Chapter 3 (Part 1): Wait... What Is Normal?

Pagi yang cerah... ah, bicara apa aku. Hari ini gelap seakan badai akan datang. Angin dingin bulan Februari yang meniup melalui jendela kamarku itu menusuk ke tulang-tulangku, membuatku menggigil dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Aku sedikit kelelahan, dan ada sedikit benjolan yang muncul di belakang kepalaku setelah pertarungan tadi malam. Meski begitu, aku sudah memiliki jadwal yang ketat untuk hari ini.

Setelah ini aku akan ke SMP ku lagi dan mengerjakan pekerjaan untuk Silver Butterfly. Nindy dan Niira akan bersamaku saat itu, jadi aku tidak khawatir akan menyulitkan, namun tetap saja.

Yang aku ingin lakukan hanyalah tidur, atau bermain game saat ini.

Kemudian malam ini, aku bersama Silver Butterfly akan bertemu dengan seseorang yang penting bagi Project Silver Butterfly. Siapa? Mana aku tahu. Yang aku tahu, setelah pak Revan memukuli para agen Divisi Khusus itu menjadi abon, banyak hal terjadi setelahnya. Dan dia akan menjelaskan pada kami apa yang terjadi pada Silver Butterfly setelah itu. Sungguh, aku tidak masalah jika Silver Butterfly dibubarkan. Namun kurasa itu hanya impianku saja.

Ya, tentunya tidak akan mungkin semudah itu, Ferguso.

Aku keluar dari kamarku, dan turun ke ruang TV. Seperti biasa, ayah sudah menghilang, meninggalkan jejak cangkir kopinya yang belum dicuci. Dia juga belum mematikan televisinya, namun aku akan tetap bungkam berhubung dia yang membayar biaya listriknya.

Aku mengeluarkan sebuah telur dari dalam kulkas, dan membukanya ke dalam mangkuk.

“...dalam sebuah investigasi bersama Divisi Khusus dan Project Silver Butterfly, pembunuh berantai yang dikenal sebagai ‘The Sinner’ berhasil tertangkap di Distrik Herma, pada Jumat 11 malam...”

Oh, ini akan menarik. Aku membalik telur dadarku sembari melihat televisi dan mendengarkan beritanya. Hm, apakah aku masih memiliki saus?

“...menurut keterangan kepolisian Distrik Herma, tindakan yang dilakukan oleh Project Silver Butterfly ini dianggap merusak kasus yang sudah mereka bangun terhadap salah satu tersangka, Fizel Marko...”

Distrik Herma... ah, maksudnya distrik enam, ya. Oh, para polisi itu membenci kami, kelihatannya. Kami tidak pernah terlihat seperti orang baik di mata mereka. Aku bingung apa yang memicu kebencian dari para kepolisian itu terhadap tindakan kami. Apakah itu karena kami adalah penyihir? Atau karena latar belakang keluarga Niira? Aku rasa aku tidak akan tahu jawabannya. Namun aku memiliki sejumlah kecurigaan. Dan ‘mereka terlibat dalam masalah WesternSpy’ adalah hal terakhir yang ada di pikiranku.

Aku mulai sedikit memahami teknik pencarian Findle Search setelah aku menjelajah internet semalam, dan aku menggunakan itu untuk mencari informasi mengenai sihir. Ya, aku selama ini tidak begitu peduli dengan teori dan sejarah mengenai sihir, selama aku tidak membutuhkan informasi itu; namun melihat hal-hal yang belakangan ini sudah terjadi, aku merasa aku harus melakukannya. Dan yang aku temukan dari pencarian tersebut ada cukup banyak.

Pertama, ada banyak orang yang membenci sihir—bahkan di tahap sampai mereka akan menyerang siapapun yang menggunakan sihir di depan mata mereka. Aku sudah tahu soal ini sejak lama, namun kelihatannya mereka masih melakukannya walau hanya dalam skala kecil.

Kedua, teori sihir memang benar diperlukan – sebagian. Memang sihir didasarkan dari imajinasi dan kekuatan dari tubuh, dan memanipulasi elemen yang ada di sekitar penggunanya; setidaknya bagian itu masih sama. Namun ada sejumlah hal yang bisa dipelajari olehku. Seperti bagaimana cara menggunakan sihir elemen pikiran untuk memperkuat diriku secara sementara. Atau apa yang sebenarnya Niira berikan padaku saat bertarung dengan kakek tua si peminjam ilegal. Ya, itu adalah sebuah awakening stone, kurang lebih. Dan hanya Niira yang bisa membuatnya.

Ketiga, mengenai artefak. Setelah Niira mengenali tachi milikku secara tiba-tiba, aku merasa aku perlu menyelidiki lebih banyak hal mengenai artefak milikku ini. Artefak benar-benar memiliki konsep yang aneh. Sistem sihirnya berbeda dengan teori sihir yang aku ketahui – imajinasi, kemampuan sihir, kemampuan hati. Namun lebih menjadi ritual, pelafalan sihir, dan semacam level pengetahuan. Kenapa artefak bisa memiliki sistem yang berbeda dengan sihir biasa? Saat aku menanyakan ini kepada Niira, dia hanya berkata,

“Ya, aneh kan? Kenapa artefak butuh pelafalan sihir sedangkan kemampuan sihir nggak? Ditambah ada sistem leveling yang nggak ada di sihir biasa. Tapi sistem artefak itu lebih balanced dari sistem sihir kita, sih...”

