Kita segera berpisah, dan aku, Yuvi, dan Niira bergegas menuju rumah dari Nindy sesuai dengan alamat yang ada di berkas. Aku benar-benar berharap kita tidak ditolak oleh orang tuanya Nindy. Menceritakan kisah anaknya yang sudah meninggal mungkin akan sangat sulit. Atau begitulah yang aku pikirkan.
“Permisi!”
Aku mengetuk pintu rumah mereka yang berwarna merah muda. Rumahnya bukan rumah orang kaya yang super besar. Malah rumahnya lebih kecil dari rumahku. Gerbang hitam dan sebuah tembok berwarna merah muda menutupi garasinya yang hanya dapat menyimpan kendaraan roda dua. Rumahnya Nindy hanya berjarak tiga blok dari sekolahnya, menjadikan perjalanan ke rumah ini tidak menyulitkan dan kita tidak akan membuang banyak waktu dalam perjalanan. Aku lebih membayangkan bagaimana Nindy bisa diuntit, sebenarnya.
Terlihat ada lilin yang baru saja mati di luar rumahnya. Mungkin dia ingin menangkal sesuatu? Aku tidak pernah mendengar pembakaran lilin untuk pemakaman, atau pendoaan.
“Niira. Kamu tahu untuk apa lilin itu?”, bisikku.
“Mungkin untuk percobaan pemanggilan arwah. Lilin di luar rumah untuk mengundang arwah masuk, persembahan untuk membuat arwah bertahan, lalu membuka atau menutup pintu rumah untuk membiarkan arwah berada di dalam rumah atau mengusirnya keluar rumah. Meski begitu, nggak ada aliran sihir di sini. Syukurlah. Kalau ada, aku khawatir kita mengundang arwah yang salah.”, terang Niira. Syukurlah Niira adalah anak dari mafia dan penyihir terkuat se-Ethera.
“Arwah yang salah?”, aku baru menyadari penjelasannya itu.
“Ya... secara ajaran, biasanya arwah yang mati akan mencoba pulang dan bertahan di rumahnya itu selama tiga hari. Kamu tahu ini, kan? Lalu, mereka barulah berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Tapi kalau arwahnya nggak pulang, mungkin saja malah arwah lain yang datang dan mengganggu rumahmu.”
Aku jelas tidak tahu akan hal itu! Ajaran dari mana itu? Apakah aku dan Niira memiliki ajaran yang berbeda? Entahlah, aku akan mencoba mencarinya menggunakan Findle Search kalau aku ada waktu.
Pintu rumah itu terbuka, dan seorang wanita seumuran ibu Yuvi keluar dengan matanya yang masih lembam. Aku yakin dia masih menangis bahkan sampai hari ini. Jelas saja, anaknya dibunuh saat masih umur 14 tahun!
“Maaf, tante. Aku Ruma. Ini adalah Yuvi dan Niira. Kami—“
“Kami adalah senior dari Nindy, sekarang sekolah di SMA Reater. Kami baru dikabari soal kematiannya, jadi kami datang ke sini.”, Niira tiba-tiba memotong ucapanku.
Hei, untuk apa kita berbohong? Aku tidak mengerti logika yang Niira miliki. Namun dia menginstruksikan kita untuk mengikuti alurnya saja. Apakah dia akan selalu bertingkah seperti ini? Aku merinding membayangkannya.
“Bolehkah kami masuk sebentar?”, tanya Yuvi.
Namun seperti biasa, Yuvi mampu meluluhkan bahkan sekeras apapun hati seseorang. Ya, aku tidak bilang kalau hati ibu itu mengeras, namun bisa dibilang kalau... ah, bodo amat. Selama kita bisa masuk dan berbicara, aku sebaiknya tidak mengeluh.
Kami dipersilakan masuk ke dalam rumah ibu dari Nindy. Foto miliknya masih dipajang di ruang tamu, yang diselimuti oleh rangkaian bunga, dan piring berisi sepotong shortcake dengan topping stroberi di depannya. Lampu rumahnya terang benderang, meski jendelanya semua terbuka lebar.
Begitu kami duduk, aku kembali menyadari kalau semua pintu terbuka lebar. Tidak hanya lebar, semua pintu dihambat agar tetap terbuka. Agak menyeramkan melihat apa yang orang lakukan agar bisa melihat putrinya lagi.
“Tante, sebelumnya, kami turut berduka cita atas kehilangan ibu. Dan mohon maaf karena kami baru tahu apa yang terjadi terhadap Nindy.”, ucap Niira.
Ia mengangguk, kembali menghapus air matanya. “Nggak apa-apa... malah, aku berterima kasih karena kalian mau berkunjung.”, ucapnya.
“Sebelumnya tante, aku mau tahu. Nindy cerita sama kami kalau dia ada yang ngikuti. Apa dia pernah cerita begitu ke tante?”, tanya Yuvi, memulai pertanyaan itu dengan pertanyaan yang berat.
Tante berambut merah itu mengangguk mengiyakan.
“Dia cerita kalau ada om-om begitu, mengikuti dia saat dia berenang. Katanya itu guru SMA Reater. Apakah ada beasiswa seperti itu di SMA Reater?”
“Oh, begitu...”, ucap Yuvi. Pernyataan itu sesuai dengan pernyataan para anggota klub renang barusan. “kami sendiri nggak tahu, bu. Salah satu alasan kami ke sini adalah mengenai itu—”
“Tante, maaf mungkin ini agak nggak sopan, mengingat tante masih berduka. Namun, kami merasa kalau mungkin Nindy menitipkan sesuatu untuk kami? Kami nggak tahu cara menjelaskan barangnya, tapi kurasa sesuatu itu sudah dibungkus, atau berada di selipan buku. Boleh nggak kalau kami melihat kamarnya sebentar?”, ucapku.
Dia membolehkan kami. Mungkin dia sudah mengenali lencana kami, atau merasa kami bukan orang buruk. Atau mungkin juga dia benar-benar dalam situasi rentan sehingga orang yang mengaku sebagai temannya Nindy akan diterima begitu saja. Entahlah, aku berharap aku tidak memanfaatkan kelemahannya saat ini. Namun aku merasa ada sesuatu di ruangan tepat di atas kami yang memiliki daya sihir. Sepertinya Eye of the Truth menyala dengan sendirinya. Lagi.
Dia menuntun kami ke lantai dua, dimana kamar milik gadis bernama Nindy itu berada. Cat kamarnya berwarna biru langit dengan gradasi putih. Kamarnya itu memiliki berbagai jenis boneka yang berada di meja belajarnya, kasurnya, bahkan di samping kasurnya. Laptopnya terlihat masih terbuka dan menyala, bahkan tidak terkunci. Baterainya tidak habis karena kabelnya masih terhubung ke stopkontaknya. Kasurnya masih sedikit berantakan, dan itu mencurigakanku.
“Aku tidak menyentuh kamarnya semenjak dia... meninggal. Maaf aku permisi dulu, aku mau
mengambil minum sejenak.”, ucapnya, sebelum meninggalkan kami di lantai ini sendiri.
Ya, itu menguntungkan kami, sebenarnya. Aku merasa tidak enak melakukan sihir Insight di kamar orang lain. Tidak seperti seseorang spesifik yang memiliki skill itu... juga karena ada kemungkinan kalau tante itu tidak menyukai sihir, aku agak khawatir ia akan murka pada kami karena telah ‘menodai’ rumahnya dengan sihir.
“Yuvi, kamu percaya padaku?”
Suara itu datang dari Niira, yang tiba-tiba menggandeng tangan Yuvi dan aku. Yuvi hanya mengangguk, dan memberikan tambahan, “Tentunya” sebagai keterangan. Kemudian Niira menoleh padaku, jelas menanyakan hal yang sama. Aku juga mengangguk. Kurasa ini adalah waktunya Niira menunjukkan skill miliknya.
“Initiate Lifeline Link. Ruma Neiki—Tear. Yuvi Arata—Insight.”
Kedua skill itu aktif secara bersamaaan. Aku bisa merasakan laju waktu berhenti di luar kami, namun berjalan untuk kami bertiga. Cara mudahnya adalah melihat jam yang ada di kamarnya itu. Niira mengaktifkan Tear milikku begitu saja, padahal aku bahkan belum tahu cara menggunakannya. Apa-apaan gadis overpowered ini?
Tuhan, dimanapun kamu berada, tolong nerf Niira.
Niira juga menggunakan Insight milik Yuvi, dan karena itulah pandangan yang berada di depan kami terlihat seakan sedang diputar mundur. Kelihatannya Niira-lah yang mengatur kecepatan pemutaran Insight, karena jika itu Yuvi, aku memiliki firasat bahwa ia akan menghentikan pemutarannya pada waktu yang... kurang tepat. Tidak, kurasa Yuvi tidak mesum seperti itu. Atau...
“Dengan sihir kita bertiga plus Tear, aku akan mencoba memperkuat aura residu yang berada di kamar ini agar kita bisa memundurkan waktunya lebih jauh lagi. Kalian mungkin akan merasa seperti energi kalian sedang disedot, tapi bertahanlah. Super enhancement—Time manipulation.”
Dia tidak menunggu jawaban dari kami. Namun kelihatannya itu berhasil, karena pemutaran mundurnya itu kembali berjalan dengan cepat, dan kami berhasil mundur ke satu minggu lalu. Hari Jumat.
Gadis itu masuk dengan ponselnya menutupi telinga kirinya. Dia terlihat cemas, dan mengintip jendelanya.
“Iya Miku, aku tahu. Lagian, memangnya ada beasiswa renang di SMA Reater? Ahahahaha...”
Ia tertawa, namun wajahnya masih terlihat cemas. Sekali lagi, dia mengintip jendela kamarnya itu. Kenapa dia terus menerus melihat ke arah jendelanya?
“Ohya, bagaimana? Kamu sudah pede dengan gaya renangmu? Mau diajarkan oleh sang master? Ahahaha, sekali-sekali kan nggak apa-apa! Lagipula kalau aku ada stalker kayak gini, mending aku stay di rumah dan cari aman, bukan?”, ucapnya.
Jadi gadis ini sudah menyadari kalau dia diikuti oleh seseorang. Gadis pintar, dia tidak lengah. Lalu, bagaimana bisa dia dibunuh oleh orang ini? Aku benar-benar ingin tahu. Aku tidak akan munafik dan bilang kalau aku takut melihat pembunuhan, karena aku telah membunuh juga.
“Ya... aku jelas memilikinya. Aku meninggalkannya di laptopku. Saat ini, aku membiarkan laptopku menyala dan nggak dikunci. Siapa tahu kalau terjadi sesuatu padaku—nggak, nggak, aku nggak akan cari mati! Tapi, kau tahu, kan... nggak ada salahnya jaga-jaga...”
Dia meninggalkan sesuatu di laptopnya. Mungkin itu sesuatu yang ingin ia tinggalkan kepada kami, dan sesuatu yang aku lihat dari bawah di ruang tamu. Apakah aku bisa bergerak dan memeriksanya? Namun, Niira saat ini menggunakan energi sihirku...
“Ah, ibu memanggilku. Udah dulu ya! Dadah—mwaah—ahahahah!”
Gadis itu mengakhiri teleponnya, dan kembali mengintip jendelanya. Aku ingin mengajak Niira dan Yuvi untuk mengintip jendelanya, namun kurasa itu sia-sia, ya? Kurasa Insight tidak akan mencapai sana.
Gadis itu menembus kami yang berdiri di depan pintu dan melangkah keluar, memanggil Ibunya tiba-tiba.
“Ruma, kamu bisa melepas gandenganmu. Periksa apa yang dia dari tadi intip.”
Itu adalah perintah Niira. Dan itulah yang aku lakukan. Melepas gandengan mereka dengan pelan-pelan, aku mengintip dari jendela itu dengan menaiki kasurnya, dengan perlahan untuk memastikan bahwa kasurnya itu tidak akan berantakan karenaku.
“Oh Ya Tuhanku.”
Makhluk itu. Berada di depan rumahnya. Dengan sebuah gergaji mesin. Dan dengan senyum yang sangat lebar melihat ke arahku.
Aku melompat mundur begitu melihatnya. Tidak, dia tidak melihatku. Dia melihat ke arah jendela kamar ini. Setidaknya, kuharap begitu.
“Ruma, menghindar!”
Aku menunduk, dan mengeluarkan tachiku. Sekarang transformasinya bisa dibilang instan. Tembakan sihir itu terbelah oleh pedangku, namun aku tidak bisa menemukan asal sihir itu. Mungkin
saatnya aku membuat skill baru lagi dari skill mataku...
“Aura tracer!”
Aku membuat postur defensif, menunggu tembakan sihir itu datang lagi. Dan datanglah tembakan sihir itu.
Dalam sekali potongan, secara teorinya aku akan menemukan—tidak, aku akan menemukan orang itu. Keinginan adalah hal penting dalam penggunaan skill dan sihir.
Namun aku tidak menemukan asal sihir itu.
“Tenang, Ruma! Sihir itu hanya datang berdasarkan ingatan sihir, dan apa yang kamu lihat itu dari Eye of the Truth! Seharusnya aman bahkan kalau kamu menerima serangannya.”, ucap Niira.
“Ya, seaman lima korban sebelumnya?”, ucapku jengkel. “Oh, aku akan membedah bedebah ini...”
Dengan susah payah, aku mencoba untuk menghentikan mata kiriku untuk menggangguku lagi. Eye of the Truth, walau berguna, kadang bisa menjadi sebuah kutukan ketika dia mengganggu pandanganku. Setelah menutup mata kiriku dan sedikit memukul-mukul keningku, skill itu berhenti.
“Oke, Ruma. Gandeng aku lagi, aku akan mempercepatnya sampai dia muncul di kamar ini lagi.”, ucap Niira, yang mengulurkan tangan kirinya. Aku meraihnya, dan ia mulai mempercepat waktu lagi.
Sabtu siang. Nindy kembali masuk ke kamarnya. Tiba-tiba kamar itu berguncang-guncang—tidak, pandangan kami yang seperti melihat kaset VCR yang kusut.
“Ruma, Yuvi. Aku mau kalian pikirkan soal satu sama lain.”
“”Apa!?””
“Sekarang!”
Ah, pikirkan soal Yuvi? Um... bagaimana soal Yuvi memberikan pita kupu-kupu ini padaku? Saat itu aku masih kelas 1 SMP, dan semua orang masih takut padaku. Yuvi adalah satu-satunya temanku, seperti biasa. Lalu, pada 19 Juli, hari ulang tahunku, dia tiba-tiba memasangkan dua pita ini kepada rambutku secara asal-asalan, namun itu menjadi rambut trademark ku. Atau saat...
“Sudah cukup. Lifeline Link—Lock. Seharusnya nggak akan ada gangguan lagi. Ingatkan aku untuk membuka ikatan Lifeline kalian , atau mungkin kalian akan menjadi jodoh, dengan atau tanpa keinginan kalian.”
Bahkan aku tidak paham apa maksudnya. Namun aku akan berusaha mengingatnya.
“Hei, visualnya sudah kembali normal.”, ucap Yuvi.
“Apa kamu mendengarku barusan?”, ucap Niira jengkel.
Nindy duduk di depan laptopnya, menulis sesuatu yang terlihat sangat penting dari ekspresi wajahnya, dan mencetaknya. Tentunya, kita tidak bisa melihat apa yang ia tulis dari layarnya karena layarnya hanya kabur-kabur di dalam Insight. Dan jemarinya terlalu cepat dalam pengetikannya untuk aku mengikuti gerakannya. Kertas itu juga hanya merupakan wujud kertas kosong, karena kita belum melihat isi kertasnya.
Ia menyelipkan satu kertas di dalam bukunya, satu di dalam tasnya, dan satu di bawah laptopnya. Salah satu di antaranya adalah kertas yang berisi teks, dan kertasnya itu berada di dalam tasnya. Jangan-jangan dia yang menuliskan kertas ‘sinner’ itu? Tidak, kertas yang ada di tasnya adalah tulisan tangan. Berarti si pelaku menukar kertasnya—tidak. Itu adalah permainan mata. Gadis ini adalah penyihir.
“Ruma, kamu juga sadar ya?”, ucap Niira. Aku mengangguk.
Aku berjalan ke arah laptop itu, dan mengangkat benda itu. Namun aku mengalami kesulitan dalam melihat tulisan yang dia sembunyikan, karena aku baru saja mematikan Eye of the Truth. Ah, kenapa ini benar-benar menyebalkan?
“Ruma. Ambil nafas yang dalam, dan keluarkan. Bayangkan matamu adalah kamera. Kameramu itu sedang mengatur fokusnya, lensanya berputar ke kiri, ke kanan, maju dan mundur untuk mencari fokus yang tepat. Cari fokus yang tepat itu, Ruma.”
Penjelasan Niira itu sangat membantuku. Tidak, sungguh. Ketika aku membayangkan mataku sebagai kamera yang sedang mencari fokus, aku hanya perlu ‘mengatur fokusnya’ itu agar sesuai dengan yang aku cari. 'Aura detection—Eye.' adalah mantra yang akan kubuat untuk mengaktivasi mata kebenaranku. Aku akan meminta Yuvi Sang Chuunibyo Master untuk membuat nama unik untuk skill ini nanti.
Mata kiriku mampu memutuskan diri dari Insight secara individual, dan melihat dunia nyata dan benar. Aku bisa saja memutus koneksi kepada Insight, namun kurasa itu ide buruk, mengingat Niira masih butuh energiku juga. Aku membaca kertas itu dengan lantang.
“’Sang Joker melihat padaku setiap hari. Berjalan semakin dekat setiap kali aku melihat keluar. Kamu yang menemukan kertas ini. Berhati-hatilah. Sang Joker adalah tangan dari Tuhan.’ Apa? Apa yang anak ini maksud? ‘Sang Joker menatap padaku setiap hari. Senyumnya makin melebar setiap aku melihat keluar. Kamu yang menemukan kertas ini. Berhati-hatilah. Sang Joker akan menertawakan isi pikiranmu.’ Oke, ini mengerikan.”
“Nggak,” ucap Niira. Dia terlihat memikirkan sesuatu yang cukup berat. “itu adalah petunjuk dari Nindy kepada kita. Nindy... dia kelihatannya lebih pintar dari yang kita duga. Pertama, si Joker ini pasti adalah orang yang kamu lihat tadi, kan?”
Aku mengangguk. “Ya, senyumnya itu sangat lebar melewati ujung batas dimana manusia bisa tersenyum.”
“Lalu, tangan Tuhan. Artinya dia mengadili pelaku Seven Deadly Sins, bukan?”, ucapku. Ia setuju.
“Namun petunjuk kuatnya ada di memainkan pikiran. Dia membuatmu melihatnya dan tembakan sihirnya itu. Juga mengganggu Insight. Berarti dia—“
“Pengguna sihir pikiran.”, ucap Niira singkat. “Dia kelihatannya memiliki unique skill yang merusak pikiran korbannya. Itulah kenapa tidak ada luka bakar, dan kenapa lukanya sangat kecil namun menembus dua arah.”
“Berarti—“
“Hei, kalian bisa mengikutkanku dalam pembicaraan kalian?”, ucap Yuvi kesal. “Aku nggak mampu mengikuti percakapan kalian, kau tahu.”, lanjutnya.
“Aku akan menjelaskannya ketika kita membatalkan skill Insight.”, ucap Niira. Dia melepaskan gandengannya, dan visual dari Insight langsung menghilang dengan sekejap, begitu pula dengan efek Tear.
Barulah Niira mulai menjelaskan. “Yah, Yuvi, aku bingung cara menjelaskannya padamu... sebenarnya sudah cukup jelas. Sang pelaku nggak pernah membunuh secara fisik, namun hanya merusak secara mental sampai kondisi tubuhnya seperti mati—gak ada detak jantung, gak ada aktivitas otak. Mirip seperti nyawa yang ditarik, namun gak dihisap. Kembalikan fungsi tubuhnya, maka...”
“Itu berarti—“
“Ah, maaf, ya. Saya butuh minum untuk menenangkan hati saya. Saya membawakannya juga untuk kalian... ada apa dengan ekspresi kalian?”, ucap Ibu itu. Kami melihat satu sama lain, dan mengangguk. Namun kami harus mengonfirmasi sesuatu terlebih dahulu sebelum bertindak.
“Tante. Apakah tante membenci sihir?”, ucapku. Tolong. Tolong. Jawab tidak.
Dia duduk di salah satu anak tangga, dan memutar-mutar gelasnya.
“Anakku itu... dia bisa sihir elemen air. Aku masih mengingatnya bermain-main air saat mandi, membuat air mancur dengan kendali sihirnya itu. Saat dia berenang, dia merasa di situlah tempat dia hidup. Dia tidak curang dan menggunakan sihirnya saat berenang, tentunya. Namun dia mencintai air. Mungkin, itulah kenapa air menenangkanku. Jadi nak, aku tidak membenci sihir, walau...” Dia tidak meneruskan ucapannya.
“Tante. Apakah tante mengizinkan autopsi pada jenazah Nindy?”, kini Niira yang menanyakannya, sembari memegang tangan tante itu yang gemetar.
Umur dewasa pada Ethera adalah 15 tahun. Ya, terdengar konyol. 15 tahun dan kami sudah bisa memiliki kartu identitas, izin pernikahan, bahkan membuat kartu kredit. Namun, kebanyakan orang memiliki kartu identitas pada umur 16 karena kebanyakan identitas lain seperti SIM dan izin senjata
hanya bisa dibuat pada umur 16. Pada umur 15 tahun, kami dianggap sebagai manusia independen.
Namun pada umur 15 tahun ke bawah, semua perizinan diberikan kepada orang tua. Termasuk izin untuk melakukan operasi, pernikahan, masuk ke dunia selebriti, atau dalam kasus ini, autopsi.
“Nggak. Kurasa sudah jelas kematiannya seperti apa, kan? Aku hanya ingin memakamkannya, namun mereka belum memulangkannya... ada apa ini?”
Syukurlah. Jika autopsi dilakukan, maka organ-organ beserta darahnya sudah dikuras dan dibuang. Namun jika dia belum tersentuh oleh meja operasi, apakah aku boleh mengucapkannya? Aku tidak ingin membangun harapannya terlalu tinggi. Aku akan membiarkan Niira yang memutuskan apakah kita mengatakannya atau tidak.
“Jadi sebenarnya... kita bertiga kebetulan juga seorang penyihir, dan... kurasa kami bisa melakukan sesuatu terhadap ini. Kami nggak mau membuat tante berharap terlalu banyak, tapi ada kemungkinan kalau kami masih bisa membuat ibu bertemu dengannya lagi. Bahkan walau itu hanya sekali.”, ucap Niira. Ya, dia tidak menjanjikan apapun, namun dia menyampaikan apa yang dia perlu. Seperti yang bisa diharapkan dari anak sang mafia, dia mahir dalam berbicara politis.
“...kalian bukan senior dari Nindy, ya?”, ucap tante itu, namun dia tidak terlihat marah sedikitpun. Malah keluar senyuman dari bibirnya.
“Sebenarnya, aku dan Yuvi adalah senior dari Nindy, bagian itu benar. Tapi kami nggak mengenal satu sama lain. Kami bertiga dari SMA Reater Silver Butterfly yang menyelidiki kasus Nindy.”, terangku. Ada sedikit keterkejutan yang terlihat di wajahnya. Mungkin itu adalah ‘sudah kuduga’ yang tertulis di wajahnya.
