Silver Butterfly
Chapter 1: Introduction
Suara dentingan besi yang beradu, bergema ke seluruh lorong kecil dan panjang ini. Hanya cahaya redup dari lampu-lampu instrumen yang menyinari lelaki bertubuh kecil itu, mengangkat bilah pedang yang setinggi dirinya. Noda merah merias wajahnya, saat ia mengerang, melawan pukulan pria yang dua kali lipat besarnya.
“Kita
akan keluar, Ruma...”
Suaranya
mulai tertutupi oleh dering bel bernada tinggi, memekakkan telingaku hingga ke
titik batasku. Namun, suaranya dengan tenang melawan dering itu...
“...Ayo,
Ruma...”
Dan
mengentakkan tubuhku dari ranjang tidurku.
“Ayo,
Ruma. Kita bakalan terlambat kalau begini.”, ucap lelaki berambut hitam itu.
Aku mengerang
dengan keluhan yang keluar dari tenggorokan beserta seluruh tubuhku. Iya juga.
Hari ini adalah hari pertamaku sekolah.
Dengan erangan
yang penuh dengan keluhan itu, aku mengusir lelaki itu dari kamarku, dan
bergegas mengganti bajuku. Aku sedikit menyesal karena menonton anime tadi
malam, itu membuatku terlalu khawatir dengan pengenalanku lagi... mataku bahkan
enggan untuk membuka dengan benar. Aku memperbaiki ikat rambutku yang
memberikan dua ekor pada kiri dan kanan kepalaku. Ikat rambut yang berbentuk kupu-kupu
berwarna hitam itu sudah kukenakan semenjak aku SMP, dan aku enggan untuk
menggantinya, meski warnanya sudah mulai pudar. Lensa kontak...oke! Aku
menyemangati diriku sendiri dan tersenyum di hadapan cermin.
“Namaku
adalah Ruma Neiki. Umurku lima belas tahun...”
Aku
berdialog dengan diriku sendiri sembari bercermin. Apakah rambutku terlihat
belang? Rambutku merah dari lahir, namun aku baru aja menghitamkannya lagi. Blazerku yang
berwarna biru tua ini terasa longgar, mungkin karena aku diet beberapa hari
ini? Oh, tunggu. Memang blazer selalu dibuat longgar. Kemeja putihku masih pas
di tubuhku. Rok hitam selututku juga masih pas di pinggangku—tunggu,
malah terasa longgar! Dimana ikat pinggangku? Ini adalah hari pertamaku di SMA,
dan aku selalu membenci hari pertamaku dimanapun. Aku gak mau kelihatan bodoh
seperti saat itu di SD dan SMP!
“Santai
saja.” ucap Yuvi dari belakangku, menepuk pundakku. “Hari ini akan menjadi hari
yang luar biasa.”
“Kamu
dapat sihir membaca masa depan atau semacamnya?”
“Nggak,
aku hanya menggunakan Insight di
kamarmu. Aku tahu kalo kamu latihan perkenalan sampai ibumu ngomel setelah kamu
nonton anime.”
Lelaki
itu mengeluarkan senyum bodoh itu dari bibirnya—setidaknya sampai aku memukul
senyum itu dari wajahnya.
“Gak
sopan menggunakan kemampuanmu itu di kamar orang lain! Dan bukannya kamu bilang
namanya kamu ganti jadi Time Peek? Dasar chuunibyo!”
Ia hanya tertawa
walaupun aku melemparinya dengan kepalanku. Kadang aku tidak mengerti apa yang
ada di pikiran laki-laki bernama Yuvi Arata ini. Dengan rambut hitamnya yang
tipis, itu membuat jambul yang membuat orang akan berpikir kalau dia terkena
setruman daya tinggi. Mata hitamnya berkilauan, penuh dengan kenakalan dan
keisengan. Sihir miliknya, Insight, bisa melihat apa yang terjadi di masa lalu
pada ruangan yang ia tempati, pada rentang waktu maksimum tiga hari. Ia bisa
menggunakan hal itu untuk membuat contekan ketika ia mengikuti ujian, atau
menggunakan itu untuk mengambil sekolah khusus kepolisian. Tapi, ia malah
mengikutiku masuk ke SMA swasta, dan sihirnya hanya menjadi mainannya saja.
Spesifiknya, untuk menggangguku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya.
Aku
membalikkan tubuhku, mengambil tas sekolah berwarna kelabu itu, dan mengatur
peta pada ponselku menuju SMA Internasional Reater. Tunggu, apa kita butuh peta
untuk ke sana? Aku menoleh pada Yuvi, yang biasanya sudah mengantisipasi setiap
jalur yang harus kita lewati. Kemampuan otaknya dan kemampuan ‘spesial’
miliknya tak bisa kuragukan bahkan sedikit pun, dan aku yakin dia selalu
menyiapkan semuanya.
“Kamu
tahu tempatnya, gak?”
Ya, aku
akan mencoret semua pujian itu. Menghela nafasku, aku membuka kembali peta pada
ponselku, dan ponsel itu menunjukkan jalur yang kita perlu tempuh hanya dalam
waktu satu detik. Sebenarnya, jaraknya tidaklah jauh--hanya sepuluh menit dari
rumahku--namun, melihat kondisi negara kita yang sedang tidak tenang…
“Jalan
Marik 7 masih ditutup karena kecelakaan tadi malam, dan jalan Malaka juga masih
dianggap berbahaya...”
Aku
mengingatnya karena semalam ada breaking news mengenai pertempuran antar
geng Equinox dengan keluarga mafia klan Rieko. Polisi berusaha menginterupsi,
namun tidak banyak yang bisa polisi dengan pistol murahan lakukan untuk melawan
pertempuran sihir tingkat tinggi. Sudah tiga hari pertempuran berlangsung, dan sampai
tadi malam kami masih bisa mendengar suara teriakan mereka. Agak mencekam,
namun aku setidaknya memiliki headphone.
Aku
merubah rute pada ponselku, dan setelah beberapa kali percobaan, ponsel itu
mulai melakukan perhitungan, mengganti jalur yang harus kita tempuh. “...dan
kelihatannya ada perbaikan jalan pada Reca 11. Oke, aku menemukan jalannya.”
“Nice job~”, ucapnya dengan aksen bahasa
Internasional yang rusak, yang membuatku geleng-geleng kepala.
“Diam, Chuunibyo.”
“...dan untuk cuaca pagi ini. Pada kota Revore, cuaca diperkirakan masih cukup dingin dengan suhu maksimum 18 derajat Celcius...”
Begitulah suara yang dikeluarkan oleh televisi yang ayah tonton. Ia tidak bergerak sedikitpun dari kursinya. Mungkin ia tertidur. Entahlah, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berbicara dengan ayahku, dan kurasa ia juga tidak mau berbicara sekarang.
Aku mengambil sepotong roti yang sudah tersedia di meja makan. Mungkin ayah membuatkannya untukku? Ah tidak, dia palingan hanya tidak sengaja membuat terlalu banyak. Bahkan ia tidak menambahkan apapun ke dalam rotinya, mengonfirmasi teoriku. Namun selama ia memberikanku uang, aku tidak begitu peduli terhadap apa yang ia pikirkan.
“Ayah, aku berangkat!”
Ia tidak menjawabku.
Pagi
yang melelahkan dan membosankan. Aku bisa menyatakannya seperti itu.
Dimulai
dari upacara pembukaan yang sangat membosankan itu. Ya, walau setidaknya kepala
sekolah kita, pak Revan, mencoba membuatnya sedikit menarik dengan melakukan pidato
sembari rap—oke, itu tidak menarik. Sedikit pun. Dan ia cukup berhasil dalam
merusak impresi awalnya sebagai kepala sekolah yang gagah, menjadi kepala sekolah
yang kebanyakan makan gula.
Setelah
itu dilanjutkan dengan pengenalan siswa. Walau menyebalkan, setidaknya semua
yang aku latih sejak berhari-hari yang lalu, menggunakan anime sebagai referensi;
semuanya tidak sia-sia. Setidaknya, aku tidak mengacaukan ucapanku dan menyebut
nama keluarga Yuvi sebagai namaku lagi. Ya, itu terjadi.
“Kurasa
Yuvi benar: Ini adalah hari yang baik.”, awalnya itu yang di pikiranku.
Namun,
setelah perkenalan siswa, ada acara yang ternyata terlalu menyeramkan bagiku:
Klub.
Aku
menghela nafasku. Aku bukanlah orang yang mudah lelah secara fisik, namun semua
ini selalu menyebalkan.
“Aku
tahu kalau akan ada pengenalan klub,”, ucapku lelah, menyapu keringat dari
dahiku. “tapi mereka mengerubungi kita kayak semut! Untung kita masih dikasih
satu jam istirahat!”, keluhku lagi, sembari meminum susu stroberi kotak itu.
Laki-laki
kurus yang duduk di hadapanku itu hanya terdiam, membolak-balik kumpulan brosur
ekstrakurikuler yang ada di tangannya itu sembari menyuapi mulutnya dengan potongan
ayam. Ia tidak terlihat tertarik pada satu pun yang ada di kumpulan brosur itu;
ia hanya membolak-balik tiap lembarnya tanpa arah.
“Mungkin
aku gak ikut klub mana pun.”, ucapnya, sebelum melipat kertas-kertas
itu, dan memasukkannya pada kantong celana berwarna hitamnya.
“Eeeeh...
energimu menghilang begitu saja. Bukannya kamu yang paling hype dan menyeretku ikut ke klub saat kita SMP?”
Ia
benar-benar tidak tertarik. Tidak sedikit pun. Malah, fokusnya seakan bukan
kepada lembaran itu.
“Kamu
rencananya ikut kendo, kan, Ruma?”
“Kakek
bilang kalo aku nggak butuh kemampuan berpedangku dibatas-batasi oleh teknik,
dan, aku sudah janji kalau--”
BRAKKK!!!
Ucapanku
dihentikan oleh suara hentakan meja yang keras. Suara itu bergema ke seluruh
bagian kantin, menghentikan keriuhan para murid. Seorang laki-laki tinggi
sedang memaki salah seorang dari kami, anak kelas
satu, yang duduk sendirian dengan makanannya yang kini tumpah berantakan. Gadis yang dilabrak itu
hanya terdiam ketika lelaki itu memakinya dan menumpahkan makanan yang ada di
mejanya.
“Ngaku
lo sekarang!”
Hanya
itu yang terdengar oleh telingaku, yang berada pada jarak yang jauh dari
keributan itu. Dan laki-laki itu tidak sendiri. Teman-temannya mengelilingi
dirinya (walau satu orang ada di belakang, enggan untuk terlibat), bagaikan
mencegah gadis itu untuk lari. Gadis itu, meski terlihat tenang, terlihat
sedikit ketegangan di matanya yang ia sembunyikan. Apakah aku boleh
membantunya? Aku tidak ingin ikut campur masalah mereka, namun, jika aku…
“Tolong
jangan konyol.”
Suara
rendah dan halus itu menghentikan teriakan para pria yang bergerombol dari
gadis itu. Rambut berwarna hitam beserta jas sekolah berwarna biru hitamnya
berkibar karena dihembus kipas angin, membuatnya terlihat seperti seorang pahlawan
di siang bolong. Mata hitam, hidung mancung, dan cukup tinggi. Dan aku
menyadari orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu sudah tidak lagi duduk di
depanku.
Si chuunibyo bodoh itu.
*
Sebuah
keheningan di ruangan besar yang menegangkan setelah mereka datang. Tidak ada
yang berani menantang keributan ini bahkan dengan suara nafas mereka sendiri.
Mereka hanya mampu untuk melihat, ketika gerombolan siswa kelas dua datang dan
menyerang gadis itu. Kecuali untuk satu orang. Dan orang itu adalah orang
terbodoh yang pernah kukenal.
“YUVI!?”
