Chapter 2: Metamorphosis and a Piece of Meat Floss... wait what? (Part 1)


Pria itu mengeluarkan sebuah koper hitam dari lemarinya, memeganginya dengan kedua tangannya sebelum meletakannya ke atas meja di depan kami. Kami yang masih duduk di sofa ruang tamunya hanya tertegun, atau mungkin kita hanya bingung, melihat koper itu.

Ukurannya mungkin mencapai satu meter, berwarna abu-abu yang penuh dengan karat, dan terlihat cukup ringan untuk bisa dibawa satu tangan. Namun, isinya mungkin cukup penting untuk disimpan dalam brankas miliknya yang memiliki keamanan berlapis dengan sidik jari, retina, dan password yang rumit seperti itu.


“Ini adalah proyek milik Divisi Kasus Khusus, saat mereka masih menjadi bagian dari badan intelijen. Itu... sekitar lima belas tahun lalu? Ya, proyek ini ditutup sepuluh tahun lalu karena tidak ada regenerasi, jadi benda ini melapuk di dalam brankasku.”

Ia membuka kotak itu, dan terlihat kilauan berwarna abu-abu yang ada di dalamnya, meskipun kilauannya itu tertutupi oleh debu. Delapan buah lencana yang terlihat berdebu, memantulkan sebuah sinar yang hanya datang dari lampu ruangan dengan malu-malu. Lencana ini terukir seperti lambang sekolah kami, namun berwarna perak dibandingkan berwarna perunggu.


“Ini adalah Project Silver Butterfly.”


Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam koper itu. Buku itu memakan setengah dari ruangnya, dan kelihatan cukup besar untuk menghantam wajah seseorang sampai mereka lupa ingatan. Debu yang tebal itu menutupi keseluruhan sampul bukunya, dan pak Revan mencoba menyapu debu itu, membuat Niira bersin-bersin. Namun dibalik semua debu itu, masih samar-samar terlihat warna kehijauan yang menjadi warnanya dulu.


“Ini adalah catatan milik mereka sebelumnya. Kasus-kasus yang mereka telah lalui, penyelidikan mereka, foto-foto mereka, semuanya berada di buku ini. Seharusnya.”

Debu-debu yang berada di sampul buku itu sudah berkurang, namun pak Revan menyadari bahwa membersihkannya sekarang hanya akan membuat Niira pingsan. Nama ‘Reater High Silver Butterfly Investigation Club’ terlihat samar-samar di sampulnya. 

Aku membalik halamannya, dan sebuah foto delapan orang yang terlihat seumuran dengan kami, tersenyum bersama dengan lencana itu di kantong blazer bagian kirinya, menggantikan lencana perunggu yang seharusnya dikenakan di sana.


“Anda ingin kami membangun sebuah klub?”, tanyaku.


“Spesifiknya, saya ingin kamu mereaktivasi sebuah klub. Kalian memiliki tepat enam orang anggota untuk melakukannya, bukan?”


Ya, anggota klub bisa dibangun atau direaktivasi dengan keberadaan enam orang. Namun hanya butuh empat orang untuk tetap menjalankan aktivitas klub. Pengecualian ada di klub musik, yang membutuhkan hanya empat orang minimum untuk reaktivasi. Aku mengingat itu saat membaca buku petunjuk siswa, karena sekolah ini memiliki kebutuhan yang unik dalam pembangunan klub.


Misalnya, klub yang akan dibangun harus memiliki ruangan klub. Itu berbeda dengan sekolah lain dimana banyak klubnya tidak memiliki ruangan dan menggunakan ruang kelas untuk berkumpul. 

Masalahnya, saat ini ada setidaknya 18 ruangan klub, dan sudah ada 18 klub juga di sekolah kami. Berarti kami harus memilih ruangan klub selain di gedung B.


Ada juga kewajiban untuk membuat laporan aktivitas tiap minggu atau bulan kepada pembina klub. Itu menarik, karena aku sedang membayangkan seperti apa laporan yang dibuat klub paling unik di sekolah kami, ‘Klub Penelitian Paranormal’. Sayangnya aku tidak mengenal seorangpun yang masuk ke klub itu.


“Apa kita bisa menolak?”, tanya Yuvi, yang tidak biasanya tidak memiliki semangat untuk hal yang aneh. “Apa ada hal positif yang kita bisa dapat dari membantu bapak membangun proyek pemerintah yang bahkan baru kami dengar hari ini?”


Pria tua itu tertawa. Tawa yang sebenarnya menyinggung kami.


“Kalian punya hak untuk menolak, tentunya. Namun ini adalah satu cara agar orang-orang dari Divisi Khusus bisa mengawasi kalian. Dan juga cara untuk membersihkan nama kalian dari fitnah, menangkap pelaku yang sesungguhnya, dan mungkin kalian akan mendapatkan akses lebih dengan lencana itu. Oh ya, diskon di kantin.”


Aku menghela nafasku. Dan kurasa Yuvi juga melakukannya. Walau dengan semangatnya yang sebelumnya ia punya, dia juga enggan memikul tanggung jawab seperti menjadi bagian dari proyek dari pemerintah. Apa kami benar-benar butuh sesuatu seperti ini? Kenapa kami harus terjebak dalam hal rumit seperti ini di hari pertama sekolah?


“Kenapa badan pemerintah seperti Divisi Khusus butuh proyek yang dikerjakan oleh anak SMA? Di hari pertama kami, pula. Dan kenapa kami?”


Aku tahu, atau setidaknya merasa, kalau Project Silver Butterfly ini adalah ide bodoh. Ada polisi, badan intelijen, dan divisi khusus; jadi untuk apa ada kami? Aku membaca-baca sisa laporan yang masih bisa terlihat olehku.


“Pak, ini contoh saja. Dokumen-dokumen yang masih terbaca di Silver Buterfly ini nggak berisi apapun mengenai mereka mengerjakan penyelidikan yang membuatnya layak diawasi oleh Divisi Kasus Khusus. Kecuali kalau mereka senang mendengar penyelidikan pasangan selingkuh, atau... kenapa... sepasang guru... terlihat agak mesra...”


Aku menutup buku itu setelah Niira kembali bersin-bersin, menjauhkannya dariku.


“Maksudku, pasti ada tujuan lain yang mereka inginkan dari kami, kan?”


Orang itu mengangguk.


“Saya merasakan hal yang sama. Karena itu, aku hanya bisa meminta kalian untuk menjadi Silver Butterfly. Nggak ada paksaan, hanya meminta dengan baik.”


Alicia dan Zakiel seketika mengambil salah satu lencana itu dari kotak itu.


“Tambah beberapa modifikasi pada lencana ini, dan ini bisa menjadi menarik. Kami boleh melakukannya, bukan?”, ucap Zakiel, yang mengejutkan kami, yang dijawab dengan anggukan oleh pak Revan. “Saya adalah anggota klub robotik saat kelas satu, meskipun saya keluar. Percayalah pada saya, saya ingin mencari siapa yang berani macam-macam dengan sahabat saya.”


“B-Bukan itu yang sedang kami pikirkan.”, ucap Niira sembari menutup hidungnya. Dia baru saja menyampaikan apa yang ada di pikiran kami semua.


“Aku juga akan ikut.”, ucap Alicia. “Kurasa aku ingin membantu sekolah ini dengan cara yang bisa berdampak lebih besar seperti ini.”


Ia menyapu debu-debu itu dari lencana berwarna peraknya, yang lagi-lagi membuat Niira kembali bersin-bersin.


“Tolong... hentikan...“, keluh Niira, yang alerginya semakin menggila. Hei, kenapa gadis ini bersin-bersin hanya karena debu kecil seperti ini? Dia baru saja menembus debu dari setiap objek yang ada di rumah orang tua tadi tanpa reaksi apapun! Niira terlihat ragu-ragu dalam mengambil lencana itu. Tangannya ingin menggapai lencana itu, namun ia menariknya kembali.


“A-aku gak akan ngambil lencana itu, tapi aku akan ikut kalau Ruma ikut. Ha-hatchii..!!”


Alergi debunya kelihatannya cukup buruk sehingga ia kabur dari sofa itu dan melangkah menjauh. Erika, yang berada di sampingnya, juga ragu-ragu seperti Niira, namun dengan alasan yang berbeda.


“A-aku ragu aku bisa berguna untuk apapun...”


“Mohon maaf untuk berkata begini, Erika, namun walau kamu nggak bisa melakukan apapun, setidaknya kamu bisa membantu kami dengan jumlah. Reaktivasi klub membutuhkan enam orang, kan?”, ucap Alicia, tidak menahan ucapannya sedikitpun.


Ia sedikit ragu untuk mengambilnya, dan setelah berpikir dengan cukup panjang, seperti Niira, ia tidak mengambilnya. “Kalau aku mengambilnya, Niira mungkin akan pingsan karena debunya. Tapi aku ikut. Ini juga untuk membantu Ruma, bukan?”


Ia masih merasa berhutang budi padaku, rupanya. Padahal, ia bahkan meminjami sepedanya, bajunya, perangkat perekamnya—ia sudah membantu kami lebih dari kami membantunya, dan kami belum menyelesaikan masalahnya. Dan kenyataan bahwa ia ikut karena ia ingin membantuku membuatku kesulitan untuk menolak permintaan ini.


“Tolong.”


Pria tua itu menunduk, membungkuk dalam duduknya kepada kami, kami pun mundur karena terkejut.


“Sekolah ini butuh kalian. Saya tahu, kalian berdua masih kelas satu dan bahkan baru menjalani sekolah selama satu hari, dan saya juga tahu ini terkesan memaksa, namun...”

Alicia juga ikut membungkuk kepada kami.


“Tolong...”, bisiknya, yang kelihatannya meluluhkan Yuvi, dan membuatku pasrah dengan kenyataan.


Ia akhirnya mengambil lencana itu, dan meniup debu-debunya berlawanan arah dengan Niira. “Apa boleh buat.”, ucapnya singkat.


Hanya aku yang tersisa. Mereka semua melihat ke arahku penuh harap. Karena jika aku tidak ikut, rencana ini gagal sepenuhnya. Aku hanya dapat menggaruk-garuk kepalaku, merasa pasrah dengan hidupku.


“Kami masih boleh ikut klub lain bersamaan dengan Silver Butterfly, kan?”, tanyaku.


