Chapter 3 (Part 2): Wait... What Is Normal?


Kami berempat sampai di distrik barat daya dari kota Revore menggunakan kereta kota. Ya, berempat, karena hantu bernama Harumi ini ikut bersama kami. Aku tidak kaget dengan mereka ikut bersama kami, aku hanya kaget dengan metodenya.

Ketika Niira bilang kalau dia membawa sepuluh senjata, dia tidak berbohong; malah dia merendah. Dia memiliki setidaknya empat berlian untuk sihir defensif, tiga untuk serangan, sepuluh adalah berlian penampung sihir dengan elemen, dan sisanya adalah berlian kosong tanpa energi sihir. Seberapa kaya dia?

Metode ini ditemukan oleh dua orang dari klub Penelitian Paranormal yang suka bereksperimen gila itu, kata Niira. Ternyata sebenarnya Niira juga ikut di dalam klub Penelitian Paranormal itu, namun menjadi anggota lepas karena ia masuk ke dalam Silver Butterfly; jadi dia tahu mengenai penelitian yang mereka lakukan.

Dengan mengisi sihir elemen nonfisik milik Niira yang unik ke dalam berlian, dia dapat menyusupi sebuah jiwa ke dalam berlian itu, lalu memanggilnya seperti sihir pemanggilan. Niira bisa memperlihatkan, atau menyembunyikan Harumi jika Niira mau, namun saat ini Niira membuat Harumi tak terlihat orang lain, supaya kita tidak perlu membayar tiket kereta untuk sesosok hantu...

Meski begitu, tidak ada yang kami temukan dari tempat ini. Perumahan tempat dia tinggal dulu kini digusur dan menjadi sebuah perumahan elite. Sebuah taman bermain yang ada di sebelahnya sudah terbengkalai, namun menurut penduduk setempat, taman bermain ini akan digusur dan dibangun menjadi sebuah tempat wisata, atau mungkin sebuah mall.

Harumi bilang kalau dia tinggal di dekat daerah ini, namun perumahan yang dulunya di sini telah digusur sejak kurang lebih dari dua puluh tahun lalu. Tentunya tidak ada rekaman digital tentang dimana keluarganya, beserta tetangga-tetangganya sekarang. Namun seharusnya ada rekaman fisik di suatu tempat, bukan? Itu yang ingin aku pikirkan.

Namun andaikan semuanya semudah itu...

“Mereka nolak kita gitu aja!? Padahal kita jelas menggunakan lencana kupu-kupu perak, seharusnya mereka tahu siapa kita!”, keluh Niira.

Sebenarnya wajar saja. Banyak yang masih ragu dengan klub Silver Butterfly. Siapa yang akan percaya begitu saja dengan anak SMA yang bermain detektif-detektifan dengan organisasi gelap bernama Divisi Khusus itu? Aku bisa memakluminya, sungguh.

Jadi, ini menyebalkan. Namun aku tahu pasti kita akan menemukan suatu jalan. Aku yakin kita akan menemukannya. Yang kita butuh hanyalah sebuah petunjuk, bahkan sekecil apapun.

Niira membuat Harumi terlihat oleh semua orang sekarang, karena tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikannya. Semua orang juga bisa menyentuhnya sekarang, jadi dia harus beradaptasi untuk bisa menyentuh barang lagi. Namun melihat sesosok hantu yang sangat girang ketika ia bisa memakan makanan dan minuman lagi – meskipun dia bilang dia tidak bisa merasakannya – itu membuatku sedikit kagum.

Sungguh, bukankah sihir seperti ini bisa berpotensi untuk membuat immortality pertama? Niira benar, aku sebaiknya tetap bungkam soal ini.

“Tapi kita benar-benar gak punya jalan masuk dari manapun ya~”, keluh Nindy, yang mengeluh dengan sebuah mochaccino hangat di tangannya yang kelihatannya enak di cuaca yang dingin ini. Mungkin aku akan memesannya nanti.

Kafe ini mulai dikerubungi oleh anak-anak muda, sebagian besar kelihatannya adalah pasangan yang sedang menjalani kencan pertama mereka. Ada juga gadis-gadis seperti kami yang berkumpul dan tertawa dengan sedikit berisik, namun kita duduk di luar kafe karena di dalam penuh, jadi kita tidak bisa mengeluh juga.

“Ya... aku sedikit berharap kalau ada seseorang yang lewat lalu mengenali Harumi, tapi itu cuma terjadi di game, ya.”, ucapku, sembari memanggil salah satu pelayan kafe ini dan memesan mochaccino yang sama seperti Nindy. Sedangkan Niira memesan espresso, alias kopi hitam yang super pahit itu. Aku tidak pernah melihat ada gadis muda seperti Niira yang suka dengan espresso, namun tentunya, gadis ini adalah anomali, kan?

“Ya, itu cuma ada di game, Ruma... tapi aku juga sedikit berharap kayak gitu, sih...”, ucap Niira.

Kopi kami tidak lama datang, dan kelihatannya dugaanku benar. Mochaccino ini benar-benar enak. Sedangkan Niira... dia terbatuk-batuk setelah mencicipi espresso miliknya. Sudah kuduga.

“Kamu gapapa?”, tanya Nindy yang terlihat khawatir akan Niira. Niira mengangguk, lalu menuangkan sesendok gula pasir yang ada di meja kami dan mengaduknya.

“Cuma agak kaget aja... ternyata begini ya rasanya... kayak lumpur...”, ucap Niira, yang tertawa oleh pernyataannya itu. Jadi dia memesan sesuatu yang dia tidak sukai? Tuhan, jika kamu di sana, tolong buat patch fix untuk otak Niira, terima kasih.