Tercebur
apa lagi dia!? Aku bergegas menghampirinya, namun, ia membuat gerakan empat
jari pada tangannya dengan ibu jari terlipat, melambaikan jarinya dari kiri-ke-kanan,
dan menghentikan pergerakanku. Kenapa ia memberi aba-aba ‘berhenti’ sekarang,
dan di depan umum!? Kamu mau semua orang melihatnya!? Aku menepuk wajahku saking
malunya.
“Saya
mendengar sebagian dari keributan kalian.”
Ia
melangkah maju kepada empat orang itu secara perlahan.
“Kenapa
kalian bisa berpikir bahwa anak kelas satu mampu melakukan ‘itu’?”, lanjutnya.
Aku
mengendap-endap, bersembunyi melewati siapa pun—apa pun, mencoba mendekat ke
arah mereka. Pria yang berambut merah itu melangkah maju mendekati Yuvi, hingga
tidak ada jarak yang berarti bagi mereka. Pakaian tanpa atribut, rambut yang
diwarnai merah; ia terlihat seperti gimmick
preman yang biasa ditonton ibuku setiap jam tujuh malam di masa lalu. Namun,
tubuhnya kelihatan seperti ia mampu melontarkan Yuvi menembus galaksi hanya
dengan satu pukulan.
‘Mundur, Yuvi!’, pikirku. Namun, ia sama
sekali tidak mundur. Malah, ia seakan menerima tantangan berkelahi dari si
rambut merah itu. Hanya memberikan senyuman kecil di bibirnya saat orang itu
mendekati wajahnya.
“Mundur,
bocah.”, ucap orang itu, seakan menyalin apa yang ada di pikiranku.
Yuvi
hanya menatapnya dengan sinis, dan tersenyum. “Gue gak ngomong ke cecunguk. Gue ngomong ke bos lu yang di
belakang sana.”
Apa
yang kamu lakukan, bodoh!? Ia seakan menantang orang itu secara terbuka! Kita
masih di sekolah, bodoh... ada CCTV dimana-mana! Apa yang ada di pikirannya?
Kenapa ia bertindak ceroboh begini? Ia tidak pernah bertindak se ceroboh ini,
ia selalu mengalkulasi tindakannya. Tunggu, Ruma... Ini bukan saatnya
bertindak. Ia pasti mengetahui sesuatu.
Laki-laki
berambut merah itu sudah mengepal tangannya, kelihatannya siap melayangkan
sebuah pukulan. Aku bersiap-siap untuk yang terburuk, bersiap untuk maju dengan
semua kemampuanku. Aku bahkan sudah bersiap untuk berlari dan menahan pukulan
itu karena Yuvi tidak akan mampu menahannya.
“Cukup,
Ivan.”
Suara
seorang laki-laki yang terdengar tegas dan formal itu datang dari belakang
mereka. Beda dengan teman-temannya, ia terlihat seperti siswa normal, dan tidak
terlihat seperti berandalan, bahkan sedikit pun. Rambutnya hitam pendek, ia
mengenakan semua atribut sekolah dengan lengkap, sama sekali tidak ada tanda
bahwa ia merupakan salah satu dari mereka.
“Udah
gue bilang, cuma dia yang mungkin jadi pelakunya! Dia itu--”
“Dia
itu anak kelas satu yang kamu ganggu di hari pertamanya. Orang itu benar, tidak
mungkin gadis itu yang memulai semua ini.”
Orang
itu memutar balik, dan melangkah menuju pintu kantin yang terbuka lebar itu.
Sedangkan teman-temannya, terutama orang yang dipanggil Ivan itu, enggan untuk pergi,
namun hanya menatap ke arah temannya yang baru saja melakukannya.
“Dan kamu. Mereka
adalah temanku; bukan anggota geng atau semacamnya.”
Ia berkata itu
pada Yuvi, sebelum ia meninggalkan ruangan kantin sepenuhnya. Semua orang
kelihatannya mampu bernapas lega sekarang, termasuk diriku. Aku hanya membutuhkan satu keping lagi dari puzzle yang diberikan oleh Yuvi padaku. Apa yang Yuvi maksud dengan ‘itu’?
“Psst. Bos lu udah pergi. Ga ikut?”, Yuvi
kembali memancing amarah dari orang yang berambut kuning itu. Namun, bukannya
mengganggu provokasinya, aku mencoba menganalisis apa yang Yuvi ingin sampaikan
padaku.
“Ayolah,
pikir aja. Kok bisa anak kelas satu
yang baru masuk, bocorin rahasia anak kelas dua yang bahkan gak dia kenal?
Bukannya itu nggak nyambung? Mungkin gadis ini bisa hacking, tapi bukan berarti dia buang-buang waktunya buat isengin
orang yang gak dia kenal.”
Jadi
begitu. Aku merasa mengingat soal ini saat aku melewati lorong kelas. Sebuah
berita karya klub koran yang muncul di mading tadi pagi. “Westernspy Kembali Menyerang!?” adalah judul yang tertera pada
mading, dan juga pada brosur di klub koran yang kuambil dari kumpulan
brosurnya. Namun, kenapa mereka menuduh anak kelas satu? Hanya berdasarkan kata
‘kembali’, bahkan aku menyadari bahwa ini bukanlah yang pertama. Dan karena itu
juga, itu adalah sebuah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh anak kelas satu
di hari pertamanya. Berarti antara ia sangat bodoh, atau…
“Ayolah...
lu pasti menuduh gadis ini dengan sebuah alasan, bukan?
Alasan yang gak kamu mau orang lain tau. Kenapa, apa lu ada di daftar korban selanjutnya? Dia ngancem kalian?”,
Yuvi mencoba memancing amarah mereka kembali.
Namun,
aku melangkah maju ke arah mereka, memisahkan antara Yuvi dengan orang ini.
“Mau
apa lu, cewek!?”, ucapnya mengejek.
Aku
hanya menatapnya tajam. Dia menatapku dengan mengejek. Namun aku ingin dia
menyerangku. Ayolah, serang aku. Serang aku. Bagus, tangannya melayang ke
arahku.
Dengan
gerakan yang singkat, aku menarik lengannya itu ke bahuku, dan membantingnya
seperti karung gandum. Setelah ia mengerang kesakitan dan mengumpat, ia
bergegas mundur. Ia sudah mengerti ancaman dariku.
“Kalau
kamu nggak mengerti cara bersopan santun, aku bersedia mengajarimu.”,
singgungku.
Ia hanya berbalik badan dan melenggang pergi, meninggalkan
kami tanpa suara. Temannya pun melakukan hal yang sama, dan melangkah pergi.
Bahkan temannya itu membungkuk dulu sebelum mereka pergi, seakan meminta maaf
atas kebodohan temannya.
Aku
menghela nafasku, menghilangkan semua ketegangan dari tubuhku. Aku sungguh tidak mau
tahu apa yang akan terjadi kalau mereka lepas
kendali karena tindakan Yuvi. Lagi pula, kenapa Yuvi memancing amarah mereka?
Apa dia punya tujuan tertentu? Yuvi memang sering bertindak gegabah, namun ia pasti memperhitungkan sesuatu. Aku yakin akan
hal itu.
“Uwaaaaah! Aku
terlalu ekstrem...! Keceplosaaaaan...!! Aku hampir jadi samsaaaak!!”
Dan sekali lagi,
aku terlalu meninggikan dirinya. Seharusnya sudah kuduga. Dia penggila damsel
in distress. Ia melewati batas karena tidak sengaja. Kenapa aku menduga
yang lain. Namun,
“Terima
kasih.”
Tersangka
atas semua ini, gadis berambut pirang yang duduk terdiam sepanjang keributan
ini, angkat bicara. Rambut bergelombangnya hanya sebatas dadanya, membentuk wujud dua angin puyuh, dan
aku melihat aset tubuhnya yang lain... tidak, dengan ukuran dadanya, itu hanya
akan menyulitkan pertarungan!
Matanya yang
berwarna biru samudera itu menatap kami dengan lelah. Suaranya
agak bergetar, namun sangat lembut seperti lantunan melodi biola. Dan Yuvi terlihat tersipu hanya dengan itu...?
“B-Bukan
suatu masalah.”, jawabnya sembari tersipu. Aku baru kali ini melihat Yuvi tersipu
seperti itu. Wajahnya memerah, dan tingkahnya aneh; menggaruk-garuk
kepalanya sambil memalingkan wajahnya. Entah mengapa,
aku kesal melihat tindakannya yang aneh begitu.
“Ehem.”
Dan aku memotong
percakapan canggung mereka. Kelihatannya gadis itu sama sekali tidak sadar akan
keberadaanku di sini, melihat reaksinya yang agak terkejut melihatku.
Kami bertiga
duduk bersama di sebuah meja panjang, di dalam ruangan besar di gedung C yang terlihat seperti lab sains
yang ditinggalkan. Perangkat-perangkat berukuran besar yang ada di sini
ditutupi oleh kain berwarna putih yang kusam. Bahkan warna catnya masih
berwarna putih-hijau, bukan cat berwarna putih-biru pastel seperti yang ada di
gedung A atau B.
Setelah kita
menghilang dari TKP yaitu kantin, barulah aku menyadari bahwa ia adalah teman
sekelas aku dan Yuvi: Alicia. Ia lebih tinggi dariku sedikit, berambut pirang
natural, dan matanya yang besar dan benar-benar membuat Yuvi terpana. Namun...
“Apa kita
benar-benar boleh di sini?”
Yuvi meragukan
gadis bernama Alicia itu. Sebenarnya, keraguannya bukan tanpa alasan. Karena
gedung ini, selain digunakan untuk tempat berkumpul untuk acara besar seperti
upacara pembukaan, tidak digunakan untuk apapun lagi. Banyak yang menyebut
gedung ini ‘angker’, ‘mengerikan’, dan ‘horor’, ucap beberapa orang yang
mengaku alumni dari SMA ini di sebuah forum internet yang pernah kubaca. Dan
gadis itu mengiyakan kata batinku.
“Walau kita nggak
boleh di sini, siapa yang mau kesini? Mereka sudah keburu kencing berdiri
sebelum menapakkan kaki ke pintu gerbang atau pintu jembatan penghubung, gak
perlu memikirkan siapa yang mau ke lantai ini selain orang yang punya nyali.”
Gadis itu
mengeluarkan sebuah laptop dari bawah kakinya—yang ukurannya cukup besar untuk
menjadi sebuah tameng perang—dan meletakkannya di meja tua itu. Meja itu bahkan
bergetar ketika benda itu menghantam permukaannya.
“Lagipula, tadi
kamu mau tahu kenapa mereka mengincarku, kan? Kalau kamu takut sama hantu, kamu
akan lebih takut dengan apa yang bakal kalian hadapi jika kalian tetap terlibat
denganku.”
Ia membuka laptop
itu, dan layar laptop itu menyala dengan segera, tanpa menunggu perintah apapun
darinya. Dengan sekejap, ia sudah memasuki layar utama dari laptop itu.
“Dua bulan lalu,
ada peretasan besar-besaran di
seluruh jaringan komunikasi kota Revore. Orang ini, memberi nickname pada dirinya sebagai WesternSpy, mengirim tautan situs ke
sejumlah siswa, dimana beberapa rahasia beberapa siswa kelas dua dan tiga
dibongkar.”
Ia sibuk mengetik
dan memindah-mindahkan kursornya, tidak memalingkan pandangannya. Ya, tidak
lama lalu, pemerintahan Ethera mengakui bahwa terjadi peretasan besar-besaran
yang menyerang basis data kependudukan mereka. Pelakunya tidak pernah
ditemukan, begitu pula dengan motifnya.
“Dan tentunya, seisi sekolah ikut melihat situsnya. Aku mencoba melacak orang ini, namun aku malah dijebak olehnya; identitasku nyaris terkuak! Sekarang, banyak orang yang mengenaliku sebagai seorang ‘hacker’, namun karena aku adalah siswi kelas satu, kupikir nggak akan ada orang bodoh yang mungkin mengait-ngaitkanku dengan mereka...”