“Tentunya. Nggak ada yang menahan kalian. Selama nama kalian tercantum di klub Silver Butterfly, saya nggak akan memusingkan urusan lain seperti kehadiran.”, jawabnya.


“Baiklah,” ucapku. Aku hampir mengambil lencana itu, namun aku berhenti ketika melihat Niira yang bersembunyi.” “selama aku bisa menjadi anggota—“


“Syukurlah! Saya yakin Yuvi dan Ruma bisa memimpin klub ini.”, ucap kakek tua sialan itu, sesaat sebelum pernyataanku untuk menjadi anggota lepas terucap dari mulutku. Dan mereka semua setuju dengannya, entah karena mereka benar-benar berpikir kami mampu memimpin atau karena mereka tidak mau memimpin oleh tangan mereka sendiri.


Apa yang telah kulakukan di masa lalu dan di kehidupan sebelumnya untuk membuatku terjebak dalam situasi ini?

*

Tiga hari libur itu berlalu begitu saja. Libur kami yang sekejap dan dibuat sesaat itu berakhir, dan aku kembali mengenakan seragam musim semi lengkap lagi. Blazer biru tua, rok di atas lutut berwarna hitam, dan kemeja putih dengan dasi berwarna merah melingkari leher kemejaku

Ya, sebenarnya sekolah kami menggunakan dasi pita berwarna merah untuk perempuan. Namun tidak ada yang menyukainya, jadi guru-guru tidak peduli juga jika ada yang tidak mengenakannya. Namun aku terbiasa menggunakan atribut lengkap, jadi aku mengenakannya. Satu-satunya yang kurang dari seragamku hanyalah lambang kupu-kupu perakku yang baru, karena Zakiel masih mengutak-atiknya. Entah apa yang ingin ia buat.


Aku merasa janggal akan lencana kami itu. Kenapa sebuah klub bisa memiliki warna kupu-kupu yang berbeda dari siswa dan siswi lainnya? Bahkan, anggota presidensial sekolah seperti OSIS dan Organisasi Kedisiplinan tetap mengenakan lambang perunggu. Ini membuatku berpikir bahwa kami memiliki kasta yang lebih tinggi dari mereka. Maksudku, ya, kami adalah bawahan dari Divisi Khusus, namun kenapa kami khusus?


Kupu-kupu bukanlah hanya simbol dari sekolah kami. Walau dari semua sekolah hanya kami yang mengenakan lencana kupu-kupu, namun kupu-kupu merupakan simbol yang dimiliki kota Revore sejak dahulu.


Sejarahnya, kupu-kupu berwarna perak dan menyala keemasan adalah yang menyelamatkan penduduk kota kami pada masa lalu. Itulah yang menyebabkan kupu-kupu menjadi simbol kota kami, yang memiliki sejarah dan mitos yang lebih kental bahkan dibandingkan kota Capitol sendiri, yang menjadi ibukota kami.


Bahkan, sekolah kami rumornya adalah bekas rumah sakit di dalam cerita tersebut yang dijadikan warga sebagai tempat evakuasi. Namun saat pemberontak menyerang dan mereka terpojok, sebuah kupu-kupu masuk dan mengiringi para penduduk menjauh dari bahaya, mengevakuasikan mereka melalui sebuah jalan rahasia yang rumornya masih ada di sekolah ini. Dan sebuah mitos juga mengatakan ada ruang bawah tanah di bawah ruang bawah tanah kami, dan berisi sejarah yang bisa mengubah sejarah yang kita ketahui saat ini.


Itu hanyalah kabar burung yang tidak diketahui kebenarannya, namun pada jaman ini di mana kemampuan sihir entah kenapa makin kuat di negara kami, kondisi keamanan dan ekonomi negara kami yang makin memburuk setiap harinya, ditambah informasi yang benar yang makin sulit didapat bahkan dengan internet sekalipun; entah apa yang bisa kita percaya.


Aku keluar dari kamarku dan mengambil roti yang baru saja kupanggang. Ayahku duduk di sofa berwarna putih itu, menonton berita yang ada di televisi, dan aku sedikit panik melihat apa yang ia lihat.


“...membuat salah satu rumah donasi pemerintah rata menjadi tanah. Diduga, ledakan ini dilakukan oleh kelompok teroris, meskipun belum ada yang melakukan klaim atas tindakan ini...”


Uwah, sudah masuk berita, ya? Apakah puluhan orang yang aku bantai begitu saja masih berada di sana? Kurasa tidak. Divisi Khusus pasti sudah membersihkannya.


Ayah menonton berita itu dengan sebuah kopi di tangannya. Ia memang pulang agak terlambat tadi malam, namun ia seharusnya libur di hari Jumat. Apakah ia akan pergi keluar?


“Selanjutnya. Polisi masih menyelidiki perampokan bank yang berakhir dengan tewasnya tiga tersangka. Menurut kepolisian setempat, diduga tersangka ditembak dengan sihir...”


Itu juga buah tanganku... ulahku sudah masuk berita dua kali, ya. Ya, meski aku ragu untuk berkata kalau ledakan rumah donasi itu adalah ulahku. Karena itu adalah ulah pak Marten.


“Ruma. Negara ini semakin berbahaya setiap harinya, kelihatannya.” Ayah menyadari keberadaanku, namun ia tidak menoleh padaku sama sekali. “Kamu harus lebih berhati-hati, ya, nak. Oke?”


“Baik, ayah.”, ucapku singkat.


Aku tidak mengingat terakhir kali ayah melihatku empat mata.


Sebelum ibu pergi, ia selalu tersenyum. Ia adalah orang paling bahagia sedunia. Ia selalu bermesraan dengan ibuku, tak peduli apakah aku di sana atau tidak.


Namun, setelah ibu meninggal, jiwa yang menghuni raga ayahku seakan menghilang ditelan bumi. Mungkin, jiwanya ikut pergi saat ibu pergi. Ia tidak pernah memukulku atau menyiksaku, namun, ia juga tidak pernah sanggup melihat wajahku lagi. Aku sama sekali tidak menyalahkannya.


Setelah kami pindah ke kota ini, ayahku lebih sering berada di kantornya dibandingkan di rumah. ‘Butuh suasana baru’, ucapnya saat itu, namun ia sama sekali tidak menikmatinya. Saat itu aku masih 4 SD. Aku hanya ingin ayah tersenyum padaku kembali.


“Namaku Ruma Neiki, aku berasal dari kota Capitol dengan ayahku.",


Semua orang takut padaku. Karena mataku yang merah di kiri, dan auraku yang mencekam, semua orang menjauhiku. Bahkan guruku sendiri menyarankan siswanya untuk menjauh dariku. Hanya satu orang, yang secara kebetulan menjadi teman sebangkuku.


“Kamu habis begadang ya? Matamu merah sebelah itu!”


Ucapannya itu menyebalkan, dan aku hampir mengacuhkannya. Namun entah kenapa matanya menyala-nyala ketika melihatku.


“Hei, kamu tetanggaku, kan?”, ucap laki-laki itu.


Aku tidak tahu, sesungguhnya. Jika aku tidak berada di sekolah, aku berada di rumah, membaca buku atau tidur.


“Aku Yuvi Arata!”


Laki-laki itu menyebut namanya dengan penuh semangat. Ada api yang selalu menyala di matanya, dan aku tidak tahu alasannya. Namun, orang itulah yang selalu menolongku... berkali-kali sampai aku kehilangan hitunganku.

*

Aku berangkat ke sekolah dengan roti masih di mulutku. Ya, aku kadang ingin mencoba melakukannya seperti di anime. Berlari-lari dengan roti di mulutku, lalu menabrak laki-laki keren yang ternyata pindah ke kelasku...


BRAK!


Eh...? Apakah ini benar-benar terjadi? Setidaknya rotiku tidak apa-apa—tunggu, kenapa aku khawatir dengan rotiku!? Aku melihat ke atas, dan mengintip apa yang baru saja aku tabrak.


“Maaf! Aku nggak lihat...”, ucapku... 

Sialan.


Aku menabrak patung pakaian dari toko baju yang baru saja buka. Sakitnya mungkin tidak seberapa. Malunya itu... aku kini berlari sungguhan. Bisakah aku berlari sampai akhir hayat?


“Kamu terlihat jengkel, Ruma.”, ucap Yuvi saat kami bertemu di kelas.


“Terlihat banget?”, tanyaku. Ia mengangguk. Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan kurang, sedangkan kami masuk jam delapan. Untuk saat ini.


Semenjak perang sipil, masih banyak kelompok teroris yang masih belum ditemukan. Meski sekolah kami dirancang seperti markas militer—setidaknya, itulah yang diucapkan orang-orang—bahaya akan tetap ada ketika perjalanan.


Dan karena itu, jam masuk sekolah agak berubah-ubah, tergantung situasi dari lalu lintas area sekolah itu. Kami memiliki aplikasi sekolah, tentunya, jadi kami tidak khawatir terlambat satu jam, atau terlalu awal satu jam karena semuanya akan dikabarkan melalui ponsel.


Karena aku masih memiliki waktu, ini sudah saatnya. Aku berjalan menuju ruangan klub musik, dan menemukan gadis berambut emas itu sedang bermain piano. Awalnya, ia tidak menyadari keberadaanku. Namun begitu ia menikmati permainannya, ia tidak sengaja melirikku yang sedang menatapnya seperti makhluk buas menatap mangsanya. Ia melompat begitu melihatku.


“Aaaah, Ruma... kamu menakutiku...”


Gadis berambut pirang itu terlihat pucat melihat wajahku, dan terus melangkah mundur dariku dengan perlahan seakan aku adalah seekor singa.


“Niira...” Aku terus memojokkannya.


Ia terus melangkah mundur sementara aku berjalan mendekatinya.


“Aku hanya ingin tahu apa yang kamu lempar ke arahku saat itu—dan itu saja! Janji!”

Akhirnya, ia berhenti melangkah mundur dariku. Menghela nafasnya, ia malah berjalan mendekatiku, dan meletakkan jarinya di bawah leherku.


“Kupikir apaan...”, bisiknya. Dia mengeluarkan sebuah berlian berwarna putih dari kantung blazernya, yang membuatku berpikir kenapa dia bisa berani membawa barang berharga seperti itu. 

