of the Truth. Aku
juga mendapatkan skill unik bernama
Aura Detection. Ditambah aku memiliki kecenderungan terhadap elemen api.
Sebelum aku pindah sekolah, guru SD-ku
memintaku untuk melepaskan ‘lensa kontak’ itu dari mataku. Dia lalu mencoba
mencubit mataku, dan aku tidak sengaja menyerangnya dengan elemen api. Tidak
ada yang terluka atau rusak. Namun itu membuatku dikucilkan dari sekolah tepat
sebelum hari perpisahanku.
Ketika aku pindah ke Revore, kurasa
guruku mengabarkan informasi itu pada sekolah baruku, dan aku mendapat
perlakuan yang sama dari siswa, guru, staf, orang tua murid yang lain. Bahkan
guruku ikut melakukan bullying dan
kadang menyerangku. Aku juga tahu bahwa ia menyuruh murid-muridnya untuk
menjauhiku karena aku ‘berbahaya’. Aku hanya bisa menunduk diam. Aku tidak mau
menggunakan sihirku untuk hal yang buruk. Aku hanya bisa diam dan membaca, atau
menjauhi kerumunan.
Aku juga menceritakan bahwa saat itu,
aku hanya memiliki satu teman: Yuvi. Dia juga ternyata adalah tetanggaku, jadi
aku memiliki teman. Teman baikku yang melindungiku, padahal dia sendiri
benar-benar lemah. Sangat lemah aku kadang khawatir. Ketika seorang guru
memperingatinya untuk menjauhiku, ia melaporkan guru itu pada ayahnya, dan
ayahnya menghubungi departemen pendidikan untuk memecat guru itu. Ketika aku
dalam masalah, dialah yang berada di baris depan ketika aku tertunduk,
menjagaku dari segala hal.
Saat aku masuk SMP, hal yang sama tetap
terjadi. Diskriminasi yang sama, perlakuan yang sama. Jadi, aku tidak pernah
mempertimbangkan sedikitpun soal masuk ke dalam klub. Aku sudah tahu kalau aku
akan ditolak mentah-mentah oleh mereka, bahkan mungkin akan terjadi hal yang
buruk padaku jika aku mendekati ruangan mereka.
Mereka mendengarkanku dengan seksama
sepanjang ceritaku itu. Bahwa setelah perang sipil usai karena bantuan
penyihir, orang-orang agak lebih sedikit toleran dengan penyihir. Namun tidak
dengan sekolah ini. Departemen pendidikan kembali terlibat, dan mencopot sangat
banyak guru intoleran sampai sekolah kami kewalahan dalam mencari pengganti.
Kini kami malah ditakuti dengan alasan yang berbeda lagi oleh para guru, namun
mereka tidak bisa mengucilkan kami lagi.
“Kurasa banyak peraturan mengenai
diskriminasi dan peraturan penyihir itu disebabkan olehku dan temanku itu. Oh,
ya. Yuvi itu yang kemarin bawa surat. Ingat?”
Mata mereka tiba-tiba menyala seperti
lampu kelebihan arus. Tunggu, kenapa mereka tiba-tiba berhenti latihan?
“Eeeeh, beneran ya...?”
“Pantes aja~”
“Duuuh, kok gemesin?”
“Maksudnya?”, aku bertanya-tanya pada
trio itu. Mereka bertiga mendekatiku, dan aku secara refleks mundur dengan
khawatir.
“Kakak suka sama kak Yuvi itu ya?”
Aku membuang nafasku. Kadang aku agak
lelah dengan pertanyaan ini, yang selalu diucapkan padaku setiap kali aku berbicara
soal Yuvi, atau berada bersama Yuvi.
“Kamu nggak dengar aku dari tadi? Yuvi
cuma temanku aja. Lagipula, kenapa kalian—kenapa semua orang berpikir kayak
gitu?”
Mereka semua—termasuk Nindy dan
Niira—melihat satu sama lain dengan kebingungan, lalu melihat ke arahku lagi
dengan wajah kebingungan yang sama.
“Apa?”, tanyaku lagi.
“Eh? Emangnya kakak gak suka sama dia?
