Aku menendang pintu rumah itu dengan sekuat tenagaku,
menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan yang akan menyakitkan siapapun di
belakangnya. Di tanganku adalah katana berbahan kayu, yang langsung mengayun ke
seseorang yang terkejut di depanku.
Aku segera mengalihkan gerakanku ke korban kedua,
menghantamkan wajahnya ke meja dapur menggunakan bilah pedangku.
Salah satu dari para pria itu menghampiriku dari depan. Aku
menggunakan lututku untuk memukul perutnya, dan memukul wajahnya dengan gagang
pedangku. Dia terjatuh begitu saja. Aku memasukkan pedang kayuku ke sarungnya
di pinggulku, dan meraih pistol yang terjatuh di lantai dalam waktu sekejap.
“Si Merah! Si Merah datang!”
Oi sialan, namaku bukan Si Merah! Kau pikir aku api
kebakaran? Ah, persetan. Mereka memang mengenaliku dari jaket berwarna merah (yang
dibawakan oleh Yuvi dari rumah) dan mata kiriku yang berwarna merah, dan
biasanya beserta Tachi of the Grim Reaper yang menyala merah ketika aku
mengalirkan sihirku, namun aku tetap merasa terganggu oleh nama panggilan itu.
Aku langsung menghantam orang yang berteriak itu dengan
tangan kiriku.
Aku tidak mengeluarkan pedangku kali ini karena aku mencari
informasi. Mereka adalah salah satu dari grup penjual perbudakan—yang jelas
ilegal—yang aku tahu. Mereka ingin menghancurkan kompetitor mereka, bukan? Dan
aku jelas tidak boleh membunuh mereka sebelum aku mendapatkan informasi ini.
Dan aku biasanya tidak membunuh mereka. Tidak semua.
Aku kembali menendang pintu basemen mereka, dan menembakkan
dua peluru pada perut orang yang berdiri di baliknya. Tenang, dia tidak akan
mati.
“Sialan...!!”, umpatnya, sembari memegangi perutnya itu.
Tubuhnya meregenerasi secara perlahan-lahan, memuntahkan timah panas yang ada
di dalam tubuhnya keluar. “Kenapa..!?”
Aku menggunakan sebuah balaclava untuk menyembunyikan
identitasku, ngomong-ngomong.
Aku kembali menembakkan pistol itu pada perutnya, membuatnya
terjatuh dari tangga tempat dia berdiri. Aku bergerak mendekatinya, dan
memeriksa sekelilingnya. Tidak ada lawan yang perlu aku hantam, namun
kelihatannya bisnisnya masih berjalan seperti biasa. Aku melihat mata-mata
manusia yang lemas menatap ke arahku.
“Brengsek...!!! Apa maumu!?”, teriaknya lantang.
Aku menyeretnya ke sebuah kursi yang kurasa ia gunakan untuk
menahan korbannya, dan mengunci tangan dan kakinya dengan ikatan yang ada di
kursi itu.
“Korban penculikan dan perbudakan, 23-24 tahun lalu. Nama
kode Harumi.”, ucapku, menggunakan suara yang kurendahkan dan diserak-serakkan.
Melakukan ini menyakiti tenggorokanku, jadi aku menyingkatkan percakapan kami.
“Dan kamu berpikir aku sudah beroperasi sejak—“
Ucapannya kupotong dengan dua tembakan di perut dan kakinya,
dan dia mengerang kesakitan olehnya. Tubuhnya memang bisa beregenerasi, namun
itu bukan berarti dia bisa mengabaikan rasa sakitnya.
“Sialan!! Oke! Aku tahu soal itu, oke? Namun itu bukan
bisnis yang menarik, yang itu.”
“Jelaskan.”
“Gadis cilik, gak ada harganya. Aku gak tertarik dengan itu.
Perintahnya untuk diculik lalu dijual. Aku gak tahu siapa kliennya, tapi aku
tahu siapa yang ngambil kerjaan itu. Mickey.”
“Dan dimana dia?”
“Kau pikir aku tahu?”
Kali ini aku menembakkan satu peluru ke mulutnya. Dia terlihat
seperti mengumpat dengan penuh amarah, namun hanya suara erangan yang bisa
kudengar.
“Aaaaa—sialan!! Dengar, kau tidak mencari Mickey. Mickey
yang mencarimu! Bedebah itu mengincar gadis dengan nilai yang tinggi, namun dengan
risiko rendah—aku sudah mengucapkan semuanya, hentikan!!”
Aku menarik pistol itu dari tubuhnya, dan mulai membuka
kunci penjara-penjara kecil yang menahan orang-orang di dalamnya menggunakan
tangan kosongku. Dua belas orang bangkit dengan lemah, namun seorang pria berumur
dua puluhan yang terlihat memar di mata kanannya langsung berdiri melihatku
membuka kuncinya. Aku pun menyerahkan pistol itu padanya.
“Kalau kamu sudah bosan, tembakkan satu peluru pada alat
kelaminnya.”, itu menjadi ucapan terakhirku sebelum meninggalkan lokasi itu.
Aku bergegas melepaskan jaket dan balaclava itu dari
tubuhku sebelum ada seseorang yang mengenaliku, dan memasukkannya ke dalam tas
kecilku itu. Hei, Niira bilang aku tidak boleh menggunakan sihir. Namun
dia tidak melarangku menggunakan sesuatu yang ditingkatkan dengan sihir.