Sebenarnya, yang aku lemparkan adalah berlian untuk meningkatkan kemampuan sihirmu. Semacam item power-up, kalau di game? Namun, aku malah mengisikan elemen kegelapan dan bukan api pada inti milikmu. Maksudku—pedangmu itu kan dulunya milik Penguasa Kegelapan, Grim Reaper! Karena itu, peningkatannya gagal total, membuang-buang sihirku saja. Maksudku, wajar kan kalau aku mikir pedangmu itu menggunakan elemen kegelapan!? Kan? Kan?”


Kenapa ia malah marah kepadaku? Namun setidaknya, ia memang membantuku.


“Lalu, apa yang kamu maksud dengan Death Awakener?”, tanyaku lagi.


“Itu adalah nickname. Ayolah. Kamu paham kan? Grim Reaper? Death Awakener?”


Dia berusaha menutupi sesuatu dariku. Terutama mengenai asal-usul dari nama itu. Aku bisa merasakannya. Namun mungkin aku tidak bisa menekannya untuk menjawab apapun. Untuk saat ini.


“Lalu, kenapa kamu bisa membuat power-up item seperti itu?”


“Eh? Itu hanya extra skill biasa.”


“Extra skill?”


Niira memasukkan kembali berlian miliknya, lalu membangunkan kursi piano yang ia jatuhkan. Dia duduk, terlihat memikirkan apa yang bisa dia jelaskan.


“Ruma, coba kasih tahu aku skill apa saja yang kamu punya sekarang.”


“Eeeh... skill pedangku saat ini ada Aura Slash, Dark Storm, Night Storm, lalu ada beberapa skill tanpa nama. Skill tanpa senjataku itu yaitu, um... Eye of the Truth, Aura Detection, Tear... apa lagi ya? Sihirku tameng aura dan beberapa serangan biasa. Ditambah Aura Shield, kayaknya hanya itu.”


“Oke. Mari kita kategorikan. Aku akan mengabaikan skill pedangmu dan sihir. Skill skala besar bisa dibagi ke tiga bagian: Extra Skill, Unique Skill, lalu Ultimate Skill; lalu, dibagi lagi menjadi Active Skill dan Passive Skill. Ketika sihir belum dibangkitkan, penyihir hanya dapat menggunakan elemen sihir yang dia mampu kendalikan secara nggak sadar. Lalu ketika mereka dibangkitkan, mereka akan mendapat satu skill besar. Skill pertama kamu apa?”


“Kalau nggak salah... Eye of the Truth dan Aura Detection.”


“Eh!? Langsung dua!? O-oke... Eye of the Truth termasuk dalam Passive Extra Skill. Extra Skill adalah skill yang bisa dimiliki oleh sejumlah orang, namun nggak bisa diajarkan. Oh iya, tameng aura yang menyelimuti tubuhmu itu, itu adalah Extra Skill.


Lalu Aura Detection adalah Active Unique Skill. Yang bisa melakukannya hanya kamu dan nggak bisa diajarkan ke orang lain, dan kamu perlu mengaktivasinya supaya sihir itu berguna. 

Kemudian, Ultimate Skill adalah skill aktif yang menggunakan banyak sekali kekuatan sihirmu, namun menjadi skill paling kuat. Ini adalah versi OP dari Unique Skill, intinya. 

Namun Unique Skill bisa menjadi Extra Skill kalau ada orang lain yang bisa menggunakan sihir yang sama denganmu, jadi ini bukan standar kekuatan atau bagaimana.”


Eh? Kalau itu bukan sebuah standar, lalu untuk apa dikategorikan seperti itu? Menyulitkan saja. Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku. Perlukah aku tanya padanya? Ah, tidak. Aku tidak perlu mengetahuinya. Selama itu tidak membantuku dalam pertarungan, aku tidak perlu mengetahui pelajaran seperti itu.


“Oke, begini saja—aku akan melatihmu menggunakan sihir! Itu imbalan yang cukup, kan?”, tanyanya.


“Terserahmu.”, ucapku.


Aku meninggalkannya di sana, namun ia akan meninggalkan ruangan klub musik itu juga, cepat atau lambat. Waktu kita tersisa sepuluh menit sebelum masuk.


Setelah pertemuan kemarin, sudah ditentukan segala macam halnya mengenai Silver Butterfly Investigation Club. Pembina adalah, tidak lain dan tidak bukan; adalah kepala sekolah Revan. Ya, itu adalah keunikan klub Silver Butterfly ini. Kepala sekolah langsung mengawasi aktivitas klub kami, dan kami menjawab langsung ke pak Revan, dan pak Revan akan menjawab ke Divisi Khusus.


Ruangan kami adalah laboratorium lama yang menjadi tempat aku, Yuvi, dan Alicia berbincang waktu itu. Ya, tempat itu sangat besar untuk sebuah klub. Dan jauh dari klub lain, sehingga mereka tidak akan tahu jika klub kami mungkin akan sangat menganggur. 

Meski begitu, mungkin Niira akan tewas jika ia masuk, mengingat debunya yang cukup untuk membuat gurun.


Anggota adalah kami berenam, dengan Yuvi sebagai ketua dan aku sebagai wakil. Sungguh menyebalkan, namun tidak ada yang mau mengambil posisiku, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan aku merasa jabatanku itu tidak akan menyulitkan.  


Sungguh, klub Silver Butterfly ini adalah sebuah misteri. Aku kembali mencoba membaca buku hijau itu, namun isinya entah penyelidikan konyol, misteri percintaan, atau kerja bakti. Banyak lembarannya yang disobek dengan rapi seperti menggunakan penggaris. Dan banyak juga lembarannya yang tidak memiliki tulisan apapun lagi; pudar dimakan waktu. Apakah mungkin tulisan dengan pena benar-benar bisa pudar?


Ya, kami akan membuat laporan dengan komputer, jadi kami tidak perlu khawatir soal pemudaran seperti itu. Hidup dunia digital! Hidup internet!


Ngomong-ngomong soal internet, pelajaran pertama adalah Komputer dan Jaringan. Mungkin ini akan menarik...atau tidak. Seharusnya aku ingat kalau pertemuan pertama biasa diawali dengan perkenalan dan santai-santai. Kenapa aku harus berharap terlalu banyak.


“Tenang, anak-anak. Aku juga enggan mengajar di minggu pertama sekolah. Tidak ada yang mau mengajar di minggu pertama sekolah. Kalian bisa keluar dari kelas kalau kalian mau. Permisi.”


Namun aku mau mendengarkanmu! Aku terlalu bodoh soal komputer dan segala macamnya! Namun apa yang bisa aku lakukan. Laki-laki tua itu keluar dari ruangannya begitu saja, melupakan kacamatanya yang masih tertinggal di meja. Ya, aku mau tidak mau harus menjadi orang yang mengantarkannya. Wali kelas kami tidak masuk, jadi kami belum menentukan ketua kelas beserta strukturnya.


“Permisi, pak,” aku mengejarnya ke ujung koridor, kacamata dengan frame berwarna hitam itu di tanganku. 

Orang itu menoleh padaku dengan ekspresi yang agak menakutkan.

“bapak meninggalkan kacamata bapak.”, ucapku, menyodorkan kacamata itu padanya. Ia hanya mengangguk, mengambil kacamata itu, dan membisikkan “terima kasih” sembari meninggalkanku. Huh. Mata kiriku seakan bereaksi saat melihatnya. 


Karena kelas kami ditiadakan, kami berangkat menuju gedung C untuk menyiapkan ruang klub kami. Guru kami juga membiarkan kami melakukannya. Siapa namanya, ya? Aku lupa.


Begitu pintu dibuka dan Niira mengetahui bencana yang ada di dalam ruangan kami, ia langsung berubah kostum seperti penculik. Masker berlapis-lapis, pakaiannya diselimuti plastik, matanya ditutup dengan kacamata, ditambah celana panjang yang dilapisi plastik dan dilakban di ujungnya... dia mirip seperti penjahat-penjahat post-apocalypse. Atau tukang sedot WC. Atau orang di poster ‘Awas penguntit’ yang menempel di mading dan depan jendela ruangan kami. Ketiganya sama-sama terlihat konyol.


Dia terlihat sudah mengantisipasi akan adanya bersih-bersih ruangan. Benar-benar mengantisipasinya. Bisa dibilang ia sudah menantinya. Ia tidak sabar melakukannya. Ada semangat membara yang menggerakkannya.


“Ruma. Alicia. Buka semua jendelanya, dan bersihkan semua kaca itu sampai mengkilap. Sekarang!”


“B-baik...?”, jawab kami, kebingungan dengan semangatnya yang membara karena hal aneh seperti itu.


“Yuvi, bersihkan kardus-kardus itu, lalu geser semua kardusnya ke sudut paling jauh ruangan. Namun tunggu aku selesai menyapunya.”


“Baik.”, ucapnya.


“Aku sudah mengambil semua peralatan yang mungkin kita butuhkan untuk bersih-bersih. Aku juga sudah memiliki izin untuk membongkar alat-alat laboratorium ini jika dibutuhkan. Mereka juga nggak memakai alat-alat laboratorium ini. Oke, mari kita berperang! Wooooo...!!!”


“Woooo...!!...?”, teriakan perangnya itu membingungkan kami, namun kami sebisa mungkin mengikuti semangatnya yang aneh itu.


Dan mulailah peperangan kami melawan debu. Tentunya, debu itu tidak akan menang melawan kami, terutama ketika Niira memiliki semangat yang membara seperti itu.


Dengan sedikit bantuan sihir udara, aku meniupkan debu-debu itu dari lantai dan barang-barang sebisaku, lalu menggunakan tenaga fisikku untuk sisanya yang menempel. Aku sudah terbiasa menghilangkan kotoran-kotoran bandel ketika aku membersihkan tempat latihan dan halaman Yuvi, begitu pula di rumahku.


Niira benar-benar memfokuskan kekuatannya untuk membuat semuanya bersinar, bahkan tidak membiarkan celah-celah dan sudut-sudut menyimpan debu.


Alicia membersihkan kaca jendela kami sampai benar-benar mengkilap. Selain itu, dia memastikan tidak ada celah yang terlewat dan tersisa debu. Dia juga membersihkan pintu ruangan dan memperbaiki kabel yang terputus pada sensor RFID yang digunakan untuk membuka pintu ini.


