Chapter 3 (Part 3): Wait... What Is Normal?


Aku menendang pintu rumah itu dengan sekuat tenagaku, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan yang akan menyakitkan siapapun di belakangnya. Di tanganku adalah katana berbahan kayu, yang langsung mengayun ke seseorang yang terkejut di depanku.

Aku segera mengalihkan gerakanku ke korban kedua, menghantamkan wajahnya ke meja dapur menggunakan bilah pedangku.

Salah satu dari para pria itu menghampiriku dari depan. Aku menggunakan lututku untuk memukul perutnya, dan memukul wajahnya dengan gagang pedangku. Dia terjatuh begitu saja. Aku memasukkan pedang kayuku ke sarungnya di pinggulku, dan meraih pistol yang terjatuh di lantai dalam waktu sekejap.

“Si Merah! Si Merah datang!”

Oi sialan, namaku bukan Si Merah! Kau pikir aku api kebakaran? Ah, persetan. Mereka memang mengenaliku dari jaket berwarna merah (yang dibawakan oleh Yuvi dari rumah) dan mata kiriku yang berwarna merah, dan biasanya beserta Tachi of the Grim Reaper yang menyala merah ketika aku mengalirkan sihirku, namun aku tetap merasa terganggu oleh nama panggilan itu.

Aku langsung menghantam orang yang berteriak itu dengan tangan kiriku.

Aku tidak mengeluarkan pedangku kali ini karena aku mencari informasi. Mereka adalah salah satu dari grup penjual perbudakan—yang jelas ilegal—yang aku tahu. Mereka ingin menghancurkan kompetitor mereka, bukan? Dan aku jelas tidak boleh membunuh mereka sebelum aku mendapatkan informasi ini. Dan aku biasanya tidak membunuh mereka. Tidak semua.

Aku kembali menendang pintu basemen mereka, dan menembakkan dua peluru pada perut orang yang berdiri di baliknya. Tenang, dia tidak akan mati.

“Sialan...!!”, umpatnya, sembari memegangi perutnya itu. Tubuhnya meregenerasi secara perlahan-lahan, memuntahkan timah panas yang ada di dalam tubuhnya keluar. “Kenapa..!?”

Aku menggunakan sebuah balaclava untuk menyembunyikan identitasku, ngomong-ngomong.

Aku kembali menembakkan pistol itu pada perutnya, membuatnya terjatuh dari tangga tempat dia berdiri. Aku bergerak mendekatinya, dan memeriksa sekelilingnya. Tidak ada lawan yang perlu aku hantam, namun kelihatannya bisnisnya masih berjalan seperti biasa. Aku melihat mata-mata manusia yang lemas menatap ke arahku.

“Brengsek...!!! Apa maumu!?”, teriaknya lantang.

Aku menyeretnya ke sebuah kursi yang kurasa ia gunakan untuk menahan korbannya, dan mengunci tangan dan kakinya dengan ikatan yang ada di kursi itu.

“Korban penculikan dan perbudakan, 23-24 tahun lalu. Nama kode Harumi.”, ucapku, menggunakan suara yang kurendahkan dan diserak-serakkan. Melakukan ini menyakiti tenggorokanku, jadi aku menyingkatkan percakapan kami.

“Dan kamu berpikir aku sudah beroperasi sejak—“

Ucapannya kupotong dengan dua tembakan di perut dan kakinya, dan dia mengerang kesakitan olehnya. Tubuhnya memang bisa beregenerasi, namun itu bukan berarti dia bisa mengabaikan rasa sakitnya.

“Sialan!! Oke! Aku tahu soal itu, oke? Namun itu bukan bisnis yang menarik, yang itu.”

“Jelaskan.”

“Gadis cilik, gak ada harganya. Aku gak tertarik dengan itu. Perintahnya untuk diculik lalu dijual. Aku gak tahu siapa kliennya, tapi aku tahu siapa yang ngambil kerjaan itu. Mickey.”

“Dan dimana dia?”

“Kau pikir aku tahu?”

Kali ini aku menembakkan satu peluru ke mulutnya. Dia terlihat seperti mengumpat dengan penuh amarah, namun hanya suara erangan yang bisa kudengar.

“Aaaaa—sialan!! Dengar, kau tidak mencari Mickey. Mickey yang mencarimu! Bedebah itu mengincar gadis dengan nilai yang tinggi, namun dengan risiko rendah—aku sudah mengucapkan semuanya, hentikan!!”

Aku menarik pistol itu dari tubuhnya, dan mulai membuka kunci penjara-penjara kecil yang menahan orang-orang di dalamnya menggunakan tangan kosongku. Dua belas orang bangkit dengan lemah, namun seorang pria berumur dua puluhan yang terlihat memar di mata kanannya langsung berdiri melihatku membuka kuncinya. Aku pun menyerahkan pistol itu padanya.

“Kalau kamu sudah bosan, tembakkan satu peluru pada alat kelaminnya.”, itu menjadi ucapan terakhirku sebelum meninggalkan lokasi itu.