Cara kakak melihat dia itu beda banget, loh, kemarin. Dilihatin terus, pula.”
“Terus pas kakak cerita soal kak Yuvi
itu, mata kakak tuh langsung bersinar gitu~”
“Um, um. Kakak bahkan ingat setiap
detail yang ada pada kak Yuvi itu. Dan pas kemarin juga kakak tuh senyam-senyum
gitu di depan dia.”
Terang si triplet. Eh? Sampai seperti
itu? Aku tidak pernah merasa seperti itu, rasanya. Senyum-senyum? Aku hanya
berpikir bahwa Yuvi pasti kegirangan chuunibyo
nya bisa menggila tanpa membuat malu. Melihat dia terus? Dia adalah yang
mempertimbangkan tindakan kita selanjutnya, jadi bukannya itu wajar? Dan aku
tidak tahu kalau mataku bersinar ketika aku bercerita—apa itu maksudnya? Aku
melihat pada Niira dan Nindy yang ingin mengungkapkan sesuatu juga.
“Sungguh, nggak ada sesuatu yang kayak
begitu di antara kami.”, terangku lagi.
“Um... lalu kenapa kemarin pas telponan itu kalian agak sedikit lupa
dunia? Aku sampai ngira kalau kalian sebenarnya berhubungan rahasia atau
semacamnya~”, ucap Nindy.
Niira ikut mengangguk. “Hm. Hm.”,
responnya pendek.
Oi, ucapkan sesuatu.
“Kupikir awalnya kalian lagi PDKT tapi
tiba-tiba muncul Alicia dan kalian sedang sedikit tegang karena itu—maksudku,
aku kayaknya gak pernah liat kamu dan
Alicia ngobrol empat mata. Jadi...
ah.”
Oke, berhenti mengucapkan sesuatu, aku
menyesal telah meminta itu. Niira mengubah posisi duduknya menjadi agak lebih
serius. Wajahnya pun agak menjadi lebih serius, begitu pula dengan tatapannya.
“Kamu gak pernah suka sama cowok sebelumnya kan, Ruma?”, tanyanya.
Aku mengangguk. Aku tidak mengenal laki-laki
yang tidak membully atau menjauhiku waktu itu selain Yuvi. Tidak ada laki-laki
yang membuatku tertarik juga, semuanya menyebalkan dan membuatku muak. Dan
parfum bodoh mereka bisa tercium bahkan dari satu kilometer jauhnya.
Setidaknya, kurasa itu parfum.
“Dan kamu udah kenal Yuvi dari kecil, kan?”, tanya Niira lagi.
“Ya—maumu apa? Tolong jangan berpikir
yang aneh-aneh tentangku dan Yuvi, terima kasih.”, ucapku menolak apapun opini
yang akan dilontarkan oleh Niira.
“Ah, ini dari pengalamanku aja ya, Ruma.
Tapi, apakah mungkin kamu gak bisa membedakan yang mana cinta dan yang mana
persahabatan?”
Ia memiringkan kepalanya, dan aku secara
otomatis ikut melakukannya juga seperti aku terhipnotis. Apa maksudnya? Apakah
aku harus peduli akan hal itu? Eh?
“Kurasa aku gagal paham apa yang kamu
maksud, Niira. Apa yang kamu maksud?”
Niira melihatku dengan terkejut, lalu
tersenyum. Cahaya di matanya itu sedikit meredup—apa yang ia sedang pikirkan?
Semoga dia tidak berpikir hal yang aneh-aneh lagi.
“Oke semuanya, istirahat kalian sisa
lima menit lagi! Ambil minum kalian dan beristirahatlah sekarang! Mari kita
bertarung demi cintanya Ruma~”
“””Siap!!!”””
“Oi, Nindy.”, aku menatap tajam pada
Nindy, yang menyemangati timnya untuk bertarung demi ilusi miliknya.
Ini adalah tanda terbentuknya sebuah
organisasi pemujaan, dan itu membuatku merasa ngeri. Si pelaku hanya tertawa
saja, tidak merasa bersalah. Namun kurasa Nindy melihat ekspresi Niira yang
tiba-tiba kehilangan cahayanya, dan ekspresiku yang kurasa terlihat seperti aku
akan mengaktifkan ‘Ultimate Skill: Wrath of the Grim Reaper’, karena ia
segera mengalihkan percakapan aneh ini.