Sungguh, gadis itu mengingatkanku pada karakter-karakter NPC yang bisa membaca masa depan atau dari dunia lain, lalu merespon ke pemain dengan ucapan-ucapan yang sangat samar.

Namun karena aku menelusuri internet semalaman, itu menjadi satu dari dua alasan kenapa aku belum tidur sama sekali. Ah, kopiku sudah jadi. Aku menuangkan sedikit susu ke dalam kopiku dan mulai mengaduknya.

“...jadi apakah Silver Butterfly, klub SMA yang berada di bawah Divisi Khusus ini, sebuah tim pembantu, atau tim pengganggu? Kami tersambung kepala direktur Divisi Khusus, Bapak Marv Alimann.”

Wah, keluar karakter SSR yang super langka. Marv Alimann. Orang ini adalah sebuah misteri, tidak ada yang tahu kapan dia memimpin, atau bagaimana, atau latar belakangnya. Kurasa itu adalah hal yang normal mengingat Divisi Khusus adalah perangkat intelijen rahasia, mirip seperti badan intelijen namun untuk kasus abnormal dan paranormal. Rambutnya yang botak mengkilap dan otot lehernya yang terlihat seperti kekar itu membuatnya terlihat seperti piala. Dan masih ada beberapa memar di wajahnya... eh?

“Bapak Marv. Silver Butterfly ini berada di bawah naungan Divisi Khusus. Apa sebenarnya yang dituju dari Divisi Khusus untuk Silver Butterfly kali ini?”

Ponselku berdering, dan itu adalah pesan grup obrolan kami yang langsung ramai. Kelihatannya mereka semua menyadarinya... kecuali Niira. Dia tidak muncul dalam pesan obrolan. Mungkin dia belum melihat ponselnya dan belum melihat beritanya.

Alicia: “Guys, kita masuk televisi”
Zakiel: “Ya, aku melihatnya”
Yuvi: “Untung ga ada wajah kita hehe ^^”
Rika: “Maak aku masuk tivi OwO”
Alicia: “AYAH MUKULIN DIREKTUR DIVISI KHUSUS!?”
Yuvi: “Kamu fokus ke sana, ya -_-“

Aku mendengarkan percakapan antara pembawa berita itu dengan si botak memar itu, sebelum merespon pada mereka.

Ruma: “Jadi dugaan ayahmu benar, Alicia.”
Ruma: “Silver Butterfly memang jadi senjata mereka.”

Grup obrolan itu hening dalam sesaat. Ah, aku baru saja merusak mood mereka pagi ini. Aku mengangkat telurku dari penggorengan, dan meletakkannya pada sebuah piring kosong. Ah, aku lapar. Aku benar-benar butuh energiku sekarang. Hari ini akan menjadi hari Sabtu yang menyebalkan, namun apa boleh buat. Aku membawa piring dan kopiku ke meja makan, dan menarik sebuah kursi untuk duduk sembari menonton berita.

Meski Silver Butterfly dianggap sebagai senjata oleh para Divisi Khusus sialan itu, aku ingin menantang mereka melakukannya, setelah pak Revan memukuli direktur mereka dan akan mengawasi secara langsung permintaan yang diajukan dari Divisi Khusus.

Selain itu, pak Revan tadi malam bilang pada kami untuk mengubah nama Silver Butterfly Investigation Club menjadi Silver Butterfly Helper Club... atau Silver Butterfly Assistant Club? Request Club?—Entahlah, itu urusan Yuvi—lalu mengubah sistem klub kami untuk menyesuaikan aktivitas klub kami sebagai ‘permintaan’.

Sistemnya jadi begini: Seseorang meminta tolong pada Silver Butterfly secara formal atau informal, dan anggota Silver Butterfly akan memilah yang mana yang mau mereka kerjakan. Ya, termasuk permintaan dari Divisi Khusus. Barulah anggota yang mengambil pekerjaan itu pergi dan melakukan apapun yang ada di permintaan itu. Setelah semuanya selesai, Silver Butterfly akan membuat laporan. Orang mengirim permintaan, permintaan dipilih, anggota berangkat ke orang itu, anggota pulang dan membuat laporan.

Dan karena kami bisa mengabaikan permintaan dari Divisi Khusus, yang Divisi Khusus miliki sekarang adalah senjata macet di tengah peperangan. Aku ingin melihat wajah mereka ketika kami tidak datang dalam peperangan yang mereka buat.

Lalu, anggota Silver Butterfly bertambah satu. Dia berperan sebagai Headquarters kami, yang bertugas untuk mencari informasi agar Alicia bisa fokus dalam pekerjaannya sendiri. Namun aku harus mengawasinya dengan mikroskop agar dia tidak menghilang dan mencari informasi terlalu jauh lagi.