Aku bergegas melepaskan jaket dan balaclava itu dari tubuhku sebelum ada seseorang yang mengenaliku, dan memasukkannya ke dalam tas kecilku itu. Hei, Niira bilang aku tidak boleh menggunakan sihir. Namun dia tidak melarangku menggunakan sesuatu yang ditingkatkan dengan sihir. Dan sekarang, banyak produk-produk komersial yang ditingkatkan dengan sihir, menjadikan alat-alat pendeteksi sihir diatur untuk mengabaikannya.

Aku menghubungi Silver Butterfly dengan video conference melalui aplikasi LICE, dan mereka semua mengangkat hampir serempak. Yang tidak ada hanyalah Zakiel.

Setelah memberikan apa yang aku tahu, anggota terbaru kita, Nindy, adalah orang yang memberikan presentasi pertamanya.

“Aku mencari latar belakang Bilya Lice sesuai permintaanmu. Sebelumnya dia bekerja di kantor pos, kini berubah menjadi CEO aplikasi ternama. Anak perempuannya, Zika Lice, 37 tahun, belum menikah dan saat ini bekerja sebagai analis di laboratorium penelitian Universitas Revore. Anak laki-lakinya, Megaria Lice, 33 tahun, bekerja sebagai CIO di LICE.”

Aku tidak melihat Harice di kamera Niira dan Nindy. Kurasa mereka meninggalkannya di ruangan Malika agar mereka bisa mendiskusikan hal ini secara rahasia.

“Aku juga mencari tetangga dari pak Bilya ini. Alex Shimorian. Usahanya berada di pangan, ia meneruskan usaha orang tuanya. Ruma, aku nggak tahu apa tujuanmu mencari latar belakang mereka. Bahkan kalau mereka terlibat, aku ragu ada rekam jejak digital yang mereka tinggalkan.”, terang Nindy lagi.

“Nggak, kurasa Ruma benar.”, ucap Yuvi. “Ada sesuatu yang janggal dari latar belakang mereka.”

“Contohnya?”, tanya Alicia.

“Contohnya, Ruma sebelumnya bilang kalau Harumi—maksudku Harice—hampir dibunuh warga karena ada ‘sumber terpercaya’ yang bilang kalau Harice adalah penyihir. Lalu, tiba-tiba Harice bisa lolos? Dan tiba-tiba tertangkap oleh seseorang yang mau menjual Harice? Seseorang sangat berusaha untuk menyingkirkannya, sampai memiliki rencana B. Yang bisa menjadi sumber terpercaya hanya orang-orang yang berada di sekeliling Harice, bukan?”

Semuanya terdiam. Aku rasa semuanya mencurigai satu orang yang sama, namun enggan untuk mengucapkannya tanpa dasar bukti yang kuat.

“Juga, kenapa paman Bilya ini perhatian sekali sama kak Harice, sampai dia mengasuh anak yang dilahirkan kak Harice? Aku rasa paman Bilya gak bersalah, namun dia juga memiliki tanggungan dalam masalah ini.”, tambah Erika.

Lagi-lagi, yang lain ikut terdiam. Mereka memikirkan hal yang sama, kelihatannya, melihat ekspresi mereka yang dapat dengan mudah dibaca. Namun ya, kita tidak punya bukti apapun untuk itu. Dan tujuan kita sekarang bukanlah untuk menyelidiki kasus kriminal 23 tahun lalu, seberapa menarikpun itu. Tujuan kita adalah untuk menenangkan jiwa dari Harice, dan itu sebaiknya menjadi fokus kita.

“Tapi bagaimana cara kita tahu cara menenangkan jiwanya Harice? Dia nggak bicara sepatah katapun pada kami.”, ujar Niira yang sedang membuka bungkus permen coklat.

Oi, jangan makan saat rapat.

“Mungkin kita gak perlu menenangkannya? Maksudku, kenapa kita gak ninggalin dia saja bersama anaknya?”

“Yuvi, itu adalah ide yang bagus. Namun saat ini, dia harus berada di jarak sepuluh meter denganku, karena aku menyuplai jiwanya dengan sihir. Bahkan kalau aku menggunakan permata yang sanggup untuk menahan jiwanya dengan waktu yang lama, sihirnya tidak akan bertahan lama. Dan dia akan kembali bergentayangan—malah bisa mengganggu.”

Ugh, aku tidak tahan dengan ini. Kita harus menemukan suatu tujuan, dan kita harus melakukannya secepatnya. Apa yang kita harus lakukan sekarang? Kelihatannya mempertemukan Harice dengan anaknya tidak membuat jiwanya tenang.

Mungkin dia juga ingin mencari jawaban atas alasan kematian dirinya?

“Dugaan pertamaku berada di anak perempuan pak Bilya. Mungkin kecemburuan atau semacamnya.”, ucapku mengeluarkan apa yang ada di pikiranku.

Dan setelah itu diputuskan bahwa Yuvi akan menyelidiki anak pak Bilya itu, seseorang bernama Zika Lice, bersama Alicia. Niira dan Nindy akan tetap bersama Harice dan Malika.

Dan aku mencari Mickey. Tentunya, ini lebih merupakan bidangku, kan?

Ah, aku mau pulang dan bermain game!

Komentar