Aku baru menyadari ini, tapi ternyata
gadis-gadis menyukai percakapan cinta, ya?
“Ngomong-ngomong Ruma, Niira; tugas
kalian bukan di sini, kan?”, ucap Nindy yang kembali melihat ke arah kami.
“Kami mau menjemputmu,”, ucap Niira,
yang bangkit dari duduknya dan melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya yang
kecil. Aku penasaran, apakah mungkin aku bisa mengangkat Niira dengan satu
tangan? Aku mau mencoba melemparnya sampai ke atap.
“tapi karena kamu sedang menyiapkan
klubmu untuk lomba, Ruma mau membantumu supaya kamu bisa pulang lebih awal.”
“Ah... pantas saja.”, ucapnya singkat.
“Kalau begitu aku undur diri dulu, deh. Aku kan juga Silver Butterfly kayak
kalian, masa aku ngga bantu kalian~”
Permintaan pertama kita datang dari
sesosok hantu. Ya, Silver Butterfly menerima permintaan dari hantu juga.
Spesifiknya, hantu yang kini menggentayangi rumah Nindy karena ritual
pemanggilan arwah oleh ibu Nindy.
Itu agak sedikit mengejutkanku karena di
malam hari ketika kami mau tidur, Niira tiba-tiba berucap, “Hei,
ngomong-ngomong, ibunya Nindy masih menyalakan lilin ritualnya gak ya?”
Dan kami terlompat ketika kami mendengar
suara pintu yang membanting.
Aku dan Niira langsung menyiapkan
senjata kami, bersiap untuk bertarung seperti biasa, namun menurunkan senjata
kami ketika yang kami lihat hanyalah sesosok wanita dengan gaun putih panjang
yang menatap kami dengan rasa takut. Ya, hanya. Wajahnya tidak terlihat seperti
di film-film yang hancur berantakan. Malahan dia cukup cantik walau wajahnya
pucat tak ada warna.
Namun, karena hantu itulah aku tidak
tidur dan malah internetan sampai pagi.
Sekarang, kami akan datang lagi ke rumah
Nindy untuk mengusirnya dari rumah Nindy—tunggu, kata ‘mengusir’ itu tidak
tepat dipakai disini. Daripada mengusir, lebih tepat disebut sebagai
‘memindahkan’ atau ‘membebaskan’.
Setelah kami membilas tubuh kami dan
berganti pakaian, kami langsung meluncur ke rumah Nindy. Silver Butterfy Ghost
Busters Club? Aku akan menyampaikan ide ini ke Yuvi.
Setelah kami sampai, aku, Niira, dan
Nindy langsung bergerak untuk menutup semua tirai dan menghambat semua pintu
agar tetap terbuka, namun membuatnya mudah agar pintunya dengan cepat tertutup
dengan sedikit getaran. Aku menyiapkan sedikit mantra sihir udara pada
pintu-pintu itu agar bisa kuaktifkan untuk menutup semua pintu secara otomatis.
“Tapi aku kaget kalau ada ritual kayak
gini loh.”, ucap Nindy sembari menyiapkan sejumlah lilin untuk membatasi
pergerakan si hantu.
“Ah, aku juga baru sadar pas aku masuk
rumahmu. Rumah ini entah mengapa memiliki aura sihir yang kuat padahal sudah
nggak ada penyihir di rumah ini. Sampai Eye of the Truth milikku nyala sendiri,
malahan.”
Ya, kemarin saat kami datang, ibunya
Nindy sudah menyiapkan ritual pemanggilan arwah. Aku mencari mengenai hal ini
juga di internet. Ritual, pelafalan mantra, level pengetahuan.
Lilin yang menyala di depan rumah adalah
bagian dari ritual untuk mengecoh hantu untuk masuk ke dalamnya. ‘Jangan berjalan
ke arah cahaya!’ adalah ucapan yang sungguhan.