Ya, Nindy bergabung dengan Silver Butterfly. Kelihatannya keanggotaan Silver Butterfly tidak memiliki batasan apapun. Kita bahkan boleh mengundang anak SD atau bayi baru lahir, jika kami mau. Mungkin itu supaya kita bisa memasukkan anggota Divisi Khusus ke dalam Silver Butterfly, jadi agak ironis ketika kita abusing peraturan yang dibuat oleh Divisi Khusus untuk mengekang kita.

“...tunggu sebentar, saya mendapat informasi terbaru. Pertempuran sihir di Revore yang sudah berlangsung selama berhari-hari terlihat terhenti tanpa alasan. Reporter kami Manila berada di lokasi menggunakan helikopter—Halo, Manila?”

Adegan di layar berganti pada seseorang yang menggunakan headphone besar dan memegang mik di dalam interior helikopter. Serius, mukanya sangat generik aku bingung bagaimana mendeskripsikan wajahnya.

“Terima kasih—Pertempuran sihir yang berlangsung selama berhari-hari di jalan Malaka tiba-tiba terhenti begitu saja,”

Adegan di layar kini berganti menjadi sorotan deretan perumahan yang sudah babak belur, dengan jalan yang berlubang-lubang, rumah yang berlubang-lubang, jasad yang tergeletak dimana-mana. Puluhan orang terlihat mengintip dari rumah-rumah itu dari berbagai sisi, melihat kepada seorang gadis berambut pirang panjang sepunggung dengan gaun pendek berwarna putih sedang berjalan di antara mereka... tunggu, siapa itu?

“pertempuran ini tiba-tiba terhenti sepuluh menit lalu ketika anggota dari mafia tiba-tiba berhenti menembakkan sihir mereka kepada geng Equinox. Dan ketika seorang gadis tiba-tiba melewati jalan Malaka, geng Equinox juga ikut menghentikan serangan mereka juga...”

Gadis itu berjalan, kadang ia melambai ke sejumlah orang dari sisi mafia, dan mafia itu membalas lambaiannya. Kamera masih mengunci pada gadis itu ketika gadis itu berhenti dan melihat ke arah sisi geng Equinox.

Geng Equinox itu hanya diam dan terpana di tempatnya, tak mampu bergerak. Tidak ada yang berani menyerang gadis itu. Malah, para geng itu melangkah mundur dari tempat mereka bersembunyi, bahkan mereka berteleportasi ke entah berantah. Sejumlah orang mengambil motor mereka yang masih bertahan dan pergi menjauh. Para mafia juga melakukan hal yang sama, dan berteleportasi. Gadis itu melanjutkan perjalanannya, namun tiba-tiba menghilang seakan ia tidak pernah berada di sana.

Aku entah bagaimana lupa kalau Niira adalah anak dari bos mafia. Jelas semua orang takut bos mafia itu ikut turun tangan dan menghancurkan gengnya. Fakta bahwa mafia Rieko berhenti menembak paling awal berarti mereka tahu kalau Niira akan datang. Dan ketika geng Equinox berhenti menembak ketika Niira terlihat oleh mereka, berarti mereka tahu bahayanya menyerang Niira. Itu, atau mereka terpana oleh Niira. Harta, tahta, wanita. Laki-laki memang sederhana, ya.

Itu, atau sebenarnya Niira memiliki kemampuan untuk menghancurkan geng Equinox dalam sekali serang. Hanya itu alasan yang bisa menjelaskan kenapa mereka kabur.

“...Oke, terima kasih, Manila. Selanjutnya, laporan cuaca dan wawancara dengan kepala Divisi Khusus setelah yang satu ini. Sedikit spoiler: Hari ini akan dingin.”

Ah, akan dingin ya hari ini. Sialan, di tempatku melakukan pekerjaanku ini, akan ada penghangat ruangan tidak ya? Aku hanya bisa memikirkan itu di kepalaku ketika sebuah ketukan pintu mengembalikan pikiranku.

*

“Oke, semuanya! Ini adalah zona pertarungan kalian! Lupakan semua beban yang ada di hati kalian, kita nggak punya banyak waktu untuk beban! Sekarang, terjunlah ke sana. Buktikan padaku kalau kalian nggak membuang waktuku.”

Aku mondar-mandir di hadapan mereka yang terlihat gemetaran. Tubuh mereka basah kuyup sampai ke rambutnya, dan nafas mereka tersengal-sengal. Aku menegapkan tubuhku untuk menyampaikan sebuah pesan kalau aku serius dalam mendidik mereka.

“Dan Ruma akan mentraktir kalian makan kalau kalian menang, jadi semangatlah~”

“””Siap!!!”””

Aku, Nindy, dan Niira tidak mau terjun ke sana sampai kita benar-benar dibutuhkan. Kami bertiga tidak mau terjun ke sana, jadi kami membiarkan mereka bertiga terjun lebih awal dan berlatih sendiri.