Ia melihat pada
kami berdua, yang kebingungan mengejar apa yang ia ucapkan; terlalu banyak
informasi yang ia berikan dalam waktu yang pendek itu membebani otakku. “Karena
menolongku, kalian jadi nggak sengaja ikut terbelit kasus ini. Maaf.”
“Apa maksud kamu?
Terlibat apa sebenarnya kita?”
Aku mulai membuka
mulutku. Aku sudah cukup terdiam dan membiarkan Yuvi mengurus semuanya. Ia
terlalu terpana oleh gadis ini.
“Privacy Invasion, mudahnya.”, ucapnya.
“Yup. Tiga bulan
lalu: anggota dewan kehilangan data pribadinya. Dua bulan lalu hingga sekarang,
siswa Reater High. Timingnya terlalu tepat untuk menjadi kebetulan, namun
terlalu absurd untuk menyambungkan koneksi antar keduanya. Pertama anggota
dewan lalu siswa SMA, itu sama sekali nggak masuk akal.”, lanjutnya membaca
pikiranku.
“Tapi, walau kita
sudah memiliki identifikasi kependudukan, seharusnya nggak mungkin data mereka
sedetail itu, kan? Kalau rata-rata siswa SMA adalah 15 hingga 17 tahun, mereka
hanya punya, kayak, 2 tahun data. Dan nggak mungkin mendetail hingga ke rahasia
gelap mereka.”
Aku tahu dengan
benar itu. Kota Revore sendiri memiliki 3 juta penduduk, dan total penduduk di
negara Ethera mencapai 30 juta. Memiliki data mendetail tentang kami adalah hal
yang mustahil.
“Ya, itu dia.
Berarti data mereka bukan datang dari basis data negara, namun yang paling
dekat seperti sekolah. Namun, aku mengotak-atik koneksi internet di SMA ini
semenjak itu: Server, Wi-Fi, CCTV, sampai ke mesin absensi; dan percayalah
padaku saat aku bilang jaringan kita aman. Bahkan, terlalu aman. Setara dengan
keamanan gedung Intelijen, setidaknya. Mereka nggak mungkin mencuri data apapun
dari atau melalui koneksi sekolah. Bahkan mereka nggak akan bisa melakukan PING
tanpa terlacak.”, terang Alicia.
Ia membuka web
browsernya, dan menulis sebuah alamat yang tidak aku kenali. Tak ada sedetik,
laman itu langsung terbuka. Dan aku mengerti kenapa ia bilang kita akan lebih
takut dengan orang ini.
“’Pencuri! Siapa
pun Yang Kehilangan Barang, Interogasi Orang Ini’. Apa apaan ini?”, ucap Yuvi
kesal.
Ada sebuah gambar
laki-laki di ruangan guru yang sedang merogoh sebuah tas, dari sudut yang tidak
biasa. Ini tidak diambil dengan kamera CCTV. Ini lebih terlihat seperti gambar
yang diambil oleh seseorang yang tinggi. Ada artikel yang cukup panjang, namun
Yuvi tidak memiliki niatan sedikit pun untuk membacanya. Begitu pun diriku.
Yang dapat terlihat selanjutnya adalah tangkapan layar dari seseorang yang
mengirim pesan ke temannya untuk menjual ponsel.
“Buktinya
sebenarnya terlalu semu, tapi tetap saja... siapa pun pasti akan meragukan
temannya setelah melihat hal seperti ini. Kebanyakan dari berita ini adalah
omong kosong. Namun, ia menggunakan bukti tidak langsung, yang membuat
kalimatnya bisa diputar-putar.”
Ini benar-benar
liar. Seperti ucapan Alicia, orang ini sebenarnya tidak memiliki bukti yang
sangat kuat. Namun, dengan kalimatnya yang menggiring opini, ini benar-benar
bisa digunakan untuk memancing keributan. Aku membuka laman yang lain, dan
mulai menemukan kaitan semua ini.
“’Hati-hati!
Orang-orang Ini Dijamin Akan Mencuri Kekasih Kalian’. Hei, bukannya ini kakak
yang tadi?”, aku membaca artikel selanjutnya yang muncul di bagian paling bawah
dari laman itu. Alicia hanya mengangguk.
“Dan Westernspy
ini seperti hantu. Sampai detik ini, aku masih belum berhasil melacak dari mana
ia mengirimkan pos ini. Situs: Anonim. Akses: Anonim. Tanpa aku sadari juga,
aku kena jebakannya. Kalian mau tahu kenapa aku diincar, kan?”, ucap Alicia.
Tanpa menunggu jawaban kami, ia dengan cepat menelusuri laman hingga paling
bawah, dan yang tercantum darinya...
“’Bayaran yang
besar untuk info dari Alicia, Yuvi, dan Ruma, kelas 1-A’. Maaf, ternyata kalian
sudah mulai diincar.”
*
Setiap manusia pasti memiliki rahasia yang ingin ia sembunyikan seumur hidupnya. Itu adalah hal yang wajar. Kita tidak akan mau orang yang dekat dengan kita untuk menjauhi kita hanya karena kita memiliki perbedaan pandangan dengan mereka, bukan? Atau merusak persahabatan karena mereka menyukai orang yang sama? Bahkan, mungkin juga merahasiakan bahwa kita mau memberikan kado ke orang yang kita cintai untuk memberikan sebuah kejutan yang romantis. Itu adalah bagian dari manusia.
Namun, orang ini merusaknya. Seseorang yang kelihatannya memiliki fantasi bahwa ia bisa mengendalikan hidup manusia dari balik layarnya. Orang bernama WesternSpy ini, mencuri rahasia orang, dan mengeksposnya, bahkan membuat sebuah situs beserta menyediakan rahasia ini dalam bentuk sebuah berita, seakan mereka adalah artis ternama. Ia mencoba mengganggu kehidupan orang lain dengan berita-beritanya ini.
Dan sekarang, orang ini mencari kita. Aku, Yuvi, dan gadis bernama Alicia ini, entah bagaimana terjebak di tengah-tengah dari kasus ini. Kita yang hanya siswa dan siswi kelas satu, yang bahkan benar-benar di hari pertama sekolah kita; tiba-tiba diincar oleh seorang penjahat internet yang meretas puluhan orang tanpa pandang bulu.
Banyak pertanyaan yang ingin aku utarakan, sebenarnya. Kenapa ia melakukan sesuatu seperti ini? Bagaimana dia melakukannya? Kenapa ia membuat situs dan membuatnya terlihat seperti media berita? Dan yang paling aneh? Kenapa ia tidak mencari data tentang kita oleh dirinya sendiri, dan justru memberikan bayaran ke orang yang mendapatkan info soal kita? Aku merasakan kejanggalan atas masalah ini. Dan lagi...
“Tunggu. Bisa naik ke atas?”
Aku mencurigai sesuatu. Penggunaan kata-katanya sangat familier. Kenapa aku seperti pernah melihatnya? Alicia, keheranan, mengikuti kemauanku, dan menaikkan laman itu kembali ke atas, dan memerhatikan judulnya. Dan dugaanku benar. Walau kemungkinannya kecil bahwa ini berkaitan, tapi aku melihatnya.
“Penulisan judulnya. Mirip dengan brosur dari klub koran.”
Ya, tidak salah lagi. Penulisannya, jenis hurufnya, ini terlalu sama untuk menjadi sebuah kebetulan. Aku membuka laman itu, dan dengan segera, aku melihat kesamaan penggunaan katanya. Aku membuka lembaran brosur itu dari kantong jaketku, dan meletakannya di sebelah laptop besar itu. “Cara ia menyusun kata, bahkan dari judul saja, sudah terlihat. Bukannya itu aneh?”, ucapku. Namun, Yuvi menolak teoriku.
“Hanya kesamaan penggunaan kata nggak cukup untuk menuduh seseorang, Ruma. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat dari itu, atau kita sama saja seperti orang ini.”, ucapnya.
“Temanmu ada benarnya, loh, um... Ruma. Kita ngga bisa nuduh, karena mungkin saja ini kebetulan. Kecuali kita punya sesuatu yang kuat, atau tahu cara mereka dapat ini semua—“
“Kenapa kita ngga tanya ke kakak kelas yang tadi?”
Alicia tidak terlihat mendukungku. Namun, sebelum ia bisa berkata apapun, Yuvi membuka mulutnya lebih awal.
“Yosh! Mari kita menjadi detektif!”, ucapnya dengan semangat membara.
Setidaknya, semangatnya membara pada saat itu. Aku sudah bisa memprediksi pikirannya di masa depan. Dan aku tidak membutuhkan sihir untuk melakukan itu. Karena, setelah tiga puluh menit berputar-putar ke ruangan klub dan ruangan kelasnya, ia sudah kehilangan semua semangat.
“Ah, aku lelah. Dan lapar. Dan jam istirahat kita sisa sepuluh menit...”
“Lapar!? Setelah memakan dua potong ayam goreng dan sebagian makan siangku?”
Yuvi terlalu bersemangat saat itu, sampai ia melupakan beberapa hal. Pertama, kita tidak tahu nama kakak kelas itu. Kita hanya tahu nama orang yang melabrak Alicia: Ivan. Dan kita tidak tahu nama belakangnya, jadi mencari orang ini pun seperti mencari jarum di gudang jerami.
Kedua, bahkan jika kita ketemu dengan dia, teman-teman (atau anak buahnya) pasti masih mengekor dengan dia. Dan jika itu terjadi, aku tidak ingin membayangkan keributan seperti apa yang mungkin terjadi. Terutama setelah Yuvi membuat provokasi pada orang-orang itu sampai mereka nyaris menyerang kita di depan umum. Aku bisa saja meninggalkan Yuvi dan berangkat sendiri, namun, itu jauh lebih berbahaya.
Ketiga, kita sekarang juga diincar. Kalau kita terlalu mengekspos diri kita, mungkin kitalah korban selanjutnya. Tapi, aku ragu dengan masalah ketiga ini.
WesternSpy, siapa pun orang ini, akan membayar untuk informasi tentang kita. Ada dua arti dibalik ini. Arti pertama, kita sudah disorot oleh orang ini, dan mungkin kita akan diincar oleh orang-orang yang ingin uang cepat. Arti kedua, berarti ia tidak mampu mencari siapa kita dengan tangannya sendiri. Aku agak sedikit lega akan hal itu. Itu berarti kita tidak bisa disentuh...untuk saat ini. Alicia saat ini mencoba mencari info apapun yang bisa kita manfaatkan soal ini sembari menyembunyikan data-data kami yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh orang itu, sedangkan kami mencari keberadaan kakak kelas itu. Setidaknya itu yang akan, dan sedang aku usahakan.
Sementara itu, Yuvi...
“Tapi aku akan berjuang! Demi senyum Alicia!”
...sudah terpanah asmara.
“Ya, ya. Terserahmu.”, ucapku, yang jengkel karena keanehannya. “Ah, terlibat apa aku di hari pertama SMA-ku...”
Kita berada di lantai paling atas dari gedung A: lantai keempat. Lantai ini hanya dihuni oleh murid kelas tiga dan ruangan OSIS, dan sebagian besarnya adalah atap. Tembok yang mengarah keluar diisi oleh kaca yang digelapkan agar tidak membuat lorong ini menjadi lorong sauna, berukuran besar dari dasar lantai hingga ujung atap. Bahkan, pintu keluar menuju halaman di atap itu pun menggunakan kaca. Meskipun begitu, di musim semi seperti Februari ini kita tidak perlu mengkhawatirkannya, bukan?
“Tapi sungguh, deh. Gimana cara kita mencari dia?”, ucap Yuvi lemah.
Aku melihat ke sekelilingku, bertanya-tanya pada orang-orang di sekitar lantai ini, namun tanpa hasil.
Lampu sekolah kami tiba-tiba mati tanpa aba-aba, dan kami merasakan sedikit getaran di lantai yang kami pijak. Ada sedikit teriakan kecil yang terdengar, namun begitu lampu kembali menyala. Apa-apaan itu? Apa ada seseorang yang mengeluarkan sihir tingkat tinggi? Aku bersandar pada kaca film itu untuk melirik ke arah luar.