“Kenapa kamu pesan espresso kalau kamu nggak tahu rasanya, sih!? Mau tukeran dengan punyaku?”

Niira menggeleng dan menolakku.

“Gak apa-apa... aku cuma mau tahu. Apa yang dia rasakan saat dia minum kopi ini...”

“Dia...?”

“Hei Harumi, apa ada lagi yang kamu bisa ingat dari tempat tinggalmu? Mungkin tempat dimana kamu meninggal, misalnya? Atau mungkin tempat favorit kamu?”, tanya Niira, yang sudah ingin menghentikan percakapan yang ia mulai. Ya, inilah Niira, dan aku tidak perlu terkejut. 

“Um... aku terpikirkan satu tempat, namun aku tidak tahu kenapa aku teringat tempat itu.”, ucap Harumi. Sekarang suaranya tidak terdistorsi seperti sebelumnya, dan syukurlah itu terjadi. Suaranya sebelumnya itu agak menyeramkan.

“Kalau begitu selanjutnya kita ke sana. Aku akan ke kasir dulu ya.”, ucapnya sembari berdiri dan meninggalkan kami. Kami semua melihatnya dengan curiga, melihat caranya dalam menghindari topik yang dia sendiri sentuh.

“Aku kalau begitu ikut permisi. Aku tidak mau tiba-tiba menghilang.”, ucap Harumi, yang segera berlari menyusul Niira setelah menenggak sisa kopinya.

Ya, kelemahan yang dimiliki dalam sihir ini adalah si sosok hantu yang dibangkitkan harus berada dalam jangkauan si penyihir yang memanggilnya, atau ia akan menghilang. Ya, kita bisa memanggilnya lagi, namun kurasa dia tidak akan menyukainya. Aku dan Nindy bertatap-tatapan, memiliki pertanyaan yang sama di mata kami. Seakan-akan kami berdua sedang berdiskusi tentang hal yang sama.

“Sesuatu yang menarik.”, pikir kami berdua. Tentunya, kami tidak mengucapkan sepatah katapun.

Tidak lama, kita sudah meluncur lagi ke... manapun kita saat ini. Yang aku tahu kita akan pergi ke daerah di sisi barat Revore, dan Niira kelihatannya tahu sesuatu yang kita tidak tahu.

Tapi sebelum itu, kami menghubungi Alicia. Kami memintanya untuk mencari tahu siapapun yang bernama Harumi yang meninggal setidaknya dua puluh tahun lalu. Itu bukanlah pekerjaan yang mudah, karena dia harus menggali data yang mungkin tidak ada versi digitalnya; namun jika itu Alicia, aku rasa dia akan menemukannya. Ditambah Erika juga ikut berangkat ke perpustakaan besar di kota kami untuk mencari informasi.

Namun saat ini, ya, kami tidak memiliki informasi apapun untuk membantu kami mencari.

“Aku punya firasat sih, tapi aku harus mastiin dulu.”, ucap Niira sebelumnya, sebelum dia memejamkan matanya dan tertidur di dalam bis. Apakah firasatnya itu bisa dikonfirmasi dengan tidur? Mungkin. Siapa yang tahu. Niira kan aneh.

Aku dan Nindy hanya bermain permainan ponsel sebentar sebelum ponselku berdering. Melihat nama yang tertulis yaitu ‘Erika’, aku tentunya langsung mengangkatnya.

“Halo Ruma, sebentar ya, aku gak bisa kencang-kencang ngomongnya.”, bisik Erika saat dia menghentikan sapaanku di tengah jalan. “Aku berhasil menemukan sejumlah koran-koran lama di komputer arsip perpustakaan. Aku bisa mencari sampai lima puluh tahun lalu. Apa yang perlu aku cari?”

“Oke... aku mencari seseorang bernama depan Harumi. Dia meninggal pada usia enam belas tahun, kurang lebih.”, aku mendeskripsikan apa yang aku bisa kepada Erika.

“Dari distrik berapa?”, tanya Erika.

Revore pada masa lalu dibagi menjadi sembilan distrik. Barat laut adalah distrik satu, sisi utara adalah nomor dua, selatan adalah delapan, timur adalah enam, dan seterusnya. Sistem distrik yang mudah. Aku ingin tahu kenapa manusia suka mempersulit diri mereka sendiri.

“Dia itu distrik tujuh. Oh iya, ada kemungkinan bahwa dia merupakan turunan darah biru.”, tambahku yang lupa aku sampaikan. Kenapa aku berpikir begitu? Karena dari pakaian terakhirnya itu. Gaun seperti itu tidaklah umum dipakai masyarakat biasa karena harganya yang mahal (saat itu).

“Uh... aku gak nemu apapun. Bahkan namanya.”, ucap Erika dengan kecewa.

Berarti namanya tidak muncul di pencarian? Huh, itu aneh. Ini berarti kita harus mencari informasi dengan cara yang lain, dan itu akan sangat rumit, mengingat kita harus mencari satu kasus dari jarak 30 tahun. Jika satu tahun ada 52 pekan, ada kurang lebih 1560 koran yang harus kita periksa.

Lima puluh tahun lalu, berarti itu adalah masa dimana sihir mulai digunakan secara terbuka. Saat itu juga penggabungan beberapa kerajaan menjadi bagian dari Etheria; invasi yang kakek ikuti. Lalu ada perang dengan Republica...

Ah.

“Rika, tolong carikan kasus main hakim sendiri, masalah pembakaran penyihir perempuan.”

“Eh? Oke... uh, ada tiga kasus yang kurasa relevan—“

“Kirimkan semuanya.”