Dan Yuvi... dia mendorong kardus. Ya, dia mendorong kardus. Dengan... uh... kemampuannya yang gemilang... ah, bagaimana cara aku memperindah pekerjaannya.


Tibalah saat yang sudah kami nanti-nanti: Penataan! Apa, seharusnya kita menata ruangan dulu sebelum bersih-bersih? Tidak juga. Setidaknya itu bukanlah metode pembersihan yang kami pilih. Lagian juga, Niira yang akan melakukannya, dengan equipment full gear miliknya yang benar-benar terlihat seperti tim sedot WC. Astaga, aku baru menyadari bahwa ia hanya butuh mengenakan sepatu bot untuk melengkapi seragam sedot WC nya.


Setelah menggambarkan sketsa ruangan ini di dalam sebuah game, kami mencoba sejumlah rancangan ruangan yang rapi dan sesuai dengan klub kami yaitu klub penyelidikan. Berarti ada ruang interogasi, ruang rapat, ruang santai, papan tulis, proyektor... ya, itu hanya ada di film, bukan? Kurasa kami tidak akan butuh ruang interogasi. Seret saja mereka ke ruangan kepala sekolah, mereka akan mengungkapkan semuanya dengan penuh air mata.


Namun meja rapat dan ruang santai masih diperlukan, begitu pula dengan proyektor dan papan tulis. Untungnya, kita masih memiliki sejumlah sofa dan sebuah meja panjang yang menganggur di dalam gudang sekolah. Dan setelah pembersihan total oleh Niira – dia benar-benar tidak suka debu – kami membawanya ke ruangan kami.


Sedangkan barang-barang tak terpakai semuanya dibawa ke ruang sebelah karena kita malas turun ke bawah dan kembali ke gudang lagi. Ide ketua klub, Yuvi Arata. Disetujui olehku, wakil ketua.


Tiba-tiba Niira memiliki ide untuk memiliki dapur di dalam sini. Kita semua menentangnya, terutama karena kita tidak memiliki aliran gas di sini. Namun Niira menggelengkan kepalanya.


“Buat apa gas, kalau kita memiliki perlengkapan laboratorium berharga ribuan Klair? Dan aku juga memiliki sihir api, jadi nggak perlu pusing soal kompor—tenang saja!”


Idenya gila, seperti biasa.


“Kamu mau menggunakan peralatan lab yang mungkin lebih mahal daripada harga rumah kita dijumlah... sebagai peralatan dapur!?”


Yuvi menerangkan apa yang kita semua pikirkan. Niira hanya melambai-lambaikan tangannya, berusaha menenangkan pikiran kami.


“Tapi, nggak apa-apa, sih.”, ucap Alicia, yang kelihatan berpikir dan berusaha mengingat sesuatu. “Pa—ayah bilang kalau peralatan ini dikirimkan oleh departemen penelitian beberapa tahun lalu karena adanya Project Silver Butterfly. Ayah berusaha menjelaskan kalau proyek itu sedang ditutup. Namun saat ia mau memulangkannya, mereka bilang kalau alat-alat ini juga sudah ketinggalan jaman, jadi mereka nggak peduli-peduli amat. Jadi, disinilah barang itu. Dijual juga nggak bisa.”


Alicia membungkuk, melihat salah satu perangkat berbentuk kubus dengan sebuah lingkaran yang berada di tengahnya. Lingkaran itu kelihatannya digunakan untuk memutarkan sesuatu, dilihat dari piringan yang ada di dalamnya dan tiang yang berada di tengahnya.


“Ngomong-ngomong, kalian ada yang melihat kamera, buku, dan kaus kakiku? Aku ke lokerku, namun barang-barang itu gak ada... ah, ini tombol apa ya...”, tanya Aliciia, memasangkan alat itu ke stopkontak, dan menekan salah satu tombol secara acak.


Dan di saat yang sama, tiba-tiba satu sekolah kehilangan daya listriknya, membuat alarm sekolah berbunyi tanda peringatan gangguan listrik, dan mengaktifkan penguncian ruangan.


“Ah-hahaha... kelihatannya kita harus memastikan mana yang bisa kita pakai dan mana yang nggak...”


Insiden itu akan menjadi kenangan yang akan dikubur dalam-dalam. Silver Butterfly bukanlah orang yang membuat satu sekolah mati listrik karena kecerobohan seorang siswi. Tentunya bukan. Syukurlah para teknisi hanya berpikir kalau itu disebabkan oleh masalah kelistrikan lain, bukan masalah otak salah satu siswa.


Setelah penguncian dilepas, kelas pun berlanjut seperti biasa. Aku sebenarnya benar-benar mengantuk, dan mata kiriku pegal oleh lensa kontakku... namun jika aku melepasnya sekarang di dalam ruangan, mungkin guruku akan ketakutan seperti saat SMP. Tidak, Bu, penyihir tidak bisa dan tidak suka mencopot matanya, kami bukan Undead...


Waktu istirahat yang sesungguhnya pun datang, dan aku bergegas ke kantin untuk membeli makan siang, dan membawanya ke ruangan kami. Aku hanya ingin tidur sejenak setelah makan, aku merasa mengantuk entah mengapa.


Meski begitu, kelihatannya kami tidak akan bersantai-santai hari ini.

*
“Kalian kelihatannya sudah merapikan semuanya! Saya kaget!”


Kepala sekolah itu tiba-tiba datang tanpa undangan, dan bersantai-santai di sofa yang baru saja kami bersihkan. Ya, dia adalah pembina kami juga, jadi kami tidak memiliki kewenangan untuk mengusirnya juga. Namun setidaknya jangan mengotori tempat kami lagi!


“Ya, bagus. Kalian akan membutuhkan kondisi ruangan yang terbaik untuk bisa tenang menyelesaikan kasus ini.”, ucapnya, sembari melemparkan sebuah berkas bersampul hitam ke meja coklat kami.


“Bersiaplah. Kalian diminta untuk membantu Divisi Khusus.”


“Untuk?”


“Penangkapan pembunuh berantai.”


Ah, ini dia hal-hal yang menyebalkannya. Jika aku menjauhi masalah, maka masalah yang mendekatiku. Tentu saja.


Kami duduk di sofa bersama-sama, karena tidak ada yang mau duduk di meja rapat berwarna coklat itu kecuali kita benar-benar membutuhkannya. Ya, kurasa memang meja itu memberikan kesan terlalu serius. Tunggu, kita memang seharusnya serius, bukan?

Setidaknya, kita semua berkumpul di ruang santai. Ya, semuanya. Bahkan Erika, yang tidak begitu ingin berada di klub ini, muncul di ruangan kami dan duduk bersama kami. Hanya Zakiel yang duduk di tempat yang berbeda, yaitu meja guru yang tidak tahu mau kami apakan. Ia mengotak-atik sebuah quadcopter miliknya yang berukuran besar itu dengan obengnya.


Proyektor itu menyala dengan redup, dengan kabur-kabur memperlihatkan foto-foto orang-orang yang terkulai lemah. Atau lebih tepatnya, mereka sudah mati. Namun kondisi mereka tidak terlihat seperti jenazah. Jika seseorang memiliki masalah pada matanya, mereka akan berpikir kalau orang-orang ini hanya tertidur. Namun pada mata yang benar-benar mampu melihat, terlihat seperti ada lubang yang menembus kepala mereka.


“Huh. Mereka semua tidak memiliki kesamaan penampilan.”, ucapku.


Malah, mereka berbeda jenis kelamin. Jadi ini bukan semacam fetish yang aneh-aneh seperti di film. Pasti ada suatu cara dia memilih korbannya selain itu.


“Benar sekali, Ruma. Korban pertama adalah Ananda Vera, umur 25 tahun. Jenazahnya ditemukan oleh rekan kerjanya duduk di kursinya seperti sedang tertidur. Begitu ia membalik tubuhnya... ya, seperti itu.”,


Itu adalah ucapan pak Revan yang masih bersantai, kini ia memegang kopi yang dibuat oleh Niira beberapa waktu lalu.


“Hmm, kamu mahir dalam membuat kopi, Niira.”, tambahnya, yang benar-benar tidak membantu. Niira hanya menjawab dengan anggukan.


Foto yang diperbesar Yuvi tidak terlihat mencekam seperti yang aku duga. Gadis berambut keemasan pendek yang sedang tertidur pulas, adalah kesan yang diberikan oleh jenazah ini. Bahkan tidak ada darah yang tumpah. Namun ya, kepalanya berlubang dengan lurus.


“Nggak ada saksi? Kamera?”, tanya Alicia.


“Pernyataan dari perusahaan bilang kalau kamera mereka sedang dalam masa perbaikan. Koroner memastikan kematiannya itu berada di malam hari, dan nggak ada yang lembur saat hari Jumat.”, jelas Yuvi, yang kini memegang berkas itu sembari membacanya. Ia kemudian menempelkannya pada papan tulis kami dengan magnet.


Kelihatannya para Divisi Khusus itu belum pindah ke digital semua, ya.


“Lalu, di sini mereka bilang kalau ponsel si korban menghilang. Lalu, tepat ketika mereka membicarakannya, ponsel itu berdering. Di layar kunci ponselnya, tertulis dengan besar dan jelas satu kata.”


“Dan itu adalah...?”, ucap Zakiel tidak sabar. Yuvi pun menekan tombol spasi di keyboard laptop Alicia.


Sinner.


Tulisannya itu benar-benar jelas dan besar memenuhi layar kunci dari ponsel itu. Tulisan itu dibuat secara digital, berwarna merah dengan font Times New Roman. Tidak menggunakan huruf kapital penuh, hanya tulisan Uppercase biasa. Terasa janggal dan memaksa.


Yuvi membacakan lagi korban selanjutnya.


Nindy Jasmine, seorang siswi SMP kelas dua berumur 14 tahun. Dia ditemukan di dalam ruang gantinya seperti sedang berbaring di kursi ruang ganti. Tentunya para guru mempertanyakannya, karena jenazahnya ditemukan di hari Minggu pagi, ditambah karena sekolah belum dimulai. Lagi-lagi, tidak ada darah yang tumpah. Forensik menduga bahwa dia dibunuh di malam harinya.