“Hei Yuvi, apa bahasa Ethera dari ‘Speak of the devil’?”
Aku menunjuk pada laki-laki berambut pendek hitam yang berdiri di luar sana, sendirian. Aku tidak melihat siapa pun selain dia di sana. Tidak ada teman-temannya, bahkan siapa pun. Kancing blazernya dikendurkan, dan ia seperti menatap kosong dan lurus ke depan. Ia mulai mengangkat kaki kanannya, dan menapakkannya pada tembok pembatas yang pendek itu, disusul dengan kaki kirinya.
Dan dengan seketika, waktu melambat.
Atau pergerakan dan pikiranku yang semakin cepat. Pergerakan anak-anak lain seketika melambat. Daun-daun pun begitu. Detik jarum jam yang ada di tangan Yuvi pun enggan untuk bergerak. Namun, aku dan Yuvi tidak merasakan keterlambatan itu. Nafasnya, detak jantungku, masih memiliki tempo yang sama, jika tidak makin cepat. Ah, berarti itu terjadi lagi.
Tidak seperti Yuvi dan Insight-nya, yang mampu melihat ke masa lalu yang terjadi pada suatu ruangan, salah satu kemampuanku adalah merusak jalannya waktu. Kemampuan yang belum dapat aku kendalikan sepenuhnya. Dan walau aku tidak menyukainya dan dibuat tanpa persetujuanku, Yuvi memberikannya sebuah nama:
Tear.
Berarti robekan, atau air mata. Ia menamakannya seperti itu karena hal ini terjadi dulu saat aku menangis, ketika perang sipil dua tahun lalu. Dan karena ia mendengar suara sobekan kertas yang keras ketika itu terjadi, padahal itu bukanlah karena sihirku. Meskipun aku tidak menyukainya, aku harus menggunakan itu sebagai nama-tidak-resmi-nya.
“Timing yang bagus, Ruma. Ayo, sebelum Tear milikmu berhenti.”, ucap Yuvi dengan suara yang pelan, sebelum meninggalkanku.
Ia perlahan membuka pintu keluar itu, dan dengan enggan, aku menyusul mengejarnya.
Dan benar saja. Seketika setelah aku melangkah keluar, Tear sudah selesai, dan aku hampir terperosok karena efek samping dari Tear saat bergerak adalah kehilangan keseimbangan untuk orang yang bergerak. Ya, bukan skill yang benar-benar berguna.
Lelaki yang berdiri di pagar pembatas itu menengok padaku dengan lemah. Matanya merah pekat, dan terlihat kilauan redup menuju pipinya yang memantulkan sinar mentari yang sedang berada di ufuknya. Entah karena menangis, atau karena ia mabuk; atau keduanya. Yang aku tahu, laki-laki ini dalam masalah jika aku mengabaikannya. Rambutnya acak-acakan, bagaikan seseorang yang baru saja bangun tidur. Aku merasa ada yang salah dengan penampilannya. Aku tidak melihat auranya bermasalah, yang akan terjadi jika seseorang menangis atau marah. Aku juga tidak mencium bau alkohol darinya. Dia sadar sepenuhnya.
“Halo, kak.”, aku menyapanya dengan halus. Ia tidak bergerak dari sana, atau mengucapkan sepatah kata pun.
Aku melangkah mendekatinya, dengan perlahan hingga ia tidak merasa terancam, namun cukup cepat agar aku bisa mencapainya sebelum wisuda...ah, ini bukan waktunya bercanda!
“Apakah nyaman berdiri di sana? Dingin, kan? Kenapa kita nggak duduk aja?”, ucapku.
Dengan hati-hati, aku menaiki pagar pembatas tersebut, dan duduk di tepian antara hidup dan mati. ‘Jika ada angin berhembus dari belakang, mungkin nyawa orang ini akan lenyap sia-sia, dan aku juga akan mati konyol’, pikirku. Orang itu tidak begitu suka dengan keberadaan kami, namun karena kecepatan pergerakanku tidak mampu disadarinya, ia hanya memaki.
“Apa maumu? Bagaimana kalian bisa masuk kesini? Bagaimana kalian bisa masuk secepat itu? Jangan ganggu aku!”
“Satu-satu, ya. Bagaimana bisa? Kami melewati pintu. Bagaimana bisa secepat itu? Itu rahasia. Dan aku mau membantumu, kak. Namun, aku nggak bisa bantu apa-apa kalo kamu nggak bantu aku.”, ucapku dengan tenang.
Aku tidak melihat wajahnya. Aku tahu kalau itu akan membuatnya tidak nyaman. Di saat seperti ini, bahkan ia malu jika wajahnya dilihat oleh lalat sekalipun. Itu adalah apa yang kakek ajarkan padaku. Namun apakah begitu? Ia tidak terlihat seperti orang yang ingin bunuh diri, meskipun penampilannya seperti itu.
Setidaknya, itu yang aku lihat melalui skill keduaku yang juga tidak dapat aku kendalikan, Eye of the Truth. Lagi-lagi, itu adalah nama yang diberikan Yuvi. Namun kurasa ini adalah nama resminya. Dengan mataku ini, aku bisa melihat aliran aura dan sihir dari seseorang. Tidak terdengar keren tanpa nama itu, ya. Ya, ini skill menyebalkan yang membuatku sulit melihat warna tanpa lensa kontakku.
“Semua itu adalah kebohongan! Aku nggak terlibat apapun dengan cinta segi enam bodoh—aku bahkan nggak suka sama gadis yang mereka anggap aku sukai. Aku difitnah!”
Cinta segi-enam? Apa yang ia maksud dengan cinta segi enam? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Apakah ia diancam oleh Westernspy itu, hanya orang itu belum menerbitkannya? Seingatku, bukannya dia dituduh mencuri pacar orang? Masa bodoh. Aku harus menurunkannya dari sana.
“Kalau begitu, buktikan.”, ucapku datar. “Buktikan pada temanmu, pada gadis itu, pada sekolah ini, pada dunia. Jika mereka nggak peduli, dan hanya mau gosip hangat yang seru, bukan pada fakta, buktikan itu pada kami, dan kami akan bantu kamu membersihkan namamu.”
“Dan saat kami menangkap bedebah yang mencoba memfitnahmu ini, kamu akan mendapat kursi paling depan. Mungkin aku akan membiarkanmu menampar wajahnya sekali atau dua kali untuk hiburan.”
Yuvi, yang berada di belakang kami, melanjutkan ucapanku. Ia kelihatan melemah, dan inilah saatku.
Seperti break dance, aku bertumpu dengan tanganku yang menggenggam tembok kecil itu dengan erat. Aku memutar tubuhku, dan mendorong tubuhnya menggunakan betisku, membuatnya terhempas ke belakang dan menghantam perutnya. Aku pun menghempaskan diriku ke belakang dengan momentumku sendiri, dan mengendalikan kecepatan jatuhku. Ah, tanganku akan memar besok pagi.
“Ugh...!!!!”
Kenapa tidak ada satu orang pun yang melihat ini? Aku sungguh kebingungan. Namun, itu adalah hal terakhir yang aku harus pikirkan. Aku memiliki orang ini yang nyaris kehilangan nyawanya untuk hal sesimpel ini. Meskipun begitu, aku merasakan aura lain yang asing bagiku--Tidak, dua aura yang asing.
“Jika kamu menyepelekan nyawamu seperti itu lagi, aku akan menendangmu sangat keras sampai kamu lupa namamu sendiri. Mengerti?”
Ia mengangguk, keterkejutan masih melekat pada wajahnya. Dan aku tersenyum, mengulurkan tangan kananku padanya. Ia meraihnya, dan aku menariknya untuk berdiri.
*
“Apa yang terjadi padamu?”
Alicia terkejut melihat kondisi pakaianku yang lusuh dan kotor, dan segera mengusap wajahku yang penuh dengan debu itu dengan sapu tangannya. Sepertinya, tidak ada seorangpun yang menyadari apa yang terjadi. Mereka terlalu sibuk dengan game zombi yang berisik itu pada ponsel mereka untuk mengetahui insiden apa yang terjadi di atap itu. Dan sebaiknya aku tidak menyampaikan apapun soal apa yang terjadi sepuluh menit yang lalu di atap itu. Setidaknya, aku harus menghormati sedikit dari rahasia miliknya yang tersisa, meskipun apa yang akan kuberikan pada Alicia ini mungkin akan bertindak sebaliknya.
“Namanya Zakiel Herio dari 2-C . Ia meminjamkan ponselnya padaku sampai besok. Apa kamu bisa menggali jejak apapun dari ponsel ini?”
Ia mengambil ponsel itu dari genggamanku. Ponsel model terbaru itu yang berwarna hitam legam itu terlihat sedikit lecet—yang semoga bukan karenaku. Aku tidak bisa membayangkan berapa jumlah ganti rugi yang harus aku keluarkan jika itu adalah ulahku.
“Ya, seharusnya aku bisa mendapat sesuatu. Tapi aku harus menggunakan komputerku di rumah. Seharusnya aku bisa—“
“Uwaaaaaaaaah…!”
Sebuah objek besar terdengar terjatuh ke bawah, dan disertai teriakan yang kencang. terdengar dari lantai bawah, disertai dengan teriakan dari guru-guru. Kericuhan di lorong kelas pun tak terhindarkan, dan semuanya bergegas turun melalui tangga utama di gedung A.
Aku mengejar satu orang dari antara kerumunan itu. “Hei, ada apa?”
Orang itu menoleh singkat ke arahku. “Seseorang jatuh dari lantai empat!”
“Gak mungkin!”
Aku berlari secepat yang aku bisa. Melompati tangga. Menerobos kerumunan yang berkumpul di lantai dasar. Ekspresi mereka terkejut. Ketakutan. Mereka mengeluarkan ponsel mereka, mencoba mengambil gambar darinya. Petugas keamanan beserta beberapa guru menahan kerumunan itu agar tidak melangkah lebih jauh. Mereka memerintahkan semua siswa untuk kembali ke ruangannya, yang cukup diabaikan oleh mereka semua. Termasuk diriku.
Apakah kakak itu yang melompat? Mustahil. Aku memastikan bahwa ia turun dari sana. Bahkan tidak ada waktu lima menit sebelum aku meninggalkannya! Jika ia adalah kak Zakiel yang barusan, seharusnya ia tidak punya waktu yang cukup untuk naik ke atas dan kembali melompat! Aku bergetar, mencoba mengintip dari celah-celah yang dibuat oleh para guru yang menutupi. Berusaha melihat siapa pun itu, seburuk apapun kondisinya.
Tanah yang berlumuran warna merah. Blazer berwarna biru tua, yang juga dilumuri warna merah.
Dan rambut merahnya, yang makin memerah karena darahnya sendiri.
Sekolah hari ini harus diakhiri dengan suara sirene polisi dan ambulans bersatu, yang menjadi sebuah ritme yang mengerikan. Suara itu juga menggemakan ke seluruh koridor sekolah yang telah dikosongkan. Orang-orang berseragam polisi itu mengitari koridor, mencari apapun yang bisa membantu mereka. Namun, aku ragu mereka akan menemukan banyak hal. Kemungkinan besar, bukti apapun yang bisa mereka dapat sudah hancur terkontaminasi oleh gerombolan siswa itu. Seluruh siswa memang sudah diperintahkan untuk masuk ke kelas, namun kurasa sudah terlambat untuk itu. Sekolah akan diliburkan selama berjalannya investigasi selama tiga hari. Dan tidak lama setelah itu, semua siswa diperintahkan untuk pulang.
Setidaknya, hampir semuanya.
Aku, Yuvi, Zakiel, Alicia, dan salah seorang kakak kelas yang bersama dengan Zakiel cs, beserta satu lagi gadis berambut keemasan yang tidak aku kenali, dipanggil ke ruang guru—spesifiknya ke ruang rapat, untuk dimintai keterangan oleh polisi. Wajar saja, karena memang kitalah salah satu yang terakhir bertemu orang itu, pada jam istirahat siang, di kantin lantai dua (kecuali gadis itu, aku bahkan tidak pernah melihatnya). Terutama Yuvi, Zakiel, dan aku, yang terlihat datang ke atap hanya sepuluh menit sebelum Ivan datang. Apakah kita dijebak oleh WesternSpy?