Dia mengirimkanku sejumlah foto tangkapan layar yang salah satunya menarik perhatianku. Ini dia yang aku cari.

“Penyihir Iblis Lolos Dari Eksekusi” tulisnya. Kakek bercerita karena saking buruknya kondisi waktu itu, semua wanita yang dianggap mencurigakan akan dieksekusi tanpa ampun. Penyihir akan dibakar sampai menjadi abu, bagaimanapun caranya. Dibandingkan dengan penyihir pria yang dianggap membantu dalam perang, penyihir wanita dianggap sebagai jelmaan iblis yang harus dibinasakan.

Distrik satu, ya. Aku rasa aku tahu cerita ini.

Aku ingat ada kasus dimana para wanita dieksekusi dari kakek. Entah apa alasan mereka bisa berpikir begitu, mungkin karena saat itu informasi adalah hal yang sulit. Memang menyeramkan apa yang bisa dilakukan oleh informasi bohong.

Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak pernah mendengar ada yang benar-benar marah dengan WesternSpy?

“Harumi gak mati karena eksekusi warga.”, ucap Niira tiba-tiba, mengejutkan kami semua. Matanya masih terpejam, namun dia terlihat sadar dengan apa yang sedang kami bicarakan.

“Kalau dia mati karena itu, dia gak akan gentayangan dengan kondisi yang baik seperti ini. Namun dia terkait. Mungkin.”, lanjutnya.

Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah datang ke distrik satu, dan melihat apakah Harumi bisa mengingat sesuatu.

Distrik satu terkenal dengan gedung-gedung yang besar dan toko yang sangat banyak. Bisa dibilang distrik satu adalah area komersial, namun tidak begitu tepat juga dikatakan begitu.

Bis kami berhenti, dan kami turun. Kali ini, kami harus membayar bagian Harumi juga, karena seseorang yang tertidur itu lupa untuk menyembunyikannya. Ya sudahlah, sudah terlanjur.

“Yang kita benar-benar perlu temukan adalah nama lengkap Harumi. Namun kenapa Harumi bisa lupa nama belakangnya sendiri? Bukankah biasanya ingatan seperti nama itu sangat melekat di ingatan?”, tanya Nindy.

“Um. Mungkin ada sesuatu yang membuat dia melupakannya. Sesuatu yang membuat dia membuang namanya itu dari ingatannya. Seperti orang tuanya sudah nggak mengakuinya lagi, atau—ah.”

Kelihatannya Niira sudah menemukan sesuatu lagi. Ia mengeluarkan ponselnya, dan melakukan sebuah pencarian melalui Findle Maps.

“Aku ingat ada seseorang yang berhasil lolos dari eksekusi mati di sebuah buku sejarah yang aku baca. Ayo.”, dia dengan segera memesan taksi online melalui ponselnya tanpa menunggu sepatah katapun dari kami.

Buku sejarah apa yang sudah Niira baca!? Aku tidak pernah mendengar ada buku sejarah yang mencatat itu, setidaknya saat aku masih suka membaca buku di masa kecilku. Meski begitu, kami benar-benar butuh petunjuk apapun sekarang, dan walau itu datang dari gadis ini, kurasa kami tidak punya pilihan lain selain mendatanginya. Salah, terutama ketika itu datang dari gadis ini.

Tempat-tempat eksekusi itu dijadikan sebagai sebuah landmark oleh distrik satu. Itu ditujukan untuk mengingatkan pada masyarakat untuk tidak melakukan main hakim sendiri. Seharusnya tempatnya berada di alun-alun kota. Sebuah pasak tinggi dengan bahan besi yang digunakan untuk membakar orang hidup-hidup. Ya, ironisnya, mereka masih sering melakukan hal yang sama.

“Kamu mengingat sesuatu, Harumi?”

Pertanyaan Niira tidak dijawab oleh Harumi, yang menatap kepada pasak itu dengan tajam, namun seakan jiwanya tidak berada di matanya.

“Ya... aku mengingat... berlari.”, ucapnya.

Gadis itu tiba-tiba berlari, dan tentu saja kami harus ikut mengejarnya. Larinya sangat cepat, mungkin karena dia terbiasa melayang sebagai hantu? Niira tertinggal di belakang, dan itu buruk karena itu bisa membuat Harumi terpanggil kembali ke arah Niira. Dan itu buruk karena kita tidak tahu dampak seperti apa yang akan terjadi jika Harumi kembali terpanggil pada Niira.

“Harumi, pelan-pelan! Kamu bisa menghilang!”, teriakku. Namun tentunya dia tidak mendengarkanku. Sejak kapan ada orang yang mendengarkan peringatan seperti itu.

Lima menit kita berlari, dan dia berhenti di sebuah lorong kecil yang buntu. Dia tidak tersengal-sengal—tentunya, karena dia tidak perlu bernafas—namun kami merasa cukup lelah. Aneh, seharusnya kondisi fisik kami tidak seburuk ini.

“Disini, aku...”

Dia tiba-tiba jatuh terduduk, dan wujudnya mulai menghilang. Tubuhnya terlihat seakan ia hanya sebuah hologram—tidak, sebuah ilusi. Warna kulitnya kembali berubah menjadi pucat, dan suaranya juga terdistorsi.

“Harumi, tenang dulu.”, ucap Niira, saat dia membungkuk di sebelah Harumi yang meringkuk ketakutan. Dia mengusap-usap bahu Harumi dengan lembut, dan membiarkan Harumi melampiaskan tangisannya.

Sudah kuduga, itu yang terjadi.