Berarti tidak ada minimal umur yang membatasi si pelaku? Bagaimana dia bisa masuk ke dalam sekolah itu? Itu pertanyaan belakangan. Ngomong-ngomong, si korban kehilangan tasnya, dan tidak lama ditemukan di atap. Tulisan tangan ‘sinner’ itu ditemukan di dalam tasnya.


Elo Richty. Guru muda umur 24 tahun, berada di sekolah yang sama dengan Nindy. Malahan, Bu Elo ini adalah orang pertama yang menemukan Nindy. Dia ditemukan di dalam ruang guru, seperti sedang tertidur di meja kerjanya juga. Bukunya itu menghilang, dan ditemukan oleh siswanya di dalam kelas sudah dicoret-coret dengan tulisan ‘sinner’. Jasadnya ditemukan Selasa pagi.


Eh, mereka berada di SMP yang sama denganku dan Yuvi. Aku akan berusaha semampuku untuk menjauhi tempat itu.


Vicky Nora. Perempuan berumur 32 tahun yang ditemukan tewas di belakang sebuah bar. Lagi-lagi, rentangnya adalah dua hari, kini hari Kamis. Dia adalah musisi. Ia ditemukan dalam keadaan tas gitarnya kosong. Jasadnya ditemukan bersama korban selanjutnya.


Ichtam Guro, seorang bartender tua yang ditemukan di halaman belakang bar miliknya sendiri. Ia kehilangan apronnya, meski itu terdengar konyol dan hampir lucu—jika aku menyukai dark humor. Apronnya itu sendiri ditemukan tergeletak tidak jauh darinya, bersama dengan gitar milik Vicky Nora itu.


Lima korban. Dan akan menjadi enam jika kita terlambat.


“Jika kita melihat jadwal yang ia buat, harusnya hari ini akan ada korban baru. Kita harus cepat, kalau begitu.”, ucapku, yang disetujui timku.


“Ya, tentunya. Tapi, apa yang menjadi kriterianya?”, tanya Zakiel tanpa mengalihkan pandangannya dari quadcopternya itu. “Ada seorang laki-laki di sana, jadi itu bukan kriteria gender. Mereka memiliki umur yang terpaut jauh, jadi bukan karena itu. Wajah, rambut, bahkan hanya ibu Elo dan Nindy yang mungkin mengenal satu sama lain. Tanpa keterkaitan apapun, mungkinkah kita bisa bilang kalau dia membunuh secara acak?”


Ya, itu mungkin. Dan itu menakutkan untuk dibayangkan. Pembunuh berantai biasanya memiliki kriteria target tertentu—setidaknya itu yang biasa muncul di film dan novel—yang bisa kita gunakan untuk memprofilkan sang pelaku dan melindungi calon korban. Namun jika ia tidak memiliki kriteria apapun, itu menyulitkan kami melakukan kedua itu.


Niira bangkit maju dan mendekati ke arah proyektor. Ia menelitinya, lalu menoleh ke arah laptop lagi. Kemudian ia melihat ke arah kami.


“Ini jelas merupakan sihir. Tapi ini sangat aneh.”, ucapnya. “Sihir yang ia keluarkan pada wanita itu adalah sihir api yang dibuat menjadi wujud panah. Generate Flame Arrow—Release.


Ia mengilustrasikan sihir api kepada kami semua, dan mereka memperhatikan dengan seksama. Sihirnya itu menembus tumpukan kardus yang hanya berisikan Styrofoam yang belum sempat kami bersihkan, memberikan lubang yang cukup besar pada kardus dan styrofoam itu, memberikan jejak terbakar di pinggiran lubangnya.


“Ini benar-benar mantra sederhana. Namun benar-benar bisa dengan mudah diperbesar dan dimanipulasi. Kamu bisa melihatnya dengan jejak luka bakar yang berada di lubangnya. Namun pada korban-korban lain, dia benar-benar dengan repot-repot memperkecil ukuran sihirnya, mengurangi unsur apinya dan menghilangkan bekas terbakar, bahkan ia sempat merapikan posisi mereka tewas.”


“Namun hanya yang terakhir yang terlihat berantakan.”, ucapku.


Aku menyodorkan tanganku kepada Yuvi untuk meminta berkas yang ia pegang, dan ia menyerahkannya padaku untukku membolak-baliknya. Kita butuh mesin fotokopi.


“Hanya korban di bar yang memiliki jejak luka bakar di kepalanya. Dan hanya dua orang itu yang tewas di hari yang sama. Bagaimanapun juga, kita harus mencoba ke sana. Kita bisa memanfaatkan skill Yuvi.”


Benar, di saat-saat seperti inilah skill Yuvi akan bermanfaat. Dengan kemampuan Insight-nya, ia bisa melihat apa yang ia ingin cari dengan waktu maksimum tiga hari. Meski begitu, skillnya memiliki berbagai aturan.


Aturan pertama, lebih cepat lebih baik. Semakin terlambat kami, semakin kecil kemungkinan Insight masih bisa menemukan sesuatu yang berarti.


Aturan kedua, lebih banyak barang bukti dan saksi, lebih baik. Jika tidak ada barang bukti atau saksi saat Insight dilakukan, Yuvi harus pernah melihatnya secara langsung agar barang tersebut bisa muncul dalam Insight. Jika tidak, maka Yuvi hanya melihat sebuah gelombang aura yang menyerupai objek itu, dan itu tidak akan membantu banyak.


Aturan ketiga, kita tidak bisa menggunakan Insight sebagai bukti untuk penangkapan atau semacamnya. Itu karena hanya Yuvi lah yang mampu melihat Insight miliknya sendiri.


Aturan keempat, kita harus memiliki TKP yang tidak rusak. ‘Tidak rusak’ di sini bukan masalah terkontaminasi atau tidak, tapi lebih ke ‘Apakah tembok di sekeliling masih ada’. Misalnya seperti rumah donasi yang kemarin, Yuvi tidak bisa melakukan Insight di tempat itu.


Aturan kelima, semakin banyak barang yang menghilang, semakin tinggi penggunaan energi milik Yuvi. Jadi biasanya aku membantunya sebagai semacam powerbank.


Meski begitu, skill miliknya akan membantu kita mendapatkan petunjuk. Bahkan gelombang aurapun bisa menjadi petunjuk, karena Yuvi akan dapat mengenali barang yang hilang begitu ia melihatnya nanti.


Begitu diskusi itu selesai, kami memutuskan untuk berangkat menuju ke bar itu sepulang sekolah.


Tentunya, kami tahu bahwa pemilik barnya juga tidak akan menjawab pertanyaan kami begitu saja. Kami adalah anak SMA yang bermain detektif, dan itu bukanlah sesuatu yang butuh perhatian. Karena itu, kami butuh seseorang yang bisa menjamin kredibilitas kami dan itu kenapa aku berbincang dengan kepala sekolah. Namun dia berkata bahwa kita hanya perlu santai saja.


Karena aku adalah anak pindahan dari luar kota, aku tidak tahu popularitas yang dimiliki oleh Silver Butterfly. Namun berdasarkan penjelasan pak Revan, Silver Butterfly memiliki nama yang cukup dikenal oleh satu kota, sehingga kita seharusnya tidak mengalami kesulitan dalam melakukan investigasi. Bahkan, lima belas tahun lalu ada tiga sekolah yang memiliki klub Silver Butterfly. Yang menyulitkan hanya jika orang yang kita hadapi adalah orang baru. Namun kita memiliki surat perintah dari Divisi Khusus jika hal itu sampai terjadi.

Meski begitu, pak Revan menyarankan kami untuk datang ke sekolah SMP Negeri itu dulu, karena bar itu seharusnya belum buka jam tiga sore.


“Kami nggak punya banyak waktu untuk dibuang-buang, pak. Menurut pola si pembunuhnya, ia mungkin akan melakukannya malam ini!”, ucapku tegas.


Orang itu menggeleng-geleng.


“Jika kamu terburu-buru, kamu akan lengah. Lengah, dan kita akan kehilangan pelakunya juga. Tenang.”, ucapnya saat itu.


Namun ucapannya tidak meyakinkanku, entah mengapa.


“Kenapa Anda begitu santai, pak?”


Aku mulai kesal dengan sikapnya yang terlihat merendahkan itu. Ia melirikku, dan menyadari bahwa aku benar-benar marah dari wajahku. Akhirnya, ia menegapkan postur tubuhnya, dan duduk dengan tegap.


“Nona Neiki. Kamu kan yang kemarin bilang kalau keberadaan Silver Butterfly itu konyol? Gerombolan siswa SMA ditugaskan untuk menangkap pelaku pembunuhan berantai? Ditambah pembunuh berantai itu merupakan penyihir juga, sama seperti kalian?


Aku sendiri merasa kalau itu konyol, Nona. Kalian tidak berpengalaman dalam melakukan investigasi, apalagi melewati tes Silver Butterfly jaman dulu yang ketatnya luar biasa. Namun para bedebah itu langsung menghubungiku, meminta mendaftarkan kalian sebagai anggota Silver Butterfly secara spesifik. Tanpa tes, tanpa apapun. Satu-satunya yang kalian sudah tunjukkan adalah kemampuan sihir kalian yang luar biasa, dan kurasa itulah yang mereka incar.


Mereka ingin menggunakan Project Silver Butterfly sebagai senjata, nona. Senjata sihir yang bisa mereka kerahkan ketika mereka membutuhkannya--kartu As. Mereka tidak butuh kalian melakukan penyelidikan apapun, aku yakin mereka sudah menemukan apa yang mereka butuh. Namun memberikan semua hal itu pada kalian hanya akan membuat kalian bertanya, ‘Kenapa kalian tidak menyerang orang itu sendiri?’ Dan membuat kalian ragu. Jelas ada sesuatu di sini yang ingin mereka dapatkan dari kalian.


Jadi nona Neiki. Sungguh, aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang di Divisi Khusus itu rencanakan, itulah kenapa aku bersantai-santai. Namun jika mereka membuat salah satu siswaku terluka, oooh... tidak ada tembok atau senjata yang akan menahanku untuk menghancurkan wajah orang-orang itu.”