“Dan kami ingin membantu tante. Tapi kami nggak bisa berjanji apapun, karena hal yang akan kami coba ini belum pernah kami lakukan sebelumnya. Namun kami akan berusaha sebaik mungkin agar tante bisa berjumpa sekali lagi dengannya. Bahkan walau itu hanya yang terakhir kali.”, tambahku.
Dan di saat itu, ada aura berwarna putih yang seakan mengitariku dan tertarik ke atas, sebelum aura itu memecah di udara. Huh, apa itu?
Tidak lama, kami izin pamit karena banyak hal yang perlu kami kerjakan setelah ini. Dan benar-benar banyak hal yang perlu kami lakukan saat ini. Dimulai dari Yuvi, yang harus menelepon kontak milik Alicia untuk memastikan bahwa jenazah Nindy tidak disentuh sama sekali. Dan perubahan rencana dikirim ke grup obrolan Silver Butterfly, kalau Yuvi sendiri akan ke bar, dan butuh seorang bantuan ke sana. Zakiel pun mengirimkan Alicia. Tentunya.
“Ngomong-ngomong Ruma,” ucap Zakiel saat kami menelepon grup. “dugaanmu kelihatannya benar. Ponsel Nona Ananda memiliki belasan pesan singkat yang tidak ia jawab. Kelihatannya Nona Ananda di sini merupakan Sloth.”, terang Zakiel.
Aku merenung sedikit. “Ada lagi?”
Zakiel mengeluarkan suara “Huh” seakan berkata dalam hati, “Kelihatannya grup Ruma sudah mengetahui sesuatu.”
“Lalu kelihatannya juga Nona Ananda mengeluh diuntit beberapa kali. Dan barang-barangnya kerap hilang, namun diabaikan karena dia dianggap sebagai ceroboh.”, ucap Zakiel lagi.
“Dan aku sudah menghubungi ayah soal pak Komputer. Kelihatannya dia menggunakan identitas bernama Fizel Marko.”
“’Menggunakan’, berarti identitas itu palsu?”
“Ya. Fizel Marko yang asli adalah anggota militer yang menghilang di dataran Ryuzania dua puluh tahun lalu. Saat itu data belum digital dan tidak lengkap, namun orang yang asli muncul di berita sekali jadi aku berhasil menemukan datanya. Namun aku belum menemukan identitas pelaku kita ini.”, terang Alicia.
“Oke. Apa ada lagi yang perlu kalian sampaikan?”, tanyaku lagi.
Mereka bingung karena pertanyaanku.
“Ada. Mungkin nggak begitu terhubung sih, tapi... menurut pernyataan teman kerjanya, Ananda ini nggak punya hubungan dengan salah satu dari korban. Tapi dia pernah bertemu dengan Nindy sekali, secara nggak sengaja di kolam renang. Ananda menabrak Nindy yang lagi latihan, meminta maaf, lalu berpisah. Itu sebulan lebih yang lalu sebelum Ananda dibunuh. Aku mendapat keterangan ini dari seniornya Ananda yang sedang hangout dengannya.”
Waktunya pas. Jadi begitu cara dia memilih korban? Karena kebetulan dia berpapasan saat melewatinya?
“Masih ada lagi?”
Kali ini mereka diam. Hehehe, giliranku sekarang...
“Oke. Giliranku, kan? Karena banyak hal yang perlu aku sampaikan ke kalian.”, ucapku.
Dan aku menerangkan apa yang sudah kami dapat kepada grup Zakiel, dan tentunya mereka terkejut tak kepalang. Ya, ide yang aku ajukan ini pasti menyeramkan bagi mereka yang bukan penyihir. Aku
memastikan mereka tidak membocorkan rahasia ini ke siapapun, bahkan orang tua mereka sendiri.
“Jadi kalian sekarang menuju ke sana?”, ucap Zakiel.
“Menuju? Salah, Zakiel.”, ucapku. Kemudian kami turun dari bus itu, dan melihat ke depan.
“Kami sudah sampai.”
Rumah Sakit Polisi Kota Revore.
Rumah Sakit yang biasa digunakan untuk ruang forensik, pengobatan untuk para kriminal dan polisi, juga untuk menyimpan jenazah yang masih di dalam kasus aktif.
Seorang dokter yang rambutnya hanya berada di belakang kepalanya itu datang kepada kami, sebuah papan catatan di tangannya. Jas putihnya itu kelihatan lusuh, mungkin dia baru saja bangun tidur.
“Kalian dari Silver Butterfly, ya? Ikuti saya.”
Kami barusan menelepon kontak kami di Divisi Khusus hanya untuk ini, tentunya. Kami butuh mengakses jenazah para korban pembunuhan yang disebut Nindy sebagai ‘Sang Joker’ ini.
“Aku nggak terkejut kalau para agen itu memanggil kalian. Bagaimanapun juga, ini aneh.”
“Aneh bagaimana, pak?”, ucap Niira.
“Ya... sebenarnya secara kondisi tubuh, mereka masih sehat-sehat saja. Bahkan cukup sehat sampai semua organnya bisa digunakan kembali, bahkan darahnya. Ada lubang di kepalanya, namun setelah pemeriksaan nggak ada darah atau cairan otak yang menetes.”
Ah, maksudnya itu. Yang itu kami sudah tahu, karena yang diserang memang ke mentalnya, yang membuat jantung mereka berhenti adalah serangan sihir terhadap pikiran, atau otak, membuat mereka dalam kondisi vegetatif. Namun kenapa jantung mereka bisa ikut berhenti, bukan aku ahlinya.
“Sepenuhnya?”
“Sepenuhnya! Luka yang mereka alami selain dari lubang di kepalanya hanya dari lecet-lecet! Dari kondisi tubuh korban Elo Richty misalnya, dia hanya mengalami luka lecet di kaki. Korban Nindy malah hanya seperti tertidur. Namun ada yang lebih aneh, sebenarnya.”
“Anda membicarakan soal korban di bar, pak?”, tanyaku. Ia mengangguk.
“Yang terburuk hanyalah korban di bar, Vicky Nora. Satu tembakan di kepala. Ukurannya kecil, seperti pistol kaliber 22. Dari luka bakarnya, kelihatannya dia ditembak langsung di depan moncong pistolnya... dari wajah kalian, kurasa aku salah?”
Kelihatannya wajah kami cukup untuk menjelaskan padanya kalau yang membunuh Vicky Nora bukanlah sebuah pistol, melainkan sebuah mantra sihir api. Meski begitu, kami harus memastikannya secara langsung sebelum mengambil kesimpulan.
“Kami belum tahu secara pasti, namun kurasa yang membunuh Vicky Nora menggunakan sihir.”
“Ah.”
Dia hanya menjawab singkat pernyataan Niira. Pembunuhan menggunakan sihir memang sangat mudah dan aman, karena tidak meninggalkan jejak forensik untuk dilacak... tunggu, apakah ini alasan para Divisi Khusus membentuk ulang Silver Butterfly?
Pria itu membawa kami ke ruangan yang sangat dingin. Ya, tentunya ruangan ini harus dingin agar jenazah tidak membusuk. Ruangannya bercat putih dengan ubin yang berwarna putih juga, yang kelihatannya sudah mulai pudar oleh darah (?) Entahlah, apakah ada orang yang menyusuri lorong rumah sakit dengan bertumpah darah?—Ruangan tersebut berisi kotak-kotak besar seperti loker. Namun bukan loker untuk menaruh sepatu atau tas, ini adalah loker untuk menyimpan manusia.
“Ah, tapi aku nggak menyangka akan melihat Silver Butterfly bergerak lagi, kau tahu!”
Pria tua yang merupakan ahli forensik di sini memiliki keceriaan di wajahnya, walau dia hanya melihat jenazah setiap harinya. Mungkin dia senang karena bertemu dengan manusia lagi.
“Ahahaha... kami juga kaget. Mendadak kami diperintahkan untuk menjadi Silver Buterfly.”, ucap Niira dengan gaya birokratisnya itu. Aku harus belajar banyak dari Niira.
Dia menarik lima buah loker, menunjukkan lima jenazah dengan kondisi yang mirip—sebuah lubang yang berada tepat di tengah dahinya. Mereka ditutupi oleh sehelai kain berwarna putih, dan kelihatannya empat dari lima korbannya semua sudah pernah dibedah.
“Aku nggak boleh membedah tubuh dari Nindy, namun kami harus tetap menyimpannya selama kasus berlangsung.”
Syukurlah. Itu akan menyulitkan jika tubuh milik Nindy sudah dibedah. Namun aku menyelidiki korbannya satu persatu sebelum ke arah Nindy.
“Korban Elo Richty. Kalau saya nggak melihat lubang di kepalanya, saya akan bilang kalau korban tewas karena penyebab alami.”
“Aura detection—Eye.”
Gagal... lagi-lagi, aku harus memaksakan aktivasi sihir Eye of the Truth menggunakan metode Niira. Memejamkan mataku, mengontrol nafasku, dan mengatur fokus dari mata kiriku itu untuk menangkap aura sihir... ah, berhasil.
“Ini jelas residu power-up dari mind magic. Mirip aura sihir dari berlian power-up milikmu, Niira, namun dengan elemen mind.”
Mind, atau pikiran, berbeda dengan physical, atau fisik. Bahkan pada sihir, pikiran dan fisik bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh satu orang kecuali menggunakan bantuan senjata. Ini adalah salah satu aturan aneh dari sihir.
Elemen fisik, dari elemen dasar seperti air, bumi, api, udara, sampai elemen tinggi seperti cahaya, kegelapan, ruang, dan waktu; mereka adalah elemen yang dapat dibuat dan dimanipulasi. Bahkan dikombinasikan. Pernah melihat sihir Liquid Dark Flame of Light Stone Arrow? Itu adalah sihir kombinasi air, api, tanah, dan udara, kegelapan, dan cahaya. Waktu itu ada teroris yang menyerang sebuah markas militer, dan tersorot media sedang menggunakan elemen sihir seperti itu. Ya, sihirnya berakhir sangat lemah, dia dilumpuhkan oleh sebuah tembakan dari M101 105mm Howitzer tua yang biasa dipakai untuk memainkan musik.
Sedangkan elemen nonfisik seperti pikiran, takdir, dan elemen misteri ke-9; mereka bukanlah elemen yang bisa dibuat begitu saja. Mungkin mereka bisa memanipulasinya sedikit, atau menggunakan sedikit kekuatannya, namun hanya itu.
Sihir adalah kemampuan untuk memanipulasi hal di dunia untuk sesuai dengan keinginan. Itulah kenapa keinginan adalah bagian penting dari sihir. Namun, apa yang terjadi ketika keinginanmu itu dimanipulasi dan membuatmu ingin menghancurkan dirimu sendiri? Ya. Itulah yang terjadi pada korban-korban ini.
Yang dia lakukan adalah mengontaminasi pikiran korbannya dengan sihir yang diisi oleh hantu Joker. Kemudian, setelah Joker itu terus-menerus mendekat, si korban akan semakin tertekan. Lalu, seakan membangkitkan sihir, sang korban mendapatkan sihirnya. Namun karena kontaminasi itu, sihir yang mereka dapat hanya mampu digunakan untuk membunuh dirinya sendiri.
Kemudian, si Joker akan menempatkannya pada tempat yang tepat sesuai dengan dosanya, dan menyiapkan TKP sesuai dengan seni miliknya.
Ya, semua ini adalah teori saja. Namun aku merasa bahwa aku sudah benar.
Namun setelah korban di bar, aku melihat dia mulai mengimprovisasi. Kematian Vicky Nora terlihat tidak disengaja, atau dia hanyalah korban yang menjadi saksi. Dia memiliki jejak luka bakar yang berbeda dengan korban yang lain. Aku yakin bahwa setelah ini, korbannya akan... tunggu, untuk apa?
Kami berteori kalau si Joker melakukan semacam ritual, atau fantasi ritual. Namun membunuh saksi hanya akan merusak ritualnya saja. Menghampiri Nindy dengan menunjukkan wajah Fizel Marko dan bukan si Joker ini juga terlihat salah. Berarti ini bukan ritual, namun target? Jika kita berhasil mengetahui korban selanjutnya, mungkin kita bisa menemukan penjelasannya. Namun menunggu sampai saat itu terjadi adalah hal buruk yang bisa kita lakukan. Jadi, Niira dan aku saat ini berada di ruang jenazah hanya untuk melakukan satu hal:
Secara harfiah, kita akan membangkitkan Nindy dari kematian.
Ya, terdengar gila. Pembangkitan di sini bukanlah pembangkitan dari kematian. Namun pembangkitan kemampuan sihir. Pembangkitan kemampuan sihir yang kami lakukan ini memang terdengar aneh, karena yang kami bangkitkan bisa dibilang sudah mati. Tapi justru karena itulah kita perlu melakukannya.
Pembangkitan kemampuan sihir bisa disebabkan oleh dua hal: Trauma berat yang mengakibatkan bangkitnya sihir di dalam tubuh dengan keinginan di dalam hati yang menggabung menjadi sebuah skill baru; atau kontaminasi sihir yang cukup besar untuk membuat si target menerima sihir terus menerus, dan membuat tubuhnya menerima sihir itu sebagai skillnya. Cara pertama adalah cara Joker membunuh korbannya. Cara kedua itulah yang kami coba lakukan untuk menyelamatkannya.
Kami tidak bisa menyelamatkan yang lain, sayangnya. Namun menyelamatkan satu orang dari kematian palsu sudah cukup bagiku.
“Pak, mohon mundur.”, ucapku, meregangkan tanganku. Orang itu mundur sesuai dengan perintahku.
“Siap Ruma?”, ucap Niira.
“Menunggu aba-abamu.”, ucapku.
Terima kasih kepada kemampuan Lifeline Link milik Niira, kami mampu berbagi pikiran secara otomatis. Sebenarnya, Niira itu siapa? Berasumsi bahwa sihir ini adalah sihir pikiran, kenapa dia bisa merapal sihir elemen fisik? Gadis ini menggunakan cheat dari mana?
Mantra yang dia pikirkan masuk ke kepalaku, dan sebuah hitungan mundur. Tiga... dua... satu...
“”Initiate—System Recovery—Super Enhancement—Unlimited Heal!””
Itu adalah skill penyembuh luar biasa buatan salah satu keluarga Niira. System Recovery adalah penyembuhan organ tubuh yang mengalami kerusakan, menggunakan salinan data organ dari pengguna sihir untuk digunakan sebagai referensi rekonstruksi organ.
Super Enhancement adalah penggunaan dua kali lipat sihir yang dipakai untuk melakukan skill untuk meningkatkan kemampuan dan kecepatannya.
Unlimited Heal adalah, ya, skill penyembuhannya. Namun kita tidak akan berhenti mengeluarkan elemen sihir ini bahkan walau otaknya pulih sepenuhnya. Kita hanya berhenti ketika kita memerintahkannya untuk berhenti. Yang kami lakukan adalah mengontaminasi tubuhnya dengan sihir penyembuhan agar dia melahirkan sihir pasif penyembuhan di tubuhnya.
Dan sejauh ini, kelihatannya sihir itu berjalan. Sihirnya bergerak, mengonfirmasi bahwa tubuhnya masih bisa dibangkitkan lagi.
“Hei Niira, kau tahu?”
“Apa?”
“Ada kemungkinan kalau kita akan bertarung di tempat ini.”
Niira terdiam, melihat ke arahku dengan tajam.
“Ya... kurasa melihat latar belakangku di SMP 1, aku mempunyai alasan untuk disebut sebagai ‘wrath’, bukan?”, ucapku.
“Ruma, kalau aku bisa mengeluarkan Unlimited Heal tanpa tangan, aku akan menjitak kepalamu dengan keras sampai ayahmu bisa mendengar suara ketukannya.”
Tapi ya, ini hanya teori kan?
“Lagian, korban-korban yang lain sudah diikuti dari bulan yang lalu. Sedangkan aku baru bertemu dengan dia barusan.”, terangku.
Niira menggelengkan kepalanya, menolak hipotesisku.
“Kalau begitu, kamu juga bisa disebut Envy, bukan?”, tanya Niira. Aku memiringkan kepalaku, bingung dengan hipotesisnya yang aneh itu.
“Aku nggak cemburu dengan siapapun? Apa maksudmu?”
“Maksudku... ada kamu, lalu ada Yuvi, tiba-tiba ada Alicia... itu cukup mirip dengan Envy, bukan? Maksudku, itu teoriku saja—“
“Nggak.”, ucapku singkat. Dan keheningan kembali datang ke ruang mayat itu. Hanya dua menit berlangsung sebelum ponsel kami berdua berdering, dengan genre musiknya yang benar-benar berbeda satu sama lain musiknya sangat berbentrokan.
“Serius, Ruma? EDM?”, ucap Niira.
“Diamlah, nona Klasikal.”, jawabku.
Lalu aku merenungkan sesuatu yang baru saja muncul di pikiranku. Kami berdua menggunakan kedua tangan kami untuk melakukan penyembuhan, dan kami sadar akan hal itu sehingga kami menggunakan earphone kami masing-masing.
Namun, ketika telepon berdering, aku harus tetap menekan tombol angkatnya, kan?
“Um, Niira. Ada celah dalam rencana kita.”
“Ya... sial.”
Seperti lomba makan kerupuk, aku meraih-raih tombol yang ada di kabelku menggunakan mulut agar aku bisa menekannya dengan gigiku. Sedangkan Niira, dia menggunakan teknik ekstrem untuk menundukkan kepalanya untuk menekan tombol di layarnya dengan hidungnya, karena ponselnya berada di samping jenazah Nindy itu. Semua dilakukan tanpa mengubah posisi dari tangan kami, membuat postur aneh yang akan terlihat menyeramkan dari... ah, dapat!
“”Ya, halo?””
Aku dan Niira berhasil mengangkat ponsel kami secara bersamaan, dan mengagetkan Zakiel dan timnya.
“Whoa! Kalian berdua kompak juga. Ada rencana bikin idol duo?”, ucap Yuvi. Oh, dia bercanda denganku rupanya...
“Yuvi menyukai karakter loli blond—“
“Oke oke oke maaf!”, potongnya. Namun kata yang berbahaya sudah terlontarkan oleh mulutku. Ya,
Yuvi, jangan macam-macam denganku. Aku tahu 90% anime yang kamu tonton, dan aku tidak akan segan-segan untuk mengungkap semuanya. Termasuk anime yang tidak sesuai dengan umurmu.
“Ada apa jadinya?”, tanya Niira. Dia terdengar agak terganggu dengan pernyataanku terhadap Yuvi, dan kurasa reputasi Yuvi baru saja terjatuh dari langit dan bumi sampai ke dasar neraka. Aku ingin melihat ekspresi Alicia.
“E-eh...? Ahahaha—ppfffftt---maaf—sebentar—maksudku—ahahaha!!!”
Adalah suara yang dikeluarkan oleh Alicia dari ponselnya. Puk, puk... yang sabar ya, Yuvi, ditertawakan oleh sang doi.
“Haaaah... tenang... oke. Aku mau bilang apa tadi? Ah, ya. Aku dan Yuvi sudah mulai menyelidiki jalan belakang barnya. Aku sudah mengobrol dengan salah seorang bartender, dan dia menyatakan hal yang mirip dengan korban-korban yang lain. Diikuti, barang hilang; semua jenisnya. Aku juga mengobrol dengan salah satu teman dari korban kita, Vicky Nora. Dia adalah vokalis dari pemain musik di bar ini. Kamu sudah menyadari keanehannya?”
“Gitar siapa itu?”, tanyaku.
“Tepat. Gitar itu adalah milik teman korban. Vicky Nora sama sekali nggak mengikuti pola kematiannya. Nggak pernah diuntit, yang hilang bukan barang miliknya, dan bahkan dia nggak memiliki tulisan ‘Sinner’ dimanapun.”
“Lalu hasil Insightnya?”, tanya Niira.
“Kalian sudah tahu duluan soal Vicky Nora ya?”, tanya Alicia.
“Tentunya. Kami baru memeriksa jenazahnya, bagaimanapun juga.”, jawab Niira. Dia kelihatan ingin menggaruk hidungnya, melihat dari hidungnya yang kembang kempis. “Jadi, Insight nya?”
Aku membayangkan Alicia kini penuh dengan ekspresi kebingungan saat ini. Untungnya kami tidak perlu menahan fokus kami saat mengeluarkan Unlimited Heal. Kalau kami perlu menahan fokus kami, astaga itu akan melelahkan dan menyebalkan.
“Penasaran kan? Ya, sesuai dugaanmu. Si pelaku menggunakan sihir yang memanipulasi aliran aura, dan membuat korbannya mendapatkan sebuah sihir yang bisa mengakhiri pikiran sendiri. Namun kelihatannya si pelaku nggak mau meninggalkan si bartender di belakang sini, dan karenanya ia ingin melakukan teleportasi dengan sihir ruang... lalu Vicky muncul.”, terang Yuvi. Ada keheningan singkat yang menjadi jeda nafas Yuvi.
“Vicky dibunuh tanpa ampun. Nggak ada niatan untuk mendengarkannya, atau membiarkannya lari. Satu sihir elemen api, dan dia tergeletak begitu saja. Lalu si pelaku ini berteriak penuh amarah, melempar apron milik si bartender yang sudah dicoret, dan menghilang.”
“Lalu, kamu mengonfirmasi pelakunya?”, tanya Niira.
“Nggak. Hanya ada bentuk fisiknya saja, tapi nggak ada wajah. Aneh, kan? Kenapa pak Fizel itu bisa terlibat dalam semua ini?”
“Yuvi, saat dia membunuh Vicky, apakah dia menggunakan senjata?”
“Enggak tau, sih. Tapi aku melihat aura yang kuat dari jari tengahnya, mungkin itu adalah sebuah cincin.”, terangnya.
“Itu dia. Dia menggunakan berlian yang menampung kekuatan sihir untuk menyerang dan teleportasi.”
“Lalu?”, tanya Zakiel. Dia dari tadi diam, namun akhirnya mulai memotong dan ikut bertanya juga.
“Sampaikan semua ini pada kontakmu di Divisi Khusus. Sekarang, aku mau kalian bertanya pada sekitarnya si bartender itu, siapa orang yang mungkin cocok menjadi Gluttony. Saat ini, abaikan Envy dan Wrath.”
“Baik!”, ucap mereka.
Mereka semua meninggalkan panggilan grup, namun karena kami kesulitan dalam menekan tombol mati, kami tetap berada di dalam ruangan. Zakiel pun tersambung kembali.
“Kalian sibuk?”, tanyanya.
“Tangan kami yang sibuk, jadi kami nggak bisa pencet disconnect. Ada apa?”, tanyaku.
“Nggak apa-apa. Mungkin ada baiknya aku juga ikut tersambung dengan kalian, jaga-jaga ada hal buruk yang terjadi. Dan aku juga bisa langsung menyampaikan info terbaru.”
““Ah.””, ucap aku dan Niira.
“Ya, kami berdua juga bosan. Tangan kami benar-benar terkunci.”, ucap Niira. Dia tiba-tiba mengeluarkan senyum yang menyeramkan. “Jadi, Zakiel. Dari kami berempat, siapa yang menurutmu paling cantik?”
“Eh?”, ucap pria itu terkejut. Dia terdengar terbata-bata, dan kebingungan mau menjawab apa. “Um... kurasa kalian berempat semuanya cantik—“
“Jawaban diplomatis. Namun aku nggak menerima jawaban itu.”, ucap Niira.
“Hmm, aku juga penasaran.”, ucapku. “Siapa jadinya Zakiel? Erika terlihat dewasa dengan rambut pendeknya. Niira memiliki daya tariknya sendiri dengan rambut pirang panjangnya. Kalau itu Alicia, aku siap meminjamkan Tachi of the Grim Reaper kalau kamu mau berebutan dengan Yuvi.”