Pada masa perang, negara Republica terkenal dengan menculik para gadis-gadis, terutama remaja, dan menggunakannya sebagai... aktivitas seksual. Mereka diperlakukan seperti mainan, digunakannya, lalu dibuang oleh mereka. Negara kami juga melakukan perbudakan pada jamannya, namun mereka berusaha dengan keras agar tidak ada orang yang masih mengingat masa-masa itu.

Itulah kenapa hanya ada daftar orang-orang yang hilang karena tentara Republica diumumkan oleh koran negara kami, beserta asal mereka—itulah kenapa koran kami menjadi obyek bersejarah—namun fakta bahwa nama Harumi tidak ada di sana cukup menjelaskannya.

Aku mengeluarkan ponselku, dan mengirim pesan pada Erika yang semoga saja masih di perpustakaan. Dia pasti masih di perpustakaan, karena dia bilang kalau dia suka membaca manga di sana. Oh iya, perpustakaan disini lebih mirip seperti cafe buku. Kamu membayar per jam untuk berada di sana.

Itu akan sedikit sulit, mengingat bahwa ada peraturan privasi dan fakta bahwa pemerintah akan ingin menutupinya. Namun semoga karena ini sudah menjadi data publik dan fakta bahwa kita adalah divisi dibawah Divisi Khusus bisa memberikan kami sedikit ruang bernafas.

Dan benar saja, dalam waktu sepuluh menit ia mengirimkan kami dokumen-dokumen yang berukuran sangat besar. Apakah aku memiliki kuota yang cukup? Semoga saja.

“Niira, Nindy.”

Aku memanggil dua orang itu yang sedang menemani Harumi yang tidak bisa diajak bicara. Mereka berdua terlihat pamit sebentar dari sisinya, lalu bergegas ke arahku dengan wajah cemas.

“Dia gak bisa diajak bicara sekarang, dia gak responsif sama sekali. Harumi kenapa ya...”, ucap Nindy.

“Pertama, kurasa namanya bukanlah Harumi.”, ucapku.

Mereka berdua terkejut, tentunya. Mereka berpikir kalau Harumi berbohong, namun aku menghentikan ide mereka itu.

“Harumi adalah nama pemberian.”, ucapku. Niira memahami apa yang aku maksud, namun tidak dengan Nindy.

“Apa maksudnya itu?”

“Itu adalah sesuatu yang aku ketahui dari salah seorang kenalanku. Mereka mengganti nama korban mereka sebelum dijual. Untuk mempersulit pelacakan, tentunya. Entahlah, namun kita bisa mencarinya nanti. Kurasa dia lolos dari hukuman pembakaran, namun tertangkap oleh grup penculik.”

“Keluar dari penggorengan, terjatuh ke dalam perapian, ya...”, ucap Niira yang mengeluarkan peribahasa yang tidak pernah kudengar itu.

“Atau lebih tepatnya, ‘Keluar dari perapian, terjatuh ke pasar manusia’.”, ucap Nindy yang membuatku menjitak kepalanya atas ketidaksopanannya.

“Aku tadi juga research masalah hantu. Dari yang kudengar, hantu hanya memiliki ingatan yang kuat jika ada emosi yang mengikatnya, walau sebagian ingatan bisa hilang semakin lama dia menjadi hantu. Kamu tahu maksudku?”, tanya Niira tiba-tiba. Tunggu, jangan bilang dia memiliki Findle Search di alam mimpinya!? Ah, itu tidak penting. Aku berpikir sejenak, dan menyadarinya.

“Kalau dia hampir menjadi korban main hakim sendiri, lalu menjadi korban transaksi manusia, harusnya dia memiliki ingatan yang penuh dengan amarah?”

“Bingo. Lalu, kenapa Harumi sangat ramah? Saat kita bertemu dengannya, dia hanya menyapa kita dengan tenang, bahkan menawarkan diri untuk pergi. Gak ada sedikitpun tindakan jahat yang dia lakukan. Ayolah, bahkan dia ngopi bareng kita!”

“Karena ingatan yang melekat padanya bukanlah amarah, namun sesuatu yang lain?”, ucap Nindy.

“Bingo. Dan dari kondisi fisiknya yang utuh, kurasa itu cinta.”, ucapnya. Disinilah aku terjebak, karena aku tidak tahu maksudnya apa, atau kaitannya apa dengan cinta.

“Tunggu... gaun putih panjang yang kebesaran itu, transaksi manusia, lalu jarak waktu sepuluh bulan...”, kurasa Nindy ingin mengatakan sesuatu yang sama denganku.

“Mungkinkah Harumi meninggal setelah melahirkan?”

Ah, ternyata berbeda. Aku lebih berpikir kalau Harumi dijadikan percobaan sihir oleh penyihir nan jahat di luar sana, namun teori itu mungkin juga. Tapi tidak ada gunanya teori tanpa bukti. Kurasa kami harus bisa mengonfirmasinya langsung setelah Harumi bisa merasa lebih tenang. Semoga.

“Mungkin kita bisa mencari bukti dengan kemampuan kita?”, tanyaku.

Bagaimana cara kita melacak seseorang tanpa basis informasi apapun? Tentunya, kita mencoba mencarinya menggunakan Findle Search dulu; sang mesin pencari terbesar di dunia. Jika itu ada, kamu bisa menemukannya di Findle Search. Namun caranya kita mencari?

Inilah kelebihan dari Findle Search untuk orang-orang yang memahami tekniknya. Findle Search melakukan indexing terhadap setiap artikel laman dan menggunakan semacam pembelajaran untuk mengenali keyword. Aku tidak ingat detilnya, namun yang jelas, kita dapat mencari berdasarkan data yang kita tahu dengan menuliskannya tanpa kata penghubung.