Semua ucapan itu dilepaskannya begitu saja, tanpa ada penyaringan informasi apapun. Kurasa benar, seharusnya Divisi Khusus mampu menyelesaikan kasus ini dengan tangan mereka sendiri. Dari datanya, harusnya mereka sudah dapat menyimpulkan sesuatu yang sama dengan kita. Mereka juga menyerahkan kasus ini tanpa alasan apapun. Para Divisi Khusus sedang menguji kami? Mungkin, namun kenapa dengan nyawa sungguhan sebagai taruhannya? Atau mungkin...  berbagai ide berada di dalam pikiranku sementara kami bergerak menuju SMP Negeri 1 Revore.


Ah, sekolah lamaku. Semenjak aku lulus, aku enggan mengingat hal-hal yang telah terjadi di sekolah ini. Perkenalan yang kacau, ditimpuki oleh batu, jutaan hinaan, sampai perang sipil... semua ingatan pahit itu kembali padaku begitu saja. Satu kenangan indah yang aku miliki hanya ketika Yuvi memberikan kado berupa pita rambut berwarna hitam berbentuk kupu-kupu yang masih kukenakan sampai sekarang. Silver Butterfly, kupu-kupu hitam... sangat kebetulan.


“Catnya mungkin berubah warna, tapi aku masih ingat dengan jelas sekolah ini.”, ucap Yuvi, yang dengan gaya santainya masuk ke dalam gerbang.


Gedung sekolah bernama SMP Negeri 1 Revore. Gedungnya berbentuk persegi, namun memiliki cat putih dan biru pastel seperti sekolah kami. Genting yang berwarna oranye yang berlubang-lubang itu sudah diganti menjadi genting hitam. Gerbangnya juga sudah dicat ulang menjadi berwarna hitam, meski masih memiliki jejak karat di gerbangnya. Huh, kita baru lulus Oktober lalu, dan empat bulan kemudian sudah berubah sejauh ini, ya.


Banyak siswa-siswa yang berjalan keluar dari ruangan kelasnya, dengan seragam musim dingin berwarna merah dan bawahan selutut berwarna hitam. Mereka memegang ponsel mereka masing-masing, dan itulah beda antara jaman mereka dengan jaman kami. Mereka tertawa-tawa, namun menghadap pada ponsel mereka itu.


Tiba-tiba aku merasa merinding. Melihat ke kiri, aku menyadari bahwa ada guru yang sedari tadi menatap kami dengan tajam, namun tidak ada seorangpun yang menyadarinya.


“Ehem.”


“””””WOAAAAAAAAA...!!!!””””


Semuanya berteriak terkejut pada suara orang itu selain aku. Dengan wajah datar, pakaian hitam, dan diam tak bergerak selama kami berdiri di sini, mudah mengabaikan keberadaan orang ini.


“Astaga, pak Karim. Anda masih menakutkan seperti biasanya!”, ucap Yuvi.


Pak Karim, si orang tua berkumis tebal yang mirip patung hiasan, terlihat terkejut juga melihat keberadaan Yuvi di gerombolan kami.


“Yuvi? Apa kabar! Ada apa kamu ke sini?”, sapanya, yang tidak membuang ucapan sedikitpun. Yuvi dan pak Karim mengenal satu sama lain dengan baik. Yuvi sering membantunya dalam berbagai hal seperti bersih-bersih taman dan menyusun parkir sepeda. Jadi mereka saling mengenal cukup baik.


“Kalau begitu, nona yang tidak terkejut melihatku... Nona Ruma?”


Tentunya, ia mengenaliku karena akulah yang selalu menempel bersama Yuvi dalam pekerjaan-pekerjaan itu. Ya, tentunya. Aku memang benar-benar menempel pada Yuvi saat itu, dan aku sampai hari ini masih mempertanyakan kenapa. Dan aku akan menanyakannya lagi, “Kenapa?”


Aku mengangguk untuk menjawabnya. Dia terlihat terkejut melihat kami berdua, namun bingung dan bertanya-tanya karena kami seharusnya sudah lulus sekolah. Lalu ia melihat lencana kami, dan jawabannya sudah ia dapatkan.


“Kami sekarang bagian dari Silver Butterfly, pak. SMA Internasional Reater. Kami sebenarnya mau mengobrol dengan kepala sekolah soal...”


Yuvi mendekat pada orang itu, dan membisikkan sesuatu padanya. Ya, mungkin sebaiknya kita tidak mengucapkan bahwa ada pembunuh berantai yang lepas di jalanan sekarang. Mengirimkan anak ke sekolah sudah menakutkan bagi para orang tua, mengingat bahwa belakangan banyak teroris dan penyihir jahat berkeliaran.


“Ah, aku mau saja, Yuvi. Nona Ruma. Namun saat ini, bahkan para guru tidak berani masuk ke sekolah setelah itu. Ada beberapa guru, sih. Sedangkan kepala sekolah, beliau ada di ruangannya, namun tidak menemui tamu manapun.”


Aku baru menyadarinya, namun kenapa orang-orang sering memanggilku dengan gelar ‘nona’? Aku mengeluarkan surat yang diberikan oleh Divisi Khusus itu kepadanya, dan dari satu pandangan saja sudah cukup untuk menyadari bahwa itu surat asli dari pemerintah. Ya, surat resmi pemerintah memiliki cap reflektif yang memiliki kode khusus di dalamnya. Keren.


“Kalau kami nggak bisa ketemu kepala sekolah, maka Bu Nia juga bisa. Beliau masih mengajar, kan?”, tanyaku.


Aku mengingat kenangan burukku dengan guru yang satu ini. Dari ucapannya yang menjengkelkan, berusaha memisahkanku dengan Yuvi, tidak menghentikan bullying terhadapku, malah ikut membully aku juga, beserta banyak hal lain; aku tidak marah. Aku hanya kecewa.


“Ah, baik, nona Ruma. Mari.”


Ia membimbing kami ke dalam ruang guru yang benar-benar sudah nyaris kosong itu. Hanya terlihat empat, lima orang yang duduk di sana, dan semuanya terlihat kelelahan.

Ada satu orang yang terlihat tertidur sama seperti korban-korbannya, dan itu membuat kami semua siaga. Namun aku melihat gerakan nafasnya. Dia masih hidup. Syukurlah.


Guru berkumis tebal itu menepuk pundaknya dengan lembut.


“Bu Nia, permisi. Ada yang mau bertemu.”


“Siapa? Tolong bilang aku sedang sibuk!”, ucapnya kesal tanpa bergerak sedikitpun, atau membuka matanya. Di saat inilah, reputasiku di sekolah ini dapat dimanfaatkan.


“Ibu Nia.”, ucapku, melantangkan nada suaraku dan membuat suaraku tegas, seperti suaraku saat SMP dulu.  Bodohnya, volumeku terlalu lantang sampai satu ruangan itu mendengar suaraku.


Sebenarnya bukan volume suaraku yang ditakutkan oleh mereka. Namun pada suara seorang Ruma Neiki yang sering disebut-sebut sebagai ‘penyihir jahat’ saat aku kelas satu. 

Mungkin mereka takut akan sihirku, atau takut karena sikap mereka yang dulu buruk padaku, atau keduanya? Mereka semua kini melihatku dengan ekspresi yang panik.


Oke, namun ini masih ada di dalam ekspektasiku. Aku mengeluarkan lencana kupu-kupu perakku, dan menunjukkannya padanya dengan singkat seperti di film-film.


Dia memberikan sebuah anggukan, masih ketakutan namun mulai sedikit tenang ketika melihat lencanaku itu. ‘Mungkin gadis ini sudah di jalan yang benar sekarang’, kurasa itu yang ada di pikirannya. Bodo amat. Yang penting tugasku selesai, karena kita benar-benar dikejar oleh waktu.


“Kami mau menanyakan mengenai insiden yang terjadi hari... Minggu dan Selasa? Anda paham apa yang kami mau.”, ucap Niira.


“A-a-ah... kalian mau menanyakan masalah itu. Mohon maaf, tadi aku benar-benar kelelahan karena harus mengajar empat kelas dalam waktu yang sama.”, ucapnya.


“Apa sulitnya? Gabung saja kelasnya.”, ucap Alicia. Kelihatannya gelarnya sebagai ‘anak sang kepala sekolah’ berguna sekarang. “Buat mereka duduk di lantai, pinggirkan meja dan kursi, dan buat para siswa melakukan presentasi pelajaran. Kalau ada orang tua yang mengeluh, bilang saja kalau kalian sedang mencoba sistem pengajaran baru.”


“Aku setuju. Guruku sering melakukan hal yang sama.”, ucap Zakiel.


“Sekarang, tolong, Bu. Kami butuh informasi apapun yang mungkin belum ibu sampaikan kepada para detektif. Apapun itu: gosip, rumor, berita palsu, keluhan—apapun.”


Ini dia suara Yuvi yang menenangkan. Yuvi dikenal cukup baik oleh para guru, dibandingkan denganku. Lucu, ketika aku berpikir bahwa kami selalu bersama, tapi reputasinya berbanding terbalik denganku. Namun, mungkin itu adalah kelebihan yang Yuvi miliki.


“Ah... um, ok. Saya sih tahu satu gosip mengenai Ibu Richty. Tapi cuma gosip saja. Katanya wakil kepala sekolah dan Bu Richty itu memiliki hubungan gelap? Ada kabar dari siswa kalau mereka sering ditemukan berciuman di belakang sekolah. Dan itu alasan kenapa Ibu Richty bisa diterima di sekolah ini. Namun, itu hanya rumor semata.”


“Lalu, kalau Nindy Jasmine?”, tanyaku.


Ia memikirkannya, namun tidak terlihat ia mendapatkan ide apapun. Ya, kurasa guru tidak banyak mengetahui gosip-gosip tiap siswanya.


“Mungkin kalian perlu bertanya ke teman satu klubnya. Seharusnya mereka masih ada di ruang olahraga.”


Oke, rumornya sang korban ibu Elo Richty memiliki hubungan gelap dengan wakil kepala sekolah. Satu-satunya cara memastikannya hanya dengan menanyakannya langsung kepada beliau, namun dia tidak terlihat di sini. Lagipula, kami tidak tahu apa gunanya mengetahui rumor yang beredar juga. Ah, kita harus menanyakan mengenai Nindy terlebih dahulu.


“Kalau begitu saja, kami permisi dulu, Bu.”, ucap Yuvi, yang terlihat terburu-buru mengakhiri percakapan ini. Namun pak Karim, yang dari tadi di belakang kami, menghentikan kami.