“Apa-apaan itu.”, ucapnya datar, merasa tidak nyaman dengan percakapan kami.
“Hei, kamu tahu istilahnya, kan? All’s fair in love and war. Semuanya diperbolehkan pada medan cinta dan peperangan. Tapi tolong bersihkan jejak forensiknya, ya. Kalau kamu ditangkap polisi, kamu nggak mengenalku.”, ucap Niira, yang tertawa atas pernyataannya yang lagi-lagi merupakan dark humor. Kadang aku takut dengan Niira pada hal ini.
“Ya... kalau aku harus memilih... um... mungkin, aku akan lebih memilih Ruma kalau begitu. Tapi kalau aku harus benar-benar memilih.”
Aku tidak pernah mendengar suara Zakiel yang seperti itu. Dia benar-benar dipojokkan oleh kami, ya? Berhati-hatilah dengan perempuan, kami ahlinya dalam menggiring topik pembicaraan. Spesifiknya Niira. Dia mahir dalam membuat orang menjawab pertanyaan yang dia berikan, dan mahir dalam menyimpan rahasia dalam jawaban yang dia ucapkan.
“Oh...? Zakiel, apa jangan-ja—“
“Ruma, mundur!”
Aku melangkah mundur, memutuskan Unlimited Healku pada Nindy.
Cahaya putih menyelimuti gadis ini seperti jaring laba-laba. Seakan melawan gravitasi, gadis ini terangkat pelan-pelan tanpa ada yang mengangkatnya. Hingga dia berada sejajar dengan kepalaku, cahaya putihnya itu hanya semakin kuat, menyinari ruangan ini dengan terang benderang seperti menatap matahari.
Gadis itu berdiri di atas udara, dan cahaya putih yang menyelimutinya itu seperti disedot oleh dadanya, masuk ke dalam tubuhnya. Ini mengingatkanku dengan apa yang Niira lakukan padaku waktu melawan pak tua itu... astaga siapa namanya?
Gadis itu mulai turun secara perlahan, ekspresinya masih terlihat sangat kelelahan karena efek pembangkitannya. Aku bisa merasakan aura yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan skillnya bahkan masih aktif sampai sekarang. Skill penyembuhan pasif: Purification.
Oke, itu nama yang buruk. Intinya, sihirnya itu mampu menyembuhkan luka dan menghilangkan kutukan menggunakan elemen air. Namun karena kemampuannya masih tidak bisa dikontrol, dia akan membuang-buang energi sihirnya seperti ini, dan membuatnya hampir tidak bisa menua karena kecepatan regenerasinya. Namun melihat penggunaan sihirnya yang tinggi, regenerasi sihirnya dan penggunaan sihirnya tidak seimbang. Jika begini terus, dia akan sering pingsan karena magic deficiency.
Dia terduduk, bersandar lemas pada rak-rak jenazah yang dingin. Ia berusaha mengontrol nafasnya, wajahnya masih pucat, dan tubuhnya masih gemetar. Kita berhasil? Aku benar-benar terkejut. Namun kenapa Niira menyuruh kita mundur? Dia terlihat siaga.
“Sebutkan namamu!”, teriak Niira.
Perempuan itu, yang hanya tertutupi oleh sehelai kain yang merupakan selimutnya, hanya masih tersengal-sengal kelelahan. Namun dia mulai menutupi tubuhnya dengan selimut itu.
“Sebutkan namamu!”, teriak Niira lagi.
“Ni...”, suaranya sangat serak, dan dia terbatuk-batuk. “Nindy.”
Niira menurunkan kesiagaannya. Dia dengan segera mengeluarkan sebotol air berukuran besar dan diserahkan pada Nindy. Gadis itu meminumnya seperti unta, dan menenggaknya seperti hidupnya bergantung pada itu. Ya, memang benar, sih, hidupnya mungkin akan tergantung pada itu.
“Tenang, kamu nggak apa-apa. Tenang dulu.”, ucapku.
Dia melihat padaku dengan ekspresi penuh ketakutan, namun dia juga terlihat kedinginan.
Aku melepaskan jasku, dan menutupi gadis itu menggunakan jasnya. Ia mulai mengenakannya dengan cepat, dan menutup kancingnya.
“Kamu saat ini berada di ruang mayat. Aku adalah Ruma, dan ini adalah Niira. Kalau kamu tadi sampai di neraka, berterima kasihlah. Kalau kamu masuk surga, ya... nasibmu sial. Bagaimanapun, selamat datang kembali di dunia.”, ucapku dengan nada menyinggung.
Dia hanya tertawa kecil, dan memperbaiki ujung lengannya yang sudah kumodifikasi dengan menambahkan sarung tangan fingerless berwarna hitam.
“Kurasa tadi aku ada di neraka, karena aku hanya bisa melihat badut sialan itu lagi dan lagi—tunggu, ada yang lebih penting. Badut itu adalah korban juga!”, ucap dia dengan panik.
“Oke, Nindy. Kamu tahu korban selanjutnya? Atau cara dia memburu korbannya? Apa kamu tahu?”
“Itu dia, um... kak Niira. Dia memanipulasi ingatan, kan? Sebenarnya, kelihatannya nggak ada barang yang hilang. Dia hanya membuat kita melupakan dimana kita meletakkan barang-barang itu.”
Dia berusaha untuk kembali berbaring, mengambil kain putih itu untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Pak tua itu berlari pada kami, dan menyodorkan rok milik Nindy yang terlihat lusuh.
“Ah, terima kasih. Lalu, dia hanya akan mengganggu pikiran korbannya sampai waktunya tepat. Barulah dia akan mencoba untuk membunuh korbannya—maaf, aku balik badan sebentar—dan waktu itu, dia datang langsung ke tempatku. Aku pura-pura mati. Setelah itu, dia membawaku ke gedung olahraga dengan teleportasi, menuliskan sesuatu di tanganku, lalu dia berjalan pulang. Karena itu, aku tahu dimana dia bersembunyi.”
Ucapannya itu membuat kami saling pandang satu sama lain. Kami mengangguk, dan kembali melihat Nindy.
““Arahkan kami padanya.””
Hari ini makin gila saja. Berdasarkan Insight Yuvi, pelakunya bukan pak Fizel. Apa kaitannya pada insiden ini? Selain Nindy, tidak ada yang diuntit oleh pak Fizel. Nindy berkata kalau dia diikuti oleh pak Fizel setelah badut itu gagal membunuhnya.
Pak Fizel mungkin adalah mastermind, dan dia sekarang mengincar Nindy? Aku merasa bahwa korban selanjutnya adalah remaja lagi, namun aku tidak menemukan dimana pola yang membuatku berpikir itu.
Pukul tujuh malam, 5 jam sebelum jatuh korban baru. Aku sedikit khawatir kami akan terlambat. Namun aku juga merasa kalau itu tidak akan terjadi. Dia sudah mengacau sekali dengan membunuh Vicky.
Niira terlihat sedikit terkecoh dan melihat ponselnya terus selama perjalanan kami menggunakan bis. Mungkin dia ada masalah dengan ayah mafianya itu? Aku mau bertanya, namun kurasa timing-nya kurang tepat untuk menanyakan hal seperti itu. Namun sebaiknya aku memastikan kalau aku tidak membuat masalah baginya.
“Kamu perlu pulang?”, tanyaku. Niira menggeleng, dan memberikan senyuman singkat.
“Nggak, kok. Aku cuma mau tanya ke ayahku apa dia tahu sebuah ritual yang melibatkan Seven Deadly Sins.”
“Lalu?”
“Nihil. Nggak ada sesuatu yang kayak begitu, seperti yang sudah kubilang. Kalau ada, saudara-saudaraku yang metal itu sudah pernah mencobanya.”, terang Niira. Dia mengunci ponselnya, dan memasukkannya pada blazer biru tuanya.
“Namun ada grup pemerintah yang pernah melakukannya.”
“Divisi Khusus?”
“Ya, tepatnya badan intelijen divisi khusus. 20 tahun lalu, ada percobaan pembangkitan sihir semacam itu. Kepala sekolah kita itu salah satu agen yang menjalankan operasinya. Saat itu juga, dialah yang membuat badan intelijen menutup percobaan ini, dan dia juga yang menghancurkan reputasi badan intelijen, membuat Divisi Khusus menjadi divisi individual dan terpisah. Tebak alasannya apa?”
“Jatuh cinta?”
“Tepat, 10 poin untuk Ruma! Dia menikahi salah seorang korban, lalu korban itu menjadi ibunya Alicia. Namun tolong jangan kasih tahu Alicia, kecuali pak Revan yang mengungkapkannya. Mari kita nggak merusak hubungan keluarga seperti yang ayahku lakukan padaku, oke?”
Dia tertawa singkat, menutup mulutnya sembari melanjutkan ucapannya,
“Ritual itu adalah ide bodoh yang dicetuskan oleh orang gila yang kebanyakan nonton tivi. Aku nggak bisa membayangkan ada orang yang membunuh sebagai ritual. Bahkan nggak yakin apa gunanya.”
Aku memiringkan kepalaku.
“Loh, memangnya nggak ada ritual untuk meningkatkan kekuatan, atau semacamnya?”, tanyaku.
Dia tertawa lagi.
“Ruma, ini nggak kayak game, tahu. Kamu tahu tiga pilar utama dalam sihir? Kemampuan aliran sihir, kekuatan mental, dan terakhir adalah imajinasi. Empat, kalau kamu memasukkan area bertarungmu sebagai sebuah pilar juga.”
Suara rem dari bis menginstruksikan bahwa sudah waktunya kami untuk turun. Aku dan Niira menempelkan Swift Card kami, mengeluarkan suara ‘bip’ yang halus dan menampilkan nominal yang tersisa pada Swift Card kami. 30 Klair. Uang yang dikirimkan ayahku hari ini terlalu banyak sebenarnya, namun apalah. Mungkin dia mau aku membeli ponsel baru.
“Nggak ada gunanya menggunakan ritual untuk meningkatkan kekuatan. Imajinasi? Tambahkan dosis anime atau manga atau game pada mereka, dan mereka akan memiliki kemampuan untuk menggunakan ilmu pedang atau sihir. Kemampuan mental? Bisa diatur. Latih saja mereka seperti militer seperti ayahku pada mendiang kakakku. Kemampuan sihir kita juga akan terus berkembang selama kita hidup. Dengan atau tanpa membunuh. Yang bisa menahan kemampuan sihir kita adalah kita sendiri, kau tahu.”
“Lalu, apa yang terjadi kalau salah satu faktor itu kurang?”
“Skill akan gagal, tentunya. Yang penyihir itu bisa rasakan hanyalah kekosongan, seperti ia sedang bertingkah seperti Yuvi. Rasa malu juga. Mungkin rasa timah atau besi pedang, jika dia melakukannya di pertarungan. Oh! Kalau yang kurang adalah aliran sihirnya, namun tertutupi oleh kekuatan mentalnya, skill akan berhasil, namun dia akan pingsan.”
Orang yang mengikuti kami juga menekankan Swift Card milknya, dan mengeluarkan suara yang sama. Dia membuang nafasnya dengan lelah, merapikan pakaiannya yang belum dicuci dan berada di ruang barang bukti selama satu minggu. Andai kita punya waktu lebih banyak, aku akan meminjamkannya baju olahragaku. Setidaknya itu akan menjadi lebih baik daripada pakaian kotor itu.
“Nindy, kamu nggak perlu ikut kita, loh.”, ucap Niira. Ia hanya menggeleng tidak setuju.
“Aku butuh kalian juga buat pulang, dan jika aku nggak menuntun kalian, aku takut kalian nyasar.”, ucapnya.
Plot twist: Dia adalah pelakunya. Itu sempat terngiang di kepalaku. Namun itu ide yang terlalu konyol. Mustahil baginya untuk tahu kalau akan ada yang membangkitkan dirinya dari kematian. Jadi, aku mencoret ide itu dari pikiranku.
“Ngomong-ngomong Niira, tadi kamu bilang kalau kurang aliran sihir, maka si penyihir akan menjadi one-hit cannon. Berarti maksudmu itu magic deprivation?”, tanyaku.
Dia melihatku dengan ekspresi yang berkata ‘Serius? Sampai situ?’ dan menunduk, melipat tangannya di depan dadanya dan berpikir.
“Hmm, simpelnya bagaimana ya... intinya sih benar, magic deprivation. Mirip seperti kehabisan MP di game. Namun lebih buruk. Ketika aliran sihirmu benar-benar terpakai semua, akan ada efek samping yang buruk. Sakit kepala, terhuyung-huyung, hingga pingsan. Saat ini, kamu dan aku memiliki... MP pool? Ya, pokoknya itu—yang cukup besar, jadi kecuali kalau kamu mau menghancurkan satu distrik dalam sekali serangan, kurasa kita nggak perlu khawatir kehabisan. Namun seperti Yuvi dan Nindy, mereka harus khawatir. Dengar, Nindy?”
“Kenapa—“
Ponsel kami kembali berdering. ‘Setidaknya kami tidak perlu bertarung untuk mengangkat telepon kami lagi’, pikirku. Aku menekan tombol di earphone ku sekali.
“Halo.”, sapaku singkat. Niira menyapa setelah aku.
“Oke, semuanya. Waktunya bertukar info, kan?”, ucap Yuvi. Dia terdengar kelelahan. Atau mungkin dia jengkel karena melewatkan beberapa anime seru hari ini. Yang manapun juga, dia terdengar tidak nyaman.
“Ya. Aku sudah bersama Nindy, dia bilang kalau si Joker, orang yang mengikuti Nindy; dia adalah salah satu korbannya juga. Kami sedang bergerak ke tempat si Joker saat ini.”
Mereka sudah tahu kabar mengenai pembangkitan Nindy setelah aku berteriak di panggilan grup barusan. Namun kami memutuskan komunikasi setelah itu secara tidak sengaja, membuat informasi mereka hanya sampai situ saja. Karena itu, aku memberikan informasi singkat yang perlu mereka tahu saat ini saja. Saat ini, kami membutuhkan lebih banyak informasi daripada mereka. Sesepele apapun mengenai si Joker ini mungkin akan berguna untuk melindungi hidup kami.
“Hei Ruma. Kamu bilang kalau Joker itu adalah korban juga ya? Aku baru dapat pesan dari Divisi
Khusus mengenai hasil tes darah yang tertinggal di bar. Dia berdarah, Ruma. Mengingat sebelumnya dia nggak pernah membunuh secara langsung, nggak ada alasan buat dia berdarah.”, Alicia menerangkan apa yang dia ketahui dengan kecepatan yang membuatku kesulitan mengejarnya.
“Apa ada identitasnya?”, tanyaku.
“Nggak. Si Joker nggak memiliki sejarah yang membuatnya tercatat di sistem. Tapi aku tahu siapa yang tercatat di sistem.”
“Guru komputer kita?”
“Tepat. Spesifiknya seorang Mario Fazaletti. Umur 30 tahun. Dia adalah korban selamat dari uji coba kejam—“
“Korban?”, potong Niira.
Selagi kami menelepon, langkah kami tetap bergerak mengikuti Nindy. Gadis itu mendengarkan percakapan kami dari sisi kiri dari earphone milik Niira yang tidak memiliki mic. Kami berhenti di lampu penyeberangan jalan yang masih merah, dan Nindy menekannya.
“Ya, dia adalah korbannya. Nggak lama lalu, ada uji coba pemerintah untuk membuat orang biasa menjadi penyihir, sekitar dua puluh tahun lalu, kurang lebih? Aku nggak punya bukti digital yang jernih soalnya, ini hanya dari Dokumen Arsip Nasional. Tapi yang jelas, hasilnya cukup buruk, mengingat dari 100 orang, hanya 21 yang kembali secara utuh.”
“21 orang yang selamat?”
“21 orang yang kembali secara utuh, Ruma. Hanya empat orang yang hidup.”
Lampu berubah menjadi hijau, dan kita mulai menyeberang dengan tetap memastikan tidak ada kendaraan yang mengebut.
“Pembangkitan sihir melalui trauma, dan dia mendapatkan sihir untuk mengutuk orang lain. Dengar Alicia, kamu perlu mencari Gluttony—“
“Tenang, kami akan ke sana!”, suara Yuvi muncul yang membuatku ingat kalau kita berada di panggilan grup.
“Bagus. Joker akan datang karena dia harus menyiapkan TKP-nya. Kalau kamu merasakan ada aura yang aneh, telepon lagi. Kami akan masuk ke dalam rumah Joker. Berhati-hatilah.”, ucapku.
“Kamu yang berhati-hati, bodoh! Jangan ceroboh.”
“Tentunya, chuuni. Kamu juga jangan... menjadi kamu dulu.”
“Heh.”
Percakapan biasa kami keluar begitu saja, melupakan fakta bahwa ada empat—lima orang lain yang sedang mendengarkan tepat di telinga mereka. Begitu aku mengingat itu, aku berdeham; berpura-pura bodoh seakan tidak ada yang terjadi.
Kami tidak mengakhiri panggilan itu dulu, namun Niira mematikan mikrofon miliknya. Entah kenapa aku juga ikut mematikan mikrofonku, namun kurasa itu keputusan yang tepat. Dari dalam jaketnya, keluarlah sebuah pistol berukuran kecil berwarna hitam yang dikokangnya setelah mengisi magasinnya.
“Kupikir kamu bukan pengguna senjata.”, ucapku singkat. Dia tertawa atas ide konyolku itu. Ya, dia adalah anak dari sang mafia yang tidak memiliki penjagaan seperti apapun. Sudah jelas dia memiliki senjata.
“Tentunya aku memiliki senjata, aku anak sang mafia!”, ucapnya pelan. “Malah, aku membawa sepuluh senjata! Dan semuanya berlisensi!”
Sepuluh senjata? Untuk apa dia membawa sebanyak itu? Aku hanya melihat wajahnya yang terlihat bersenang-senang itu, kemudian ke arah rumah bercat putih dan gelap ini. Dilihat dari halamannya yang bersih, jendelanya yang tidak berdebu, catnya yang masih bersih—rumahnya masih terlihat seperti terurus. Dia masih meninggali rumah ini baru-baru ini, dilihat dari kebersihannya.
“Kamu yakin ini tempatnya, Nindy? Kenapa rumah ini kelihatan seperti rumah orang yang... bukan seorang pembunuh berantai?”, ucap Niira keheranan.
“Nggak salah lagi. Aku reverse stalk dia setelah dia mencoba membunuhku. Tapi--”
“Kamu bilang kalau kamu diikuti dia. Lalu kamu ikuti dia kembali? Kamu gila?”
“Ah, dengar dulu—“
“Nggak penting, Ruma. Sekarang kita harus menghentikan si Joker ini sebelum dia melukai orang lagi.”, potong Niira. Dia melihat ke arahku dengan tajam, kemudian melihat Nindy.
“Nindy, Kamu tetap di sini. Ruma, di depanku. Gunakan tameng aura dan lindungi kami.”
“Tapi—!”, keluh Nindy, namun Niira menginstruksikannya untuk memelankan suaranya.
“Kamu akan tetap di sini, memastikan nggak ada yang masuk atau keluar.”, terang Niira, yang kelihatannya cukup untuk memuaskan keluhan Nindy. Dia kini melihat ke arahku, menginstruksikanku untuk menendang pintu rumah ini. Ah, Niira... tidak ada orang yang benar-benar menendang pintu rumah...
Aku mengeluarkan tachiku. Warna merahnya tidak terlihat saat ini. Kurasa itu berarti bahwa tachi ini tidak merasakan adanya keperluan untuk menggunakannya saat ini? Entahlah, Findle Translate tidak bisa menerjemahkan bahasa lampu pedang, begitu pula aku.
Aku mengayunkan bilah pedangku pada gagang pintunya berwarna emas, baru menendangnya membuka. Dengan postur defensif, aku dan Niira masuk dengan cepat menyusuri ruang utama yang terlihat cukup bersih itu. Lampunya semuanya dimatikan, dan tidak ada niatan untuk kami untuk menyalakannya. Tiga pintu kamar yang tertutup rapat berada di ruangan yang tersambung pada ruangan utama.
Aku memastikan bahwa tidak ada orang yang ada di dalam menggunakan Aura detection, tapi tidak ada salahnya memeriksa ruangan satu persatu.
“Aman—Tiga ruangan.”, ucapku.
Niira keluar dari punggungku, dan membuka satu pintunya dengan perlahan, pistol itu di tangan kanannya mengarah ke dalam. Kamar mandi. Dia masuk sejenak, dan melihat ke kiri dan kanan untuk tempat bersembunyi.
“Kamar mandi—aman.”
Aku membuka salah satu kamar yang lain, namun bagaimana caranya melakukan penyergapan dengan sebuah pedang? Aku menggunakan postur untuk serangan lurus, namun kurasa itu tidak benar. Aku harus mencari caranya nanti.
Kamar tidur. Kasurnya tertata rapi, namun jendelanya tertutup dengan gorden. Aku masuk, memeriksa setiap tempat persembunyian yang mungkin ia gunakan: Lemari, kolong ranjang, belakang pintu.
“Kamar tidur—aman.”
“Ruang kerja—aman.”
Suara Niira terdengar dari sisi lain dari rumah ini. Menurut Aura detection milikku, masih ada ruangan yang belum kami periksa. Ruangan bawah tanah. Di film-film, biasanya itulah tempat bagi para penjahat untuk bersembunyi, menyimpan korbannya, merencanakan kejahatan, dan sebagainya. Namun aku tidak merasakan adanya apapun di bawah sana.
Meski begitu, Aura detection bukanlah sihir tanpa kelemahan. Ada cara untuk bersembunyi dari pendeteksinya dengan menahan aura yang mereka keluarkan—sesuatu yang cukup sulit dilakukan oleh penyihir baru, namun mudah untuk penyihir ahli.
Eye of the Truth milikku hanya bekerja efektif pada jarak pandangku, juga kendalinya tidak mudah. Tapi setidaknya aku mampu melihat sihir orang yang bersembunyi. Jika aku tidak menahannya dengan lensa kontakku, tentunya.
Aku mengelilingi rumah ini, mencari pintu apapun yang bisa membawa kami ke bawah tanah. Namun aku tidak menemukannya, begitu pula Niira. Aku menarik setiap buku, menggeser setiap lukisan dan bingkai foto, juga melihat di sekitar ruang kerja karena biasanya mereka menyembunyikan ruang bawah tanah di sana. Nihil.
Di sanalah saat Nindy masuk ke dalam, tangannya bersila di dadanya.
“Itulah kenapa kalian mendengarkanku dulu. Si badut sialan itu nggak pernah berada di rumah atas. Dia berada...”
Dia berjalan keluar, dan kami mengikutinya dari belakang. Di halaman pada sisi lain rumah ini, terdapat sebuah tangga yang menuju ke arah pintu bawah tanah, dengan satu lampu berwarna kuning yang menyala redup padanya. Dan Nindy menunjuk pada pintu itu.
“Di bawah sana.”, ucapnya.
Aku dan Niira saling bertatap-tatapan, lalu melihat ke arah Nindy dengan jengkel.
“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?”, tanyaku. Dia mengangkat bahunya, lalu tersenyum dengan sombong sembari menutup matanya.
“Entahlah... tadi kak Ruma mesra-mesraan dengan pacarnya di telepon, dan aku nggak enak mau motong. Lalu kalian langsung mau masuk ke dalam rumah, nggak ngasih aku waktu buat ngomong. Jadi, ya, begitu deh.”