“Sungguh, ya,” aku berucap dengan kesal, memeluk diriku sendiri karena kedinginan.

“orang gila mana yang mengadakan lomba renang di musim semi!!?”

Serius, ini dingin! Aku memakai baju renang sekolah yang sama sekali tidak melindungiku dari rasa dingin—tunggu, jika baju renang sekolah cukup tebal untuk melindungi dari dingin, maka kita memiliki problem yang lebih buruk dari itu—pokoknya, aku tidak akan masuk ke dalam air kecuali aku benar-benar harus melakukannya!

“Sudahlah, sudahlah~ Ini adalah event pertama yang dibuat oleh mereka~!”, Nindy menepuk bahuku.

Aku berharap aku sudah menyiapkan kamera ketika tiga gadis dan kaptennya ini melihat Nindy. Terutama setelah Nindy mengenakan makeup yang menyeramkan karya Niira. Mereka lari terbirit-birit dengan wajah yang lebih pucat daripada hantunya. Apakah sekolah ini memiliki kamera CCTV? Ah, tentunya tidak.

Ketika mereka sadar kalau Nindy sungguhan masih hidup, mereka bertiga (dan kaptennya) berencana untuk menyerahkan lomba ini pada Nindy—lagi. Namun Nindy menolaknya.

“Aku bilang kan? Aku gak mau ikut lomba kali ini~”, ucap Nindy.

Mereka pasti berpikir kalau Nindy menolak agar mereka dapat bertarung dengan tangan mereka sendiri, atau noble cause lainnya yang membuat Nindy terlihat seperti seorang pahlawan. Padahal, alasannya sederhana: Dia tidak mau berenang di musim semi.

Tahun ini, negara Ethera mencapai suhu terendah dari tahun-tahun sebelumnya. Musim dingin sebelumnya tidak buruk, namun entah kenapa musim semi kali ini jauh lebih dingin dari normal. Dan diprediksi cuaca akan makin dingin sampai Februari akan berakhir.

Ya, lebih baik daripada pemanasan global di negara Republica sana. Kudengar bahkan di musim hujan, suhu mereka bisa mencapai 35 derajat Celcius sampai seseorang bisa menggoreng kerupuk dengan sinar matahari.

Ngomong-ngomong, mereka bertiga sungguhan kembar. Rambut hitam pendek, mata hitam, tinggi yang sama, isi tubuh yang sama; aku sampai mengikatkan pita berwarna-warni pada rambut mereka agar aku bisa membedakannya. Aku hanya bisa membedakan mereka melalui masalah mereka kemarin.

Gadis berpita merah itu adalah si Mengambang bernama Mina. Masalahnya kemarin adalah keseimbangannya pada air membuatnya terhambat, dan kini dia berlatih bersama sang kapten untuk menyejajarkan tubuhnya dengan air. Tubuhnya terlalu tegang, itulah masalahnya.

Gadis berpita kuning adalah si Sesak bernama Mimi. Masalahnya adalah ia melamban ketika ia kehabisan nafas, dan kelihatannya nafasnya terlalu pendek. Aku yang mengajarinya untuk bernafas lebih dalam, menggunakan teknik bertarung kakek. Ya, teknik bertarung bisa digunakan untuk hal-hal yang lain.

Gadis berpita hijau adalah si Ultimate Kick bernama Miku. Aku mengingat namanya disebut oleh Nindy saat penyelidikan kami kemarin. Masalahnya adalah gerakan kakinya menghambat kecepatannya. Berdasarkan pengalamanku, tendangan itu tidak begitu bermanfaat dalam meningkatkan kecepatan; kayuhan tangan yang bermanfaat. Dan kurasa Nindy setuju dengan pendapatku, karena itulah yang sedang dia ajarkan sekarang pada Miku.

Si kapten itu bernama Eren. Rambut hitam dan mata coklat dengan ekspresi serius, ia benar-benar mengingatkanku pada sebuah anime yang suka memotong tengkuk leher.

Seseorang, belikan aku Three-Dimensional Grappling Hook dan sebuah pedang.

Anehnya, padahal dia memegang-megang tubuh lawan jenisnya, namun dia tidak terlihat terkecoh atau malu atau memikirkan hal aneh sedikitpun. Apakah preferensi dia bukan wanita?

“Kak Ruma dari SMP 1 juga kan?”, ucap Mi...ku. Ya, itu Miku. Aku hanya hilang fokus sejenak, dan aku sudah lupa yang mana mereka semua. Aku hanya menjawab ‘Hm’ secara singkat.

“Kalau gitu, kenapa kakak waktu itu gak ikut klub renang?”, tanya dia lagi. Mungkin dia meragukan kredibilitasku, atau dia hanya penasaran... aku sebaiknya tidak menceritakannya karena saat itu adalah masa kelam, namun sebaiknya aku melakukannya untuk mengajarkan padanya arti keadilan dan rasisme.

