Chapter 1: A New Wanderer

Drip. Drip. Drip.

Suara tetesan air itu membangunkanku. Tetesan air hujan yang menghantam kepada kerangka besi mobil ini terdengar dengan lantang. Tetesan air hujan itupun bertemu dengan tubuhku yang masih enggan bergerak.

Klik. Klik. Klik.

Suara mesin yang rusak itu menyadarkanku. Hawa panas dan asap yang mengepul itu mampu untuk menamparku terbangun. Nafasku tersengal-sengal karena baunya yang menyesakkan. Namun, apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa aku bisa berada di tempat ini? 

Semuanya terlihat buram. Baik itu pandangan mataku, maupun semua yang ada di otakku. Aku tidak dapat melihat apapun. Aku tidak dapat mengingat apapun. Semuanya bagaikan sebuah lukisan abstrak di mataku. Kepalaku seakan mau meledak ketika aku memaksakannya. 

Aku menarik nafasku dengan perlahan, lalu menghembuskannya dengan perlahan juga. Ya, benar begitu. Aku merasakan detak jantungku mulai melambat secara perlahan-lahan. Aku harus melihat apa yang sedang terjadi padaku.

Perlahan-lahan, pandanganku mulai kembali. Kursi mobil dengan jok kulit berwarna hitam adalah hal pertama yang aku lihat. Sebuah radio yang menyala, serta layar televisi kecil berada di kursi depanku. Sebuah pembatas besi berwarna hitam memisahkan antara kursi depan dan belakang tempat aku duduk. Masih ada suara dengungan sirine yang melemah. Aku rasa aku berada di sebuah mobil polisi. Namun aku tidak melihat siapapun mengendarai mobil ini. Baik itu seseorang, sebuah tubuh, maupun jejak darah; seakan mobil ini menyetir dengan sendirinya. 

Kerangka depan mobil ini hancur lebur. Kelihatannya kendaraan ini menghantam pembatas jalan dengan kecepatan tinggi, tergulung-gulung sejauh ratusan meter sebelum berhenti. Itu juga menjelaskan kenapa kaca depan dan belakang hancur berkeping-keping, serta kaca jendela pintu yang remuk.

Setidaknya sabuk pengaman bukan menjadi masalah terbesarku, karena aku bisa melepasnya dengan mudah. Namun aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk pintu keluarku. Mungkin aku harus mencoba keluar melalui jendela. Aku mulai mencoba menendang jendela pintuku, dan jendela itu langsung menyerah pada tendangan pertamaku. 

Aku melepas jaketku dan meletakkannya di tempat dimana kaca tersebut berada sebelumnya. Setidaknya, aku merasa yakin bahwa jaket itu dapat mengurangi kemungkinan perutku tertusuk oleh sisa-sisa gelas. 

Akhirnya dengan sedikit pertarungan, aku berhasil lolos tanpa luka yang berarti. Ya, aku sedikit tertusuk pecahan kaca yang ada di luar. Namun itu tidak seberapa dibandingkan dengan—apa-apaan ini? Aku mulai melihat sekelilingku.

Aku bukanlah satu-satunya korban kecelakaan di sini.

Tabrakan beruntun yang terjadi ini terlihat sejauh mataku mampu memandang. Meski begitu, sama seperti kendaraanku, tidak ada jenazah yang terlihat, maupun jejak darah. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan, seakan-akan mobil-mobil ini berjalan dengan sendirinya. Ada sesuatu yang salah di sini.

Aku memutari mobil polisi berwarna coklat bergaris-garis kuning itu. Serpihan kaca spion menunjukkan wajah dan tubuhku yang kecil. Mata coklat dan rambut panjang coklat yang digerai; aku merasa asing dengan tubuhku ini. Selain jaket panjangku, aku mengenakan kaus tanpa lengan berwarna merah dan celana jeans selutut. Tak ada borgol di tanganku juga, berarti aku bukan seorang tersangka kriminal. Tapi kenapa aku berada di mobil polisi?

Aku mengambil radio itu dari luar jendela pengemudi yang sudah hancur berantakan. Menekan tombol di sisinya, aku hanya mampu mengeluarkan sepatah kata:

“...Halo?...”

Suaraku terdengar sangat serak, seperti ampelas yang bergesekan dengan kayu. Aku terbatuk-batuk hanya karena sepatah kata itu. 


Aku menunggu sebuah balasan. Namun tidak ada respon yang menjawabku. Aku berdeham, berusaha menghilangkan seraknya tenggorokanku, dan berbicara kembali,

“Halo, ada orang di sana?”

Suara wanita pun akhirnya dapat keluar dari mulutku. 