“Kalau saya boleh berbicara,” ucapnya, yang membuat kami kembali melihat padanya. Malah Erika kelihatannya terkejut lagi mendengar suara pak Karim. “dua minggu sebelum masuk sekolah, kan para guru mengadakan rapat kurikulum. Saya sedang berjaga, lalu dia datang. Tanpa sepatu, berlari-larian seperti orang gila, keringat bercucuran. Dia bilang ada orang menyeramkan yang mengikutinya sepanjang minggu? Saya kasih dia minum, lalu tiba-tiba dia seperti orang lupa ingatan. Bingung kenapa dia bisa ada di sekolah, kemana sepatunya, bahkan dia nggak ingat ucapannya soal diikuti. Saya baru ingat sekarang.”


Dia baru saja melepaskan informasi yang sangat penting! Bagaimana bisa dia lupa akan hal seperti itu? Aku tidak bisa berkomentar apa-apa untuknya. Namun, peduli apa. Aku akan mengingatnya baik-baik.


Setelah berpisah dengan para guru yang masih melihatku dengan rasa takut, kami berjalan menuju ruang olahraga yang kelihatan baru diperbaiki, melihat masih ada kerangka besinya. Andaikan dulu ruangannya seperti ini, maka aku mungkin akan mencoba...


“Ruma.”


Suara Yuvi membangkitkanku dari pikiranku.


“Ah, ya. Maaf, aku agak ngantuk.”, ucapku.


Yuvi memegang dahiku, dan aku segera merespon dengan mengambil langkah mundur darinya.


“Serius kamu gapapa?”, tanyanya.


Aku mengangguk. Aku hanya benar-benar tidak menyukai masa SMP ku yang kelam itu. Tapi jika aku melihat forum-forum internet, kurasa tidak ada orang yang menyukai masa SMP mereka. Meski begitu, kurasa kami memiliki alasan yang jauh berbeda.


Setelah mendapat perizinan dari pak Karim, ia mengizinkan kami masuk ke dalam ruang olahraga, yang kelihatannya baru diperbesar. Ruangan olahraga itu terlihat tertata rapi dengan matras, samsak, bahkan sekarang ada kolam renang. Dulu, tidak ada kolam renang di masa sekolahku. Kita selalu menyewa kolam renang dari luar, dan aku ingat pernah tidak boleh mengikuti renang bersama para putri karena ‘penyihir dilarang masuk’. Kini sekolah lamaku memiliki finansial yang cukup untuk membangun sebuah kolam renang. Dari mana mereka mendapatkan finansial untuk membangun kolam renang, itu adalah sebuah misteri.


Kami melihat beberapa siswa yang sedang berlatih di kolam renang itu. Tiga siswi, satu siswa, dimana siswa itu terlihat sedang mengawasi para siswi selama mereka berenang. Mereka semua mengenakan seragam renang sekolah mereka yang berwarna biru samudra. Mengingat sekarang masih musim semi dan belum satu minggu setelah sekolah dimulai, seharusnya berarti mereka adalah anggota klub renang.


“Ayolah! Lombanya tinggal tiga hari lagi! Langkah nenekku lebih cepat dari kalian!”

Kelihatannya laki-laki itu adalah ketua mereka, atau pelatih mereka? Dengan cepat kaki kami melangkah ke arahnya. Dia melihat kami dengan wajahnya yang kelelahan juga. Aku mungkin memahami apa yang membuatnya merasa lelah.


“Permisi,” aku memanggilnya. Aku menunjukkan lencana perakku, dan Yuvi menunjukkan suratnya yang memiliki cap pemerintah itu. Aku merasa seperti detektif sekarang. “kami dari SMA Reater, Silver Butterfly. Kami mau bertanya mengenai Nindy Jasmine. Dari klub mana dia?”


Ia membuang nafasnya, dan dengan jengkel meniup peluitnya. “Istirahat! Ada detektif yang mau mewawancara kita!”, teriaknya.


Para perempuan itu keluar dari kolam renangnya, wajahnya sudah terlihat sangat kelelahan dan penuh dengan kekalahan. Dari ekspresi mereka, kelihatannya kondisi mereka saat ini cukup buruk.


“Lagi? Berapa kali kita harus diinterogasi?”, ucap salah satu gadis itu.


“Kami nggak akan memakan waktu kalian. Kami cuma mau tahu Nindy masuk klub apa.”, ucap Zakiel. Tidak seperti Yuvi yang matanya melirik kemana-mana, kelihatannya Zakiel adalah seorang gentleman. Hebat.


“Nindy adalah anggota klub kami...dulunya. Fuuuh... dia itu benar-benar gila renang. Selalu juara satu di kompetisi manapun. Kita benar-benar di bayangannya dia saja.”, ucap gadis berambut hitam... tunggu, semuanya memang memiliki rambut hitam. Wajah mereka bertiga mirip, pula. Bagaimana cara aku membedakan mereka sekarang?


“Nindy adalah semacam kartu As dari sekolah kami saat kelas satu. Sampai suatu waktu, dia menantang siapapun yang mampu mengalahkan dia dalam renang. Banyak yang mencoba, nggak ada yang menang.”, ucap si pria yang mengenakan peluit itu. Tunggu, dia adalah satu-satunya pria, jadi aku bisa menyebutnya hanya sebagai pria.


“Kalian pernah mendengar rumor apapun soal Nindy? Atau cerita yang mungkin kalian belum sampaikan ke para polisi? Rumor, gosip, apapun itu? Bahkan hal yang paling irelevan namun berkaitan dengan Nindy bisa membantu.”, tanya Alicia.


“Um... ada yang aku rasa aku lupa sampaikan ke para detektif itu.”, ucap gadis yang berada di sebelah kanan. Ya, mereka berdiri secara berjajar.


“Aku ingat waktu liburan kemarin, Nindy bilang kalau ada yang mengawasi dia ketika dia berenang. Tapi itu, kayak, sebulan sebelum Nindy... ya.”


“Eh? Nindy bilang padaku kalau itu adalah guru dari SMA Reater, sedang menilai apakah Nindy bisa mendapat beasiswa ke SMA Reater atau nggak.”, ucap si pria.


Alicia jelas terkejut mendengar nama SMA Reater disebut. Lagipula, sejak kapan SMA Reater memiliki beasiswa olahraga? SMA Reater hanya menerima beasiswa edukasi seperti lomba cerdas cermat, dan itulah yang ada di pikiran kita semua.


“Bisa kamu deskripsikan orangnya seperti apa? Nindy pernah cerita?”, tanya Alicia.


Si gadis di kanan itu langsung bergegas ke ruang lokernya, yang diikuti oleh Alicia. Gadis itu membuka lokernya, dan mengeluarkan ponselnya. Ia menyapu tangannya dengan handuk sebelum menyentuh sensornya, dan membuka aplikasi chat terkenal bernama LICE di ponselnya.


“Seingatku, Nindy pernah mengambil fotonya sekali... katanya, saat dia selfie, orang itu ada di background... ah, ini dia.”


Gadis itu menunjukkan perempuan dengan rambut yang basah karena... air, tentunya. Ia terlihat sedang menutup matanya sembari melambaikan dua jari ‘peace’ ke arah kameranya. Di bagian belakangnya, aku melihatnya. Pria paruh baya dengan kacamata frame hitam dan menggunakan kaus oblong. Rambutnya masih hitam, jadi setidaknya dia tidak setua itu; namun wajahnya terlihat sudah mulai mengkerut. 40-an? 50? Aku tidak mengenali wajahnya, dan kurasa Alicia juga—


“Dia adalah guru komputer kita, Ruma. Kamu nggak lihat?”, tanya Alicia, dan barulah aku sadar atas kemiripannya. Ah, dia tidak beruban saat foto ini diambil, atau dia mengecatnya. Aku sangat buruk dalam mengenali wajah, dan ini adalah contohnya. Malah, aku sangat buruk dalam mengingat, yang membuatku harus menulis diari setiap hari.


“Oh, ada satu lagi juga, nona! Waktu itu, Nindy sering banget kehilangan barang-barang! Seperti ada yang isengin dia, tapi kupikir itu cuma karena ada yang bully saja. Tapi pas terakhir kali Nindy tasnya menghilang, dia benar-benar maraah! Setelah itu, barangnya nggak pernah hilang lagi... apa, apa itu membantu?”


“Sangat. Terima kasih. Oke. Ada lagi yang kalian mungkin ingin ceritakan?”, tanyaku pada gadis-gadis itu. Mereka menggeleng.


“Kalau begitu, giliranku membantu kalian. Kamu. Gerakanmu terhambat oleh postur tubuhmu. Istilahnya, ‘Don’t fight strong, fight smart’. Kamu memaksakan tenagamu dan membuat energimu terbuang sia-sia, padahal kamu bisa lebih cepat dengan postur yang tepat. Kamu, cowok, ajari dia cara menyeimbangkan tubuhnya dulu. Kamu coach atau kapten?”


“Kapten.”


“Kalau begitu kapten, tunjukan padanya cara berenang yang efisien! Sejajar dengan air, seimbangkan dirimu, buat tubuhmu lebih mudah membelah air itu!”, ucapku. Aku kemudian menengok ke gadis yang berada di tengah.


“Kamu. Gerakanmu sudah bagus, kamu bisa membantu temanmu itu. Tapi, kamu melambat ketika kamu mengambil nafas! Buang nafasmu sembari kamu mengayuh, supaya kamu hanya perlu tarik nafas ketika kamu menengok!”


“Baik!”, jawabnya.


“Kamu. Tendangan kamu itu sia-sia. Justru tendanganmu itu menghambatmu maju. Pernah lihat ikan berenang dengan ekornya itu? Kenakan sepatu renang, rasakan seperti apa tendangan itu. Kamu nggak mau berlomba di air dengan kakimu, ini bukan Konoha. Gunakan tanganmu, itu adalah sumber kecepatanmu.”


“Siap.”, ucap gadis itu.


Mereka terlihat seperti sedang menghadap seorang pelatih. Ya, aku bukan pelatih, namun aku menyukai renang sejak dulu. Mereka butuh semangat untuk memenangkan piala ini, dan sebaiknya aku memberikan mereka sebagian dari itu.