Para polisi ini tidak memiliki cukup bukti untuk menahan kita. Namun, sudah jelas mereka akan benar-benar menyelidiki kita. Kupikir, setelah interogasi itu selesai, kami bisa pulang.
Namun, wakil kepala sekolah menahan kami untuk pulang. Entah apa yang direncanakan orang ini. Aku selalu merasakan hawa yang aneh dari nenek tua ini, dengan rambutnya yang berwarna merah seperti warna asli rambutku, namun keriting seperti sarang burung. Dan kacamata bundarnya yang membuatnya terlihat seperti nenek sihir, melengkapi hawa yang tidak menyenangkan datang dari hati dan pikiranku. Ia kembali menyuruh kami untuk duduk, dan mengomeli kami atas tindakan kami yang berlagak seperti detektif, dan menyalahkan kecelakaan Ivan kepada kami. Anehnya, kita bahkan belum melakukan apapun. Setidaknya, kita melakukannya tanpa ada orang lain yang tahu—bagaimana ia bisa tahu kalau kita mencoba menyelidiki masalah ini? Aku akan memaklumi jika ia memarahi Yuvi karena keributannya di kantin, namun tidak, ia marah karena kita mencoba mencari tahu kenapa kita ikut dikejar oleh WesternSpy itu.
Dan sudah nyaris satu jam kami terjebak di ruangan isolasi ini bersama nenek sihir ini.
“...oleh karena itu, kalian harus menghentikan—“
“Cukup sampai disitu, Ibu Chyntia. Pekerjaanmu sudah selesai.”
Dan seorang pahlawan datang menyelamatkan kami. Tanpa membuat suara, nenek sihir itu dengan segera mengangkat tubuhnya, dan melangkah keluar tanpa suara pula.
“Tolong maafkan Ibu Chyntia. Terkadang ia suka... melebih-lebihkan. Saya hanya meminta dia untuk menjaga kalian sebentar, namun ia selalu punya ide lain.”
Tubuhnya tinggi, tegap, dan besar, seperti seorang tentara. Bahkan rambutnya dicukur seperti seorang tentara, dengan cukuran tipis dan pendek berwarna hitam. Namun, ia mengenakan jas dan dasi, bukan seragam militer. Dan di tangannya adalah sebuah map, bukan sebuah senjata. Dan aku mengingatnya melakukan pidato-rap beberapa waktu lalu.
“Bapak Kepala Sekolah Reater.”
Aku menyapanya paling awal, dan dengan segera berdiri dari kursiku. Disusul oleh Yuvi dan Zakiel. Alicia, dan dua orang itu tidak bergerak.
“Duduklah. Dan untuk kamu, Rian, kamu boleh pulang. Tas milikmu sudah dipindahkan ke ruang guru. Dan ngomong-ngomong, sekolah akan diliburkan untuk tiga hari.”
Orang itu menghela nafasnya, terdengar sebuah bisikan “Akhirnya” dari mulutnya, dan bangkit dari kursinya. Meninggalkan kami dengan kepala sekolah ini.
“Sebelumnya, saya minta maaf karena harus menahan kalian pulang, namun saat ini, waktu sangat berarti.”
Suaranya cukup pelan untuk laki-laki seukurannya. Ia menarik salah satu bangku di ujung yang lain dari tempat kami, dan mendudukinya dengan tenang. Ekspresinya... ia terlihat rileks, namun di sisi lain, serius. Ia menatap kami dengan ekspresi yang rumit seperti itu, dan aku tidak memiliki pilihan lain selain merasakan hal yang buruk mungkin akan terjadi kepada kami.
“Jadi untuk menyingkat semua ini, saya akan langsung menuju ke poin utama saja.”
*
“Haaa...!”
Aku mengayunkan pedang itu secara vertikal. Teriakanku bergema kembali menuju telingaku saat aku mengayunkan pedang melengkung yang besar itu menuju lawanku. Lawanku itu hanya terdiam di sana, tak mampu untuk bergerak. Kaus pendekku yang berwarna putih berkibar oleh angin yang terbelah oleh ayunan pedangku.
“Haaa...!!”
Aku kembali berteriak saat aku mengayunkan pedang itu lagi. Aku mengayunkan pedang itu dua kali, tiga kali; hingga aku kehilangan hitunganku.
Tubuhku kecil dan ringan, dan itu menguntungkanku. Kakek selalu berkata begitu saat ia mengajariku bertarung. Kelemahannya: Semahir apapun aku, jika ada orang yang memiliki kemampuan setara denganku, aku akan kalah melawannya dalam hitungan fisik. Kelebihannya, aku bisa mengalahkannya dalam kecepatan. Dan ia selalu mengajarkanku cara memanfaatkan kelebihanku itu, dan mengeksploitasi kelemahan musuh. Ia juga mengajarkan cara menggunakan sihir skala kecil, meski ia tidak bisa mengajariku terlalu banyak karena perjanjiannya dengan keluarga Arata. Di ruangan serba berwarna putih ini, ia mendidikku cara menjadi petarung pedang.
Namun, semenjak ia meninggal, hanya aku yang menggunakan ruang latihan besar bercat putih ini, dan pedang miliknya ini tidak lagi memiliki pemilik. Pedang melengkung yang ia sebut sebagai tachi ini ‘memiliki jiwa di dalamnya’, ia berkata seperti itu padaku.
Pedang ini berwarna hitam di bilahnya dengan berbagai ukiran di sisinya. Dengan panjang hampir dua meter, dan beratnya yang luar biasa, aku tidak mampu memanfaatkan faktor terbaikku itu.
“Namun, jika aku nggak bisa melakukannya sekarang, latihan akan membantuku!”, ucapku, motivasiku hanya seperti itu. Aku tidak bertarung hanya untuk diriku sendiri, namun untuk melindungi Yuvi dan ayah juga.
Aku kembali mengarahkan pedang panjang itu ke belakang tubuhku.
Aku membungkukkan tubuhku, mengalirkan fokusku pada tubuh, pikiran, dan lawanku. Energi itu mulai mengalir dari tubuhku menuju tanganku, dan pedang itu merasakan aliran dari energi milikku.
“Dark Storm...”
Aku mengambil sebuah napas dari mulutku. Aku merasakan energi itu memenuhi lenganku, bergetar, dan akan terlepas dari tubuhku. Bersiap memakan apapun yang ada di hadapanku. Lawanku hanya terdiam, tak mampu berbuat banyak.
“Release!”
Aku melepaskan semua energi itu, dan kakiku mengambil dua langkah ke depan. Pedang itu berputar bersamaan dengan tubuhku, dari kanan menuju ke kiri. Aku terbawa oleh dorongan beban pedang itu, berputar berkali-kali, yang menambah kerusakan dari lawanku di setiap putarannya.
Oke, bagaimana cara membatalkan skill ini? Aku mengalihkan arah pedang itu diagonal ke atas, mencoba menghentikan putaran itu. Namun, beban pedangku dan diriku tidak imbang. Aku terlontar oleh putaran pedangku sendiri, sebelum aku mampu menyelesaikan skill itu.
Tubuhku terjatuh beberapa meter jauhnya dari tempat aku berasal, dan pedang itu ada di sisiku, nyaris membelah tubuhku menjadi dua. Sungguh, jika aku tidak memiliki sihir pasif ‘tameng aura’ yang mengalir di tubuhku, mungkin itu sudah terjadi. Sungguh, jika aku tidak memiliki tameng aura, itu akan sangat berbahaya. Bangkit dengan rasa sakit dari ujung kepala hingga ujung kaki, aku melihat ke pedang yang tidak pernah lagi berjumpa dengan lawan yang sepadan.
“Maaf, ya, aku nggak sekuat pemilikmu yang dulu.”, ucapku dalam hati kepada pedang itu.
Aku tidak sekuat kakek Arata—kakek dari Yuvi—yang pernah ikut berperang untuk negara, dan melindungi kota ini bersama tachi yang ia namakan ‘Tachi of the Grim Reaper’ itu. Itu adalah sesuatu yang selalu menarik perhatianku, saat ia bercerita mengenai masa perangnya tiga dekade lalu. Dan tidak akan sebanding denganku, yang hanya, maksimum, melawan preman kampungan atau maling.
Namun, ia selalu berkata, “Selalu bersiap untuk apapun. Mungkin aku pernah bertarung melawan negara lain dan teroris. Namun, apa yang akan kamu lawan, berada di tingkat yang jauh berbeda.”
Entah apa yang ia maksud dari ucapan itu. Sejauh ini, selain lawanku—yang baru saja terbelah-belah menjadi ratusan keping, aku tidak pernah menggunakannya di pertarungan yang nyata. Aku memungut tachi itu dari sisiku, dan membersihkan serpihan-serpihan kayu itu dari bilahnya. Dan aku melihat apa yang tersisa dari lawanku.
“Kelihatannya aku harus membeli boneka bertarung yang baru”, pikirku.
Boneka, jasamu sebagai teman latihanku akan selalu kukenang...setidaknya sampai aku membeli yang baru.
*
“Oh, Ruma! Kamu sudah selesai?”
Suara berat dan kasar yang datang dari ibu-ibu itu sedikit mengejutkanku. Oh, ya, bulan Februari memang mulai hangat (karena kami baru saja memasuki musim semi), dan mulai banyak orang yang terserang flu dan batuk. Namun, rambut yang dikuncir kuda berwarna hitam, hidung mancung, dan daster merah muda miliknya, sudah menjadi ciri dari ibu dari Yuvi, meskipun suaranya terdengar seperti ia baru saja menonton konser hard-rock.
“Iya, tante. Aku juga sudah bersih-bersih halaman sebelumnya. Yuvi masih tidur?”
“Hmm, nggak juga... katanya, sih, ia bertemu dengan gadis beralis... alis... atau semacamnya? Dia sih bilangnya bukan kencan, tapi mukanya merah gitu, jadi tante ragu. Duh, harusnya tante gak ngomong apa-apa. Kamu gak marah, kan?”
“Eh?”, aku sedikit bingung dengan kalimat terakhirnya yang merupakan pertanyaan itu. Kenapa aku harus marah? Memang, itu agak menyebalkan sekarang, tapi apa aku harus marah?
“Maksudku, Yuvi keluar ketemu gadis lain, loh. Apa kamu gak marah?”
Apa aku memiliki alasan untuk marah? Tidak. Bahkan, cukup normal untuk Yuvi bertemu dengan Alicia hari ini. Ia bertemu dengan Alicia hari ini karena aku.
Dua hari lalu, Pak Revan menyerahkan sebuah dokumen yang berisi semua data siswa yang bocor. Namun, tidak ada jejak apapun yang ditemukan di dalam ponsel, atau perangkat elektronik mereka. Tidak ada bukti orang mengakses ponsel mereka—apalagi pada bulan Desember dan Januari, dimana seluruh siswa menjalani libur akhir semester dan tahun baru. Kesamaan mereka: Mereka bermain Zombie World. Namun, lebih dari separuh siswa di sekolah memainkannya, dan mereka tidak mendapatkan masalah apapun.
Dan melihat dari apa yang terjadi kepada Ivan, kelihatannya Westernspy ini sudah meningkatkan permainannya menjadi pembunuhan. Tapi kenapa? Untuk apa ia membunuh, kalau ia bisa memanipulasi cerita seperti ini?
“Kami sudah mencoba mencari apa ada celah keamanan yang bisa dipakai Westernspy ini. Tapi sejauh ini? Nihil. Alicia juga sudah mencoba mencarinya, tapi ia malah nyaris menjadi korban. Dan sekarang, ditambah kalian. Lalu Ivan.”, terang pria paruh baya itu.