Jadi aku menceritakannya dengan sungguh-sungguh pada masa itu. Masa dimana penyihir sangat dibenci (terutama penyihir perempuan), dan dianggap sebagai pembunuh dan perusak. Saat aku kehilangan ibuku, sihirku bangkit dan membuatku memiliki mata berwarna merah dan sebuah skill bernama Eye of the Truth. Aku juga mendapatkan skill unik bernama Aura Detection. Ditambah aku memiliki kecenderungan terhadap elemen api.

Sebelum aku pindah sekolah, guru SD-ku memintaku untuk melepaskan ‘lensa kontak’ itu dari mataku. Dia lalu mencoba mencubit mataku, dan aku tidak sengaja menyerangnya dengan elemen api. Tidak ada yang terluka atau rusak. Namun itu membuatku dikucilkan dari sekolah tepat sebelum hari perpisahanku.

Ketika aku pindah ke Revore, kurasa guruku mengabarkan informasi itu pada sekolah baruku, dan aku mendapat perlakuan yang sama dari siswa, guru, staf, orang tua murid yang lain. Bahkan guruku ikut melakukan bullying dan kadang menyerangku. Aku juga tahu bahwa ia menyuruh murid-muridnya untuk menjauhiku karena aku ‘berbahaya’. Aku hanya bisa menunduk diam. Aku tidak mau menggunakan sihirku untuk hal yang buruk. Aku hanya bisa diam dan membaca, atau menjauhi kerumunan.

Aku juga menceritakan bahwa saat itu, aku hanya memiliki satu teman: Yuvi. Dia juga ternyata adalah tetanggaku, jadi aku memiliki teman. Teman baikku yang melindungiku, padahal dia sendiri benar-benar lemah. Sangat lemah aku kadang khawatir. Ketika seorang guru memperingatinya untuk menjauhiku, ia melaporkan guru itu pada ayahnya, dan ayahnya menghubungi departemen pendidikan untuk memecat guru itu. Ketika aku dalam masalah, dialah yang berada di baris depan ketika aku tertunduk, menjagaku dari segala hal.

Saat aku masuk SMP, hal yang sama tetap terjadi. Diskriminasi yang sama, perlakuan yang sama. Jadi, aku tidak pernah mempertimbangkan sedikitpun soal masuk ke dalam klub. Aku sudah tahu kalau aku akan ditolak mentah-mentah oleh mereka, bahkan mungkin akan terjadi hal yang buruk padaku jika aku mendekati ruangan mereka.

Mereka mendengarkanku dengan seksama sepanjang ceritaku itu. Bahwa setelah perang sipil usai karena bantuan penyihir, orang-orang agak lebih sedikit toleran dengan penyihir. Namun tidak dengan sekolah ini. Departemen pendidikan kembali terlibat, dan mencopot sangat banyak guru intoleran sampai sekolah kami kewalahan dalam mencari pengganti. Kini kami malah ditakuti dengan alasan yang berbeda lagi oleh para guru, namun mereka tidak bisa mengucilkan kami lagi.

“Kurasa banyak peraturan mengenai diskriminasi dan peraturan penyihir itu disebabkan olehku dan temanku itu. Oh, ya. Yuvi itu yang kemarin bawa surat. Ingat?”

Mata mereka tiba-tiba menyala seperti lampu kelebihan arus. Tunggu, kenapa mereka tiba-tiba berhenti latihan?

“Eeeeh, beneran ya...?”

“Pantes aja~”

“Duuuh, kok gemesin?”

“Maksudnya?”, aku bertanya-tanya pada trio itu. Mereka bertiga mendekatiku, dan aku secara refleks mundur dengan khawatir.

“Kakak suka sama kak Yuvi itu ya?”

Aku membuang nafasku. Kadang aku agak lelah dengan pertanyaan ini, yang selalu diucapkan padaku setiap kali aku berbicara soal Yuvi, atau berada bersama Yuvi.

“Kamu nggak dengar aku dari tadi? Yuvi cuma temanku aja. Lagipula, kenapa kalian—kenapa semua orang berpikir kayak gitu?”

Mereka semua—termasuk Nindy dan Niira—melihat satu sama lain dengan kebingungan, lalu melihat ke arahku lagi dengan wajah kebingungan yang sama.

“Apa?”, tanyaku lagi.

“Eh? Emangnya kakak gak suka sama dia? Cara kakak melihat dia itu beda banget, loh, kemarin. Dilihatin terus, pula.”

“Terus pas kakak cerita soal kak Yuvi itu, mata kakak tuh langsung bersinar gitu~”

“Um, um. Kakak bahkan ingat setiap detail yang ada pada kak Yuvi itu. Dan pas kemarin juga kakak tuh senyam-senyum gitu di depan dia.”

Terang si triplet. Eh? Sampai seperti itu? Aku tidak pernah merasa seperti itu, rasanya. Senyum-senyum? Aku hanya berpikir bahwa Yuvi pasti kegirangan chuunibyo nya bisa menggila tanpa membuat malu. Melihat dia terus? Dia adalah yang mempertimbangkan tindakan kita selanjutnya, jadi bukannya itu wajar? Dan aku tidak tahu kalau mataku bersinar ketika aku bercerita—apa itu maksudnya? Aku melihat pada Niira dan Nindy yang ingin mengungkapkan sesuatu juga.