Ah, berarti ini kesalahan kami juga, ya? Aku menepuk dahiku dengan kesal. Dia agak menjengkelkan, namun dia tidak salah—sepenuhnya.
Pintu itu menggunakan pintu besi yang berkarat berwarna hijau tua. Niira bahkan tahu kalau kami sebaiknya tidak menendangnya, karena kita hanya akan mempermalukan diri kita sendiri di hadapan adik kelas menyebalkan ini.
Niira mengeluarkan api pada tangannya, dan memanaskan besi di gagang pintu itu sampai merah. Baru aku menendangnya.
Ruangan itu terang, tidak seperti rumah yang ada di atas. Ruangan yang mirip seperti rumah bencana, adalah pikiran pertamaku. Ranjang besi untuk empat orang, stok makanan kaleng dan air botol yang banyak pada sebuah rak besi, sebuah toilet kecil.
Seseorang yang menggunakan pakaian badut dan topeng badut itu berada di balik jeruji besi yang tertutup rapat. Dia hanya duduk di ranjangnya, menatap kosong kepada kami. Dan tentunya, kami membalas menatapnya. Aku merasa menggigil di tubuhku melihat kondisinya yang terlihat tidak terurus dibalik kostum badutnya yang berwarna polkadot merah dan putih itu.
Aku menurunkan pedangku, memfokuskan mataku untuk Eye of the Truth. Aura sihir miliknya sangat kuat, namun tidak mengalir. Ini berarti sihirnya merupakan pemberian dari orang lain. Namun siapa orang yang sekuat itu sampai dia bisa memberikan sihir sebanyak ini?
“Itu badutnya. Water blade—init—“
“Tunggu, Nindy!”, panggil Niira, menurunkan tangan Nindy dan membatalkan sihir miliknya. “Dia nggak berbahaya.”
Nindy akhirnya menurunkan kesiagaannya, mempercayai kami. Aku akhirnya berhasil mematikan Eye of the Truth lagi, meski dengan perjuangan. Ya, skill yang satu ini adalah sesuatu yang sulit dikendalikan. Sulit dimatikan, sulit dinyalakan. Namun memang Eye of the Truth adalah skill pasif...
Meja putih di hadapannya berisi berlian berwarna putih yang menyala terang, dan aku tidak butuh Eye of the Truth untuk melihatnya. Sebuah laptop yang berada di tampilan terkunci, beserta beberapa berkas bersampul hitam yang tergeletak berantakan. Salah satunya terlihat terbuka lebar, memperlihatkan sebuah foto besar seorang gadis berambut pirang dengan rambut yang seperti angin topan... apa?
“Niira.”
“Ya, aku sadar!”, jawabnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya, dan membuka aplikasi LICE yang seharusnya masih menghubungkan kami dengan tim Yuvi. Mereka tidak tersambungkan, hanya ada aku dan Niira yang ada di dalam telepon grup itu.
“Namun kenapa?”, tanyaku.
Dia adalah hasil penelitian, dan dia ingin balas dendam? Dua puluh tahun lalu, dengan asumsi bahwa umurnya saat ini adalah tiga puluh tahun, seharusnya sihirnya saat ini sangatlah kuat. Aku kurang tahu detailnya karena kakek selalu mengajariku sihir tanpa menjelaskan teori dasar, namun yang aku tahu, penyihir di bawah umur 20 tahun kemampuannya akan berkembang jauh lebih cepat daripada setelah 20 tahun. Tidak, ini bukan waktunya untuk bertanya-tanya. Kita harus kembali pada tim Yuvi, namun dimana mereka?
“Sialan! Ruma, kamu ada ide?”
“Mereka ke mana emangnya, kak Niira?”
“Terakhir mereka ke bar, lalu bilang kalau mereka menemukan Gluttony.”
Aku berlari dan mengacak-acak semua berkas itu, namun tidak ada satupun berkas yang menyebut Gluttony. Bisa bilang apa aku? Aku tidak bisa terlalu banyak berharap seperti itu. Aku mengangkat berlian itu, dan menyodorkannya pada Niira.
“Mungkin nggak kalau kita menggunakan berlian putih ini?”, tanyaku.
“Untuk apa, mau kamu pakai untuk menyogok? Nggak ada gunanya teleportasi kalau kita nggak tahu tujuannya. Ingat tiga dasar sihir: Imajinasi, kekuatan hati, dan kendali energi. Kamu mau membayangkan apa?”
Dia menyebalkan ketika panik, pikirku. Namun dia benar, bahwa kita tidak memiliki imajinasi untuk teleportasi. Bahkan kita tidak tahu alamat orang yang menjadi Gluttony ini dimana. Namun, apakah kita perlu tahu?
“Kamu mempunyai ide gila, ya?”, tanya Niira tiba-tiba setelah melihat ekspresiku.
Aku mengangguk. Tidak begitu gila sih, namun memanfaatkan sihirnya yang aneh itu.
“Bagaimana kalau imajinasi yang kita gunakan adalah posisi Yuvi?”, saranku. Dia melihatku dengan kesal dan jengkel, memberikan wajah seakan bicara ‘Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya’.
“Dengar, Ruma—“
“Maksudku, kita masih memiliki koneksi Party Link.”, gumamku, berpikir bahwa kelihatannya itu ide yang bodoh.
Namun kurasa tidak. Niira tiba-tiba mendongak padaku dengan wajahnya yang menyentuh lengannya. Aku dan Nindy melakukannya begitu saja. Namun ucapan selanjutnya--
“Party Link—Target: Yuvi Arata—Warp To Target!”
Aku harus membayangkannya. Wujud dari Yuvi saat dia mengisengiku, wajahnya saat dia menertawakan kegagalan percobaan skill-ku, kejahilan tangannya saat—tunggu, kenapa yang terbayang olehku soal Yuvi selalu buruk!? Mungkin aku harus mencubitnya nanti.
Aura—atau lebih tepatnya seperti kabut—berwarna hitam melingkari kami, menutup setiap celah dari apa yang bisa terlihat oleh pandangan kami. Suara yang dapat kami dengar hanyalah suara angin yang bertiup dengan kencang mengelilingi kami. Aku merasa seperti sepatuku tidak lagi menyentuh beton.
Berarti sihir kami berhasil? Syukurlah. Namun aku agak khawatir, karena aku tidak pernah teleportasi sebelumnya. Terlalu menguras tenagaku juga, ditambah tidak ada petualangannya. Juga karena aku tidak bisa membayangkan seperti apa teleportasi itu.
Cahaya mulai kembali setelah setengah menit menghilang. Kabut dan angin hitam yang menyelimuti kami mulai menunjukkan cahayanya secara perlahan. Kakiku kembali menapak pada tanah, dan—
“”Aura Shield!!!””
Aku dan Niira langsung sigap mengeluarkan tameng sihir kami, menghentikan hantaman bola api yang beterbangan ke arah kami. Tameng sihir kami langsung pecah dan hilang olehnya.
Akhirnya kabut hitam itu hilang, menunjukkan kami pada pemandangan yang menyeramkan.
Rumah ini terlihat seperti baru dihantam tsunami. Barang-barang yang berserakan, kaca yang pecah, beserta retak yang ada pada temboknya. Bahkan aku berdiri di atas (apa yang tersisa dari) meja. Pecahan belingnya menyeramkan, untung aku masih mengenakan sepatu.
Namun tidak dengan orang-orang di belakangku. Laki-laki berambut hitam dengan wajahnya yang kelelahan dan penuh keringat, matanya berbinar ketika melihatku di sini. Kakinya terlihat berdarah-darah. Kelihatannya dia berusaha melindungi teman-teman di belakangnya.
“Yuvi! Tenang, aku akan menyembuhkan—“
“Jangan lengah!”
Yuvi berteriak, mengeluarkan sebuah sihir elemen udara untuk menahan bola api yang dilontarkan. Yuvi mengeluarkan sihir elemen udara lagi untuk menyerang sesuatu yang menyerangnya, namun udara itu hanya menghantam tembok tanpa hasil.
Apa itu? Aku berusaha berpikir dengan tenang. Saat ini, kita hanya bisa melakukan defensif. Namun aku mencoba menyerangnya dengan melemparkan beling pada tempat itu. Sudah kuduga, beling itu tidak menyentuhnya. Mungkin dia sekarang sudah pindah.
“Zakiel, bawa yang lain dan pergi! Kami akan menahannya!”, teriakku.
“Dimengerti.”, ucapnya. Ada ketegangan dari suaranya, namun ia berusaha menutupinya. Dia bangun, dan segera membimbing Alicia dan Erika keluar melalui pintu di belakang kami.
Sihir berwarna merah dari bayangan itu menembak lagi, kini mengincar rombongan Zakiel dari jarak dekat.
“Aura Shield!”
Lagi-lagi, sihir itu tertahan oleh tameng sihirku, dan langsung menghancurkan tamengku begitu saja. Sekuat itukah orang ini? Namun kenapa dia menggunakan ritual seperti itu? Ditambah...
Kenapa sihirnya sangat lamban?
“Niira. Ada saran untuk menghadapi hantu?”
“Panggil pendeta?—Aww!”
Aku menepuk kepala belakangnya dengan jengkel, dan menodongkan tangan kiriku itu lagi padanya. Tangan kananku bersiap untuk merapal sihir, menunggu serangan darinya. Namun tidak ada serangan saat itu, padahal intervalnya sudah tepat. Untuk berjaga-jaga, aku merapal tameng saat itu juga.
“Aura Shield!—Akan aku ulang lagi, Niira. Cara melawan hantu?”
“Ummm... kalau hantu kan biasanya muncul di mata, namun nggak ada di kaca. Namun kalau nggak ada di mata...”
Aku melihat pantulan dari bola api yang akan mengarah pada kami. Bola api itu jauh lebih besar dari sebelumnya, namun bergerak jauh lebih lamban dan dengan jeda yang jauh lebih lama.
Pada pantulan matanya juga, aku melihat orang yang berdiri di balik bola api itu—seorang pria paruh baya dengan kacamata, menggunakan sihir yang ada pada cincinnya.
“berarti ada di kaca, bukan?”
KRAK! Suara retakan dari tameng auraku memecahkan keheningan yang ada di kepalaku. Api yang bergolak itu membelah ke segala arah kecuali pada kami, menyulut si jago api pada ruangan yang kami singgahi ini. Tembok mulai retak, dan kepingan-kepingannya mulai berjatuhan. Tembok-tembok dan atap mulai berjatuhan di sekeliling kami. Untuk memperburuk keadaan, tidak ada cara bagi kami untuk melacak orang ini selain melalui kaca... tunggu.
Aku mengeluarkan ponselku, dan membuka aplikasi kameraku. Benar saja, pria paruh baya yang menyedihkan itu terlihat oleh kami, sedang mengumpulkan energi untuk mengeluarkan bola api lagi. Eh? Mengumpulkan energi? Aku yakin aku tidak salah lihat, dia benar-benar sedang mengumpulkan energi.
“Aku bisa menemukannya.”, ucapku singkat. Sekarang adalah pertanyaan soal bagaimana cara menyerangnya. Bahkan jika aku langsung menyerbunya sekarang, mungkin dia sudah bergerak. Aku akan kesulitan melihat melalui kamera dan berlari untuk menyerang juga, dan itu akan buruk.
Kali ini, Niira yang mengeluarkan tameng aura. Kekuatan tamengnya sama sepertiku, dan retak dalam sekali tembakan dari orang itu. Seketika, orang itu langsung berlari, berpindah sejauh lima meter ke arah kiri.
“Water blade—Charge!”
Nindy menembakkan bilah pisau dari air pada posisi orang itu. Dia berhasil menghindarinya, namun bukan tanpa luka. Ia tergores pada bahunya, dan ia memeganginya dengan tangan kirinya. Wajahnya terlihat sangat terkejut, dan melangkah sedikit untuk menyiapkan sihirnya.
“Gunakan pecahan kaca, pantulan air, apapun—itu adalah cara untuk mencarinya!”, ucapku.
“Aura Slash!”
Aku mengeluarkan tachiku, dan membelah tembakan api miliknya dalam satu gerakan. Aura Slash memang sebenarnya digunakan untuk membelokkan tembakan sihir.
Orang itu berlari mundur, kembali ke ujung lain dari rumah ini. Dia mulai merapal sihir lagi, dan keluar lingkaran berwarna biru di kaki dan tangannya.
“Create Water!”
Aku mengeluarkan air dengan jumlah yang banyak untuk menggenangi seisi rumah itu. Tujuanku adalah untuk mempermudah pelacakannya menggunakan pantulan dari air.
Yuvi mengambil pecahan cermin dari belakangnya, dan melemparkan tiga beling itu pada arah orang itu.
“Niira!”
“Shine upon me—Sunlight Beam!”
Cahaya yang keluar dari kedua tangan Niira memantul melalui cermin yang Yuvi lempar. Pecahan itu memecah cahayanya menjadi tiga arah, mengincar pada orang itu. Orang itu menahan serangannya, namun jelas dia merasakan panas dari cahaya itu.
Aku berlari pada orang itu yang sekarang panik. Mengayunkan pedangku secara diagonal, tubuhnya terpental ke arah kiri dan menghantam pintu.
Dia kelihatan mengerang kesakitan, namun menghindari serangan keduaku dengan kakinya. Sialan, dia naik ke suatu benda, refleksinya tidak terlihat!
Dia menendangku, membuatku terhantam ke tembok.
Pandanganku buram dan kabur-kabur, namun aku mengguncang-guncang kepalaku agar aku kembali sadar. Begitu aku kembali sadar, aku segera menghindari tekanan udara yang mengarah ke arahku dengan jongkok, lalu menangkap benda tak kasat mata itu dengan tanganku.
Aku mengayunkan benda itu dan menghantamkannya pada tembok, namun dia berhasil lepas dari genggamanku.
“Yuvi, menunduk!”
Suara Alicia entah dari mana berteriak, dan sebuah panah menembak dari belakang Yuvi. Aku melihat sebuah darah yang menetes dari udara, dan panah yang melayang-layang.
“Icicle Rapid Shot—Initiate!”
Dari tangan kananku muncul beberapa belas es lancip yang membentuk sebuah lingkaran mengelilingi tangan kananku. Es batu itu semakin besar dan membesar, hingga berada di ukuran maksimumnya, dengan masing-masing sebesar setengah tanganku. Tangan kiriku masih memegang ponselku, melihatnya merapal sesuatu.
“Meteorite Shot—Initiate!”
Yuvi ikut menyiapkan sihirnya, menjadikan batu-batu yang ada di tangannya sebagai inti dari meteornya, lalu menyelimuti batu-batu itu dengan api yang membara.
“Thunder Shot—Initiate!”
Niira ikut merapal sihir miliknya, dan membentuk gumpalan hitam dengan listrik statis yang cukup untuk membuat rambut panjangku mulai berdiri.
Kali ini bukan bola api yang keluar, melainkan lautan lahar yang mengaum dan menelan benda apapun yang tergeletak di lantai.
“””RELEASE!!!”””
Bagaikan kembang api yang tersulut, sihir dengan warna yang beragam itu meluncur membuat garis melengkung, menghujaninya dengan berbagai macam sihir. Tubuhnya terhunus dan terbakar oleh meteor buatan Yuvi, kakinya terhunus oleh es buatanku, dan memudahkan sihir Niira untuk membuat tubuh orang itu menjadi konduktor listrik dari sihir Niira.
Sementara itu, laharnya masih bergerak ke arah kami. Aku menyiapkan sihir tameng aura, namun lahar itu tiba-tiba berubah wujud menjadi air, kembali membanjiri rumah ini setinggi mata kakiku sebelum menguap.
“Kalian memang gila, ya.”
Nindy terlihat kelelahan oleh satu skill itu. Namun wajar saja, dia baru saja mengubah lahar menjadi air, aku rasa aku bisa memaklumi kalau dia kelelahan.
“Sedikit.”, ucap Niira, mengetuk sisi kepalanya. “Lebih baik kita urus hantu itu dulu.”
Orang yang bertarung dengan kami itu masih dalam posisi terduduk dan berdarah-darah, luka bakar dan panah dari berbagai jenis menyelimuti tubuhnya. Kepalanya tertunduk, mengumpat dengan suaranya yang tersisa. Melihat kondisinya yang sudah kritis, aku terkejut dia masih sadar. Kami mendekatinya, memastikan bahwa tidak ada ancaman.
“Ngomong-ngomong Ruma,” Yuvi tiba-tiba berbicara, kebingungan. “kenapa kamu repot-repot pakai kamera untuk melihatnya? Bukannya kamu punya Eye of the Truth?”
Langkahku tiba-tiba terhenti. Benar juga. Kenapa? Ayolah otakku, berpikirlah caranya menutupi kebodohan—maksudku cara menyelamatkan diriku—aaah, kenapa aku sangat bodoh!?
“M-m-aku—ya, kalau cuma aku yang melihat, kalian nggak bisa membidiknya. Ya.”, setidaknya aku bisa mengeluarkan sebuah alasan yang logis (?) Semoga alasan itu bisa diterima olehnya. Aku tidak bisa bilang kalau aku lupa. Untuk saat ini, aku akan mengaktifkan mataku, untuk jaga-jaga. Aaaah, kenapa aktivasinya menyulitkan sekali!?
“Kenapa...”, suara orang itu sangat serak, seperti ia belum meminum air selama tiga hari. Dia melihat pada kami bertiga—maaf, berempat—dan bertanya.
“Kenapa bisa? Kalian... secepat itu...”
Aku hanya bisa diam. Aku tidak perlu menjawabnya. Masalahnya hanya ada satu: Imajinasi. Bayangan miliknya. Imajinasi itu adalah apa yang menguatkan dan melemahkan sihir. Aku diajarkan oleh kakek untuk membentuk berbagai hal dengan sihir hanya dengan aturan bahwa aku tidak boleh menggunakannya untuk kriminalitas. Aku bermain game dengan Yuvi, ditambah dengan asupan anime action setiap hari, juga berbagai manga yang ada di majalah mingguan; semua itu meningkatkan imajinasi atas bentuk sihir.
Namun orang ini, dia hanya mengetahui sihir saat ia menjadi bahan percobaan. Yang dia tahu, sihir hanya dapat digunakan dengan metode ritual, dan itu membatasi sihirnya. Dia beranggapan bahwa semakin banyak orang yang ia tumbalkan, semakin kuat dirinya. Padahal dia memang sudah kuat sejak awal, ia hanya tidak mengetahuinya. Ia tidak makin kuat, ia hanya mengurangi batasan imajinasinya itu.
“Alicia... kenapa kamu masih... hidup...”, ucapnya lagi.
Yuvi melangkah pada Alicia, dan kembali dengan sebuah kalung berwarna perak yang bersinar dengan sayu-sayu. Ah, Yuvi memang selalu mengantisipasi ini.
“Persiapan adalah separuh dari peperangan.”
Tidak lama, polisi pun akhirnya datang. Mungkin karena ada telepon dari warga sekitar bahwa terjadi kebakaran di sekitarnya. Atau karena asap tebal yang membuat mereka terpanggil; yang manapun itu, mereka akhirnya datang setelah sepuluh menit menunggu. Api sudah padam oleh kami, yang kami perlu lakukan hanyalah menunggu tim dari Divisi Khusus untuk menyelesaikan masalah ini.
Kaki dan tangan Yuvi berdarah cukup buruk, karena pecahan gelas dan menahan sihir, namun Niira sudah menanganinya. Alicia hanya terguncang. Tentunya, karena jika Alicia tergores sedikitpun, kami sudah melihat Yuvi menjadi one-hit cannon dengan skill Overdrive miliknya. Zakiel hanya memar di kepalanya karena terhantam tembok. Erika hanya shock. Namun aku lebih shock lagi ketika aku melihat keberadaan aura sihir darinya tiba-tiba. Elemen... takdir?
Ngomong-ngomong, aku hanya sedikit benjol di belakang kepalaku. Namun untungnya aku memiliki kemampuan regenerasi yang lumayan baik, jadi aku tidak begitu peduli.
Pak Revan muncul di saat yang bersamaan ketika para Divisi Khusus itu muncul. Ketika beliau melihat darah pada Yuvi dan memar pada Zakiel, tebak siapa yang dipukuli menjadi abon. Ya, tim Divisi Khusus itu gemetaran ketika pak Revan menghantam wajah temannya berkali-kali sampai polisi harus memisahkan mereka. Dia benar-benar menepati janji yang ia ucapkan di ruangan kami.
Keren.
Akhirnya, dua ambulans datang, berekspektasi bahwa ada dua korban yang perlu mereka bawa. Ya, benar, namun korban pertama adalah sang pelaku, dan korban kedua adalah sang agen Divisi Khusus yang masih ada di genggaman pak Revan. Ekspresi terkejut sopir ambulansnya sangat menarik.
Kami baru bisa keluar dari kantor polisi setelah menjalani interogasi selama beberapa jam, dan itu sudah pukul 12 malam. Para polisi enggan mempercayai kami, namun kami tidak peduli karena kasus ini adalah yurisdiksi Divisi Khusus, dan kami menyuruh mereka untuk berbincang dengan para Divisi Khusus. Dan berhubung agennya baru saja dibawa ke rumah sakit, mereka akan melakukannya suatu hari lain.
Pak Revan menjelaskan kalau dia dulunya adalah anggota penting di Badan Intelijen divisi rahasia, yang ikut terlibat dalam penelitian sihir. Namun dia bertemu ibu dari Alicia saat itu, sebagai salah satu korban. Dan tidak lama, ia membuat proyek itu ditutup dan menyelamatkannya. Namun kurasa sang pelaku sudah mencari pak Revan karena tindakannya membuat dia tidak mampu meningkatkan kemampuannya lagi. Dia menjelaskan itu di depan Alicia, yang kini mengetahui asal-usul dari mendiang ibunya.
Si Joker itu sudah ditangkap sebelum dia bisa bergerak kemanapun. Ya, kami ceroboh, tidak menyadari bahwa jeruji besi yang menguncinya, tidak menguncinya sama sekali. Tiga orang mengalami luka ringan, namun para Divisi Khusus itu berhasil menghentikannya dengan taser.
Malam itu juga, kami kembali ke rumah milik ibu Nindy. Aku tidak akan pernah melupakan senyum bahagia itu dari ingatanku sampai kapanpun, ketika seorang ibu bisa bertemu kembali dengan anaknya yang ia kira sudah mati. Aku bersama tim Silver Butterfly hanya bisa tersenyum, melihat bahwa pertarungan kami benar-benar bisa menyelamatkan seseorang. Ya, meski kurasa sebaiknya kita menghapus nama ‘Investigation’ dari nama klub kami. Penyelidikan itu melelahkan. Dan menyebalkan. Namun setidaknya, aku merasa cukup puas.
Malam berganti pagi. Aku dan Niira memutuskan untuk menginap di rumah Nindy, sementara yang lain sudah pulang setelah makan (larut) malam. Kami hanya memastikan bahwa tidak ada yang akan mengganggu Nindy lagi setelah ini, dan ketika pagi hari, tidak ada jejak kalau dia pernah menginap di ruang jenazah.
Akhirnya, kehidupan normal kami kembali.
Tunggu, seperti apa kehidupan normal itu?
--
Raavi's Afterwords!
Ya, akhirnya selesai juga chapter menyebalkan ini. Aku tidak mampu mengingat banyak hal bersamaan, jadi aku bisa dibilang buruk dalam membuat cerita penyelidikan. Setelah ini, aku akan membuat filler dan aksi saja. Ide siapa sih membuat chapter detektif? Jangan tanya aku. Aku adalah penulis cerita romansa, bukan fantasi.