Kita tahu bahwa Harumi dianggap penyihir, maka keyword pertama kita adalah ‘gadis penyihir’. Keyword kedua adalah distrik satu. Keyword ketiga adalah lolos. Keyword keempat adalah lorong. Keyword terakhir adalah hamil.

Sambung semua keyword itu dengan tanda plus sebagai pemisah, dan Findle Search akan menyaring data-data yang paling relevan berdasarkan keyword yang ada. Bahkan Findle Search bisa secara otomatis mengabaikan sebuah keyword jika keyword tersebut tidak memberikan hasil. Aku yakin pasti ada sesuatu. Entah blog humanitarian yang membahas mengenai kekejaman itu, atau media sosial, atau anggota keluarga—siapapun itu, aku yakin kita akan menemukannya.

Dan benar saja, aku menemukannya.

Aku akan membiarkan Niira dan Nindy untuk membujuk Harumi. Sementara itu, aku membuat sebuah panggilan penting kepada Divisi Khusus dan anggota Silver Butterfly yang lain.

*

Rumah sakit kota Revore lagi, ya... terakhir aku ke sini, aku membangkitkan seseorang dari kematian. Apa yang akan kulakukan sekarang, menyembuhkan kanker? Apakah kanker bisa disembuhkan dengan sihir Recovery Heal? Tunggu, kalau itu bisa, metode penyembuhan kanker sudah dianggap ditemukan sekarang.

Gedung rumah sakit di kota Revore ini adalah terbesar kedua setelah rumah sakit di Capitol. Semua jenis pemulihan ada di sini—jantung, paru-paru, bahkan keracunan sihir. Pfft, keracunan sihir. Lebih seperti keracunan kebodohan, karena mencoba bertarung dengan sihir yang dipaksa masuk ke tubuh seperti itu. Penyihir menyimpan kekuatan sihirnya serta bertarung menggunakan berlian bukan karena mereka lemah, namun itu karena mereka mengantisipasi kemungkinan ada yang mengganggu ritme sihir mereka. Dan untuk penyihir seperti yang menyerang Erika waktu itu, hanya butuh satu serangan dari penyihir asli untuk melumpuhkan mereka.

Namun aku disini bukan untuk itu. Aku disini untuk menyelidiki apa yang aku temukan. Atau lebih tepatnya, apa yang Findle Search temukan, namun aku yang mencarinya jadi—ah, persetan. Intinya aku ke sini untuk mencari apa yang mungkin menjadi penghambat Harumi untuk pergi.

Dan mungkin itu adalah anaknya.

Tentunya, tidak ada plot twist atau drama di sini. Aku membiarkan urusan para gadis N di sana—Niira dan Nindy—untuk mengurus itu. Tidak, aku di sini untuk hal yang memang merupakan pekerjaanku.

Siapa yang menghamili Harumi? Itu sebaiknya menjadi pertanyaan pertama kami. Dan dengan menelusuri anak dari Harumi ini, kita akan dapat mengetahui dengan siapa Harumi memiliki anak. Dan aku akan menghajar habis pemerkosa itu, bahkan jika itu berarti aku harus datang ke neraka untuk melakukannya.

Oh ya, kudengar dua orang di klub Penelitian Paranormal itu mempunyai cara untuk masuk ke dalam gerbang neraka. Dua orang gila yang mencoba mencari jalan masuk ke dunia lain. Ah, sebaiknya aku tidak berkata begitu kepada sang maestro yang menemukan item bag.

Kita datang ke rumah sakit ini karena menurut keterangan artikel yang kita baca, anak dari Harumi diasuh oleh pamannya. Berita yang dibuat oleh amatiran yang terlalu bias, namun setidaknya memiliki sedikit basis. Menurut artikelnya, Bilya Lice mengasuh seorang anak perempuan bernama Malika. Astaga, siapa yang menamai anaknya berdasarkan nama kecap?

“Permisi, kami dari Revore High, Silver Butterfly.”, aku menunjukkan lencanaku dan gadis N juga menunjukkan milik mereka. “Kami mencari pasien bernama Malika Harumi. Apakah kita bisa bertemu dengannya?”

Resepsionis itu mengangguk. Suaranya yang berat sedikit mengejutkanku.

“Baik. Boleh saya pinjam lencananya untuk scanning?”

Kami memberikan lencana kami. Pada instansi nasional yang mengurusi ranah privat seperti ini, mereka memang memiliki perangkat yang bisa membaca data RFID dari lencana kami. Ini ditujukan untuk menghindari penipuan atau kebocoran rahasia.

“Oke, data diterima. Nona Ruma, ya? Ibu Malika berada di kamar 401. Karena ia berada di ruang isolasi, mohon kerja samanya untuk mengikuti aturan berikut...”

Dia menjelaskan sejumlah aturan untuk isolasi. Seperti tidak boleh berisik, menggunakan masker; segala macamnya. Aku tidak akan lama di sini, namun tidak ada salahnya aku ikut mendengarkan, untuk jaga-jaga.

Aku menghilang tepat ketika mereka semua teralihkan.

Mereka akan tahu cepat atau lambat jika aku menghilang, namun setidaknya jika aku menghilang sekarang, aku tidak perlu membuat sebuah penjelasan yang menyulitkan pada Harumi dan Nindy.

Aku hanya ingin membalas dendam, sedikit saja.