Lalu foto dengan barang kesukaan si
hantu yang mau dipanggil ditujukan untuk memanggil hantu yang dicari itu untuk
datang... teorinya. Faktanya, hantu akan datang ke tempat yang dia akrab,
seperti rumah, atau sekolah; melakukan hal seperti ini hanya membuang-buang
sebuah strawberry shortcake. Masih
ada kuenya tidak, ya? E-ehem...
Pintu yang dibuka lebar itu agar hantu
tersebut bisa pergi kemanapun tanpa terhambat. Makhluk astral tidak dapat
bergerak secara bebas—pada awalnya. Mereka tidak sadar kalau mereka sudah jadi
hantu pada awalnya, jadi mereka tidak tahu kalau mereka bisa menembus tembok.
Membuka pintu lebar-lebar itu ditujukan agar hantu baru itu bisa merasa seperti
normal. Ya, ‘normal’.
Kemudian kamar yang tidak diotak-atik
sama sekali itu. Itu ditujukan agar si hantu merasa ia tidak pernah pergi.
Membuat dia tetap tenang di sana. Ritual yang membuat hantu gila, sebenarnya.
Namun teknik ini sering dipakai di sejumlah rumah hantu realistis, dimana
mereka menangkap hantu sungguhan dan menjebak mereka agar tetap berada di
dalamnya. Sejauh pengetahuanku, tidak pernah ada kejadian buruk, namun teknik
ini masih terbilang baru. Ya, aku mencari ini juga tadi malam.
“Tapi kenapa lampunya terang benderang
kemarin? Padahal hantu hanya beraktivitas di kegelapan.”, tanya Niira, yang
membuatku terkejut kalau Niira juga kadang perlu bertanya.
“Tentunya, karena kita datang.”, ucapku,
sembari berjalan ke arah pintu di dekat pintu masuk, dan mengutak-atik
saklarnya. Lampu di seisi rumah ini ikut mati dan menyala ketika aku memainkan
saklar itu.
“Sejumlah rumah memiliki saklar utama
untuk menyalakan semua lampu yang tersambung ke listrik. Lumayan membantu untuk
orang yang sibuk kerja, jadi kamu hanya perlu satu saklar untuk menerangkan dan
menggelapkan rumah. Beliau baru aja mau mematikan lampu rumah ini, tapi kita
datang dan mengganggunya. Untuk menyembunyikannya, dia menyalakan lampu dan
membuat rumahnya terang benderang, berjaga-jaga jika jiwa Nindy sudah datang
dan mengganggu tamu.”, terangku.
“Kamu teliti sampai sejauh itu, ya...”,
ucap Niira, yang sedang membuang kue itu ke tempat sampah. Aaah... aku merasa
sakit melihat kue itu dibuang begitu saja.
“Nggak juga. Aku hanya memiliki
pengalaman mengacaukan atraksi rumah hantu karena aku nggak sengaja membentur
lampu utamanya.”
Karena pernyataan itu, Niira dan Nindy
menatapku dengan kaget.
“Apa? Aku boleh merasa takut, kan?”,
tegurku.
Oke, persiapan selesai! Aku memastikan
semua tirai tertutup dan mantra sihir di penahan pintu semuanya siap. Baiklah!
“Oke, aku akan mematikan lampunya.”
Aku langsung menekan saklar itu lagi,
dan rumah ini langsung gelap dengan sekejap, membuatku sedikit terbutakan
karena terkejut. Mataku perlahan mulai menyesuaikan dengan cahayanya, dan aku
mulai bisa melihat tiga wajah di sekelilingku.
“Hantunya datang lebih cepat dari yang
aku duga.”
“Trigger
Flame Trap.”
Mantra milik Niira menyalakan lilin yang
ada di sekeliling ruangan dengan bersamaan. Cahayanya redup, namun cukup untuk
membuat si hantu tidak bisa pergi dari tempat yang kami kelilingi dengan lilin.
“Kamu
gak perlu repot-repot”, ucap wajah ketiga itu, yang bergerak mundur dari
kami. Kelihatannya dia sudah sadar kalau dia adalah sesosok hantu, melihat
bahwa dia tidak mencoba berjalan namun hanya melayang.
“Aku
akan keluar dari tempat ini kalau kalian ingin.”