Ngomong-ngomong, ada yang tahu ke mana pulpen, pensil, rautan, dan correction tape milikku? Halo? Ha--
“Permisi!”
Aku mengetuk pintu rumah mereka yang berwarna merah muda. Rumahnya bukan rumah orang kaya yang super besar. Malah rumahnya lebih kecil dari rumahku. Gerbang hitam dan sebuah tembok berwarna merah muda menutupi garasinya yang hanya dapat menyimpan kendaraan roda dua. Rumahnya Nindy hanya berjarak tiga blok dari sekolahnya, menjadikan perjalanan ke rumah ini tidak menyulitkan dan kita tidak akan membuang banyak waktu dalam perjalanan. Aku lebih membayangkan bagaimana Nindy bisa diuntit, sebenarnya.
Terlihat ada lilin yang baru saja mati di luar rumahnya. Mungkin dia ingin menangkal sesuatu? Aku tidak pernah mendengar pembakaran lilin untuk pemakaman, atau pendoaan.
“Niira. Kamu tahu untuk apa lilin itu?”, bisikku.
“Mungkin untuk percobaan pemanggilan arwah. Lilin di luar rumah untuk mengundang arwah masuk, persembahan untuk membuat arwah bertahan, lalu membuka atau menutup pintu rumah untuk membiarkan arwah berada di dalam rumah atau mengusirnya keluar rumah. Meski begitu, nggak ada aliran sihir di sini. Syukurlah. Kalau ada, aku khawatir kita mengundang arwah yang salah.”, terang Niira. Syukurlah Niira adalah anak dari mafia dan penyihir terkuat se-Ethera.
“Arwah yang salah?”, aku baru menyadari penjelasannya itu.
“Ya... secara ajaran, biasanya arwah yang mati akan mencoba pulang dan bertahan di rumahnya itu selama tiga hari. Kamu tahu ini, kan? Lalu, mereka barulah berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Tapi kalau arwahnya nggak pulang, mungkin saja malah arwah lain yang datang dan mengganggu rumahmu.”
Aku jelas tidak tahu akan hal itu! Ajaran dari mana itu? Apakah aku dan Niira memiliki ajaran yang berbeda? Entahlah, aku akan mencoba mencarinya menggunakan Findle Search kalau aku ada waktu.
Pintu rumah itu terbuka, dan seorang wanita seumuran ibu Yuvi keluar dengan matanya yang masih lembam. Aku yakin dia masih menangis bahkan sampai hari ini. Jelas saja, anaknya dibunuh saat masih umur 14 tahun!
“Maaf, tante. Aku Ruma. Ini adalah Yuvi dan Niira. Kami—“
“Kami adalah senior dari Nindy, sekarang sekolah di SMA Reater. Kami baru dikabari soal kematiannya, jadi kami datang ke sini.”, Niira tiba-tiba memotong ucapanku.
Hei, untuk apa kita berbohong? Aku tidak mengerti logika yang Niira miliki. Namun dia menginstruksikan kita untuk mengikuti alurnya saja. Apakah dia akan selalu bertingkah seperti ini? Aku merinding membayangkannya.
“Bolehkah kami masuk sebentar?”, tanya Yuvi.
Namun seperti biasa, Yuvi mampu meluluhkan bahkan sekeras apapun hati seseorang. Ya, aku tidak bilang kalau hati ibu itu mengeras, namun bisa dibilang kalau... ah, bodo amat. Selama kita bisa masuk dan berbicara, aku sebaiknya tidak mengeluh.
Kami dipersilakan masuk ke dalam rumah ibu dari Nindy. Foto miliknya masih dipajang di ruang tamu, yang diselimuti oleh rangkaian bunga, dan piring berisi sepotong shortcake dengan topping stroberi di depannya. Lampu rumahnya terang benderang, meski jendelanya semua terbuka lebar.
Begitu kami duduk, aku kembali menyadari kalau semua pintu terbuka lebar. Tidak hanya lebar, semua pintu dihambat agar tetap terbuka. Agak menyeramkan melihat apa yang orang lakukan agar bisa melihat putrinya lagi.
“Tante, sebelumnya, kami turut berduka cita atas kehilangan ibu. Dan mohon maaf karena kami baru tahu apa yang terjadi terhadap Nindy.”, ucap Niira.
Ia mengangguk, kembali menghapus air matanya. “Nggak apa-apa... malah, aku berterima kasih karena kalian mau berkunjung.”, ucapnya.
“Sebelumnya tante, aku mau tahu. Nindy cerita sama kami kalau dia ada yang ngikuti. Apa dia pernah cerita begitu ke tante?”, tanya Yuvi, memulai pertanyaan itu dengan pertanyaan yang berat.
Tante berambut merah itu mengangguk mengiyakan.
“Dia cerita kalau ada om-om begitu, mengikuti dia saat dia berenang. Katanya itu guru SMA Reater. Apakah ada beasiswa seperti itu di SMA Reater?”
“Oh, begitu...”, ucap Yuvi. Pernyataan itu sesuai dengan pernyataan para anggota klub renang barusan. “kami sendiri nggak tahu, bu. Salah satu alasan kami ke sini adalah mengenai itu—”
“Tante, maaf mungkin ini agak nggak sopan, mengingat tante masih berduka. Namun, kami merasa kalau mungkin Nindy menitipkan sesuatu untuk kami? Kami nggak tahu cara menjelaskan barangnya, tapi kurasa sesuatu itu sudah dibungkus, atau berada di selipan buku. Boleh nggak kalau kami melihat kamarnya sebentar?”, ucapku.
Dia membolehkan kami. Mungkin dia sudah mengenali lencana kami, atau merasa kami bukan orang buruk. Atau mungkin juga dia benar-benar dalam situasi rentan sehingga orang yang mengaku sebagai temannya Nindy akan diterima begitu saja. Entahlah, aku berharap aku tidak memanfaatkan kelemahannya saat ini. Namun aku merasa ada sesuatu di ruangan tepat di atas kami yang memiliki daya sihir. Sepertinya Eye of the Truth menyala dengan sendirinya. Lagi.
Dia menuntun kami ke lantai dua, dimana kamar milik gadis bernama Nindy itu berada. Cat kamarnya berwarna biru langit dengan gradasi putih. Kamarnya itu memiliki berbagai jenis boneka yang berada di meja belajarnya, kasurnya, bahkan di samping kasurnya. Laptopnya terlihat masih terbuka dan menyala, bahkan tidak terkunci. Baterainya tidak habis karena kabelnya masih terhubung ke stopkontaknya. Kasurnya masih sedikit berantakan, dan itu mencurigakanku.
“Aku tidak menyentuh kamarnya semenjak dia... meninggal. Maaf aku permisi dulu, aku mau
mengambil minum sejenak.”, ucapnya, sebelum meninggalkan kami di lantai ini sendiri.
Ya, itu menguntungkan kami, sebenarnya. Aku merasa tidak enak melakukan sihir Insight di kamar orang lain. Tidak seperti seseorang spesifik yang memiliki skill itu... juga karena ada kemungkinan kalau tante itu tidak menyukai sihir, aku agak khawatir ia akan murka pada kami karena telah ‘menodai’ rumahnya dengan sihir.
“Yuvi, kamu percaya padaku?”
Suara itu datang dari Niira, yang tiba-tiba menggandeng tangan Yuvi dan aku. Yuvi hanya mengangguk, dan memberikan tambahan, “Tentunya” sebagai keterangan. Kemudian Niira menoleh padaku, jelas menanyakan hal yang sama. Aku juga mengangguk. Kurasa ini adalah waktunya Niira menunjukkan skill miliknya.
“Initiate Lifeline Link. Ruma Neiki—Tear. Yuvi Arata—Insight.”
Kedua skill itu aktif secara bersamaaan. Aku bisa merasakan laju waktu berhenti di luar kami, namun berjalan untuk kami bertiga. Cara mudahnya adalah melihat jam yang ada di kamarnya itu. Niira mengaktifkan Tear milikku begitu saja, padahal aku bahkan belum tahu cara menggunakannya. Apa-apaan gadis overpowered ini?
Tuhan, dimanapun kamu berada, tolong nerf Niira.
Niira juga menggunakan Insight milik Yuvi, dan karena itulah pandangan yang berada di depan kami terlihat seakan sedang diputar mundur. Kelihatannya Niira-lah yang mengatur kecepatan pemutaran Insight, karena jika itu Yuvi, aku memiliki firasat bahwa ia akan menghentikan pemutarannya pada waktu yang... kurang tepat. Tidak, kurasa Yuvi tidak mesum seperti itu. Atau...
“Dengan sihir kita bertiga plus Tear, aku akan mencoba memperkuat aura residu yang berada di kamar ini agar kita bisa memundurkan waktunya lebih jauh lagi. Kalian mungkin akan merasa seperti energi kalian sedang disedot, tapi bertahanlah. Super enhancement—Time manipulation.”
Dia tidak menunggu jawaban dari kami. Namun kelihatannya itu berhasil, karena pemutaran mundurnya itu kembali berjalan dengan cepat, dan kami berhasil mundur ke satu minggu lalu. Hari Jumat.
Gadis itu masuk dengan ponselnya menutupi telinga kirinya. Dia terlihat cemas, dan mengintip jendelanya.
“Iya Miku, aku tahu. Lagian, memangnya ada beasiswa renang di SMA Reater? Ahahahaha...”
Ia tertawa, namun wajahnya masih terlihat cemas. Sekali lagi, dia mengintip jendela kamarnya itu. Kenapa dia terus menerus melihat ke arah jendelanya?
“Ohya, bagaimana? Kamu sudah pede dengan gaya renangmu? Mau diajarkan oleh sang master? Ahahaha, sekali-sekali kan nggak apa-apa! Lagipula kalau aku ada stalker kayak gini, mending aku stay di rumah dan cari aman, bukan?”, ucapnya.
Jadi gadis ini sudah menyadari kalau dia diikuti oleh seseorang. Gadis pintar, dia tidak lengah. Lalu, bagaimana bisa dia dibunuh oleh orang ini? Aku benar-benar ingin tahu. Aku tidak akan munafik dan bilang kalau aku takut melihat pembunuhan, karena aku telah membunuh juga.
“Ya... aku jelas memilikinya. Aku meninggalkannya di laptopku. Saat ini, aku membiarkan laptopku menyala dan nggak dikunci. Siapa tahu kalau terjadi sesuatu padaku—nggak, nggak, aku nggak akan cari mati! Tapi, kau tahu, kan... nggak ada salahnya jaga-jaga...”
Dia meninggalkan sesuatu di laptopnya. Mungkin itu sesuatu yang ingin ia tinggalkan kepada kami, dan sesuatu yang aku lihat dari bawah di ruang tamu. Apakah aku bisa bergerak dan memeriksanya? Namun, Niira saat ini menggunakan energi sihirku...
“Ah, ibu memanggilku. Udah dulu ya! Dadah—mwaah—ahahahah!”
Gadis itu mengakhiri teleponnya, dan kembali mengintip jendelanya. Aku ingin mengajak Niira dan Yuvi untuk mengintip jendelanya, namun kurasa itu sia-sia, ya? Kurasa Insight tidak akan mencapai sana.
Gadis itu menembus kami yang berdiri di depan pintu dan melangkah keluar, memanggil Ibunya tiba-tiba.
“Ruma, kamu bisa melepas gandenganmu. Periksa apa yang dia dari tadi intip.”
Itu adalah perintah Niira. Dan itulah yang aku lakukan. Melepas gandengan mereka dengan pelan-pelan, aku mengintip dari jendela itu dengan menaiki kasurnya, dengan perlahan untuk memastikan bahwa kasurnya itu tidak akan berantakan karenaku.
“Oh Ya Tuhanku.”
Makhluk itu. Berada di depan rumahnya. Dengan sebuah gergaji mesin. Dan dengan senyum yang sangat lebar melihat ke arahku.
Aku melompat mundur begitu melihatnya. Tidak, dia tidak melihatku. Dia melihat ke arah jendela kamar ini. Setidaknya, kuharap begitu.
“Ruma, menghindar!”
Aku menunduk, dan mengeluarkan tachiku. Sekarang transformasinya bisa dibilang instan. Tembakan sihir itu terbelah oleh pedangku, namun aku tidak bisa menemukan asal sihir itu. Mungkin
saatnya aku membuat skill baru lagi dari skill mataku...
“Aura tracer!”
Aku membuat postur defensif, menunggu tembakan sihir itu datang lagi. Dan datanglah tembakan sihir itu.
Dalam sekali potongan, secara teorinya aku akan menemukan—tidak, aku akan menemukan orang itu. Keinginan adalah hal penting dalam penggunaan skill dan sihir.
Namun aku tidak menemukan asal sihir itu.
“Tenang, Ruma! Sihir itu hanya datang berdasarkan ingatan sihir, dan apa yang kamu lihat itu dari Eye of the Truth! Seharusnya aman bahkan kalau kamu menerima serangannya.”, ucap Niira.
“Ya, seaman lima korban sebelumnya?”, ucapku jengkel. “Oh, aku akan membedah bedebah ini...”
Dengan susah payah, aku mencoba untuk menghentikan mata kiriku untuk menggangguku lagi. Eye of the Truth, walau berguna, kadang bisa menjadi sebuah kutukan ketika dia mengganggu pandanganku. Setelah menutup mata kiriku dan sedikit memukul-mukul keningku, skill itu berhenti.
“Oke, Ruma. Gandeng aku lagi, aku akan mempercepatnya sampai dia muncul di kamar ini lagi.”, ucap Niira, yang mengulurkan tangan kirinya. Aku meraihnya, dan ia mulai mempercepat waktu lagi.
Sabtu siang. Nindy kembali masuk ke kamarnya. Tiba-tiba kamar itu berguncang-guncang—tidak, pandangan kami yang seperti melihat kaset VCR yang kusut.
“Ruma, Yuvi. Aku mau kalian pikirkan soal satu sama lain.”
“”Apa!?””
“Sekarang!”
Ah, pikirkan soal Yuvi? Um... bagaimana soal Yuvi memberikan pita kupu-kupu ini padaku? Saat itu aku masih kelas 1 SMP, dan semua orang masih takut padaku. Yuvi adalah satu-satunya temanku, seperti biasa. Lalu, pada 19 Juli, hari ulang tahunku, dia tiba-tiba memasangkan dua pita ini kepada rambutku secara asal-asalan, namun itu menjadi rambut trademark ku. Atau saat...
“Sudah cukup. Lifeline Link—Lock. Seharusnya nggak akan ada gangguan lagi. Ingatkan aku untuk membuka ikatan Lifeline kalian , atau mungkin kalian akan menjadi jodoh, dengan atau tanpa keinginan kalian.”
Bahkan aku tidak paham apa maksudnya. Namun aku akan berusaha mengingatnya.
“Hei, visualnya sudah kembali normal.”, ucap Yuvi.
“Apa kamu mendengarku barusan?”, ucap Niira jengkel.
Nindy duduk di depan laptopnya, menulis sesuatu yang terlihat sangat penting dari ekspresi wajahnya, dan mencetaknya. Tentunya, kita tidak bisa melihat apa yang ia tulis dari layarnya karena layarnya hanya kabur-kabur di dalam Insight. Dan jemarinya terlalu cepat dalam pengetikannya untuk aku mengikuti gerakannya. Kertas itu juga hanya merupakan wujud kertas kosong, karena kita belum melihat isi kertasnya.
Ia menyelipkan satu kertas di dalam bukunya, satu di dalam tasnya, dan satu di bawah laptopnya. Salah satu di antaranya adalah kertas yang berisi teks, dan kertasnya itu berada di dalam tasnya. Jangan-jangan dia yang menuliskan kertas ‘sinner’ itu? Tidak, kertas yang ada di tasnya adalah tulisan tangan. Berarti si pelaku menukar kertasnya—tidak. Itu adalah permainan mata. Gadis ini adalah penyihir.
“Ruma, kamu juga sadar ya?”, ucap Niira. Aku mengangguk.
Aku berjalan ke arah laptop itu, dan mengangkat benda itu. Namun aku mengalami kesulitan dalam melihat tulisan yang dia sembunyikan, karena aku baru saja mematikan Eye of the Truth. Ah, kenapa ini benar-benar menyebalkan?
“Ruma. Ambil nafas yang dalam, dan keluarkan. Bayangkan matamu adalah kamera. Kameramu itu sedang mengatur fokusnya, lensanya berputar ke kiri, ke kanan, maju dan mundur untuk mencari fokus yang tepat. Cari fokus yang tepat itu, Ruma.”
Penjelasan Niira itu sangat membantuku. Tidak, sungguh. Ketika aku membayangkan mataku sebagai kamera yang sedang mencari fokus, aku hanya perlu ‘mengatur fokusnya’ itu agar sesuai dengan yang aku cari. 'Aura detection—Eye.' adalah mantra yang akan kubuat untuk mengaktivasi mata kebenaranku. Aku akan meminta Yuvi Sang Chuunibyo Master untuk membuat nama unik untuk skill ini nanti.
Mata kiriku mampu memutuskan diri dari Insight secara individual, dan melihat dunia nyata dan benar. Aku bisa saja memutus koneksi kepada Insight, namun kurasa itu ide buruk, mengingat Niira masih butuh energiku juga. Aku membaca kertas itu dengan lantang.
“’Sang Joker melihat padaku setiap hari. Berjalan semakin dekat setiap kali aku melihat keluar. Kamu yang menemukan kertas ini. Berhati-hatilah. Sang Joker adalah tangan dari Tuhan.’ Apa? Apa yang anak ini maksud? ‘Sang Joker menatap padaku setiap hari. Senyumnya makin melebar setiap aku melihat keluar. Kamu yang menemukan kertas ini. Berhati-hatilah. Sang Joker akan menertawakan isi pikiranmu.’ Oke, ini mengerikan.”
“Nggak,” ucap Niira. Dia terlihat memikirkan sesuatu yang cukup berat. “itu adalah petunjuk dari Nindy kepada kita. Nindy... dia kelihatannya lebih pintar dari yang kita duga. Pertama, si Joker ini pasti adalah orang yang kamu lihat tadi, kan?”
Aku mengangguk. “Ya, senyumnya itu sangat lebar melewati ujung batas dimana manusia bisa tersenyum.”
“Lalu, tangan Tuhan. Artinya dia mengadili pelaku Seven Deadly Sins, bukan?”, ucapku. Ia setuju.
“Namun petunjuk kuatnya ada di memainkan pikiran. Dia membuatmu melihatnya dan tembakan sihirnya itu. Juga mengganggu Insight. Berarti dia—“
“Pengguna sihir pikiran.”, ucap Niira singkat. “Dia kelihatannya memiliki unique skill yang merusak pikiran korbannya. Itulah kenapa tidak ada luka bakar, dan kenapa lukanya sangat kecil namun menembus dua arah.”
“Berarti—“
“Hei, kalian bisa mengikutkanku dalam pembicaraan kalian?”, ucap Yuvi kesal. “Aku nggak mampu mengikuti percakapan kalian, kau tahu.”, lanjutnya.
“Aku akan menjelaskannya ketika kita membatalkan skill Insight.”, ucap Niira. Dia melepaskan gandengannya, dan visual dari Insight langsung menghilang dengan sekejap, begitu pula dengan efek Tear.
Barulah Niira mulai menjelaskan. “Yah, Yuvi, aku bingung cara menjelaskannya padamu... sebenarnya sudah cukup jelas. Sang pelaku nggak pernah membunuh secara fisik, namun hanya merusak secara mental sampai kondisi tubuhnya seperti mati—gak ada detak jantung, gak ada aktivitas otak. Mirip seperti nyawa yang ditarik, namun gak dihisap. Kembalikan fungsi tubuhnya, maka...”
“Itu berarti—“
“Ah, maaf, ya. Saya butuh minum untuk menenangkan hati saya. Saya membawakannya juga untuk kalian... ada apa dengan ekspresi kalian?”, ucap Ibu itu. Kami melihat satu sama lain, dan mengangguk. Namun kami harus mengonfirmasi sesuatu terlebih dahulu sebelum bertindak.
“Tante. Apakah tante membenci sihir?”, ucapku. Tolong. Tolong. Jawab tidak.
Dia duduk di salah satu anak tangga, dan memutar-mutar gelasnya.
“Anakku itu... dia bisa sihir elemen air. Aku masih mengingatnya bermain-main air saat mandi, membuat air mancur dengan kendali sihirnya itu. Saat dia berenang, dia merasa di situlah tempat dia hidup. Dia tidak curang dan menggunakan sihirnya saat berenang, tentunya. Namun dia mencintai air. Mungkin, itulah kenapa air menenangkanku. Jadi nak, aku tidak membenci sihir, walau...” Dia tidak meneruskan ucapannya.
“Tante. Apakah tante mengizinkan autopsi pada jenazah Nindy?”, kini Niira yang menanyakannya, sembari memegang tangan tante itu yang gemetar.
Umur dewasa pada Ethera adalah 15 tahun. Ya, terdengar konyol. 15 tahun dan kami sudah bisa memiliki kartu identitas, izin pernikahan, bahkan membuat kartu kredit. Namun, kebanyakan orang memiliki kartu identitas pada umur 16 karena kebanyakan identitas lain seperti SIM dan izin senjata
hanya bisa dibuat pada umur 16. Pada umur 15 tahun, kami dianggap sebagai manusia independen.
Namun pada umur 15 tahun ke bawah, semua perizinan diberikan kepada orang tua. Termasuk izin untuk melakukan operasi, pernikahan, masuk ke dunia selebriti, atau dalam kasus ini, autopsi.
“Nggak. Kurasa sudah jelas kematiannya seperti apa, kan? Aku hanya ingin memakamkannya, namun mereka belum memulangkannya... ada apa ini?”
Syukurlah. Jika autopsi dilakukan, maka organ-organ beserta darahnya sudah dikuras dan dibuang. Namun jika dia belum tersentuh oleh meja operasi, apakah aku boleh mengucapkannya? Aku tidak ingin membangun harapannya terlalu tinggi. Aku akan membiarkan Niira yang memutuskan apakah kita mengatakannya atau tidak.
“Jadi sebenarnya... kita bertiga kebetulan juga seorang penyihir, dan... kurasa kami bisa melakukan sesuatu terhadap ini. Kami nggak mau membuat tante berharap terlalu banyak, tapi ada kemungkinan kalau kami masih bisa membuat ibu bertemu dengannya lagi. Bahkan walau itu hanya sekali.”, ucap Niira. Ya, dia tidak menjanjikan apapun, namun dia menyampaikan apa yang dia perlu. Seperti yang bisa diharapkan dari anak sang mafia, dia mahir dalam berbicara politis.
“...kalian bukan senior dari Nindy, ya?”, ucap tante itu, namun dia tidak terlihat marah sedikitpun. Malah keluar senyuman dari bibirnya.
“Sebenarnya, aku dan Yuvi adalah senior dari Nindy, bagian itu benar. Tapi kami nggak mengenal satu sama lain. Kami bertiga dari SMA Reater Silver Butterfly yang menyelidiki kasus Nindy.”, terangku. Ada sedikit keterkejutan yang terlihat di wajahnya. Mungkin itu adalah ‘sudah kuduga’ yang tertulis di wajahnya.
“Dan kami ingin membantu tante. Tapi kami nggak bisa berjanji apapun, karena hal yang akan kami coba ini belum pernah kami lakukan sebelumnya. Namun kami akan berusaha sebaik mungkin agar tante bisa berjumpa sekali lagi dengannya. Bahkan walau itu hanya yang terakhir kali.”, tambahku.
Dan di saat itu, ada aura berwarna putih yang seakan mengitariku dan tertarik ke atas, sebelum aura itu memecah di udara. Huh, apa itu?