Kenapa aku tercebur dalam kasus ini? Aku sedikit menyesal karena mengikuti Yuvi, namun apa yang bisa kulakukan sekarang? Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya anak SMA lakukan, bukan? Kenapa ia memberi informasi ini pada kita, dan tidak membiarkan polisi yang mengerjakan semuanya? Orang ini aneh. Ah, aku sungguh ingin berlari dari masalah ini.
Aneh, karena selain negara kita memiliki polisi, kami juga merupakan siswa kelas satu yang tidak ada keinginan untuk ikut campur maupun banyak alasan untuk ikut campur.
Keanehan selanjutnya, kenapa tiba-tiba WesternSpy itu mengincar kita, dan kita secara spesifik? Berasumsi kalau mereka memiliki data setiap siswa, untuk apa ia mencari informasi tentang kita? Dan jika ia tidak memiliki data terhadap kita, kenapa ia tidak membuat hoax seperti yang sudah ia lakukan selama ini?
Dan anehnya lagi, kenapa tidak ada yang menyadari gadis itu yang duduk bersama kita?
“Tadi kamu bilang apa?”
Mereka bertiga terkejut saat aku menyampaikan itu pada mereka.
“Kalian sungguh nggak liat? Dia bersama kita sepanjang siang di ruangan rapat!”, ucapku, sungguh keheranan.
Mereka benar-benar tidak melihatnya? Bagaimana bisa dia menyembunyikan dirinya seperti itu?
“Dia di ruangan rapat bersama kita, tapi saat aku manggil dia, dia sudah nggak ada.”
Tapi mereka semua menggelengkan kepalanya. Fakta bahwa mereka tidak melihat sedikit pun dari gadis berambut keemasan itu meyakinkanku, bahwa mungkin gadis itu kemungkinan ada keterlibatan dengan semua hal ini. Itu, atau ia dengan tidak sengaja mengawasi kami karena ia tidak ingin pulang ke rumahnya. Atau dia adalah hantu dan aku tidak akan bisa tidur dengan tenang malam ini. Siapa pun itu, ia memiliki sihir yang setara denganku, atau lebih. Dengan skill yang cukup kuat hingga ia bisa menyembunyikan tubuh fisiknya dari mata manusia. Mereka bertiga memutuskan bahwa yang kulihat adalah makhluk gaib, namun aku yakin Yuvi memahamiku lebih baik dari itu.
“Aku akan mengecek kakak itu besok,”, ucap pemuda itu saat aku bertemu dengannya kemarin. “kamu di rumah saja. Aku sudah bersama Alicia dan kak Zakiel. Kita gak boleh terlalu meramaikan rumah sakit, bagaimana pun juga.”
Setidaknya, itu alasannya. Aku tahu dengan jelas bahwa ia sebenarnya ingin bertemu dengan Alicia dengan metode apapun.
“Maaf, gak usah di jawab, juga, gak apa-apa.”, ucap ibu Yuvi, sembari menepuk pundakku.
“Tante hanya akan memberi saran buat kamu: Nikmati masa SMA kamu sebaik mungkin. Di masa depan, kamu akan banyak menyesal jika kamu hanya berpikir soal pelajaran. Nikmati berkumpul bersama di bawah naungan sebuah klub, bermain bersama sahabat, mungkin mengerti rasa cinta? Rasakanlah sebelum terlambat. Masa SMA cuma tiga tahun, loh. Kamu gak punya waktu untuk ragu!”
Aku tersenyum kepadanya. “Aku mengerti.”, jawabku singkat.
Dengan sebuah dering telepon, ia pun akhirnya meninggalkanku. Kelihatannya ia salah paham lagi tentang hubunganku dengan Yuvi. Ia tidak pernah mendengarkan ucapan kami! Meskipun kami sudah berulang-ulang kali bilang kalau kita hanya berteman, ibu Yuvi selalu berpikir kita berpacaran atau semacamnya. Ya, kita sudah berteman sejak kecil. Ya, kita memang sering bermain bersama, dan memang terlihat seperti sepasang kekasih, tapi tidak ada yang cocok dari kami!
Aku mengeluh dalam hati, dan berjalan kembali ke rumahku sendiri, yang berada tepat di sebelah rumah Yuvi. Ya, setelah aku dan ayah pindah kesini, merekalah tetangga pertama yang menyambut kami. Lebih tepatnya, merekalah satu-satunya tetangga yang menyambut kami. Ya, saat itu sihir merupakan hal yang sangat menyeramkan. Bahkan kakek Yuvi hanya bisa berada di rumahnya di sisa hidupnya.
Aku mengambil handuk yang tergantung dibalik pintu kamar mandi, dan mulai mengelap keringat yang menyelimuti wajahku. Daripada berkeringat karena latihanku, aku lebih berkeringat karena membersihkan halaman belakang rumah Yuvi. Ini musim semi dengan suhu enambelas derajat—kenapa aku bisa berkeringat sebanyak ini!?
Sebuah suara menghentikan teriakan dari pikiranku. Sebuah bisikan dari puluhan, ratusan suara, seakan sebuah paduan suara, mereka mengucapkan kata yang sama pada telingaku:
“Datanglah.”
Apa itu? Aku mengguyur wajahku dengan air dari wastafel. Meski begitu, bisikan itu kembali datang.
Suaranya... agak menyeramkan? Tiba-tiba aku terpikirkan oleh pedang tachi hitam itu, yang sudah kukembalikan ke tempatnya di rak pedang.
Pedang itu datang sendiri ke genggamanku. Sebuah pedang melengkung tachi berwarna hitam, tiba-tiba muncul ke genggamanku dan secara ajaib meninggalkan rak dan ruangannya tanpa bantuan orang lain.
“Datanglah…”
Aku sudah mendengar ini dari kakek, namun, untuk melihatnya secara langsung... itu merupakan kisah yang berbeda. Pada sarung dan bilahnya, terdapat ukiran-ukiran yang menyala-nyala berwarna merah gelap, yang tidak pernah kulihat sebelumnya—bahkan di tangan kakek. Aku merasa ia ingin membawaku ke suatu tempat. Dan aku kembali merasakan aura yang aneh itu. Aura yang kurasakan di atap dua hari yang lalu, dan aura yang sama saat kami berbincang dengan kepala sekolah Revan kemarin. Kurasa bisikan itu memanggilku kepada gadis itu? Tapi kenapa? Aku mau saja membawa pedang ini jalan-jalan seperti anjing peliharaan.
Masalahnya, memegang sebuah tachi seberat ini saja sudah luar biasa menyulitkan. Membawanya ke kota, aku sudah gila. Jika pedang ini mampu mengecil, itu akan sangat membantuku—
Pedang itu seketika kehilangan setengah dari beratnya. Seakan membaca pikiranku, ukuran dan bebannya menyusut di tiap detiknya. Hanya tiga detik setelah pedang itu menjadi setengah dari ukuran telapak tanganku. Namun, ukirannya yang berwarna merah itu masih menyala-nyala. Dan seakan ada sesuatu yang memanggilnya. Ternyata kakek benar, pedang ini memiliki ‘jiwa’. Dan ia ingin menggiringku ke suatu tempat.
“Baiklah. Aku akan mengikuti kemauanmu.”
Aku berlari secepat yang aku bisa menyusuri jalan kota Revore yang masih sepi. Ini masih pukul tujuh pagi, dan cahaya mentari masih bersiap-siap untuk menyinari hari di ufuk timur sana. Kendaraan bermotor pun masih mendekati nihil, mungkin mereka semua masih mandi. Jika mereka mampu mandi di suhu sedingin ini.
Ia menuntunku sementara aku berlari masih dengan kaos oblong dan celana pendek. Bagaikan peta digital, ia membacakan rute yang perlu kutempuh. Namun dengan suara bisikan makhluk-makhluk menyeramkan tak kasat mata, dibanding dengan suara robot perempuan yang terbiasa kudengar. Dan sejauh ini, mereka mengarahkanku menuju sekolahku.
Setidaknya sampai aku berhenti pada kerumunan besar yang menutupi jalanku. Tidak seperti biasanya, ada kerumunan di tempat ini. Dimana aku? Aku mau saja memeriksa ponselku, namun aku meninggalkannya di meja belajar.
Sebenarnya, masalahnya bukan karena aku terhalangi oleh mereka, namun karena bisikan-bisikan itu tiba-tiba berhenti. Dan juga karena aku merasakan aura yang asing, namun kukenal itu. Aura yang kurasakan saat kami menghentikan Zakiel untuk melompat. Aura yang kurasakan saat tachi ini muncul ke genggamanku.
“Aura-detection—Broadcast!”
Aku kembali merasakannya. Aku melihat aura itu saat ia berjalan melewati kerumunan itu dengan gaun pendeknya yang berwarna putih. Tidak ada orang yang menyadarinya berjalan diantara kerumunan ini, namun aku menyadarinya.
Rambut panjangnya yang berwarna emas menutupi punggungnya, dan matanya yang berwarna biru langit, terlihat bersinar oleh sebuah cahaya tanpa asal. Apakah itu wujud dari aura miliknya? Gadis itu seketika menoleh ke arahku... dan berlari menjauh.
“Hei, tunggu!”
Teriakku tidak didengar olehnya, seperti kebanyakan orang yang berlari saat mereka mencoba untuk bersembunyi. Kenapa aku mengikuti klise ‘Hei tunggu’ seakan ini adalah drama televisi?
Aku kembali berlari, kini untuk mengejarnya. Aneh, bahkan setelah menerobos kerumunan orang, tidak ada satupun orang yang menyadari keberadaannya. Apakah itu karena orang-orang ini sangat sibuk untuk tidak memedulikan orang yang berlari melesat melalui mereka, atau ini adalah salah satu dari kemampuan sihirnya?
Dan tidak seperti dia, yang melewati kerumunan ini dengan mudahnya; aku harus terjebak di dalam kerumunan gila ini, mendorong dan mencari celah sekecil apapun itu untuk menembusnya.
“Permisi, mau lewat!—ugh, pakai deodoranmu, tuan! Permisi!”
Namun, aku cukup yakin aku tidak akan kehilangan jejaknya, karena aku dapat merasakan aura miliknya itu dengan mataku. Jika aku bisa melepas lensa kontak milikku ini, tentunya.
Kerumunan ini ternyata adalah orang-orang yang sedang menonton perampokan bank. Astaga, ini menyebalkan. Aku berhenti sejenak, dan bergerak menuju kerumunan paling depan.
Tiga orang, bersenjata. Mereka menahan belasan sandera bersama mereka. Aku melepaskan lensa kontakku, memperlihatkan mata kiriku yang berwarna merah. Tidak ada aura sihir dari mereka. Para polisi tidak bisa maju untuk menyerang karena sandera itu. Ya, mereka akan cukup aman.
“Generate Flame Arrow.”
Panah kecil yang terbuat dari api itu terwujud di jemariku. Aku mengontrol apinya agar tidak terlihat oleh orang-orang di sekitarku. Tiga panah harusnya cukup. Aku memfokuskan bidikanku pada mereka bertiga. Orang yang sedang mengumpulkan uang dari kasir itu. Orang yang sedang mengarahkan senjatanya pada sandera. Orang yang sedang mengawasi luar, memastikan para polisi tidak masuk.
“Release.”
Panah itu melesat tanpa suara. Dan hanya begitu saja, mereka bertiga tumbang seperti boneka latihanku. Para polisi yang kebingungan soal apa yang terjadi, segera maju perlahan, senjata masih diarahkan pada mereka, menuju ke dalam bank itu. Penonton yang di sekitar kebingungan terhadap apa yang terjadi. Mereka semua bertanya-tanya, melihat ke kiri dan ke kanan. Mereka yakin bahwa ada penyihir di dekat mereka, namun mereka tidak tahu dimana. Sejumlah orang memfokuskan pandangannya padaku, namun aku ikut berpura-pura kebingungan. Ya, penyihir saat ini sudah lebih diterima masyarakat semenjak perang dua tahun yang lalu. Meski begitu, masih banyak yang ketakutan oleh penyihir, dan itu wajar.