Petunjuk pertamaku adalah siapa yang membiayai anak dari Harumi ini. Malika Harumi diasuh oleh paman dari Harumi, Bilya Lice. Ya, dia adalah pemilik dan pengembang dari aplikasi media dan komunikasi yang ternama di dunia, LICE. Aku tidak menyangka aku akan bertemu dengan orang penting seperti ini. Satu tempat yang bisa aku datangi sekarang adalah kantor dari LICE yang berada di distrik empat, namun ini hari Sabtu dan kantor yang ada di kota kami adalah kantor cabang. Apakah mungkin dia ada di sana? Atau aku memang perlu menginjakkan kakiku ke kota Capitol lagi?

Aku tidak sempat menjawabnya, karena taksi online yang kupesan sudah hadir.

Sungguh, kota Revore mungkin bisa dibagi menjadi dua kota, mengingat ukurannya yang sangat besar. Kota berbasis IoT ternama di dunia, dengan teknologi yang sangat maju, dimana banyak perusahaan unicorn, decacorn, semua-corn ada di sini.

Dan tentunya, ini menyebabkan satu hal: Macet.

Untungnya supirku sangat ahli dalam jalan tikus dan menyalip. Ya, aku menambahkan tip 2 Klair padanya, tentu saja. Namun itu cukup untuk memacu adrenalinnya hingga 200%, dan tanpa aku sadari, aku sudah berada di depan gedungnya.

Tanpa aku sadari, aku sudah mengocek 3 Klair hanya untuk perjalanan singkat. Buruk, ini buruk. Aku membuang terlalu banyak uang.

Gedung LICE tidak begitu besar, hanya setinggi empat lantai dengan lebar hanya setengah dari sekolahku. Logo LICE berwujud gagang ponsel berwarna putih dan hijau ada di pintu masuknya yang terbuka secara otomatis. Catnya juga berwarna putih dan hijau di dalamnya. Jadi seperti ini ya gedung kantor itu?

“Permisi nona,”, sapa seseorang dari balik meja resepsionis. “apakah kamu memiliki janji dengan seseorang?”

Aku menghampiri laki-laki muda yang mengenakan kemeja putih itu. Biar kutebak, dia adalah pegawai magang.

“Ya, belum ada janji, sih... aku dari Silver Butterfly. Ruma. Saya sebenarnya mau bertemu dengan Bilya Lice, namun kurasa beliau tidak ada di sini?”, tanyaku.

Dia mengecek komputernya. Oh? Kelihatannya pak Bilya Lice ini sedang—atau pernah—berada di gedung ini. Aku terkejut. Bahkan resepsionisnya membuat sebuah panggilan, berarti beliau berada di sini? Itu mudah. Jauh lebih mudah dari yang aku bayangkan.

“Nona Ruma, tolong duduk sebentar. Beliau akan datang ke sini menemui Anda.”, ucapnya.

Aku pun mematuhi permintaan orang itu dan duduk manis. Sungguh, jika Bilya Lice ini adalah orang yang memerkosa Harumi, dia sangat mudah untuk ditangkap. Namun sesuatu membuatku merasa bahwa dia tidak bersalah.

Namun apa sebabnya ya? Dan setelah kupikir-pikir, aku sering merasakan seperti aku bisa menebak kebenaran. Apakah itu kekuatan Eye of the Truth yang sebenarnya?

Tak sampai lima menit sebelum pria berumur 60 tahun datang menghampiriku. Tidak seperti yang aku pikirkan terhadap laki-laki pegawai kantor, dia hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Rambutnya sudah beruban, termasuk ke kumis dan jenggotnya. Secara refleks aku berdiri melihat kedatangannya.

“Ah, nona Ruma, benar? Aku adalah Bilya Lice.”, ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku.

Ini hanya untuk mengantisipasi, namun... aku menjabat tangannya.

“Aura detection—Broadcast.”,
Aku berbisik sembari mengalirkan sedikit sihirku menuju tangannya. Tidak ada respon.

“Ruma Neiki. Silver Butterfly.”, ucapku singkat, dan menunggunya duduk sebelum aku ikut duduk.

“Mohon maaf mengganggu waktu bekerja bapak.”, ucapku memulai percakapan, sembari mengeluarkan buku catatan dari dompet kecilku. Karena aku mengenakan rok selutut, mau tidak mau aku membawa dompet kecil ini. Membuatku terkesan seperti gadis yang mau berkencan.

“Oh?”, respon pria tua itu ketika aku mengeluarkan buku catatanku menunjukkan keterkejutan. “Aku terkejut masih ada orang yang menggunakan buku catatan seperti itu. Wah, nostalgia sekali.”

“Eh? Memangnya tidak ada orang yang mencatat menggunakan buku lagi?”, tanyaku, tiba-tiba lupa akan tujuanku berada di sini.

“Kamu nggak menggunakan aplikasi di ponselmu atau semacamnya? Semua orang sekarang entah menggunakan ePen, atau menulis di ponselnya, kau tahu.”, ucap orang itu.

“Mengetik di ponsel itu hal yang menyebalkan, dan ePen terasa seperti membuang-buang uang.”, ucapku jujur.

“Begitukah… menarik.”, ucapnya, sembari menggaruk-garuk jenggotnya. Aku merasa takut melihat ekspresi dan tindakannya itu. Namun kurasa dia hanya merasa penasaran dengan orang sepertiku yang lebih suka peralatan konvensional. Ya, semoga itu alasannya. Tenang saja, aku bisa menghantam wajahnya sampai ia mencapai bulan.

“Bagaimana kalau kamu bekerja sambilan bersama LICE di sini, nona Ruma? Aku akan membayarmu, tentunya.”, ucapnya tiba-tiba.

“Bagaimana kalau kamu membayarku dengan memberikan informasi mengenai Harumi?”