Tidak lama, kami izin pamit karena banyak hal yang perlu kami kerjakan setelah ini. Dan benar-benar banyak hal yang perlu kami lakukan saat ini. Dimulai dari Yuvi, yang harus menelepon kontak milik Alicia untuk memastikan bahwa jenazah Nindy tidak disentuh sama sekali. Dan perubahan rencana dikirim ke grup obrolan Silver Butterfly, kalau Yuvi sendiri akan ke bar, dan butuh seorang bantuan ke sana. Zakiel pun mengirimkan Alicia. Tentunya.
“Ngomong-ngomong Ruma,” ucap Zakiel saat kami menelepon grup. “dugaanmu kelihatannya benar. Ponsel Nona Ananda memiliki belasan pesan singkat yang tidak ia jawab. Kelihatannya Nona Ananda di sini merupakan Sloth.”, terang Zakiel.
Aku merenung sedikit. “Ada lagi?”
Zakiel mengeluarkan suara “Huh” seakan berkata dalam hati, “Kelihatannya grup Ruma sudah mengetahui sesuatu.”
“Lalu kelihatannya juga Nona Ananda mengeluh diuntit beberapa kali. Dan barang-barangnya kerap hilang, namun diabaikan karena dia dianggap sebagai ceroboh.”, ucap Zakiel lagi.
“Dan aku sudah menghubungi ayah soal pak Komputer. Kelihatannya dia menggunakan identitas bernama Fizel Marko.”
“’Menggunakan’, berarti identitas itu palsu?”
“Ya. Fizel Marko yang asli adalah anggota militer yang menghilang di dataran Ryuzania dua puluh tahun lalu. Saat itu data belum digital dan tidak lengkap, namun orang yang asli muncul di berita sekali jadi aku berhasil menemukan datanya. Namun aku belum menemukan identitas pelaku kita ini.”, terang Alicia.
“Oke. Apa ada lagi yang perlu kalian sampaikan?”, tanyaku lagi.
Mereka bingung karena pertanyaanku.
“Ada. Mungkin nggak begitu terhubung sih, tapi... menurut pernyataan teman kerjanya, Ananda ini nggak punya hubungan dengan salah satu dari korban. Tapi dia pernah bertemu dengan Nindy sekali, secara nggak sengaja di kolam renang. Ananda menabrak Nindy yang lagi latihan, meminta maaf, lalu berpisah. Itu sebulan lebih yang lalu sebelum Ananda dibunuh. Aku mendapat keterangan ini dari seniornya Ananda yang sedang hangout dengannya.”
Waktunya pas. Jadi begitu cara dia memilih korban? Karena kebetulan dia berpapasan saat melewatinya?
“Masih ada lagi?”
Kali ini mereka diam. Hehehe, giliranku sekarang...
“Oke. Giliranku, kan? Karena banyak hal yang perlu aku sampaikan ke kalian.”, ucapku.
Dan aku menerangkan apa yang sudah kami dapat kepada grup Zakiel, dan tentunya mereka terkejut tak kepalang. Ya, ide yang aku ajukan ini pasti menyeramkan bagi mereka yang bukan penyihir. Aku
memastikan mereka tidak membocorkan rahasia ini ke siapapun, bahkan orang tua mereka sendiri.
“Jadi kalian sekarang menuju ke sana?”, ucap Zakiel.
“Menuju? Salah, Zakiel.”, ucapku. Kemudian kami turun dari bus itu, dan melihat ke depan.
“Kami sudah sampai.”
Rumah Sakit Polisi Kota Revore.
Rumah Sakit yang biasa digunakan untuk ruang forensik, pengobatan untuk para kriminal dan polisi, juga untuk menyimpan jenazah yang masih di dalam kasus aktif.
Seorang dokter yang rambutnya hanya berada di belakang kepalanya itu datang kepada kami, sebuah papan catatan di tangannya. Jas putihnya itu kelihatan lusuh, mungkin dia baru saja bangun tidur.
“Kalian dari Silver Butterfly, ya? Ikuti saya.”
Kami barusan menelepon kontak kami di Divisi Khusus hanya untuk ini, tentunya. Kami butuh mengakses jenazah para korban pembunuhan yang disebut Nindy sebagai ‘Sang Joker’ ini.
“Aku nggak terkejut kalau para agen itu memanggil kalian. Bagaimanapun juga, ini aneh.”
“Aneh bagaimana, pak?”, ucap Niira.
“Ya... sebenarnya secara kondisi tubuh, mereka masih sehat-sehat saja. Bahkan cukup sehat sampai semua organnya bisa digunakan kembali, bahkan darahnya. Ada lubang di kepalanya, namun setelah pemeriksaan nggak ada darah atau cairan otak yang menetes.”
Ah, maksudnya itu. Yang itu kami sudah tahu, karena yang diserang memang ke mentalnya, yang membuat jantung mereka berhenti adalah serangan sihir terhadap pikiran, atau otak, membuat mereka dalam kondisi vegetatif. Namun kenapa jantung mereka bisa ikut berhenti, bukan aku ahlinya.
“Sepenuhnya?”
“Sepenuhnya! Luka yang mereka alami selain dari lubang di kepalanya hanya dari lecet-lecet! Dari kondisi tubuh korban Elo Richty misalnya, dia hanya mengalami luka lecet di kaki. Korban Nindy malah hanya seperti tertidur. Namun ada yang lebih aneh, sebenarnya.”
“Anda membicarakan soal korban di bar, pak?”, tanyaku. Ia mengangguk.
“Yang terburuk hanyalah korban di bar, Vicky Nora. Satu tembakan di kepala. Ukurannya kecil, seperti pistol kaliber 22. Dari luka bakarnya, kelihatannya dia ditembak langsung di depan moncong pistolnya... dari wajah kalian, kurasa aku salah?”
Kelihatannya wajah kami cukup untuk menjelaskan padanya kalau yang membunuh Vicky Nora bukanlah sebuah pistol, melainkan sebuah mantra sihir api. Meski begitu, kami harus memastikannya secara langsung sebelum mengambil kesimpulan.
“Kami belum tahu secara pasti, namun kurasa yang membunuh Vicky Nora menggunakan sihir.”
“Ah.”
Dia hanya menjawab singkat pernyataan Niira. Pembunuhan menggunakan sihir memang sangat mudah dan aman, karena tidak meninggalkan jejak forensik untuk dilacak... tunggu, apakah ini alasan para Divisi Khusus membentuk ulang Silver Butterfly?
Pria itu membawa kami ke ruangan yang sangat dingin. Ya, tentunya ruangan ini harus dingin agar jenazah tidak membusuk. Ruangannya bercat putih dengan ubin yang berwarna putih juga, yang kelihatannya sudah mulai pudar oleh darah (?) Entahlah, apakah ada orang yang menyusuri lorong rumah sakit dengan bertumpah darah?—Ruangan tersebut berisi kotak-kotak besar seperti loker. Namun bukan loker untuk menaruh sepatu atau tas, ini adalah loker untuk menyimpan manusia.
“Ah, tapi aku nggak menyangka akan melihat Silver Butterfly bergerak lagi, kau tahu!”
Pria tua yang merupakan ahli forensik di sini memiliki keceriaan di wajahnya, walau dia hanya melihat jenazah setiap harinya. Mungkin dia senang karena bertemu dengan manusia lagi.
“Ahahaha... kami juga kaget. Mendadak kami diperintahkan untuk menjadi Silver Buterfly.”, ucap Niira dengan gaya birokratisnya itu. Aku harus belajar banyak dari Niira.
Dia menarik lima buah loker, menunjukkan lima jenazah dengan kondisi yang mirip—sebuah lubang yang berada tepat di tengah dahinya. Mereka ditutupi oleh sehelai kain berwarna putih, dan kelihatannya empat dari lima korbannya semua sudah pernah dibedah.
“Aku nggak boleh membedah tubuh dari Nindy, namun kami harus tetap menyimpannya selama kasus berlangsung.”
Syukurlah. Itu akan menyulitkan jika tubuh milik Nindy sudah dibedah. Namun aku menyelidiki korbannya satu persatu sebelum ke arah Nindy.
“Korban Elo Richty. Kalau saya nggak melihat lubang di kepalanya, saya akan bilang kalau korban tewas karena penyebab alami.”
“Aura detection—Eye.”
Gagal... lagi-lagi, aku harus memaksakan aktivasi sihir Eye of the Truth menggunakan metode Niira. Memejamkan mataku, mengontrol nafasku, dan mengatur fokus dari mata kiriku itu untuk menangkap aura sihir... ah, berhasil.
“Ini jelas residu power-up dari mind magic. Mirip aura sihir dari berlian power-up milikmu, Niira, namun dengan elemen mind.”
Mind, atau pikiran, berbeda dengan physical, atau fisik. Bahkan pada sihir, pikiran dan fisik bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh satu orang kecuali menggunakan bantuan senjata. Ini adalah salah satu aturan aneh dari sihir.
Elemen fisik, dari elemen dasar seperti air, bumi, api, udara, sampai elemen tinggi seperti cahaya, kegelapan, ruang, dan waktu; mereka adalah elemen yang dapat dibuat dan dimanipulasi. Bahkan dikombinasikan. Pernah melihat sihir Liquid Dark Flame of Light Stone Arrow? Itu adalah sihir kombinasi air, api, tanah, dan udara, kegelapan, dan cahaya. Waktu itu ada teroris yang menyerang sebuah markas militer, dan tersorot media sedang menggunakan elemen sihir seperti itu. Ya, sihirnya berakhir sangat lemah, dia dilumpuhkan oleh sebuah tembakan dari M101 105mm Howitzer tua yang biasa dipakai untuk memainkan musik.
Sedangkan elemen nonfisik seperti pikiran, takdir, dan elemen misteri ke-9; mereka bukanlah elemen yang bisa dibuat begitu saja. Mungkin mereka bisa memanipulasinya sedikit, atau menggunakan sedikit kekuatannya, namun hanya itu.
Sihir adalah kemampuan untuk memanipulasi hal di dunia untuk sesuai dengan keinginan. Itulah kenapa keinginan adalah bagian penting dari sihir. Namun, apa yang terjadi ketika keinginanmu itu dimanipulasi dan membuatmu ingin menghancurkan dirimu sendiri? Ya. Itulah yang terjadi pada korban-korban ini.
Yang dia lakukan adalah mengontaminasi pikiran korbannya dengan sihir yang diisi oleh hantu Joker. Kemudian, setelah Joker itu terus-menerus mendekat, si korban akan semakin tertekan. Lalu, seakan membangkitkan sihir, sang korban mendapatkan sihirnya. Namun karena kontaminasi itu, sihir yang mereka dapat hanya mampu digunakan untuk membunuh dirinya sendiri.
Kemudian, si Joker akan menempatkannya pada tempat yang tepat sesuai dengan dosanya, dan menyiapkan TKP sesuai dengan seni miliknya.
Ya, semua ini adalah teori saja. Namun aku merasa bahwa aku sudah benar.
Namun setelah korban di bar, aku melihat dia mulai mengimprovisasi. Kematian Vicky Nora terlihat tidak disengaja, atau dia hanyalah korban yang menjadi saksi. Dia memiliki jejak luka bakar yang berbeda dengan korban yang lain. Aku yakin bahwa setelah ini, korbannya akan... tunggu, untuk apa?
Kami berteori kalau si Joker melakukan semacam ritual, atau fantasi ritual. Namun membunuh saksi hanya akan merusak ritualnya saja. Menghampiri Nindy dengan menunjukkan wajah Fizel Marko dan bukan si Joker ini juga terlihat salah. Berarti ini bukan ritual, namun target? Jika kita berhasil mengetahui korban selanjutnya, mungkin kita bisa menemukan penjelasannya. Namun menunggu sampai saat itu terjadi adalah hal buruk yang bisa kita lakukan. Jadi, Niira dan aku saat ini berada di ruang jenazah hanya untuk melakukan satu hal:
Secara harfiah, kita akan membangkitkan Nindy dari kematian.
Ya, terdengar gila. Pembangkitan di sini bukanlah pembangkitan dari kematian. Namun pembangkitan kemampuan sihir. Pembangkitan kemampuan sihir yang kami lakukan ini memang terdengar aneh, karena yang kami bangkitkan bisa dibilang sudah mati. Tapi justru karena itulah kita perlu melakukannya.
Pembangkitan kemampuan sihir bisa disebabkan oleh dua hal: Trauma berat yang mengakibatkan bangkitnya sihir di dalam tubuh dengan keinginan di dalam hati yang menggabung menjadi sebuah skill baru; atau kontaminasi sihir yang cukup besar untuk membuat si target menerima sihir terus menerus, dan membuat tubuhnya menerima sihir itu sebagai skillnya. Cara pertama adalah cara Joker membunuh korbannya. Cara kedua itulah yang kami coba lakukan untuk menyelamatkannya.
Kami tidak bisa menyelamatkan yang lain, sayangnya. Namun menyelamatkan satu orang dari kematian palsu sudah cukup bagiku.
“Pak, mohon mundur.”, ucapku, meregangkan tanganku. Orang itu mundur sesuai dengan perintahku.
“Siap Ruma?”, ucap Niira.
“Menunggu aba-abamu.”, ucapku.
Terima kasih kepada kemampuan Lifeline Link milik Niira, kami mampu berbagi pikiran secara otomatis. Sebenarnya, Niira itu siapa? Berasumsi bahwa sihir ini adalah sihir pikiran, kenapa dia bisa merapal sihir elemen fisik? Gadis ini menggunakan cheat dari mana?
Mantra yang dia pikirkan masuk ke kepalaku, dan sebuah hitungan mundur. Tiga... dua... satu...
“”Initiate—System Recovery—Super Enhancement—Unlimited Heal!””
Itu adalah skill penyembuh luar biasa buatan salah satu keluarga Niira. System Recovery adalah penyembuhan organ tubuh yang mengalami kerusakan, menggunakan salinan data organ dari pengguna sihir untuk digunakan sebagai referensi rekonstruksi organ.
Super Enhancement adalah penggunaan dua kali lipat sihir yang dipakai untuk melakukan skill untuk meningkatkan kemampuan dan kecepatannya.
Unlimited Heal adalah, ya, skill penyembuhannya. Namun kita tidak akan berhenti mengeluarkan elemen sihir ini bahkan walau otaknya pulih sepenuhnya. Kita hanya berhenti ketika kita memerintahkannya untuk berhenti. Yang kami lakukan adalah mengontaminasi tubuhnya dengan sihir penyembuhan agar dia melahirkan sihir pasif penyembuhan di tubuhnya.
Dan sejauh ini, kelihatannya sihir itu berjalan. Sihirnya bergerak, mengonfirmasi bahwa tubuhnya masih bisa dibangkitkan lagi.
“Hei Niira, kau tahu?”
“Apa?”
“Ada kemungkinan kalau kita akan bertarung di tempat ini.”
Niira terdiam, melihat ke arahku dengan tajam.
“Ya... kurasa melihat latar belakangku di SMP 1, aku mempunyai alasan untuk disebut sebagai ‘wrath’, bukan?”, ucapku.
“Ruma, kalau aku bisa mengeluarkan Unlimited Heal tanpa tangan, aku akan menjitak kepalamu dengan keras sampai ayahmu bisa mendengar suara ketukannya.”
Tapi ya, ini hanya teori kan?
“Lagian, korban-korban yang lain sudah diikuti dari bulan yang lalu. Sedangkan aku baru bertemu dengan dia barusan.”, terangku.
Niira menggelengkan kepalanya, menolak hipotesisku.
“Kalau begitu, kamu juga bisa disebut Envy, bukan?”, tanya Niira. Aku memiringkan kepalaku, bingung dengan hipotesisnya yang aneh itu.
“Aku nggak cemburu dengan siapapun? Apa maksudmu?”
“Maksudku... ada kamu, lalu ada Yuvi, tiba-tiba ada Alicia... itu cukup mirip dengan Envy, bukan? Maksudku, itu teoriku saja—“
“Nggak.”, ucapku singkat. Dan keheningan kembali datang ke ruang mayat itu. Hanya dua menit berlangsung sebelum ponsel kami berdua berdering, dengan genre musiknya yang benar-benar berbeda satu sama lain musiknya sangat berbentrokan.
“Serius, Ruma? EDM?”, ucap Niira.
“Diamlah, nona Klasikal.”, jawabku.
Lalu aku merenungkan sesuatu yang baru saja muncul di pikiranku. Kami berdua menggunakan kedua tangan kami untuk melakukan penyembuhan, dan kami sadar akan hal itu sehingga kami menggunakan earphone kami masing-masing.
Namun, ketika telepon berdering, aku harus tetap menekan tombol angkatnya, kan?
“Um, Niira. Ada celah dalam rencana kita.”
“Ya... sial.”
Seperti lomba makan kerupuk, aku meraih-raih tombol yang ada di kabelku menggunakan mulut agar aku bisa menekannya dengan gigiku. Sedangkan Niira, dia menggunakan teknik ekstrem untuk menundukkan kepalanya untuk menekan tombol di layarnya dengan hidungnya, karena ponselnya berada di samping jenazah Nindy itu. Semua dilakukan tanpa mengubah posisi dari tangan kami, membuat postur aneh yang akan terlihat menyeramkan dari... ah, dapat!
“”Ya, halo?””
Aku dan Niira berhasil mengangkat ponsel kami secara bersamaan, dan mengagetkan Zakiel dan timnya.
“Whoa! Kalian berdua kompak juga. Ada rencana bikin idol duo?”, ucap Yuvi. Oh, dia bercanda denganku rupanya...
“Yuvi menyukai karakter loli blond—“
“Oke oke oke maaf!”, potongnya. Namun kata yang berbahaya sudah terlontarkan oleh mulutku. Ya,
Yuvi, jangan macam-macam denganku. Aku tahu 90% anime yang kamu tonton, dan aku tidak akan segan-segan untuk mengungkap semuanya. Termasuk anime yang tidak sesuai dengan umurmu.
“Ada apa jadinya?”, tanya Niira. Dia terdengar agak terganggu dengan pernyataanku terhadap Yuvi, dan kurasa reputasi Yuvi baru saja terjatuh dari langit dan bumi sampai ke dasar neraka. Aku ingin melihat ekspresi Alicia.
“E-eh...? Ahahaha—ppfffftt---maaf—sebentar—maksudku—ahahaha!!!”
Adalah suara yang dikeluarkan oleh Alicia dari ponselnya. Puk, puk... yang sabar ya, Yuvi, ditertawakan oleh sang doi.
“Haaaah... tenang... oke. Aku mau bilang apa tadi? Ah, ya. Aku dan Yuvi sudah mulai menyelidiki jalan belakang barnya. Aku sudah mengobrol dengan salah seorang bartender, dan dia menyatakan hal yang mirip dengan korban-korban yang lain. Diikuti, barang hilang; semua jenisnya. Aku juga mengobrol dengan salah satu teman dari korban kita, Vicky Nora. Dia adalah vokalis dari pemain musik di bar ini. Kamu sudah menyadari keanehannya?”
“Gitar siapa itu?”, tanyaku.
“Tepat. Gitar itu adalah milik teman korban. Vicky Nora sama sekali nggak mengikuti pola kematiannya. Nggak pernah diuntit, yang hilang bukan barang miliknya, dan bahkan dia nggak memiliki tulisan ‘Sinner’ dimanapun.”
“Lalu hasil Insightnya?”, tanya Niira.
“Kalian sudah tahu duluan soal Vicky Nora ya?”, tanya Alicia.
“Tentunya. Kami baru memeriksa jenazahnya, bagaimanapun juga.”, jawab Niira. Dia kelihatan ingin menggaruk hidungnya, melihat dari hidungnya yang kembang kempis. “Jadi, Insight nya?”
Aku membayangkan Alicia kini penuh dengan ekspresi kebingungan saat ini. Untungnya kami tidak perlu menahan fokus kami saat mengeluarkan Unlimited Heal. Kalau kami perlu menahan fokus kami, astaga itu akan melelahkan dan menyebalkan.
“Penasaran kan? Ya, sesuai dugaanmu. Si pelaku menggunakan sihir yang memanipulasi aliran aura, dan membuat korbannya mendapatkan sebuah sihir yang bisa mengakhiri pikiran sendiri. Namun kelihatannya si pelaku nggak mau meninggalkan si bartender di belakang sini, dan karenanya ia ingin melakukan teleportasi dengan sihir ruang... lalu Vicky muncul.”, terang Yuvi. Ada keheningan singkat yang menjadi jeda nafas Yuvi.
“Vicky dibunuh tanpa ampun. Nggak ada niatan untuk mendengarkannya, atau membiarkannya lari. Satu sihir elemen api, dan dia tergeletak begitu saja. Lalu si pelaku ini berteriak penuh amarah, melempar apron milik si bartender yang sudah dicoret, dan menghilang.”
“Lalu, kamu mengonfirmasi pelakunya?”, tanya Niira.
“Nggak. Hanya ada bentuk fisiknya saja, tapi nggak ada wajah. Aneh, kan? Kenapa pak Fizel itu bisa terlibat dalam semua ini?”
“Yuvi, saat dia membunuh Vicky, apakah dia menggunakan senjata?”
“Enggak tau, sih. Tapi aku melihat aura yang kuat dari jari tengahnya, mungkin itu adalah sebuah cincin.”, terangnya.
“Itu dia. Dia menggunakan berlian yang menampung kekuatan sihir untuk menyerang dan teleportasi.”
“Lalu?”, tanya Zakiel. Dia dari tadi diam, namun akhirnya mulai memotong dan ikut bertanya juga.
“Sampaikan semua ini pada kontakmu di Divisi Khusus. Sekarang, aku mau kalian bertanya pada sekitarnya si bartender itu, siapa orang yang mungkin cocok menjadi Gluttony. Saat ini, abaikan Envy dan Wrath.”
“Baik!”, ucap mereka.
Mereka semua meninggalkan panggilan grup, namun karena kami kesulitan dalam menekan tombol mati, kami tetap berada di dalam ruangan. Zakiel pun tersambung kembali.
“Kalian sibuk?”, tanyanya.
“Tangan kami yang sibuk, jadi kami nggak bisa pencet disconnect. Ada apa?”, tanyaku.
“Nggak apa-apa. Mungkin ada baiknya aku juga ikut tersambung dengan kalian, jaga-jaga ada hal buruk yang terjadi. Dan aku juga bisa langsung menyampaikan info terbaru.”
““Ah.””, ucap aku dan Niira.
“Ya, kami berdua juga bosan. Tangan kami benar-benar terkunci.”, ucap Niira. Dia tiba-tiba mengeluarkan senyum yang menyeramkan. “Jadi, Zakiel. Dari kami berempat, siapa yang menurutmu paling cantik?”
“Eh?”, ucap pria itu terkejut. Dia terdengar terbata-bata, dan kebingungan mau menjawab apa. “Um... kurasa kalian berempat semuanya cantik—“
“Jawaban diplomatis. Namun aku nggak menerima jawaban itu.”, ucap Niira.
“Hmm, aku juga penasaran.”, ucapku. “Siapa jadinya Zakiel? Erika terlihat dewasa dengan rambut pendeknya. Niira memiliki daya tariknya sendiri dengan rambut pirang panjangnya. Kalau itu Alicia, aku siap meminjamkan Tachi of the Grim Reaper kalau kamu mau berebutan dengan Yuvi.”
“Apa-apaan itu.”, ucapnya datar, merasa tidak nyaman dengan percakapan kami.