“Sungguh, nggak ada sesuatu yang kayak begitu di antara kami.”, terangku lagi.

“Um... lalu kenapa kemarin pas telponan itu kalian agak sedikit lupa dunia? Aku sampai ngira kalau kalian sebenarnya berhubungan rahasia atau semacamnya~”, ucap Nindy.

Niira ikut mengangguk. “Hm. Hm.”, responnya pendek.

Oi, ucapkan sesuatu.

“Kupikir awalnya kalian lagi PDKT tapi tiba-tiba muncul Alicia dan kalian sedang sedikit tegang karena itu—maksudku, aku kayaknya gak pernah liat kamu dan Alicia ngobrol empat mata. Jadi... ah.”

Oke, berhenti mengucapkan sesuatu, aku menyesal telah meminta itu. Niira mengubah posisi duduknya menjadi agak lebih serius. Wajahnya pun agak menjadi lebih serius, begitu pula dengan tatapannya.

“Kamu gak pernah suka sama cowok sebelumnya kan, Ruma?”, tanyanya.

Aku mengangguk. Aku tidak mengenal laki-laki yang tidak membully atau menjauhiku waktu itu selain Yuvi. Tidak ada laki-laki yang membuatku tertarik juga, semuanya menyebalkan dan membuatku muak. Dan parfum bodoh mereka bisa tercium bahkan dari satu kilometer jauhnya. Setidaknya, kurasa itu parfum.

“Dan kamu udah kenal Yuvi dari kecil, kan?”, tanya Niira lagi.

“Ya—maumu apa? Tolong jangan berpikir yang aneh-aneh tentangku dan Yuvi, terima kasih.”, ucapku menolak apapun opini yang akan dilontarkan oleh Niira.

“Ah, ini dari pengalamanku aja ya, Ruma. Tapi, apakah mungkin kamu gak bisa membedakan yang mana cinta dan yang mana persahabatan?”

Ia memiringkan kepalanya, dan aku secara otomatis ikut melakukannya juga seperti aku terhipnotis. Apa maksudnya? Apakah aku harus peduli akan hal itu? Eh?

“Kurasa aku gagal paham apa yang kamu maksud, Niira. Apa yang kamu maksud?”

Niira melihatku dengan terkejut, lalu tersenyum. Cahaya di matanya itu sedikit meredup—apa yang ia sedang pikirkan? Semoga dia tidak berpikir hal yang aneh-aneh lagi. 

“Oke semuanya, istirahat kalian sisa lima menit lagi! Ambil minum kalian dan beristirahatlah sekarang! Mari kita bertarung demi cintanya Ruma~”

“””Siap!!!”””

“Oi, Nindy.”, aku menatap tajam pada Nindy, yang menyemangati timnya untuk bertarung demi ilusi miliknya.

Ini adalah tanda terbentuknya sebuah organisasi pemujaan, dan itu membuatku merasa ngeri. Si pelaku hanya tertawa saja, tidak merasa bersalah. Namun kurasa Nindy melihat ekspresi Niira yang tiba-tiba kehilangan cahayanya, dan ekspresiku yang kurasa terlihat seperti aku akan mengaktifkan ‘Ultimate Skill: Wrath of the Grim Reaper’, karena ia segera mengalihkan percakapan aneh ini.

Aku baru menyadari ini, tapi ternyata gadis-gadis menyukai percakapan cinta, ya?

“Ngomong-ngomong Ruma, Niira; tugas kalian bukan di sini, kan?”, ucap Nindy yang kembali melihat ke arah kami.

“Kami mau menjemputmu,”, ucap Niira, yang bangkit dari duduknya dan melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya yang kecil. Aku penasaran, apakah mungkin aku bisa mengangkat Niira dengan satu tangan? Aku mau mencoba melemparnya sampai ke atap.

“tapi karena kamu sedang menyiapkan klubmu untuk lomba, Ruma mau membantumu supaya kamu bisa pulang lebih awal.”

“Ah... pantas saja.”, ucapnya singkat. “Kalau begitu aku undur diri dulu, deh. Aku kan juga Silver Butterfly kayak kalian, masa aku ngga bantu kalian~”

Permintaan pertama kita datang dari sesosok hantu. Ya, Silver Butterfly menerima permintaan dari hantu juga. Spesifiknya, hantu yang kini menggentayangi rumah Nindy karena ritual pemanggilan arwah oleh ibu Nindy.

Itu agak sedikit mengejutkanku karena di malam hari ketika kami mau tidur, Niira tiba-tiba berucap, “Hei, ngomong-ngomong, ibunya Nindy masih menyalakan lilin ritualnya gak ya?”

Dan kami terlompat ketika kami mendengar suara pintu yang membanting.

Aku dan Niira langsung menyiapkan senjata kami, bersiap untuk bertarung seperti biasa, namun menurunkan senjata kami ketika yang kami lihat hanyalah sesosok wanita dengan gaun putih panjang yang menatap kami dengan rasa takut. Ya, hanya. Wajahnya tidak terlihat seperti di film-film yang hancur berantakan. Malahan dia cukup cantik walau wajahnya pucat tak ada warna.