Aku mundur secara perlahan-lahan, dan mulai memisah dari kerumunan yang kebingungan itu. Ada media berita juga di sana, dan aku harus berusaha untuk menghindari mereka. Aura sihirku membuat aku lebih menonjol dari orang lain.
Tidak butuh waktu yang lama untukku untuk mencarinya setelah semua itu. Sebuah cahaya putih besar yang masuk ke taman nasional Revore seakan menembus langit. Gadis itu dengan sengaja memanggilku ke sana. Tidak salah lagi. Ia bisa menyembunyikan aura miliknya itu dengan (nyaris) sempurna sebelumnya. Dan sekarang ia menampilkannya secara terbuka seperti itu—jelas ia ingin sesuatu denganku. Aku berjalan santai menuju gerbang taman, yang syukurlah—tidak ditutup untuk hari ini.
Taman Nasional Revore. Tempat ini sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai ‘taman’. Tempat ini lebih mirip dengan hutan lindung – itu karena 70 persen dari taman ini adalah pepohonan, dan 20 persennya adalah danau. Dan taman ini mungkin berukuran sepuluh kilometer persegi, jadi tujuh kilometer persegi dari taman ini hanya berisikan pohon. Taman ini pun berada tepat di tengah-tengah kota, dengan sungai dan danaunya yang memisahkan kota Revore menjadi empat bagian. Karena ukurannya yang cukup untuk membangun sebuah desa, banyak penjahat yang ditemukan sedang bersembunyi di sini, dan banyak juga korban-korban kejahatan di tempat ini. Tempat bersembunyi yang sempurna. Untuk orang biasa, tentunya.
Di sekelilingku hanya rerumputan dan pepohonan. Tidak ada suara apapun selain gemuruh sungai dan lantunan melodi dari burung yang berkicau—tidak. Aku mendengar sesuatu yang lain, beberapa belas meter jauhnya dariku. Instingku langsung bertindak untuk bersembunyi dibalik semak belukar itu, mengintai apapun yang menjadi sumbernya. Tanah yang kupijak masih cukup lembab karena embun pagi, dan tidak ada suara lain yang cukup untuk menutupi pergerakanku, yang berarti aku dapat terdengar oleh mereka jika aku bergerak terlalu banyak.
“Oi, oi... lo nyoba nggak bayar hutang lo, hah?”
“Mencoba ngilang dari kita, gitu? Lo cari penyakit.”
Ada empat orang dari mereka...tidak—ada lima. Lebih tepatnya, empat orang itu mendorong-dorong satu orang, senjata tajam di tangan mereka. Wanita yang didorong oleh mereka hanya mampu untuk mundur, menjauh dari mereka.
“A-aku gak mencoba kabur! Sama sekali!”
Suara wanita itu terdengar sangat bergetar ketakutan, namun, bahkan ia tahu ia tidak bisa lari kemana pun. Apakah ia sanggup untuk berlari? Ia jelas meragukannya.
“Gimana kalo gini... gue bilang kalo utang lo lunas, tapi...”
Mata laki-laki itu melihatnya dari bawah ke atas, dan ke bawah lagi. Wanita itu pun tahu apa yang akan orang itu katakan. Bahkan diriku
“Aku bisa membayarnya, sungguh! Besok... besok aku akan—”
Namun, laki-laki itu tetap melihatnya dengan senyumnya yang menjijikan. Teman-temannya pun demikian, mengikuti jejak orang itu. Wanita itu terus menerus mundur hingga tinggal beberapa meter jaraknya dariku, dan gerombolan itu terus mendekatinya.
Gerombolan laki-laki itu semuanya memiliki sihir.
Aku bisa merasakan aliran energi itu di tubuhnya. Dan aku mulai merasakan aura miliknya, meskipun tak sekuat si gadis berbaju putih, namun jelas ada di sana. Sihir yang gelap menyelimuti mereka seperti berwarna keunguan. Namun, kenapa sihir mereka itu tidak mengalir sama sekali?
Pedang/gantungan kunciku mulai menyala lagi, seakan memanggilku. Memerintahkanku untuk melakukan hal yang benar. Dan itulah yang akan aku lakukan.
Aku bangkit dengan perlahan dari tempat persembunyianku, pedang miniatur itu di tangan kiriku. Suara gemeresik dari rerumputan itu sudah cukup untuk membuat mereka menyadari keberadaanku, dan membuat mereka menoleh ke arahku. Mereka semua terkejut melihatku yang bersembunyi. Para laki-laki itu mengambil langkah mundur dan mengeluarkan senjata mereka dari sarungnya, bersiap untuk bertarung. Kecuali untuk satu orang.
“Oh, keliatannya kita dapet dua gadis, coy!”
Laki-laki yang membawa pedang pendek itu berteriak pada temannya, dan disambut oleh sorakan teman-temannya.
“Dih, siapa elu. Mandi dulu sana. Bau.”
Jawabanku tidak disambut baik oleh mereka. Mereka benar-benar menganggap rendah diriku. Kesalahan pertama. Mereka merendahkan lawan yang mereka hadapi. Padahal aku memiliki aura yang bahkan orang biasa mampu sadari. Fakta bahwa mereka tidak menyadarinya padahal mereka melihatku secara langsung sudah menyimpulkan bahwa mereka terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Gantungan kunci itu mulai kembali ke ukuran aslinya, kali ini jauh lebih cepat dari saat ia menyusut. Aku menariknya dari sarung yang menutupi keindahannya. Cahaya merah dari ukiran pedang itu terlihat dengan jelas, dan kini terlihat jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Mereka memiliki kemampuan sihir juga, jadi seharusnya mereka tidak terkejut ketika aku memunculkan pedang dari sebuah miniatur. Namun, mereka seharusnya mulai menganggapku serius. Aku mengangkat tachi itu dengan satu tangan, mengacungkannya pada wajah orang paling depan yang kelihatannya adalah ketua mereka itu.
“Pergilah. Jangan macam-macam dengan siapapun lagi.”
Seperti yang sudah kuduga, itu tak mempan. Mereka hanya tertawa mendengar ancamanku itu, yang mungkin memang terdengar seperti sebuah lelucon.
“Hah. Ngapain kita nurutin lo yang cuma sendiri? Bisa apa—“
Kesalahan kedua.
Kakiku bergerak dengan kecepatan suara. Pedangku mengayun secara diagonal, dan kembali ke sarungnya dalam waktu sepersekian detik. Meskipun senjatanya jauh lebih besar kali ini, dan melawan orang sungguhan, skill yang kugunakan tetap sama.
“Aura Slash.”
Suara retakan terdengar, kemudian suara hantaman keras. Keempat orang itu terpelanting ke belakang, dan orang yang paling depan itu menghantam salah satu temannya yang berada tepat di belakangnya, sebelum lajunya terhenti oleh sebuah batang pohon besar.
“Kesalahan kedua. Kalian memiliki kemampuan sihir, tapi kalian pikir hanya dengan itu kalian bisa menjadi yang terkuat. Bodoh.”
Mereka mencoba untuk bangkit. Aku membiarkan mereka, untuk mencoba bertarung denganku dalam pertarungan yang adil. Meskipun begitu, mereka sudah kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai. Mereka terlalu meremehkan keahlian pedangku, dan melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri. Dan mereka akan menyesal telah melakukannya.
Pemimpin mereka itu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Tiga peluru ditembakkan ke arahku. Aku menghindar ke kiri, menjauh dari bidikannya.
Aku berlari dengan cepat mengitari mereka. Suara semak-semak dan lumpur yang basah, beserta suara umpatan yang mereka teriakkan, mengisi kekosongan di hutan besar ini. Aku mengayunkan pedangku pada laki-laki yang berada di paling belakang. Ia kelihatannya merasakan kedatanganku. Namun, menepis pedangku dengan pisau mainan seperti itu? Jangan gila.
Pedangnya hancur seperti gelas, dan ia terpelanting oleh tendanganku. Aku kembali melompat, menghindari jarak pandang mereka dengan kecepatanku. Mereka berputar-putar sementara aku berlari di antara pepohonan. Setidaknya, mereka mampu mengatur formasi mereka. Walau itu tidak akan membantu mereka.
Aku melompat pada orang kedua yang paling jauh dari formasi mereka. Menghantamkan gagang pedangku pada kepalanya, tachiku menghancurkan semua sihir yang dia miliki, menyisakan tubuh fisik beserta jiwanya yang gemetar ketakutan. Aku melompat ke kiri, menangkap orang selanjutnya. Ia terlontar dengan satu ayunan pedangku setelah mencoba menangkalnya.
“Berhenti!”
Seperti yang aku duga, ia menodong gadis itu dengan pistolnya. Ia benar-benar tidak memiliki harapan. “Lo bergerak, gue tembak brengsek ini!”, ucapnya sembari berteriak. Aku bisa melihat keputusasaan di matanya. Namun aku menuruti permintaannya.
“Jatohin senjatalo. Dan ikut gue.”
Aku melepaskan tachi itu dari genggamanku, dan mengangkat tanganku.
“Kamu sungguh-sungguh nggak mau ngelakuin ini. Percaya padaku.”
“Oh, ya? Oooh, gue suuuuper takut diserang oleh cewe tanpa senjata!”
“Percayalah. Kamu menghadapi ‘cewe tanpa senjata’ paling berbahaya yang bisa kamu temukan di kota ini.”, balasku, memberikan gerakan air quote padanya. Ia hanya tertawa.
“Oh, begitu... oke, ayo, ‘gadis berbahaya’. Mari gue tunjukin—”
“Siapa yang bilang kalau gadis berbahaya itu aku?”
Aku memberikan sebuah senyum lembut padanya. Dan ia menyadari kesalahan ketiganya. Tubuhnya, sedikit demi sedikit, melepaskan diri dari ikatannya. Bagaikan menara pasir yang kering, tubuhnya mulai tergerus secara perlahan dihembus oleh udara. Dan ia menyadarinya. Aura yang sebelumnya melindungi tubuhnya sudah tergerus habis. Dan hanya menyisakan fisiknya. Dan bahkan, fisiknya mulai menghilang seperti sebuah debu.
“Kesalahan ketiga. Perhatikan area bertarungmu selalu. Kamu nggak akan tahu apakah musuhmu benar-benar sendiri, atau memiliki bala bantuan.”
“Kenapa...bisa...?”
Itulah ucapan terakhirnya, sebelum seluruh bagian tubuhnya terhempas oleh angin pagi. Keheningan pun kembali datang. Suara aliran sungai kembali mengisi hutan ini. Begitu pula dengan melodi burung yang berkicau.
Aku melangkah maju pada mereka yang tersisa dengan perlahan, dan dua orang yang terjatuh dekat denganku mundur dengan merangkak. Tubuh mereka bergetar, mata mereka berkaca-kaca, dan kelihatannya salah satu dari mereka mengompol di celananya. Mereka sudah terlihat lemah—tentunya, karena aku baru saja menghancurkan energinya.
“Lima belas... empat belas... tiga belas...”
Kepanikan mereka bertambah di setiap berkurangnya angka di hitungan mundurku. Dengan terhuyung-huyung, mereka mencoba berlari menjauh dari pandanganku, dan menabrak beberapa pohon di perjalanannya.
“Terima kasih...”
Ucap wanita itu perlahan. Tubuhnya bergetar, dan matanya berkaca-kaca. Akhirnya, kekuatan di kakinya tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya, dan ia menjatuhkan dirinya ke rerumputan basah ini, dengan air mata mengalir dari matanya.
“Kamu nggak perlu berterima kasih. Aku nggak melakukan banyak.”
Aku sungguh-sungguh berkata demikian. Bukan untuk merendahkan diri, namun aku sungguh-sungguh tidak menyelesaikan masalahnya sedikit pun. Mereka akan datang lagi untuknya, dan mungkin aku tidak akan ada di sana untuk menolongnya.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu gak nolongin aku, aku gak tahu mereka bakal menjadikanku apa.”