Dan sekarang, banyak produk-produk komersial yang ditingkatkan dengan sihir,
menjadikan alat-alat pendeteksi sihir diatur untuk mengabaikannya.
Aku menghubungi Silver Butterfly dengan video conference
melalui aplikasi LICE, dan mereka semua mengangkat hampir serempak. Yang tidak
ada hanyalah Zakiel.
Setelah memberikan apa yang aku tahu, anggota terbaru kita,
Nindy, adalah orang yang memberikan presentasi pertamanya.
“Aku mencari latar belakang Bilya Lice sesuai permintaanmu.
Sebelumnya dia bekerja di kantor pos, kini berubah menjadi CEO aplikasi
ternama. Anak perempuannya, Zika Lice, 37 tahun, belum menikah dan saat ini
bekerja sebagai analis di laboratorium penelitian Universitas Revore. Anak laki-lakinya,
Megaria Lice, 33 tahun, bekerja sebagai CIO di LICE.”
Aku tidak melihat Harice di kamera Niira dan Nindy. Kurasa
mereka meninggalkannya di ruangan Malika agar mereka bisa mendiskusikan hal ini
secara rahasia.
“Aku juga mencari tetangga dari pak Bilya ini. Alex
Shimorian. Usahanya berada di pangan, ia meneruskan usaha orang tuanya. Ruma,
aku nggak tahu apa tujuanmu mencari latar belakang mereka. Bahkan kalau mereka
terlibat, aku ragu ada rekam jejak digital yang mereka tinggalkan.”, terang Nindy
lagi.
“Nggak, kurasa Ruma benar.”, ucap Yuvi. “Ada sesuatu yang
janggal dari latar belakang mereka.”
“Contohnya?”, tanya Alicia.
“Contohnya, Ruma sebelumnya bilang kalau Harumi—maksudku
Harice—hampir dibunuh warga karena ada ‘sumber terpercaya’ yang bilang kalau
Harice adalah penyihir. Lalu, tiba-tiba Harice bisa lolos? Dan tiba-tiba
tertangkap oleh seseorang yang mau menjual Harice? Seseorang sangat berusaha
untuk menyingkirkannya, sampai memiliki rencana B. Yang bisa menjadi sumber
terpercaya hanya orang-orang yang berada di sekeliling Harice, bukan?”
Semuanya terdiam. Aku rasa semuanya mencurigai satu orang
yang sama, namun enggan untuk mengucapkannya tanpa dasar bukti yang kuat.
“Juga, kenapa paman Bilya ini perhatian sekali sama kak
Harice, sampai dia mengasuh anak yang dilahirkan kak Harice? Aku rasa paman
Bilya gak bersalah, namun dia juga memiliki tanggungan dalam masalah ini.”,
tambah Erika.
Lagi-lagi, yang lain ikut terdiam. Mereka memikirkan hal
yang sama, kelihatannya, melihat ekspresi mereka yang dapat dengan mudah
dibaca. Namun ya, kita tidak punya bukti apapun untuk itu. Dan tujuan kita
sekarang bukanlah untuk menyelidiki kasus kriminal 23 tahun lalu, seberapa
menarikpun itu. Tujuan kita adalah untuk menenangkan jiwa dari Harice, dan itu
sebaiknya menjadi fokus kita.
“Tapi bagaimana cara kita tahu cara menenangkan jiwanya
Harice? Dia nggak bicara sepatah katapun pada kami.”, ujar Niira yang sedang
membuka bungkus permen coklat.
Oi, jangan makan saat rapat.
“Mungkin kita gak perlu menenangkannya? Maksudku, kenapa
kita gak ninggalin dia saja bersama anaknya?”
“Yuvi, itu adalah ide yang bagus. Namun saat ini, dia harus
berada di jarak sepuluh meter denganku, karena aku menyuplai jiwanya dengan
sihir. Bahkan kalau aku menggunakan permata yang sanggup untuk menahan jiwanya
dengan waktu yang lama, sihirnya tidak akan bertahan lama. Dan dia akan kembali
bergentayangan—malah bisa mengganggu.”
Ugh, aku tidak tahan dengan ini. Kita harus menemukan suatu
tujuan, dan kita harus melakukannya secepatnya. Apa yang kita harus lakukan
sekarang? Kelihatannya mempertemukan Harice dengan anaknya tidak membuat jiwanya
tenang.
Mungkin dia juga ingin mencari jawaban atas alasan kematian
dirinya?
“Dugaan pertamaku berada di anak perempuan pak Bilya.
Mungkin kecemburuan atau semacamnya.”, ucapku mengeluarkan apa yang ada di
pikiranku.
Dan setelah itu diputuskan bahwa Yuvi akan menyelidiki anak
pak Bilya itu, seseorang bernama Zika Lice, bersama Alicia. Niira dan Nindy
akan tetap bersama Harice dan Malika.
Dan aku mencari Mickey. Tentunya, ini lebih merupakan
bidangku, kan?
Ah, aku mau pulang dan bermain game!
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk meninggalkan komentar yang membangun! Komentar kamu bisa membantuku mengembangkan kemampuanku lebih jauh lagi, dan komentarmu juga membuatku yakin kalau ada yang baca blogku...