“Hei, kamu tahu istilahnya, kan? All’s fair in love and war. Semuanya diperbolehkan pada medan cinta dan peperangan. Tapi tolong bersihkan jejak forensiknya, ya. Kalau kamu ditangkap polisi, kamu nggak mengenalku.”, ucap Niira, yang tertawa atas pernyataannya yang lagi-lagi merupakan dark humor. Kadang aku takut dengan Niira pada hal ini.
“Ya... kalau aku harus memilih... um... mungkin, aku akan lebih memilih Ruma kalau begitu. Tapi kalau aku harus benar-benar memilih.”
Aku tidak pernah mendengar suara Zakiel yang seperti itu. Dia benar-benar dipojokkan oleh kami, ya? Berhati-hatilah dengan perempuan, kami ahlinya dalam menggiring topik pembicaraan. Spesifiknya Niira. Dia mahir dalam membuat orang menjawab pertanyaan yang dia berikan, dan mahir dalam menyimpan rahasia dalam jawaban yang dia ucapkan.
“Oh...? Zakiel, apa jangan-ja—“
“Ruma, mundur!”
Aku melangkah mundur, memutuskan Unlimited Healku pada Nindy.
Cahaya putih menyelimuti gadis ini seperti jaring laba-laba. Seakan melawan gravitasi, gadis ini terangkat pelan-pelan tanpa ada yang mengangkatnya. Hingga dia berada sejajar dengan kepalaku, cahaya putihnya itu hanya semakin kuat, menyinari ruangan ini dengan terang benderang seperti menatap matahari.
Gadis itu berdiri di atas udara, dan cahaya putih yang menyelimutinya itu seperti disedot oleh dadanya, masuk ke dalam tubuhnya. Ini mengingatkanku dengan apa yang Niira lakukan padaku waktu melawan pak tua itu... astaga siapa namanya?
Gadis itu mulai turun secara perlahan, ekspresinya masih terlihat sangat kelelahan karena efek pembangkitannya. Aku bisa merasakan aura yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan skillnya bahkan masih aktif sampai sekarang. Skill penyembuhan pasif: Purification.
Oke, itu nama yang buruk. Intinya, sihirnya itu mampu menyembuhkan luka dan menghilangkan kutukan menggunakan elemen air. Namun karena kemampuannya masih tidak bisa dikontrol, dia akan membuang-buang energi sihirnya seperti ini, dan membuatnya hampir tidak bisa menua karena kecepatan regenerasinya. Namun melihat penggunaan sihirnya yang tinggi, regenerasi sihirnya dan penggunaan sihirnya tidak seimbang. Jika begini terus, dia akan sering pingsan karena magic deficiency.
Dia terduduk, bersandar lemas pada rak-rak jenazah yang dingin. Ia berusaha mengontrol nafasnya, wajahnya masih pucat, dan tubuhnya masih gemetar. Kita berhasil? Aku benar-benar terkejut. Namun kenapa Niira menyuruh kita mundur? Dia terlihat siaga.
“Sebutkan namamu!”, teriak Niira.
Perempuan itu, yang hanya tertutupi oleh sehelai kain yang merupakan selimutnya, hanya masih tersengal-sengal kelelahan. Namun dia mulai menutupi tubuhnya dengan selimut itu.
“Sebutkan namamu!”, teriak Niira lagi.
“Ni...”, suaranya sangat serak, dan dia terbatuk-batuk. “Nindy.”
Niira menurunkan kesiagaannya. Dia dengan segera mengeluarkan sebotol air berukuran besar dan diserahkan pada Nindy. Gadis itu meminumnya seperti unta, dan menenggaknya seperti hidupnya bergantung pada itu. Ya, memang benar, sih, hidupnya mungkin akan tergantung pada itu.
“Tenang, kamu nggak apa-apa. Tenang dulu.”, ucapku.
Dia melihat padaku dengan ekspresi penuh ketakutan, namun dia juga terlihat kedinginan.
Aku melepaskan jasku, dan menutupi gadis itu menggunakan jasnya. Ia mulai mengenakannya dengan cepat, dan menutup kancingnya.
“Kamu saat ini berada di ruang mayat. Aku adalah Ruma, dan ini adalah Niira. Kalau kamu tadi sampai di neraka, berterima kasihlah. Kalau kamu masuk surga, ya... nasibmu sial. Bagaimanapun, selamat datang kembali di dunia.”, ucapku dengan nada menyinggung.
Dia hanya tertawa kecil, dan memperbaiki ujung lengannya yang sudah kumodifikasi dengan menambahkan sarung tangan fingerless berwarna hitam.
“Kurasa tadi aku ada di neraka, karena aku hanya bisa melihat badut sialan itu lagi dan lagi—tunggu, ada yang lebih penting. Badut itu adalah korban juga!”, ucap dia dengan panik.
“Oke, Nindy. Kamu tahu korban selanjutnya? Atau cara dia memburu korbannya? Apa kamu tahu?”
“Itu dia, um... kak Niira. Dia memanipulasi ingatan, kan? Sebenarnya, kelihatannya nggak ada barang yang hilang. Dia hanya membuat kita melupakan dimana kita meletakkan barang-barang itu.”
Dia berusaha untuk kembali berbaring, mengambil kain putih itu untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Pak tua itu berlari pada kami, dan menyodorkan rok milik Nindy yang terlihat lusuh.
“Ah, terima kasih. Lalu, dia hanya akan mengganggu pikiran korbannya sampai waktunya tepat. Barulah dia akan mencoba untuk membunuh korbannya—maaf, aku balik badan sebentar—dan waktu itu, dia datang langsung ke tempatku. Aku pura-pura mati. Setelah itu, dia membawaku ke gedung olahraga dengan teleportasi, menuliskan sesuatu di tanganku, lalu dia berjalan pulang. Karena itu, aku tahu dimana dia bersembunyi.”
Ucapannya itu membuat kami saling pandang satu sama lain. Kami mengangguk, dan kembali melihat Nindy.
““Arahkan kami padanya.””
Hari ini makin gila saja. Berdasarkan Insight Yuvi, pelakunya bukan pak Fizel. Apa kaitannya pada insiden ini? Selain Nindy, tidak ada yang diuntit oleh pak Fizel. Nindy berkata kalau dia diikuti oleh pak Fizel setelah badut itu gagal membunuhnya.
Pak Fizel mungkin adalah mastermind, dan dia sekarang mengincar Nindy? Aku merasa bahwa korban selanjutnya adalah remaja lagi, namun aku tidak menemukan dimana pola yang membuatku berpikir itu.
Pukul tujuh malam, 5 jam sebelum jatuh korban baru. Aku sedikit khawatir kami akan terlambat. Namun aku juga merasa kalau itu tidak akan terjadi. Dia sudah mengacau sekali dengan membunuh Vicky.
Niira terlihat sedikit terkecoh dan melihat ponselnya terus selama perjalanan kami menggunakan bis. Mungkin dia ada masalah dengan ayah mafianya itu? Aku mau bertanya, namun kurasa timing-nya kurang tepat untuk menanyakan hal seperti itu. Namun sebaiknya aku memastikan kalau aku tidak membuat masalah baginya.
“Kamu perlu pulang?”, tanyaku. Niira menggeleng, dan memberikan senyuman singkat.
“Nggak, kok. Aku cuma mau tanya ke ayahku apa dia tahu sebuah ritual yang melibatkan Seven Deadly Sins.”
“Lalu?”
“Nihil. Nggak ada sesuatu yang kayak begitu, seperti yang sudah kubilang. Kalau ada, saudara-saudaraku yang metal itu sudah pernah mencobanya.”, terang Niira. Dia mengunci ponselnya, dan memasukkannya pada blazer biru tuanya.
“Namun ada grup pemerintah yang pernah melakukannya.”
“Divisi Khusus?”
“Ya, tepatnya badan intelijen divisi khusus. 20 tahun lalu, ada percobaan pembangkitan sihir semacam itu. Kepala sekolah kita itu salah satu agen yang menjalankan operasinya. Saat itu juga, dialah yang membuat badan intelijen menutup percobaan ini, dan dia juga yang menghancurkan reputasi badan intelijen, membuat Divisi Khusus menjadi divisi individual dan terpisah. Tebak alasannya apa?”
“Jatuh cinta?”
“Tepat, 10 poin untuk Ruma! Dia menikahi salah seorang korban, lalu korban itu menjadi ibunya Alicia. Namun tolong jangan kasih tahu Alicia, kecuali pak Revan yang mengungkapkannya. Mari kita nggak merusak hubungan keluarga seperti yang ayahku lakukan padaku, oke?”
Dia tertawa singkat, menutup mulutnya sembari melanjutkan ucapannya,
“Ritual itu adalah ide bodoh yang dicetuskan oleh orang gila yang kebanyakan nonton tivi. Aku nggak bisa membayangkan ada orang yang membunuh sebagai ritual. Bahkan nggak yakin apa gunanya.”
Aku memiringkan kepalaku.
“Loh, memangnya nggak ada ritual untuk meningkatkan kekuatan, atau semacamnya?”, tanyaku.
Dia tertawa lagi.
“Ruma, ini nggak kayak game, tahu. Kamu tahu tiga pilar utama dalam sihir? Kemampuan aliran sihir, kekuatan mental, dan terakhir adalah imajinasi. Empat, kalau kamu memasukkan area bertarungmu sebagai sebuah pilar juga.”
Suara rem dari bis menginstruksikan bahwa sudah waktunya kami untuk turun. Aku dan Niira menempelkan Swift Card kami, mengeluarkan suara ‘bip’ yang halus dan menampilkan nominal yang tersisa pada Swift Card kami. 30 Klair. Uang yang dikirimkan ayahku hari ini terlalu banyak sebenarnya, namun apalah. Mungkin dia mau aku membeli ponsel baru.
“Nggak ada gunanya menggunakan ritual untuk meningkatkan kekuatan. Imajinasi? Tambahkan dosis anime atau manga atau game pada mereka, dan mereka akan memiliki kemampuan untuk menggunakan ilmu pedang atau sihir. Kemampuan mental? Bisa diatur. Latih saja mereka seperti militer seperti ayahku pada mendiang kakakku. Kemampuan sihir kita juga akan terus berkembang selama kita hidup. Dengan atau tanpa membunuh. Yang bisa menahan kemampuan sihir kita adalah kita sendiri, kau tahu.”
“Lalu, apa yang terjadi kalau salah satu faktor itu kurang?”
“Skill akan gagal, tentunya. Yang penyihir itu bisa rasakan hanyalah kekosongan, seperti ia sedang bertingkah seperti Yuvi. Rasa malu juga. Mungkin rasa timah atau besi pedang, jika dia melakukannya di pertarungan. Oh! Kalau yang kurang adalah aliran sihirnya, namun tertutupi oleh kekuatan mentalnya, skill akan berhasil, namun dia akan pingsan.”
Orang yang mengikuti kami juga menekankan Swift Card milknya, dan mengeluarkan suara yang sama. Dia membuang nafasnya dengan lelah, merapikan pakaiannya yang belum dicuci dan berada di ruang barang bukti selama satu minggu. Andai kita punya waktu lebih banyak, aku akan meminjamkannya baju olahragaku. Setidaknya itu akan menjadi lebih baik daripada pakaian kotor itu.
“Nindy, kamu nggak perlu ikut kita, loh.”, ucap Niira. Ia hanya menggeleng tidak setuju.
“Aku butuh kalian juga buat pulang, dan jika aku nggak menuntun kalian, aku takut kalian nyasar.”, ucapnya.
Plot twist: Dia adalah pelakunya. Itu sempat terngiang di kepalaku. Namun itu ide yang terlalu konyol. Mustahil baginya untuk tahu kalau akan ada yang membangkitkan dirinya dari kematian. Jadi, aku mencoret ide itu dari pikiranku.
“Ngomong-ngomong Niira, tadi kamu bilang kalau kurang aliran sihir, maka si penyihir akan menjadi one-hit cannon. Berarti maksudmu itu magic deprivation?”, tanyaku.
Dia melihatku dengan ekspresi yang berkata ‘Serius? Sampai situ?’ dan menunduk, melipat tangannya di depan dadanya dan berpikir.
“Hmm, simpelnya bagaimana ya... intinya sih benar, magic deprivation. Mirip seperti kehabisan MP di game. Namun lebih buruk. Ketika aliran sihirmu benar-benar terpakai semua, akan ada efek samping yang buruk. Sakit kepala, terhuyung-huyung, hingga pingsan. Saat ini, kamu dan aku memiliki... MP pool? Ya, pokoknya itu—yang cukup besar, jadi kecuali kalau kamu mau menghancurkan satu distrik dalam sekali serangan, kurasa kita nggak perlu khawatir kehabisan. Namun seperti Yuvi dan Nindy, mereka harus khawatir. Dengar, Nindy?”
“Kenapa—“
Ponsel kami kembali berdering. ‘Setidaknya kami tidak perlu bertarung untuk mengangkat telepon kami lagi’, pikirku. Aku menekan tombol di earphone ku sekali.
“Halo.”, sapaku singkat. Niira menyapa setelah aku.
“Oke, semuanya. Waktunya bertukar info, kan?”, ucap Yuvi. Dia terdengar kelelahan. Atau mungkin dia jengkel karena melewatkan beberapa anime seru hari ini. Yang manapun juga, dia terdengar tidak nyaman.
“Ya. Aku sudah bersama Nindy, dia bilang kalau si Joker, orang yang mengikuti Nindy; dia adalah salah satu korbannya juga. Kami sedang bergerak ke tempat si Joker saat ini.”
Mereka sudah tahu kabar mengenai pembangkitan Nindy setelah aku berteriak di panggilan grup barusan. Namun kami memutuskan komunikasi setelah itu secara tidak sengaja, membuat informasi mereka hanya sampai situ saja. Karena itu, aku memberikan informasi singkat yang perlu mereka tahu saat ini saja. Saat ini, kami membutuhkan lebih banyak informasi daripada mereka. Sesepele apapun mengenai si Joker ini mungkin akan berguna untuk melindungi hidup kami.
“Hei Ruma. Kamu bilang kalau Joker itu adalah korban juga ya? Aku baru dapat pesan dari Divisi
Khusus mengenai hasil tes darah yang tertinggal di bar. Dia berdarah, Ruma. Mengingat sebelumnya dia nggak pernah membunuh secara langsung, nggak ada alasan buat dia berdarah.”, Alicia menerangkan apa yang dia ketahui dengan kecepatan yang membuatku kesulitan mengejarnya.
“Apa ada identitasnya?”, tanyaku.
“Nggak. Si Joker nggak memiliki sejarah yang membuatnya tercatat di sistem. Tapi aku tahu siapa yang tercatat di sistem.”
“Guru komputer kita?”
“Tepat. Spesifiknya seorang Mario Fazaletti. Umur 30 tahun. Dia adalah korban selamat dari uji coba kejam—“
“Korban?”, potong Niira.
Selagi kami menelepon, langkah kami tetap bergerak mengikuti Nindy. Gadis itu mendengarkan percakapan kami dari sisi kiri dari earphone milik Niira yang tidak memiliki mic. Kami berhenti di lampu penyeberangan jalan yang masih merah, dan Nindy menekannya.
“Ya, dia adalah korbannya. Nggak lama lalu, ada uji coba pemerintah untuk membuat orang biasa menjadi penyihir, sekitar dua puluh tahun lalu, kurang lebih? Aku nggak punya bukti digital yang jernih soalnya, ini hanya dari Dokumen Arsip Nasional. Tapi yang jelas, hasilnya cukup buruk, mengingat dari 100 orang, hanya 21 yang kembali secara utuh.”
“21 orang yang selamat?”
“21 orang yang kembali secara utuh, Ruma. Hanya empat orang yang hidup.”
Lampu berubah menjadi hijau, dan kita mulai menyeberang dengan tetap memastikan tidak ada kendaraan yang mengebut.
“Pembangkitan sihir melalui trauma, dan dia mendapatkan sihir untuk mengutuk orang lain. Dengar Alicia, kamu perlu mencari Gluttony—“
“Tenang, kami akan ke sana!”, suara Yuvi muncul yang membuatku ingat kalau kita berada di panggilan grup.
“Bagus. Joker akan datang karena dia harus menyiapkan TKP-nya. Kalau kamu merasakan ada aura yang aneh, telepon lagi. Kami akan masuk ke dalam rumah Joker. Berhati-hatilah.”, ucapku.
“Kamu yang berhati-hati, bodoh! Jangan ceroboh.”
“Tentunya, chuuni. Kamu juga jangan... menjadi kamu dulu.”
“Heh.”
Percakapan biasa kami keluar begitu saja, melupakan fakta bahwa ada empat—lima orang lain yang sedang mendengarkan tepat di telinga mereka. Begitu aku mengingat itu, aku berdeham; berpura-pura bodoh seakan tidak ada yang terjadi.
Kami tidak mengakhiri panggilan itu dulu, namun Niira mematikan mikrofon miliknya. Entah kenapa aku juga ikut mematikan mikrofonku, namun kurasa itu keputusan yang tepat. Dari dalam jaketnya, keluarlah sebuah pistol berukuran kecil berwarna hitam yang dikokangnya setelah mengisi magasinnya.
“Kupikir kamu bukan pengguna senjata.”, ucapku singkat. Dia tertawa atas ide konyolku itu. Ya, dia adalah anak dari sang mafia yang tidak memiliki penjagaan seperti apapun. Sudah jelas dia memiliki senjata.
“Tentunya aku memiliki senjata, aku anak sang mafia!”, ucapnya pelan. “Malah, aku membawa sepuluh senjata! Dan semuanya berlisensi!”
Sepuluh senjata? Untuk apa dia membawa sebanyak itu? Aku hanya melihat wajahnya yang terlihat bersenang-senang itu, kemudian ke arah rumah bercat putih dan gelap ini. Dilihat dari halamannya yang bersih, jendelanya yang tidak berdebu, catnya yang masih bersih—rumahnya masih terlihat seperti terurus. Dia masih meninggali rumah ini baru-baru ini, dilihat dari kebersihannya.
“Kamu yakin ini tempatnya, Nindy? Kenapa rumah ini kelihatan seperti rumah orang yang... bukan seorang pembunuh berantai?”, ucap Niira keheranan.
“Nggak salah lagi. Aku reverse stalk dia setelah dia mencoba membunuhku. Tapi--”
“Kamu bilang kalau kamu diikuti dia. Lalu kamu ikuti dia kembali? Kamu gila?”
“Ah, dengar dulu—“
“Nggak penting, Ruma. Sekarang kita harus menghentikan si Joker ini sebelum dia melukai orang lagi.”, potong Niira. Dia melihat ke arahku dengan tajam, kemudian melihat Nindy.
“Nindy, Kamu tetap di sini. Ruma, di depanku. Gunakan tameng aura dan lindungi kami.”
“Tapi—!”, keluh Nindy, namun Niira menginstruksikannya untuk memelankan suaranya.
“Kamu akan tetap di sini, memastikan nggak ada yang masuk atau keluar.”, terang Niira, yang kelihatannya cukup untuk memuaskan keluhan Nindy. Dia kini melihat ke arahku, menginstruksikanku untuk menendang pintu rumah ini. Ah, Niira... tidak ada orang yang benar-benar menendang pintu rumah...
Aku mengeluarkan tachiku. Warna merahnya tidak terlihat saat ini. Kurasa itu berarti bahwa tachi ini tidak merasakan adanya keperluan untuk menggunakannya saat ini? Entahlah, Findle Translate tidak bisa menerjemahkan bahasa lampu pedang, begitu pula aku.
Aku mengayunkan bilah pedangku pada gagang pintunya berwarna emas, baru menendangnya membuka. Dengan postur defensif, aku dan Niira masuk dengan cepat menyusuri ruang utama yang terlihat cukup bersih itu. Lampunya semuanya dimatikan, dan tidak ada niatan untuk kami untuk menyalakannya. Tiga pintu kamar yang tertutup rapat berada di ruangan yang tersambung pada ruangan utama.
Aku memastikan bahwa tidak ada orang yang ada di dalam menggunakan Aura detection, tapi tidak ada salahnya memeriksa ruangan satu persatu.
“Aman—Tiga ruangan.”, ucapku.
Niira keluar dari punggungku, dan membuka satu pintunya dengan perlahan, pistol itu di tangan kanannya mengarah ke dalam. Kamar mandi. Dia masuk sejenak, dan melihat ke kiri dan kanan untuk tempat bersembunyi.
“Kamar mandi—aman.”
Aku membuka salah satu kamar yang lain, namun bagaimana caranya melakukan penyergapan dengan sebuah pedang? Aku menggunakan postur untuk serangan lurus, namun kurasa itu tidak benar. Aku harus mencari caranya nanti.
Kamar tidur. Kasurnya tertata rapi, namun jendelanya tertutup dengan gorden. Aku masuk, memeriksa setiap tempat persembunyian yang mungkin ia gunakan: Lemari, kolong ranjang, belakang pintu.
“Kamar tidur—aman.”
“Ruang kerja—aman.”
Suara Niira terdengar dari sisi lain dari rumah ini. Menurut Aura detection milikku, masih ada ruangan yang belum kami periksa. Ruangan bawah tanah. Di film-film, biasanya itulah tempat bagi para penjahat untuk bersembunyi, menyimpan korbannya, merencanakan kejahatan, dan sebagainya. Namun aku tidak merasakan adanya apapun di bawah sana.
Meski begitu, Aura detection bukanlah sihir tanpa kelemahan. Ada cara untuk bersembunyi dari pendeteksinya dengan menahan aura yang mereka keluarkan—sesuatu yang cukup sulit dilakukan oleh penyihir baru, namun mudah untuk penyihir ahli.
Eye of the Truth milikku hanya bekerja efektif pada jarak pandangku, juga kendalinya tidak mudah. Tapi setidaknya aku mampu melihat sihir orang yang bersembunyi. Jika aku tidak menahannya dengan lensa kontakku, tentunya.
Aku mengelilingi rumah ini, mencari pintu apapun yang bisa membawa kami ke bawah tanah. Namun aku tidak menemukannya, begitu pula Niira. Aku menarik setiap buku, menggeser setiap lukisan dan bingkai foto, juga melihat di sekitar ruang kerja karena biasanya mereka menyembunyikan ruang bawah tanah di sana. Nihil.
Di sanalah saat Nindy masuk ke dalam, tangannya bersila di dadanya.
“Itulah kenapa kalian mendengarkanku dulu. Si badut sialan itu nggak pernah berada di rumah atas. Dia berada...”
Dia berjalan keluar, dan kami mengikutinya dari belakang. Di halaman pada sisi lain rumah ini, terdapat sebuah tangga yang menuju ke arah pintu bawah tanah, dengan satu lampu berwarna kuning yang menyala redup padanya. Dan Nindy menunjuk pada pintu itu.
“Di bawah sana.”, ucapnya.
Aku dan Niira saling bertatap-tatapan, lalu melihat ke arah Nindy dengan jengkel.
“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?”, tanyaku. Dia mengangkat bahunya, lalu tersenyum dengan sombong sembari menutup matanya.
“Entahlah... tadi kak Ruma mesra-mesraan dengan pacarnya di telepon, dan aku nggak enak mau motong. Lalu kalian langsung mau masuk ke dalam rumah, nggak ngasih aku waktu buat ngomong. Jadi, ya, begitu deh.”
Ah, berarti ini kesalahan kami juga, ya? Aku menepuk dahiku dengan kesal. Dia agak menjengkelkan, namun dia tidak salah—sepenuhnya.
Pintu itu menggunakan pintu besi yang berkarat berwarna hijau tua. Niira bahkan tahu kalau kami sebaiknya tidak menendangnya, karena kita hanya akan mempermalukan diri kita sendiri di hadapan adik kelas menyebalkan ini.