Dia terdiam tiba-tiba, dan senyumannya hilang dari bibirnya. Tubuhnya menegang, dan matanya menjadi tajam dan serius. Apakah dia memiliki masalah dengan Harumi, dan aku memancing ingatannya kembali?

“Ada apa? Anda terlihat cemas.”, ucapku kembali memancingnya.

Dia menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat… sedih? Marah? Entah apa yang ada di dalam pikirannya itu. Aku tidak mengerti apa yang ada di benaknya.

“Tidak apa-apa. Aku akan menjawab pertanyaanmu itu. Namun sebentar, aku perlu ke toilet dulu.”, ucapnya. Ia segera berdiri dan berjalan cepat menuju lorong yang berada di samping pintu elevator.

Ponselku berdering ketika dia pergi. Tertuliskan nama ‘Niira’ sebagai nama pemanggil, dan aku menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon darinya.

“Halo—”

“Ruma, kamu hilang kemana?”

Niira langsung memotong dan memarahiku tanpa basa-basi. Namun aku mendengar suara teguran dari seseorang yang berada di dekatnya, membuatnya memelankan suaranya.

“Semuanya mencari kamu, tahu? Ada dimana kamu?”, ucapnya, kini sedikit berbisik.

“Ah, aku sekarang berada di kantor cabang LICE. Ada sesuatu yang ingin aku selidiki.”, jawabku.

“Soal Harumi?”, tanya Niira lagi. Dia terdengar sedikit lebih tenang dari sebelumnya, namun jelas terdengar jengkel.

“Ya. Bos dari LICE memiliki hubungan keluarga dengan Harumi, jadi disinilah aku. Kamu tetap di sana saja dan jaga Harumi. Oke?”, terangku. Niira hanya menjawab dengan ‘Hmm’.

“Oh ya, Ruma. Kalau bisa, hindari menggunakan sihir kecuali kamu benar-benar kepepet, oke?”

Permintaan Niira itu mengejutkanku. Dia adalah guru yang mengajarkanku sihir -- kurang lebih. Namun dia juga yang melarangku menggunakan sihir.

Namun dia memiliki alasan. Jika distrik satu membakar penyihir wanita namun tidak tahu cara membedakannya, distrik empat mampu mendeteksi aktivitas sihir yang ada di sekitarnya. Semacam detektor ditanamkan pada jalan-jalan mereka, mendeteksi… apapun yang menjadi basis dari sihir. Kurasa yang mereka lakukan adalah mendeteksi aliran listrik statis yang terkumpul, namun itu hanya tebakanku.

Dan konsekuensi penyihir yang tertangkap? Entah. Namun tidak pernah hal yang baik.

“Baik, aku mengerti.”, ucapku, sebelum kami menghentikan percakapan kami.

Hanya dua menit kemudian pak Bilya kembali dari toilet. Wajahnya sedikit lebih pucat dan berkeringat dari sebelumnya, namun aku tidak bisa mengetahui apa yang ia lakukan saat ia berada di toilet barusan. Apapun itu, kurasa itu bukan buang air besar karena diare.

“Mohon maaf, aku sedikit diare. Makanan negara Republika itu menyeramkan, kau tahu? Itulah kenapa aku bekerja dari kantor cabang... hahahaha!”, kakek tua itu tertawa meskipun terdengar lemah dari suaranya.

“Ah. Sebaiknya Anda memakan buah dan minum air yang banyak.”, ucapku, berusaha memberikannya saran.

“Tenang, tenang. Mari kita bicara bisnis, sekarang. Kamu butuh jawaban, aku juga ingin sejumlah jawaban. Mari kita bertukar. Kamu mau tahu soal Harumi, aku akan memberikan itu.”

“Terima kasih—“

“Namun sebelum memulai percakapan kita ini, aku harus memberitahukanmu satu hal terlebih dahulu. Nama dia bukanlah Harumi. Dia adalah Harice Ruikami. Nama Harumi... bukanlah nama lahirnya. Sungguh, aku sangat membenci nama itu.”, potongnya dengan tegas.

Kelihatannya nama Harumi itu diambil dari singkatan namanya. Namun untuk pamannya sampai membenci sebuah nama—kelihatannya ada latar belakangnya.

“Apakah Anda tidak menyukai Haru—em—maksudku Harice?”

“Oh, bukan begitu! Dia anak baik, bahkan aku tidak akan memiliki usaha aplikasi ini jika bukan tanpanya! Ide-idenya gila, dan dia tidak takut mencobanya. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri!”

“Lalu, kenapa Anda membenci nama itu?”

Dia terdiam sejenak. Aku hanya melirik wajahnya sebentar karena aku mencatat pernyataannya di bukuku, namun kelihatannya dia marah. Ah, berarti itu, ya?

“Namanya itu diberikan oleh para penculik, ya?”

Dia mengangguk. Dia menggenggam erat kepalan tangannya, menelan amarah yang ada di batinnya. Dibalik matanya ada... rasa bersalah? Rasa sedih?

“Saat polisi menemukan jasadnya, nama itu diukirkan ke tangannya. Dengan pisau. Para bedebah itu memperlakukan Harice seperti sayur kering, kau tahu? Itu benar-benar menimbulkan amarahku. Dan saat itu, polisi dan militer masih kewalahan menyelidiki kehilangan banyak orang, jadi mereka menutup kasusnya ketika mereka menemukan jasadnya.

Empat puluh tahun lalu, masa perang antara Ethera dan Erliand berlangsung, dan hanya berakhir setelah tujuh belas tahun berlangsung. Tidak ada sisi manapun yang memenangkan pertarungan, namun semua orang tahu bagaimana Ethera dalam posisi sangat terpojok saat itu. Mereka bahkan mengerahkan penyihir-penyihir untuk berperang, namun jelas kemampuan militer kita tidak sebanding.