Namun masih tidak ada orang yang menjawab. Aku mencabut radio itu dari kabelnya yang tersambung, juga mengambil kunci mobilnya. Firasatku berkata bahwa akan ada senjata di bagasi belakang mobil ini yang mungkin akan aku perlukan, namun aku tidak yakin aku mau mengambil senjata milik polisi begitu saja. Tapi aku khawatir akan kemunculan makhluk pemakan manusia yang muncul di layar lebar: zombi. Menyebalkan ketika ingatan pertamaku adalah zombi, bukan namaku sendiri.

Aku membuka bagasi mobil itu, dan menemukan sebuah kotak berisi pistol kecil dan enam buah peluru. Pistol revolver, ya. Kenapa senjata kecil ini berada di bagasi? Bukannya seharusnya ada di pinggang anggota kepolisian? Aku tidak mengambil pistol itu kecuali aku benar-benar membutuhkannya. Ya, misalnya seperti diserang zombi yang ada di ingatanku itu.

Namun apakah zombi memakan orang sampai ke tulang dan pakaiannya? Lagipula, kenapa tidak ada jejak darahnya?

Aku merogoh kantongku, dan menemukan sebuah ponsel pintar yang untungnya masih menyala. Aku menyentuhkan jariku pada sensor sidik jarinya, dan ponsel itu menurut dan membuka kuncinya. Apakah aku mencoba menghubungi siapapun orang terakhir yang ada di catatan panggilanku? Atau aku menelepon nomor darurat? Kelihatannya masih ada sinyal untuk melakukan panggilan. 

Namun sebelum itu, aku mulai mencoba mencari data diriku yang ada di dalam ponsel. Namun nihil. Tidak ada namaku, atau kontak, kartu nama -- apakah aku seorang agen rahasia? Aku memeriksa kantong belakangku, namun sama saja. Tidak ada dompet atau kartu identifikasi. Ya, mungkin aku adalah bagian dari intel polisi. Itu menjelaskan pakaian dan ketiadaan data pribadiku. 

Percobaan pertamaku adalah nomor darurat—112. Namun tidak ada yang menjawab panggilanku. Hanya ada bunyi panggilan saja tanpa akhir. Berarti apapun yang terjadi, ini terjadi dalam skala besar, tidak hanya kota. 

Menyerah memanggil 112, aku mencoba menghubungi nomor terakhir tanpa nama yang ada di catatan panggilanku. Tertulis bahwa panggilan terakhir terjadi 30 menit yang lalu dan berlangsung selama 8 menit, yang berarti kecelakaan yang aku alami ini berada di rentang waktu itu. Namun sama saja, tidak ada jawaban. 

Aku mengambil pistol itu, mengisinya dengan peluru, dan memasukkannya pada kantong jaketku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku harus berjaga-jaga untuk semua kemungkinan. 

Aku melangkah perlahan-lahan menuju rantai tabrakan mobil itu, menyusuri setiap mobilnya. Sejauh yang aku lihat, semua mobil ini terlihat kosong melompong. Barang-barang yang mereka miliki masih ada, namun tidak ada sedikit jejakpun keberadaan manusia—atau tidak.

Akhirnya, aku menemukan jenazah pertama. Aku menghampirinya dengan perlahan, mengeluarkan pistol dari jaketku dan membidikkannya ke arah jenazah itu. Aku tidak mau tiba-tiba dimakan atau semacamnya. 

Wanita berumur 30 tahun menabrak mobil yang ada di depannya, lalu ditabrak oleh rantai mobil yang berada di belakangnya sampai ia terjepit. Menendang-nendang pintunya untuk mencari respon (siapa tahu dia tiba-tiba mencoba menggigitku), aku mengulurkan tangan kiriku untuk mengecek nadi lehernya. Tidak ada denyut. Aku mendorong tubuhnya agar kembali ke posisi duduknya, dan mulai memeriksa luka-lukanya. Lukanya konsisten dengan kecelakaan, dan tidak ada luka gigitan. Syukurlah. 

Aku yakin sebelumnya aku tidak pernah bersyukur setelah melihat orang yang tewas karena kecelakaan, apapun pekerjaanku dulu. 

Pintu belakang mobilnya tidak terkunci, dan aku bisa membukanya dengan mudah. Aku meraih sebuah ransel kecil, dua botol air mineral, dan sebuah kotak pertolongan pertama, sebelum meninggalkan mobil itu.

Kenapa mobil-mobil ini bisa mengalami tabrakan beruntun sepanjang ini, sedangkan di arah sebaliknya kosong? Seakan-akan semua orang mengebut dan menjauhi tempat ini. Aku bisa berasumsi bahwa mobil-mobil ini sedang menuju ke rumah dari kantornya, melihat waktu saat ini adalah 4:30. Namun melihat kondisinya, mereka semua mengebut sehingga dapat membuat kecelakaannya seburuk ini. Lalu kenapa aku mengarah ke jalur yang berlawanan dengan mereka? 

Aku tidak tahu apa yang aku cari, namun karena sebelum kecelakaan arahku ke sana...

Tujuan selanjutnya: Kota.

Komentar