Namun, karena hantu itulah aku tidak tidur dan malah internetan sampai pagi.

Sekarang, kami akan datang lagi ke rumah Nindy untuk mengusirnya dari rumah Nindy—tunggu, kata ‘mengusir’ itu tidak tepat dipakai disini. Daripada mengusir, lebih tepat disebut sebagai ‘memindahkan’ atau ‘membebaskan’.

Setelah kami membilas tubuh kami dan berganti pakaian, kami langsung meluncur ke rumah Nindy. Silver Butterfy Ghost Busters Club? Aku akan menyampaikan ide ini ke Yuvi.

Setelah kami sampai, aku, Niira, dan Nindy langsung bergerak untuk menutup semua tirai dan menghambat semua pintu agar tetap terbuka, namun membuatnya mudah agar pintunya dengan cepat tertutup dengan sedikit getaran. Aku menyiapkan sedikit mantra sihir udara pada pintu-pintu itu agar bisa kuaktifkan untuk menutup semua pintu secara otomatis.

“Tapi aku kaget kalau ada ritual kayak gini loh.”, ucap Nindy sembari menyiapkan sejumlah lilin untuk membatasi pergerakan si hantu.

“Ah, aku juga baru sadar pas aku masuk rumahmu. Rumah ini entah mengapa memiliki aura sihir yang kuat padahal sudah nggak ada penyihir di rumah ini. Sampai Eye of the Truth milikku nyala sendiri, malahan.”

Ya, kemarin saat kami datang, ibunya Nindy sudah menyiapkan ritual pemanggilan arwah. Aku mencari mengenai hal ini juga di internet. Ritual, pelafalan mantra, level pengetahuan.

Lilin yang menyala di depan rumah adalah bagian dari ritual untuk mengecoh hantu untuk masuk ke dalamnya. ‘Jangan berjalan ke arah cahaya!’ adalah ucapan yang sungguhan.

Lalu foto dengan barang kesukaan si hantu yang mau dipanggil ditujukan untuk memanggil hantu yang dicari itu untuk datang... teorinya. Faktanya, hantu akan datang ke tempat yang dia akrab, seperti rumah, atau sekolah; melakukan hal seperti ini hanya membuang-buang sebuah strawberry shortcake. Masih ada kuenya tidak, ya? E-ehem...

Pintu yang dibuka lebar itu agar hantu tersebut bisa pergi kemanapun tanpa terhambat. Makhluk astral tidak dapat bergerak secara bebas—pada awalnya. Mereka tidak sadar kalau mereka sudah jadi hantu pada awalnya, jadi mereka tidak tahu kalau mereka bisa menembus tembok. Membuka pintu lebar-lebar itu ditujukan agar hantu baru itu bisa merasa seperti normal. Ya, ‘normal’.

Kemudian kamar yang tidak diotak-atik sama sekali itu. Itu ditujukan agar si hantu merasa ia tidak pernah pergi. Membuat dia tetap tenang di sana. Ritual yang membuat hantu gila, sebenarnya. Namun teknik ini sering dipakai di sejumlah rumah hantu realistis, dimana mereka menangkap hantu sungguhan dan menjebak mereka agar tetap berada di dalamnya. Sejauh pengetahuanku, tidak pernah ada kejadian buruk, namun teknik ini masih terbilang baru. Ya, aku mencari ini juga tadi malam.

“Tapi kenapa lampunya terang benderang kemarin? Padahal hantu hanya beraktivitas di kegelapan.”, tanya Niira, yang membuatku terkejut kalau Niira juga kadang perlu bertanya.

“Tentunya, karena kita datang.”, ucapku, sembari berjalan ke arah pintu di dekat pintu masuk, dan mengutak-atik saklarnya. Lampu di seisi rumah ini ikut mati dan menyala ketika aku memainkan saklar itu.

“Sejumlah rumah memiliki saklar utama untuk menyalakan semua lampu yang tersambung ke listrik. Lumayan membantu untuk orang yang sibuk kerja, jadi kamu hanya perlu satu saklar untuk menerangkan dan menggelapkan rumah. Beliau baru aja mau mematikan lampu rumah ini, tapi kita datang dan mengganggunya. Untuk menyembunyikannya, dia menyalakan lampu dan membuat rumahnya terang benderang, berjaga-jaga jika jiwa Nindy sudah datang dan mengganggu tamu.”, terangku.

“Kamu teliti sampai sejauh itu, ya...”, ucap Niira, yang sedang membuang kue itu ke tempat sampah. Aaah... aku merasa sakit melihat kue itu dibuang begitu saja.

“Nggak juga. Aku hanya memiliki pengalaman mengacaukan atraksi rumah hantu karena aku nggak sengaja membentur lampu utamanya.”

Karena pernyataan itu, Niira dan Nindy menatapku dengan kaget.

“Apa? Aku boleh merasa takut, kan?”, tegurku.