“Kalian memiliki harapan untuk menjadi juara. Namun kalau kalian tidak bersemangat, hanya itu yang kalian dapat: Juara harapan. Kalau kalian serius ingin memenangkan kompetisi ini, bertarunglah! Kalahkan semua lawan, kalahkan semua rekor!”


“””Baik!!!”””, mereka menjawab dengan semangat.


Kurasa aku baru saja mendapatkan satu skill baru: Motivate. Terasa seperti itu, setidaknya. Ah, sialan, padahal aku yang bilang kalau kita terburu-buru, dan akulah yang membuang-buang waktu di sini dan menyemangati mereka. Semoga ini tidak berbalik menusukku...


Kami keluar dari ruangan itu, dan kembali menutup pintunya. Kami berenam memiliki berbagai macam hal di kepala kami yang perlu didiskusikan, kelihatannya. Namun, mulai dari mana?


“Oke. Setiap korban memiliki semacam kehilangan barang. Dan kita tahu kalau dua korban merasa diikuti. Namun ada yang aneh.”


Yuvi menjelaskan apa yang ada di kepalanya. Dia mengeluarkan segelas air putih dari tasnya, dan meminumnya sedikit. Alicia kemudian memintanya, dan meminumnya begitu saja. Um, Alicia, kamu pernah dengan ‘ciuman tak langsung’?


“Pak Karim bilang kalau bu Elo Richty ini berlari-lari seperti kesetanan. Dia dengan panik menjelaskan bahwa ada yang mengejarnya, menunjukkan kalau itu orang yang menakutkan. Namun kenapa dari sisi Nindy menceritakan penguntitan itu seperti hal yang biasa?”, lanjut Yuvi.


“Ditambah lagi,” tambah Erika, yang ternyata merekam percakapan dan wawancara kami menggunakan ponselnya dan kini sedang mencabut earphone miliknya. “kenapa mereka bisa lupa hal sepenting itu? Niira, kamu tahu sihir yang bisa membuat lupa ingatan?”


Niira mengangguk. “Sihir ingatan bukanlah sihir yang paling umum digunakan. Namun ya, ada. Sifatnya sementara, dan ingatan itu bisa dikembalikan setelah sihir itu terpakai habis. Dengan kemampuan yang hebat, kamu bisa menghilangkan keberadaan orang sepenuhnya.”


“Dan cara mengetahui apakah mereka mendapatkan dampak dari sihir ini?”, tanya Zakiel.


“Sedikit cara. Satu cara yaitu melihat residual sihir dari mereka. Setiap pergerakan akan meninggalkan jejak aura. Mengangkat bantal, atau bahkan bernafas, semuanya meninggalkan jejak aura. Sihir akan meninggalkan jejak aura yang tinggi. Itu adalah konsep dasar dari skill milik Yuvi. Aku merasakan mereka memiliki jejak memiliki serangan sihir, namun mungkin itu hanya jejak biasa. Aku nggak tahu.”, terangku.


Kita tidak memiliki banyak petunjuk. Si Divisi Khusus bedebah itu tidak membantu kami sama sekali, dan hanya melemparkan kasus ini pada kami tanpa berpikir panjang. Apa yang mereka mau dari kami? Aku hanya jengkel mengingatnya.


“Kurasa ini waktunya kita berpencar. Mencari petunjuk di tempat-tempat lain.”, ucap Yuvi. 

Ah, ini dia.


“Ya, ide bagus. Kita harus mencari guru komputer itu, dan harus ke bar. Kita juga harus ke rumah Nindy dan mencari petunjuk baru.”, Zakiel setuju dengan pernyataan Yuvi.


“Kita bisa ke rumah Nindy sembari ke arah bar. Daripada mempermasalahkan rumah Nindy, kita lebih baik ke kantor itu dan menanyakan masalah Ananda Vera, bukan?”, ucap Niira.


“Ah, guys? Aku nggak berguna juga, kan? Aku mau pulang, kalau nggak aku akan terlambat nonton Seven Deadly Sins...”, ucap Rika. Ah, ini dia... tunggu.


“Kamu bilang apa?”, tanyaku.


Dia mengulangnya, “Seven Deadly Sins.”


“Niira, kamu tahu apa itu Seven Deadly Sins?”, tanyaku. Niira memiringkan kepalanya bingung.


“Anime?”, jawabnya singkat.

“Bukan anime. Makna aslinya. Seven Deadly Sins?”, tanyaku lagi.


“Aku tahu itu. Lust, Gluttony, Greed, Sloth, Wrath, Envy, Pride. Nafsu, Kerakusan, Keserakahan, Kemalasan, Kemurkaan, Kecemburuan, dan Kesombongan. Dosa terbesar. Atau pemicu dosa terbesar.”

Zakiel adalah orang yang tidak kuduga mampu menjawabnya. Aku mengangguk, dan mulai mengingatnya.


“Ini hanya dugaanku saja, sih. Tapi, kita sudah ada Lust dan Pride di sini. Ibu Elo yang membuat wakasek selingkuh, dan Nindy yang menyombongkan kemampuan renangnya. Dan kita tahu bahwa ada stalker yang mengikuti Nindy dan bu Elo.”


Yuvi kelihatan mempertimbangkannya.


“Lalu bagaimana dengan barang yang disembunyikan itu? Apa kaitannya?”


“Aku belum berpikir sampai sana. Kurasa ini semacam ritual atau semacamnya.”


“Nggak, nggak, nggak. Ruma, mungkin kamu salah paham mengenai apa itu ritual.”, Niira tiba-tiba memotong ucapanku. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka galerinya. Ia menunjukkan sebuah foto dua orang dengan pakaian berwarna hitam, sedang membuat semacam ukiran di lantai dengan cat putih.


“Ini adalah ritual percobaan untuk membuka gerbang ke dunia lain. Lucu, memang. Tapi mereka melakukannya di klub Penelitian Paranormal. Ini adalah ritual yang sesungguhnya—gak ada tumbal, gak ada persembahan. Mereka membuat aksara lama di lantai, mengalirkannya dengan sihir. Kurang lebih selesai dalam waktu tiga jam. Dan ayahku adalah penyihir—sekeluarga besarku adalah penyihir, dan mereka mencoba hal-hal begini dan aku melihatnya. Nggak ada ritual persembahan.”


Aku tidak pernah mendengar mengenai ritual persembahan juga. Aku hanya pernah melihatnya pada anime dan game. Mungkin sekali, aku pernah melihatnya di berita, namun pelakunya berhasil dinetralisir. Dan di sana sebenarnya cukup terbukti bahwa tidak ada gunanya melakukan ritual. Lalu, alasannya apa?


Aku berlari kembali masuk ke dalam, dan para siswi itu kembali berlatih, kini terlihat jauh lebih cepat dan membuat sang kapten tersenyum.


“Hei kalian! Sedikit pertanyaan sepele. Saat ini, apa benda di dunia yang akan membuat kalian kesal jika benda itu hilang?”, teriakku dari pintu.


Aku tidak perlu berteriak, namun berjaga-jaga kalau telinga mereka masih diisi dengan air, aku berbicara dengan sedikit lantang.


“Um... tas? Maksudku, Swift Card-ku ada di tas.”, ucap satu gadis.


“Ya... ditambah lagi aku nggak mau basah-basahan karena tas berisi bajuku hilang.”, ucap gadis kedua.


“Memangnya kita bisa naik bis dengan baju renang? Tapi ya, kalau tasku hilang, aku nggak ada peralatan daruratku...”, ucap gadis ketiga.


Dan aku membuka kembali berkas yang ada di dalam tasku. Dan benar saja.


“Di dalam isi tas Nindy, terdapat seragam renangnya. Buku Ibu Elo itu sebenarnya adalah diari. Di kantung celemek Ichtam, terdapat nota pembelian banyak buku komik langka, langsung dari rekening bank barnya. Orang ini... mungkin dia terobsesi pada ritual. Kurasa kalau kita membuka data ponsel Ibu Elo, kita juga akan menemukan sesuatu yang terkait dengan Seven Deadly Sins. Gimana menurut kalian?”


Mereka semua setuju.


“Oke. Erika, silakan pulang kalau mau—“


“Nggak jadi. Daripada Seven Deadly Sins yang itu, kayaknya Seven Deadly Sins yang ini lebih real. Dan aku mempunyai sudah punya Blu-ray nya juga.”, ucapnya, yang membuatku ingin menjitak kepalanya.


“Oke. Alicia, kamu coba hubungi ayahmu, tanya soal keberadaan pak komputer, dan tahan dia. Lalu kamu, Zakiel, dan Rika. Kalian ke korban pertamanya, Ananda Vera. Cari apapun yang kalian rasa perlu. Bawa surat dari Divisi Khusus, karena kurasa mereka nggak akan mau data perusahaan mereka dibongkar-bongkar oleh anak SMA. Aku, Yuvi, dan Niira akan ke rumah Nindy lalu ke bar.”, ucapku tegas.


“Tapi—“


“Yuvi, kamu perlu melakukan Insight pada bar itu dan di kamar Nindy, kalau bisa. Dan Alicia perlu mencari data yang kita butuhkan di kantor Ibu Ananda. Tolong.”, ucapku kesal. Dia tidak bisa mengeluh soal itu.


“Tunggu. Kita nggak punya cara berkomunikasi satu sama lain.”, ucap Alicia.


Yuvi dengan bergegas membuka aplikasi LICE nya, dan dengan cepat kita menambahkan satu sama lain, dan membuat sebuah ruang obrolan grup. Kita semua mengangguk, mengerti tugas-tugas kita. Kuharap mereka mengingat tujuan mereka, dan kuharap kita juga begitu. Yuvi tersenyum ketika ia menambahkan Alicia sebagai teman, dan kurasa dia sudah merasa cukup puas dengan itu.




Raavi's afterwords!

Karena kelihatannya lamannya akan meledak jika aku langsung menyalin seisi chapter 2 dalam satu waktu, akan aku bagi chapter ini menjadi dua atau tiga bagian. Pantas saja lama, ternyata ada beberapa puluh halaman yang aku buat tanpa sadar... 

Ngomong-ngomong, mohon maaf ya. Aku adalah penulis cerita romansa. Bukan aksi, bukan misteri, atau fantasi. Ya, jadi aku mungkin agak buruk dalam membuat cerita penyelidikan. Ya, sekali-sekali lah. Mohon maaf kalau ampas.



Komentar