Niira mengeluarkan api pada tangannya, dan memanaskan besi di gagang pintu itu sampai merah. Baru aku menendangnya.
Ruangan itu terang, tidak seperti rumah yang ada di atas. Ruangan yang mirip seperti rumah bencana, adalah pikiran pertamaku. Ranjang besi untuk empat orang, stok makanan kaleng dan air botol yang banyak pada sebuah rak besi, sebuah toilet kecil.
Seseorang yang menggunakan pakaian badut dan topeng badut itu berada di balik jeruji besi yang tertutup rapat. Dia hanya duduk di ranjangnya, menatap kosong kepada kami. Dan tentunya, kami membalas menatapnya. Aku merasa menggigil di tubuhku melihat kondisinya yang terlihat tidak terurus dibalik kostum badutnya yang berwarna polkadot merah dan putih itu.
Aku menurunkan pedangku, memfokuskan mataku untuk Eye of the Truth. Aura sihir miliknya sangat kuat, namun tidak mengalir. Ini berarti sihirnya merupakan pemberian dari orang lain. Namun siapa orang yang sekuat itu sampai dia bisa memberikan sihir sebanyak ini?
“Itu badutnya. Water blade—init—“
“Tunggu, Nindy!”, panggil Niira, menurunkan tangan Nindy dan membatalkan sihir miliknya. “Dia nggak berbahaya.”
Nindy akhirnya menurunkan kesiagaannya, mempercayai kami. Aku akhirnya berhasil mematikan Eye of the Truth lagi, meski dengan perjuangan. Ya, skill yang satu ini adalah sesuatu yang sulit dikendalikan. Sulit dimatikan, sulit dinyalakan. Namun memang Eye of the Truth adalah skill pasif...
Meja putih di hadapannya berisi berlian berwarna putih yang menyala terang, dan aku tidak butuh Eye of the Truth untuk melihatnya. Sebuah laptop yang berada di tampilan terkunci, beserta beberapa berkas bersampul hitam yang tergeletak berantakan. Salah satunya terlihat terbuka lebar, memperlihatkan sebuah foto besar seorang gadis berambut pirang dengan rambut yang seperti angin topan... apa?
“Niira.”
“Ya, aku sadar!”, jawabnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya, dan membuka aplikasi LICE yang seharusnya masih menghubungkan kami dengan tim Yuvi. Mereka tidak tersambungkan, hanya ada aku dan Niira yang ada di dalam telepon grup itu.
“Namun kenapa?”, tanyaku.
Dia adalah hasil penelitian, dan dia ingin balas dendam? Dua puluh tahun lalu, dengan asumsi bahwa umurnya saat ini adalah tiga puluh tahun, seharusnya sihirnya saat ini sangatlah kuat. Aku kurang tahu detailnya karena kakek selalu mengajariku sihir tanpa menjelaskan teori dasar, namun yang aku tahu, penyihir di bawah umur 20 tahun kemampuannya akan berkembang jauh lebih cepat daripada setelah 20 tahun. Tidak, ini bukan waktunya untuk bertanya-tanya. Kita harus kembali pada tim Yuvi, namun dimana mereka?
“Sialan! Ruma, kamu ada ide?”
“Mereka ke mana emangnya, kak Niira?”
“Terakhir mereka ke bar, lalu bilang kalau mereka menemukan Gluttony.”
Aku berlari dan mengacak-acak semua berkas itu, namun tidak ada satupun berkas yang menyebut Gluttony. Bisa bilang apa aku? Aku tidak bisa terlalu banyak berharap seperti itu. Aku mengangkat berlian itu, dan menyodorkannya pada Niira.
“Mungkin nggak kalau kita menggunakan berlian putih ini?”, tanyaku.
“Untuk apa, mau kamu pakai untuk menyogok? Nggak ada gunanya teleportasi kalau kita nggak tahu tujuannya. Ingat tiga dasar sihir: Imajinasi, kekuatan hati, dan kendali energi. Kamu mau membayangkan apa?”
Dia menyebalkan ketika panik, pikirku. Namun dia benar, bahwa kita tidak memiliki imajinasi untuk teleportasi. Bahkan kita tidak tahu alamat orang yang menjadi Gluttony ini dimana. Namun, apakah kita perlu tahu?
“Kamu mempunyai ide gila, ya?”, tanya Niira tiba-tiba setelah melihat ekspresiku.
Aku mengangguk. Tidak begitu gila sih, namun memanfaatkan sihirnya yang aneh itu.
“Bagaimana kalau imajinasi yang kita gunakan adalah posisi Yuvi?”, saranku. Dia melihatku dengan kesal dan jengkel, memberikan wajah seakan bicara ‘Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya’.
“Dengar, Ruma—“
“Maksudku, kita masih memiliki koneksi Party Link.”, gumamku, berpikir bahwa kelihatannya itu ide yang bodoh.
Namun kurasa tidak. Niira tiba-tiba mendongak padaku dengan wajahnya yang menyentuh lengannya. Aku dan Nindy melakukannya begitu saja. Namun ucapan selanjutnya--
“Party Link—Target: Yuvi Arata—Warp To Target!”
Aku harus membayangkannya. Wujud dari Yuvi saat dia mengisengiku, wajahnya saat dia menertawakan kegagalan percobaan skill-ku, kejahilan tangannya saat—tunggu, kenapa yang terbayang olehku soal Yuvi selalu buruk!? Mungkin aku harus mencubitnya nanti.
Aura—atau lebih tepatnya seperti kabut—berwarna hitam melingkari kami, menutup setiap celah dari apa yang bisa terlihat oleh pandangan kami. Suara yang dapat kami dengar hanyalah suara angin yang bertiup dengan kencang mengelilingi kami. Aku merasa seperti sepatuku tidak lagi menyentuh beton.
Berarti sihir kami berhasil? Syukurlah. Namun aku agak khawatir, karena aku tidak pernah teleportasi sebelumnya. Terlalu menguras tenagaku juga, ditambah tidak ada petualangannya. Juga karena aku tidak bisa membayangkan seperti apa teleportasi itu.
Cahaya mulai kembali setelah setengah menit menghilang. Kabut dan angin hitam yang menyelimuti kami mulai menunjukkan cahayanya secara perlahan. Kakiku kembali menapak pada tanah, dan—
“”Aura Shield!!!””
Aku dan Niira langsung sigap mengeluarkan tameng sihir kami, menghentikan hantaman bola api yang beterbangan ke arah kami. Tameng sihir kami langsung pecah dan hilang olehnya.
Akhirnya kabut hitam itu hilang, menunjukkan kami pada pemandangan yang menyeramkan.
Rumah ini terlihat seperti baru dihantam tsunami. Barang-barang yang berserakan, kaca yang pecah, beserta retak yang ada pada temboknya. Bahkan aku berdiri di atas (apa yang tersisa dari) meja. Pecahan belingnya menyeramkan, untung aku masih mengenakan sepatu.
Namun tidak dengan orang-orang di belakangku. Laki-laki berambut hitam dengan wajahnya yang kelelahan dan penuh keringat, matanya berbinar ketika melihatku di sini. Kakinya terlihat berdarah-darah. Kelihatannya dia berusaha melindungi teman-teman di belakangnya.
“Yuvi! Tenang, aku akan menyembuhkan—“
“Jangan lengah!”
Yuvi berteriak, mengeluarkan sebuah sihir elemen udara untuk menahan bola api yang dilontarkan. Yuvi mengeluarkan sihir elemen udara lagi untuk menyerang sesuatu yang menyerangnya, namun udara itu hanya menghantam tembok tanpa hasil.
Apa itu? Aku berusaha berpikir dengan tenang. Saat ini, kita hanya bisa melakukan defensif. Namun aku mencoba menyerangnya dengan melemparkan beling pada tempat itu. Sudah kuduga, beling itu tidak menyentuhnya. Mungkin dia sekarang sudah pindah.
“Zakiel, bawa yang lain dan pergi! Kami akan menahannya!”, teriakku.
“Dimengerti.”, ucapnya. Ada ketegangan dari suaranya, namun ia berusaha menutupinya. Dia bangun, dan segera membimbing Alicia dan Erika keluar melalui pintu di belakang kami.
Sihir berwarna merah dari bayangan itu menembak lagi, kini mengincar rombongan Zakiel dari jarak dekat.
“Aura Shield!”
Lagi-lagi, sihir itu tertahan oleh tameng sihirku, dan langsung menghancurkan tamengku begitu saja. Sekuat itukah orang ini? Namun kenapa dia menggunakan ritual seperti itu? Ditambah...
Kenapa sihirnya sangat lamban?
“Niira. Ada saran untuk menghadapi hantu?”
“Panggil pendeta?—Aww!”
Aku menepuk kepala belakangnya dengan jengkel, dan menodongkan tangan kiriku itu lagi padanya. Tangan kananku bersiap untuk merapal sihir, menunggu serangan darinya. Namun tidak ada serangan saat itu, padahal intervalnya sudah tepat. Untuk berjaga-jaga, aku merapal tameng saat itu juga.
“Aura Shield!—Akan aku ulang lagi, Niira. Cara melawan hantu?”
“Ummm... kalau hantu kan biasanya muncul di mata, namun nggak ada di kaca. Namun kalau nggak ada di mata...”
Aku melihat pantulan dari bola api yang akan mengarah pada kami. Bola api itu jauh lebih besar dari sebelumnya, namun bergerak jauh lebih lamban dan dengan jeda yang jauh lebih lama.
Pada pantulan matanya juga, aku melihat orang yang berdiri di balik bola api itu—seorang pria paruh baya dengan kacamata, menggunakan sihir yang ada pada cincinnya.
“berarti ada di kaca, bukan?”
KRAK! Suara retakan dari tameng auraku memecahkan keheningan yang ada di kepalaku. Api yang bergolak itu membelah ke segala arah kecuali pada kami, menyulut si jago api pada ruangan yang kami singgahi ini. Tembok mulai retak, dan kepingan-kepingannya mulai berjatuhan. Tembok-tembok dan atap mulai berjatuhan di sekeliling kami. Untuk memperburuk keadaan, tidak ada cara bagi kami untuk melacak orang ini selain melalui kaca... tunggu.
Aku mengeluarkan ponselku, dan membuka aplikasi kameraku. Benar saja, pria paruh baya yang menyedihkan itu terlihat oleh kami, sedang mengumpulkan energi untuk mengeluarkan bola api lagi. Eh? Mengumpulkan energi? Aku yakin aku tidak salah lihat, dia benar-benar sedang mengumpulkan energi.
“Aku bisa menemukannya.”, ucapku singkat. Sekarang adalah pertanyaan soal bagaimana cara menyerangnya. Bahkan jika aku langsung menyerbunya sekarang, mungkin dia sudah bergerak. Aku akan kesulitan melihat melalui kamera dan berlari untuk menyerang juga, dan itu akan buruk.
Kali ini, Niira yang mengeluarkan tameng aura. Kekuatan tamengnya sama sepertiku, dan retak dalam sekali tembakan dari orang itu. Seketika, orang itu langsung berlari, berpindah sejauh lima meter ke arah kiri.
“Water blade—Charge!”
Nindy menembakkan bilah pisau dari air pada posisi orang itu. Dia berhasil menghindarinya, namun bukan tanpa luka. Ia tergores pada bahunya, dan ia memeganginya dengan tangan kirinya. Wajahnya terlihat sangat terkejut, dan melangkah sedikit untuk menyiapkan sihirnya.
“Gunakan pecahan kaca, pantulan air, apapun—itu adalah cara untuk mencarinya!”, ucapku.
“Aura Slash!”
Aku mengeluarkan tachiku, dan membelah tembakan api miliknya dalam satu gerakan. Aura Slash memang sebenarnya digunakan untuk membelokkan tembakan sihir.
Orang itu berlari mundur, kembali ke ujung lain dari rumah ini. Dia mulai merapal sihir lagi, dan keluar lingkaran berwarna biru di kaki dan tangannya.
“Create Water!”
Aku mengeluarkan air dengan jumlah yang banyak untuk menggenangi seisi rumah itu. Tujuanku adalah untuk mempermudah pelacakannya menggunakan pantulan dari air.
Yuvi mengambil pecahan cermin dari belakangnya, dan melemparkan tiga beling itu pada arah orang itu.
“Niira!”
“Shine upon me—Sunlight Beam!”
Cahaya yang keluar dari kedua tangan Niira memantul melalui cermin yang Yuvi lempar. Pecahan itu memecah cahayanya menjadi tiga arah, mengincar pada orang itu. Orang itu menahan serangannya, namun jelas dia merasakan panas dari cahaya itu.
Aku berlari pada orang itu yang sekarang panik. Mengayunkan pedangku secara diagonal, tubuhnya terpental ke arah kiri dan menghantam pintu.
Dia kelihatan mengerang kesakitan, namun menghindari serangan keduaku dengan kakinya. Sialan, dia naik ke suatu benda, refleksinya tidak terlihat!
Dia menendangku, membuatku terhantam ke tembok.
Pandanganku buram dan kabur-kabur, namun aku mengguncang-guncang kepalaku agar aku kembali sadar. Begitu aku kembali sadar, aku segera menghindari tekanan udara yang mengarah ke arahku dengan jongkok, lalu menangkap benda tak kasat mata itu dengan tanganku.
Aku mengayunkan benda itu dan menghantamkannya pada tembok, namun dia berhasil lepas dari genggamanku.
“Yuvi, menunduk!”
Suara Alicia entah dari mana berteriak, dan sebuah panah menembak dari belakang Yuvi. Aku melihat sebuah darah yang menetes dari udara, dan panah yang melayang-layang.
“Icicle Rapid Shot—Initiate!”
Dari tangan kananku muncul beberapa belas es lancip yang membentuk sebuah lingkaran mengelilingi tangan kananku. Es batu itu semakin besar dan membesar, hingga berada di ukuran maksimumnya, dengan masing-masing sebesar setengah tanganku. Tangan kiriku masih memegang ponselku, melihatnya merapal sesuatu.
“Meteorite Shot—Initiate!”
Yuvi ikut menyiapkan sihirnya, menjadikan batu-batu yang ada di tangannya sebagai inti dari meteornya, lalu menyelimuti batu-batu itu dengan api yang membara.
“Thunder Shot—Initiate!”
Niira ikut merapal sihir miliknya, dan membentuk gumpalan hitam dengan listrik statis yang cukup untuk membuat rambut panjangku mulai berdiri.
Kali ini bukan bola api yang keluar, melainkan lautan lahar yang mengaum dan menelan benda apapun yang tergeletak di lantai.
“””RELEASE!!!”””
Bagaikan kembang api yang tersulut, sihir dengan warna yang beragam itu meluncur membuat garis melengkung, menghujaninya dengan berbagai macam sihir. Tubuhnya terhunus dan terbakar oleh meteor buatan Yuvi, kakinya terhunus oleh es buatanku, dan memudahkan sihir Niira untuk membuat tubuh orang itu menjadi konduktor listrik dari sihir Niira.
Sementara itu, laharnya masih bergerak ke arah kami. Aku menyiapkan sihir tameng aura, namun lahar itu tiba-tiba berubah wujud menjadi air, kembali membanjiri rumah ini setinggi mata kakiku sebelum menguap.
“Kalian memang gila, ya.”
Nindy terlihat kelelahan oleh satu skill itu. Namun wajar saja, dia baru saja mengubah lahar menjadi air, aku rasa aku bisa memaklumi kalau dia kelelahan.
“Sedikit.”, ucap Niira, mengetuk sisi kepalanya. “Lebih baik kita urus hantu itu dulu.”
Orang yang bertarung dengan kami itu masih dalam posisi terduduk dan berdarah-darah, luka bakar dan panah dari berbagai jenis menyelimuti tubuhnya. Kepalanya tertunduk, mengumpat dengan suaranya yang tersisa. Melihat kondisinya yang sudah kritis, aku terkejut dia masih sadar. Kami mendekatinya, memastikan bahwa tidak ada ancaman.
“Ngomong-ngomong Ruma,” Yuvi tiba-tiba berbicara, kebingungan. “kenapa kamu repot-repot pakai kamera untuk melihatnya? Bukannya kamu punya Eye of the Truth?”
Langkahku tiba-tiba terhenti. Benar juga. Kenapa? Ayolah otakku, berpikirlah caranya menutupi kebodohan—maksudku cara menyelamatkan diriku—aaah, kenapa aku sangat bodoh!?
“M-m-aku—ya, kalau cuma aku yang melihat, kalian nggak bisa membidiknya. Ya.”, setidaknya aku bisa mengeluarkan sebuah alasan yang logis (?) Semoga alasan itu bisa diterima olehnya. Aku tidak bisa bilang kalau aku lupa. Untuk saat ini, aku akan mengaktifkan mataku, untuk jaga-jaga. Aaaah, kenapa aktivasinya menyulitkan sekali!?
“Kenapa...”, suara orang itu sangat serak, seperti ia belum meminum air selama tiga hari. Dia melihat pada kami bertiga—maaf, berempat—dan bertanya.
“Kenapa bisa? Kalian... secepat itu...”
Aku hanya bisa diam. Aku tidak perlu menjawabnya. Masalahnya hanya ada satu: Imajinasi. Bayangan miliknya. Imajinasi itu adalah apa yang menguatkan dan melemahkan sihir. Aku diajarkan oleh kakek untuk membentuk berbagai hal dengan sihir hanya dengan aturan bahwa aku tidak boleh menggunakannya untuk kriminalitas. Aku bermain game dengan Yuvi, ditambah dengan asupan anime action setiap hari, juga berbagai manga yang ada di majalah mingguan; semua itu meningkatkan imajinasi atas bentuk sihir.
Namun orang ini, dia hanya mengetahui sihir saat ia menjadi bahan percobaan. Yang dia tahu, sihir hanya dapat digunakan dengan metode ritual, dan itu membatasi sihirnya. Dia beranggapan bahwa semakin banyak orang yang ia tumbalkan, semakin kuat dirinya. Padahal dia memang sudah kuat sejak awal, ia hanya tidak mengetahuinya. Ia tidak makin kuat, ia hanya mengurangi batasan imajinasinya itu.
“Alicia... kenapa kamu masih... hidup...”, ucapnya lagi.
Yuvi melangkah pada Alicia, dan kembali dengan sebuah kalung berwarna perak yang bersinar dengan sayu-sayu. Ah, Yuvi memang selalu mengantisipasi ini.
“Persiapan adalah separuh dari peperangan.”
Tidak lama, polisi pun akhirnya datang. Mungkin karena ada telepon dari warga sekitar bahwa terjadi kebakaran di sekitarnya. Atau karena asap tebal yang membuat mereka terpanggil; yang manapun itu, mereka akhirnya datang setelah sepuluh menit menunggu. Api sudah padam oleh kami, yang kami perlu lakukan hanyalah menunggu tim dari Divisi Khusus untuk menyelesaikan masalah ini.
Kaki dan tangan Yuvi berdarah cukup buruk, karena pecahan gelas dan menahan sihir, namun Niira sudah menanganinya. Alicia hanya terguncang. Tentunya, karena jika Alicia tergores sedikitpun, kami sudah melihat Yuvi menjadi one-hit cannon dengan skill Overdrive miliknya. Zakiel hanya memar di kepalanya karena terhantam tembok. Erika hanya shock. Namun aku lebih shock lagi ketika aku melihat keberadaan aura sihir darinya tiba-tiba. Elemen... takdir?
Ngomong-ngomong, aku hanya sedikit benjol di belakang kepalaku. Namun untungnya aku memiliki kemampuan regenerasi yang lumayan baik, jadi aku tidak begitu peduli.
Pak Revan muncul di saat yang bersamaan ketika para Divisi Khusus itu muncul. Ketika beliau melihat darah pada Yuvi dan memar pada Zakiel, tebak siapa yang dipukuli menjadi abon. Ya, tim Divisi Khusus itu gemetaran ketika pak Revan menghantam wajah temannya berkali-kali sampai polisi harus memisahkan mereka. Dia benar-benar menepati janji yang ia ucapkan di ruangan kami.
Keren.
Akhirnya, dua ambulans datang, berekspektasi bahwa ada dua korban yang perlu mereka bawa. Ya, benar, namun korban pertama adalah sang pelaku, dan korban kedua adalah sang agen Divisi Khusus yang masih ada di genggaman pak Revan. Ekspresi terkejut sopir ambulansnya sangat menarik.
Kami baru bisa keluar dari kantor polisi setelah menjalani interogasi selama beberapa jam, dan itu sudah pukul 12 malam. Para polisi enggan mempercayai kami, namun kami tidak peduli karena kasus ini adalah yurisdiksi Divisi Khusus, dan kami menyuruh mereka untuk berbincang dengan para Divisi Khusus. Dan berhubung agennya baru saja dibawa ke rumah sakit, mereka akan melakukannya suatu hari lain.
Pak Revan menjelaskan kalau dia dulunya adalah anggota penting di Badan Intelijen divisi rahasia, yang ikut terlibat dalam penelitian sihir. Namun dia bertemu ibu dari Alicia saat itu, sebagai salah satu korban. Dan tidak lama, ia membuat proyek itu ditutup dan menyelamatkannya. Namun kurasa sang pelaku sudah mencari pak Revan karena tindakannya membuat dia tidak mampu meningkatkan kemampuannya lagi. Dia menjelaskan itu di depan Alicia, yang kini mengetahui asal-usul dari mendiang ibunya.
Si Joker itu sudah ditangkap sebelum dia bisa bergerak kemanapun. Ya, kami ceroboh, tidak menyadari bahwa jeruji besi yang menguncinya, tidak menguncinya sama sekali. Tiga orang mengalami luka ringan, namun para Divisi Khusus itu berhasil menghentikannya dengan taser.
Malam itu juga, kami kembali ke rumah milik ibu Nindy. Aku tidak akan pernah melupakan senyum bahagia itu dari ingatanku sampai kapanpun, ketika seorang ibu bisa bertemu kembali dengan anaknya yang ia kira sudah mati. Aku bersama tim Silver Butterfly hanya bisa tersenyum, melihat bahwa pertarungan kami benar-benar bisa menyelamatkan seseorang. Ya, meski kurasa sebaiknya kita menghapus nama ‘Investigation’ dari nama klub kami. Penyelidikan itu melelahkan. Dan menyebalkan. Namun setidaknya, aku merasa cukup puas.
Malam berganti pagi. Aku dan Niira memutuskan untuk menginap di rumah Nindy, sementara yang lain sudah pulang setelah makan (larut) malam. Kami hanya memastikan bahwa tidak ada yang akan mengganggu Nindy lagi setelah ini, dan ketika pagi hari, tidak ada jejak kalau dia pernah menginap di ruang jenazah.
Akhirnya, kehidupan normal kami kembali.
Tunggu, seperti apa kehidupan normal itu?
--
Raavi's Afterwords!
Ya, akhirnya selesai juga chapter menyebalkan ini. Aku tidak mampu mengingat banyak hal bersamaan, jadi aku bisa dibilang buruk dalam membuat cerita penyelidikan. Setelah ini, aku akan membuat filler dan aksi saja. Ide siapa sih membuat chapter detektif? Jangan tanya aku. Aku adalah penulis cerita romansa, bukan fantasi.
Ngomong-ngomong, ada yang tahu ke mana pulpen, pensil, rautan, dan correction tape milikku? Halo? Ha--
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk meninggalkan komentar yang membangun! Komentar kamu bisa membantuku mengembangkan kemampuanku lebih jauh lagi, dan komentarmu juga membuatku yakin kalau ada yang baca blogku...