Oke, persiapan selesai! Aku memastikan semua tirai tertutup dan mantra sihir di penahan pintu semuanya siap. Baiklah!

“Oke, aku akan mematikan lampunya.”

Aku langsung menekan saklar itu lagi, dan rumah ini langsung gelap dengan sekejap, membuatku sedikit terbutakan karena terkejut. Mataku perlahan mulai menyesuaikan dengan cahayanya, dan aku mulai bisa melihat tiga wajah di sekelilingku.

“Hantunya datang lebih cepat dari yang aku duga.”

Trigger Flame Trap.”

Mantra milik Niira menyalakan lilin yang ada di sekeliling ruangan dengan bersamaan. Cahayanya redup, namun cukup untuk membuat si hantu tidak bisa pergi dari tempat yang kami kelilingi dengan lilin.

Kamu gak perlu repot-repot”, ucap wajah ketiga itu, yang bergerak mundur dari kami. Kelihatannya dia sudah sadar kalau dia adalah sesosok hantu, melihat bahwa dia tidak mencoba berjalan namun hanya melayang.

Aku akan keluar dari tempat ini kalau kalian ingin.

“Bukan itu niat kami sebenarnya.”, ucap Niira, yang mendekati hantu itu dengan perlahan. Suara hantu itu seperti terdistorsi, mirip seperti suara pedangku yang memanggilku waktu itu. Jangan-jangan, sebenarnya ada hantu juga di pedangku...?

“Kami mau menenangkanmu, kalau bisa. Mungkin kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu lakukan?”, lanjut Niira.

Hantu itu tidak menjawab apapun. Melihat dari pakaian dan rambutnya, dia sudah menjadi hantu dari puluhan tahun lalu. Pakaiannya yang seperti gaun one-piece putih yang terlihat kebesaran dengan desain seperti bangsawan jaman dulu, rambutnya panjang dan rapih seperti tuan putri. Aku ingin tahu nama dia, sebenarnya.

Kalau aku tahu apa yang bisa menenangkanku, aku akan melakukannya. Tapi aku sendiri, aku gak tahu kenapa aku gak pernah bisa pergi dari dunia ini.

“Wah, sulit ya.”, ucap Niira, yang mengernyitkan dahinya dan memegang dagunya sembari berpikir. Aku juga ikut berpikir, karena ini akan sangat rumit.

“Kamu ingat kenapa kamu meninggal?”, tanya Nindy.

Hantu itu hanya menggeleng.

“Yang tersisa di ingatanku hanyalah namaku, dan dimana aku dulu tinggal. Aku adalah Harumi. Aku tinggal di perbatasan kota Revore dan Rozaly.”, ucapnya.

Niira terlihat agak terlompat mendengar ucapan hantu itu. Dia menunduk, makin mempertimbangkannya dengan berat hati. Aku bisa merasakan kalau dia menyesal melakukan ini, dilihat dari gerakannya yang mulai penuh dengan keraguan.

“Berarti distrik barat daya? Agak jauh dari sini, ya... Niira, kamu kenapa?”, Nindy menyadari bahwa Niira merasa tidak enak akan sesuatu juga, ya.

Niira jelas memiliki sesuatu sejarah yang buruk dan ia tidak mau mengucapkannya. Dia sudah menunjukkannya sejak awal kita bertemu, malahan. Namun ketidaksukaannya benar-benar terlihat jelas kali ini; sesuatu yang aneh terlihat dari Niira yang biasanya mahir dalam menjaga topengnya itu.

“Ah—aku gak apa-apa. Ruma, kamu mau ke sana? Aku sih agak...”

“Yuk! Aku mau jalan-jalan sama kalian~ Ah, kayaknya Silver Butterfly bakal banyak jalan-jalannya nih~”

Lagi-lagi, seseorang mengambil keputusan sebelum aku bisa mengucapkan apapun. Ya sudahlah, aku sudah cukup terbiasa untuk mengalami hal seperti ini.

“Tapi cara bawa dia gimana? Dia nggak bisa dibawa keluar rumah ini, kan? Kena cahaya aja, dia sudah menghilang.”, aku mengeluarkan pertanyaan yang logis.

Kita tidak mungkin membawa orang ini keluar begitu saja, mengingat kondisinya yang tidak bisa keluar dari kegelapan. Namun kurasa jika Niira menyarankan ini, dia sebenarnya sudah punya rencana. Dia hanya enggan untuk mengucapkannya. Apakah Niira menghindari kasus ini karena namanya? Atau karena tempat tinggalnya? Niira terlihat memikirkannya dengan keras. Namun aku menepuk bahunya dengan lembut.

“Aaaah, oke! Aku punya cara, tapi kamu gak boleh bilang ke siapapun soal ini. Sedikitpun gak boleh. Oke?”

Kami berdua mengangguk—maaf, bertiga, karena kelihatannya hantu itu juga tidak ingin berada di sisi buruknya Niira.

Dia pasti akan mengeluarkan sesuatu yang absurd dan menghancurkan teori tentang sihir yang kita ketahui lagi. Aku tahu itu.

Komentar