Ya, saat itu banyak orang-orang yang menghilang dari rumahnya. Sumber daya manusia itu sesuatu yang langka. Mereka diculik, entah untuk militer, penelitian sihir, atau dijual sebagai budak. Tidak jarang keluarga hanya dapat menemukan jenazah dari korbannya, tergeletak di sebuah jalan buntu atau di pinggiran kota.

Keluarga Harice saat itu merupakan keluarga aristokrat. Mereka memasok militer dengan ransum dan produksi peluru, dan dari sanalah mereka mendapatkan kekayaannya. Semacam keluarga Herio di zaman lampau. Dari kecil, orang tuanya jarang berada di rumah sehingga dia sering bermain ke rumahku, pamannya.

Saat dia sudah seumuranmu, nona Ruma, dia dijodohkan. Bodohnya aristokrat, bukan? Mereka tidak tahu cara mengurus anak, mereka terlalu sibuk untuk itu. Namun saat itu, Harice sedang menjalin hubungan dengan anak tetanggaku. Ahahaha, kalau aku mengingat mereka berdua...”

Ceritanya cukup panjang, dan meski aku menyingkat ceritanya, lembar bukuku langsung penuh seketika.

“Apakah bapak bisa memberikan nama mereka? Termasuk tetangga bapak itu.”, tanyaku.

“Ah, ya. Anak muda bernama Alex. Berteman baik juga dengan anak perempuanku, anak itu. Kudengar dia berada di rumah orang tuanya, meneruskan bisnisnya. Lalu aristokrat itu... ah, Tori? Tomy? Semacam itu. Namun apapun yang kamu selidiki mengenai Harice, ia tidak mungkin terlibat.”

“Kenapa?”

“Karena dia tewas tertabrak tak lama setelah penjodohan itu.”

Aku menegapkan tubuhku karena pegal. Tiba-tiba, si resepsionis datang dan membawakan dua buah cangkir dan dua jenis minuman.

“Teh? Kopi?”, tanyanya.

“Teh.”, ucap pria tua itu. Ya, tolong jangan minum kopi selama Anda diare, kakek.

“Kopi.”, ucapku. Aku mulai mengantuk karena hembusan udara dari pendingin ruangannya.

Si resepsionis itu menuangkan teh ke gelas pak Bilya, dan kopi untukku. Selain itu, ia juga membawakan krimer dan gula bungkus untukku. Aku hanya berterima kasih padanya dengan mengangguk. Apakah ini yang dikerjakan oleh anak magang? Terlihat menyebalkan. Aku menuangkan krimer dan gula itu pada kopiku—ah, dia lupa membawakan sendok. Apa boleh buat, aku akan meminumnya seperti ini saja.

“Dia adalah calon suami dari anakku.”

Tubuhku tersentak begitu aku mendengar ucapan kakek tua itu. Dan kopi itu masuk ke dalam jalur yang salah, membuatku terbatuk-batuk.

“Mohon maaf, berapa umur dari anak bapak?”

“Dia sekarang mendekati umur 38 tahun.”

Oke, aku memiliki banyak pertanyaan sekarang. Namun kurasa semua itu irelevan.

“Ehem—oke. Uh—apakah keluarga Anda ada kaitan dengan penyihir? Aku mau tahu kenapa Harice hampir dibakar oleh warga setempat.”

Dia menggeleng setelah meletakkan gelasnya. Kapan dia mengambil gelas itu? Tangannya cekatan.

“Setahuku tidak. Tidak ada seorangpun di keluargaku yang memiliki kemampuan sihir. Namun kurasa mungkin Harice memilikinya? Aku pernah melihat tubuhnya seperti bersinar, namun hanya sekali itu saja aku melihatnya.”

Bersinar?

“Aku juga mempertanyakan hal yang sama kepada kepala desa saat itu. Namun dia hanya bilang kalau ada sumber terpercaya yang menginformasikannya. Namun aku tidak bisa menginterogasinya lebih lanjut soal itu, karena fokusku adalah mencari Harice.”

Aku melanjutkan interogasinya, namun aku tidak mendapat banyak informasi yang berguna lagi. Namun aku tidak memiliki alasan untuk mencurigai pak Bilya lagi. Dia kelihatannya lebih menyayangi Harumi—atau Harice—dibanding anaknya sendiri.

Aku kembali menelepon Niira, untuk mengonfirmasi sesuatu, dan dugaanku benar. Ada yang aneh dengan pernyataan dari pak Bilya sebelumnya.

Aku dan Niira tahu kalau Harice tidak memiliki kemampuan sihir. Niira menjelaskan kalau pembangkitan semu yang Niira lakukan membuatnya tahu kalau Harice memiliki sihir miliknya sendiri.

“Kurang lebih seperti kamu memasangkan pengisi daya ponselmu ke stopkontak. Listrik dari stopkontak mengisi ponselmu. Bandingkan dengan kamu memasangkan generator ke stopkontakmu. Generator itu yang mengisi stopkontak. Aku akan merasakan aliran sihirnya bertemu denganku kalau dia memiliki sihir.”, terangnya.

Dan aku tidak terkejut. Namun pak Bilya itu salah—ada seseorang di keluarganya yang memiliki kemampuan sihir.

Aku tidak mahir dalam penyelidikan seperti ini, jadi aku memanggil Yuvi untuk membantuku. Sedangkan aku?

Aku melakukan apa yang menjadi keahlianku.

Komentar