“Bukan itu niat kami sebenarnya.”, ucap
Niira, yang mendekati hantu itu dengan perlahan. Suara hantu itu seperti
terdistorsi, mirip seperti suara pedangku yang memanggilku waktu itu.
Jangan-jangan, sebenarnya ada hantu juga di pedangku...?
“Kami mau menenangkanmu, kalau bisa.
Mungkin kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu lakukan?”, lanjut Niira.
Hantu itu tidak menjawab apapun. Melihat
dari pakaian dan rambutnya, dia sudah menjadi hantu dari puluhan tahun lalu.
Pakaiannya yang seperti gaun one-piece putih yang terlihat kebesaran dengan
desain seperti bangsawan jaman dulu, rambutnya panjang dan rapih seperti tuan
putri. Aku ingin tahu nama dia, sebenarnya.
“Kalau
aku tahu apa yang bisa menenangkanku, aku akan melakukannya. Tapi aku sendiri,
aku gak tahu kenapa aku gak pernah bisa pergi dari dunia ini.”
“Wah,
sulit ya.”, ucap Niira, yang mengernyitkan dahinya dan memegang dagunya sembari
berpikir. Aku juga ikut berpikir, karena ini akan sangat rumit.
“Kamu ingat kenapa kamu meninggal?”,
tanya Nindy.
Hantu itu hanya menggeleng.
“Yang
tersisa di ingatanku hanyalah namaku, dan dimana aku dulu tinggal. Aku adalah
Harumi. Aku tinggal di perbatasan kota Revore dan Rozaly.”, ucapnya.
Niira terlihat agak terlompat mendengar
ucapan hantu itu. Dia menunduk, makin mempertimbangkannya dengan berat hati.
Aku bisa merasakan kalau dia menyesal melakukan ini, dilihat dari gerakannya
yang mulai penuh dengan keraguan.
“Berarti distrik barat daya? Agak jauh
dari sini, ya... Niira, kamu kenapa?”, Nindy menyadari bahwa Niira merasa tidak
enak akan sesuatu juga, ya.
Niira jelas memiliki sesuatu sejarah
yang buruk dan ia tidak mau mengucapkannya. Dia sudah menunjukkannya sejak awal
kita bertemu, malahan. Namun ketidaksukaannya benar-benar terlihat jelas kali
ini; sesuatu yang aneh terlihat dari Niira yang biasanya mahir dalam menjaga
topengnya itu.
“Ah—aku gak apa-apa. Ruma, kamu mau ke
sana? Aku sih agak...”
“Yuk! Aku mau jalan-jalan sama kalian~
Ah, kayaknya Silver Butterfly bakal banyak jalan-jalannya nih~”
Lagi-lagi, seseorang mengambil keputusan
sebelum aku bisa mengucapkan apapun. Ya sudahlah, aku sudah cukup terbiasa
untuk mengalami hal seperti ini.
“Tapi cara bawa dia gimana? Dia nggak
bisa dibawa keluar rumah ini, kan? Kena cahaya aja, dia sudah menghilang.”, aku
mengeluarkan pertanyaan yang logis.
Kita tidak mungkin membawa orang ini
keluar begitu saja, mengingat kondisinya yang tidak bisa keluar dari kegelapan.
Namun kurasa jika Niira menyarankan ini, dia sebenarnya sudah punya rencana.
Dia hanya enggan untuk mengucapkannya. Apakah Niira menghindari kasus ini
karena namanya? Atau karena tempat tinggalnya? Niira terlihat memikirkannya
dengan keras. Namun aku menepuk bahunya dengan lembut.
“Aaaah, oke! Aku punya cara, tapi kamu
gak boleh bilang ke siapapun soal ini. Sedikitpun gak boleh. Oke?”
Kami berdua mengangguk—maaf, bertiga,
karena kelihatannya hantu itu juga tidak ingin berada di sisi buruknya Niira.
Dia pasti akan mengeluarkan sesuatu yang
absurd dan menghancurkan teori tentang sihir yang kita ketahui lagi. Aku tahu
itu.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk meninggalkan komentar yang membangun! Komentar kamu bisa membantuku mengembangkan kemampuanku lebih jauh lagi, dan komentarmu juga membuatku yakin kalau ada yang baca blogku...