Benarkah begitu? Aku tidak tahu. Aku tidak yakin bahwa aku telah menolongnya. Mungkin untuk saat ini, tapi—
“Aku seharusnya sudah bisa membayarkan hutangku itu padanya. Namun, mereka mencuri dompetku. Aku tahu itu.”
Gadis itu merangkak mendekati pohon yang terlihat sedikit retak karena hantaman dua orang barusan. Ia memungut sesuatu dari balik semak belukar, dan memeriksa isinya.
“Belum disentuh mereka. Syukurlah.”, bisiknya.
Ia menoleh padaku dan membungkuk. “Sekali lagi, terima kasih telah menolongku! Mungkin daripada memberikannya pada mereka, sebaiknya aku memberikannya padamu—“
“Gunakan uang itu untukmu sendiri.”
Aku menghentikan ucapannya sampai di situ. Ia terdiam, masih membungkuk padaku. Rambut pendeknya itu menutupi wajahnya yang masih terlihat menangis.
“Aku nggak menolong kamu demi uang. Aku menolong karena kamu perlu ditolong. Gak usah membungkuk, ini bukan Era Pertama.”
Wajahnya yang menunduk kini mengangkat, dan melihat ke arahku. Wajahnya terlihat kebingungan, namun akhirnya ia tersenyum sembari menyeka air matanya.
Aku membimbing gadis itu kembali ke jalur utama taman, dan setelah mengucapkan sampai jumpa beberapa kali, akhirnya ia pulang. Ia berencana untuk melaporkan orang-orang itu ke kantor polisi. Namun tanpa ada bukti, sulit bagiku untuk menyarankannya melakukan itu. Justru kebalikannya, kami baru saja ‘mendebukan’ temannya.
Ya, kami. Aku sendiri, bersama deru air dari sungai dan kicauan burung, kini ditambah oleh gemerisik daun pepohonan yang bergoyang. Beserta ‘orang itu’.
“Aku tahu kamu di sana.”, ucapku lantang.
Gemeresik dedaunan menjadi satu-satunya respons suara yang kudengar, namun, aku bisa merasakannya. Aura yang sedari-tadi mengganggu hati dan mataku, terasa sangat dekat. Ia jelas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dariku.
“Aku nggak ada niatan bertarung atau apapun denganmu. Aku hanya ingin bicara. Dan kurasa kamu tahu itu.”
Barulah saat itu, sebuah tepukan tangan yang pelan menjawabku. Suaranya datang dari atas kepalaku, dan aku segera menengok ke atas, dan pertama kali melihat wajahnya.
Mata berwarna biru langitnya terlihat bersinar oleh aura miliknya sendiri. Rambutnya berwarna keemasan dengan panjang sepunggung, dan fisiknya yang kurasa lebih pendek dariku. 150 cm? Ia duduk di sebuah cabang pohon, dan bersandar di batangnya. Ia masih bertepuk tangan dengan perlahan.
“’Berbaik hatilah, karena setiap orang yang kamu temui menghadapi pertempuran sulit'. Kalimat yang cocok untuk situasi ini.”
“Laki-laki yang menjadi debu tadi...”
“Tenang. Itu hanya sihir udara, ditambah dengan sedikit ilusi. Dia akan bangun di suatu tempat dimana angin tadi membawanya. Mungkin dia bakal sakit kepala sedikit.”, balas gadis itu.
Dia melompat turun dan mendarat dengan gesit seperti kucing. Aku langsung merasakan kekuatan miliknya yang sangat besar. Terasa sedikit menyeramkan.
“Jadi, kamu bisa melihatku.”
Aku mengangguk. “Bahkan saat aku dan teman-temanku di interogasi, aku melihatmu.”
Ekspresinya datar, tidak ada rasa terkejut sedikit pun keluar dari wajahnya.
“Dan kamu bisa melihat menembus penyembunyian aura milikku juga?”
Sekali lagi, aku mengangguk.
“Namaku Ruma.”
“Aku tahu namamu. Kita kan sekelas.”
Ia tersenyum.
“Namaku Niira. Ngomong-ngomong, tadi itu pertarungan yang keren. Siapa yang tahu kalau tameng sihir rentan di bagian sisinya.” Sebelum akhirnya melepaskan jabatannya. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Tunggu, sisi apa?
“Aku nggak melakukan apapun. Mereka akan kembali, dan ketika mereka kembali, mereka akan kembali mengganggu gadis itu. Dan apa maksudmu soal tameng yang lemah di sisinya?”
Ia tidak menggubris pertanyaanku. “Dia satu angkatan dengan kita, gadis tadi. Erika Izabelle, siswi kelas 1-F. Jadi...”
Berapa banyak orang yang ia kenal dalam waktu setengah hari? Pertanyaan yang kumiliki tentangnya makin berkembang, namun aku ragu aku ingin mendengar jawabannya.
“Kamu mau aku menolongnya sampai tuntas?”
“Ya. Dan sebagai gantinya, aku akan membantumu berlatih menggunakan nodachi mu itu.”, balasnya. Apakah ia dekat dengan gadis itu atau semacamnya? Seperti biasanya, aku penuh dengan pertanyaan. Dan kenapa ia menyebut senjataku sebagai nodachi?
“Uh, ini bukan nodachi, ini—“
“Tachi, Scythe of the Grim Reaper. Ya, aku tahu sejarah pedang itu. Bahwa bagian senjata dari Dewa Kematian terpecah belah menjadi empat bagian. Sebuah pedang panjang, tachi, dan dua bilah belati. Jika digabungkan, kekuatan dari dewa kematian akan kembali. Begitu, kan?”
“Eh?”
“Eh?”
“Kamu nggak tahu?”
Aku menggeleng.
Tiba-tiba, kita berdua kebingungan. Aku bahkan tidak tahu apapun soal itu! Aku tahu soal Tachi of the Grim Reaper, namun, mendengar kisahnya? Itu baru pertama kali. Kakek tidak mengetahuinya, atau ia tidak menceritakannya. Namun, ia tidak memberikanku kesempatan sedikit pun untuk berbicara.
Ia tidak mengatakan sepatah kata apapun sepanjang perjalanan kita keluar dari taman itu. Ia memikirkan sesuatu, atau menganalisis sesuatu, itu yang aku tebak sedang ia pikirkan di kepalanya. Gadis yang penuh misteri ini memiliki sesuatu yang janggal darinya, namun aku tidak mampu mencapai jawaban ‘apa’ yang janggal.
“Kamu pasti punya banyak pertanyaan, bukan?”
Dan ia mampu membaca pikiranku. Ia hebat dalam membuat lidahku kelu. Aku mengangkat bahuku. “Ya, tapi itu bukan urusanku.”
“Baiklah kalo begitu. Jadi, kita mau ke mana?”
Langkahku terhenti seketika. Gerbang masuk dari taman nasional Revore sudah berada puluhan meter di belakang kita, dan ia baru menanyakan itu?
“Kupikir kamu tahu.”, ucapku.
Ia menggelengkan kepalanya.
“Aku cuma mengikuti kamu sepanjang perjalanan tadi.”
“Hmm? Justru aku yang mengikutimu.”
Di saat seperti inilah, dimana aku akan meminta bantuan Yuvi dengan kemampuan sihir Insight-nya. Namun, orang itu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ivan tadi pagi, jadi aku harus memikirkan ini sendiri.
Aku melihat jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Sudah sekitar sepuluh, lima belas menit semenjak mereka berlari kocar-kacir. Mereka sudah bisa menghilang ke mana saja.
“Kamu bisa melihat aura, bukan?”
Aku menoleh pada gadis itu lagi. “Itu yang kamu lihat saat bertarung melawan mereka, dan saat melacakku, bukan? Kenapa kamu nggak melacak mereka dari aura mereka juga?”
Bagaimana aku bisa melupakan hal itu!? Aku menepuk dahiku karena kesal dengan kebodohanku sendiri. “Ah, iya juga... sebentar. Aura-Detection—Broadcast.”
Aku mulai mencoba merasakan aura yang mereka miliki. Mencari getaran, hawa, warna, apapun yang mereka tinggalkan.
“Aku gak merasakan apapun di sini.”
“Kelihatannya sihir mereka diinfuskan melalui suatu metode... aku nggak begitu tahu. Sihir mereka bukan berasal dari tubuh mereka.”
Aku yang menghancurkan sihir mereka! Aku baru saja mengingatnya.
Gadis itu melihat sekelilingnya. Tidak banyak orang yang berlalu lalang. Toko-toko baru dibuka, dan bahkan kendaraan masih belum banyak yang lewat. Kemungkinan ada orang yang melihat mereka lewat, pun, kecil.
“Tapi, ingat-ingat kembali. Setelah kalah telak melawan kamu, mereka kocar-kacir, bukan? Mereka gak mungkin keluar melewati kamu, kan?”
“Ya, begitulah—tunggu. Apa maksudmu, sihirnya sudah hilang? Bukannya sihir mereka akan pulih lagi?”, aku baru menyadari kata-kata Niira mengenai itu. Bukankah energi sihir itu sudah mengalir seperti darah? Bagaimana bisa sihir itu hilang?
“Sihir mereka bisa hilang. Kamu gak sadar kalau sihir mereka nggak mengalir?”, jawabnya, seakan aku seharusnya tahu apa yang ia maksud. Setelah ia melihat wajah kebingunganku, barulah ia melanjutkan ucapannya,
“Sihir mereka itu nggak murni. Itu hanya diberikan kepada mereka dengan suatu cara, dan itu cuma kekuatan kecil.”
“Berarti, jika kita menemukan sumber mereka...”
“...jika mereka gak ngumpet seperti tikus yang dikejar kucing, tentunya; mereka akan di sana meminta sihirnya lagi. Ya. Dan kita memang sebaiknya menyelesaikan masalah ini langsung ke sumbernya. Pertanyaannya: Gimana caranya?”
Kita berdua terdiam. Kita belum menemukan strategi cara menemukan mereka, dan seharusnya itulah yang pertama kali kita lakukan. Aku mencoba berpikir kembali, apa yang bisa kulakukan? Apa mereka memberikan sesuatu petunjuk tentang mereka, atau apapun?
“Hei, Niira.”
Ia menoleh padaku.
“Kamu tahu ke mana aku bisa pinjam uang?”
Ia memiringkan kepalanya dengan bingung. “Kalau kamu haus, aku masih punya saldo Swift Card untuk beli—“
“Maksudku uang dalam jumlah besar, tak terlacak, dan dikendalikan oleh orang-orang yang jahat.”
“Ah.”
Barulah ia menyadari rencanaku. Kecil kemungkinan keberhasilannya, namun tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan? Kami berdua memulai penyelidikan ini tanpa bantuan. Informasi yang kami miliki terbatas, ditambah dengan luasnya kota kami tercinta ini, membuat kami kewalahan melacak mereka. Namun, kami menyadari cara melacaknya: Erika Izabelle.
Setelah mencari gadis itu melalui beberapa telepon ke kontak yang Niira kenal, kami pun sampai ke sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Namun,
“Bahkan aku nggak tahu cara aku terjebak di masalah ini...”, ucapnya.
‘Hipnotis’, adalah hipotesis Niira saat mengetahui itu. Namun, kita sama sekali tidak tahu bagaimana mereka mencari ‘peminjam potensial’ atau semacamnya. Yang kami tahu: mereka menawarkan melalui internet, tidak sembarang orang bisa mendapatkannya, mereka menggunakan hipnotis untuk membuat kita menerima tawaran mereka begitu saja, dan mereka tidak bertahan di satu titik.
Niira menghela nafas, pasti berpikir bahwa kita tidak akan mampu melacaknya. Kami berdua sama sekali bukanlah seorang yang mahir dalam komputer.
“Sial... apa pencarian kita akan berakhir di sini? Aku sama sekali buta komputer...”, keluhnya.
Sialnya, aku juga sama. Bahkan Rika di sini hanya bisa duduk terdiam, melihat kami yang ikut terdiam.
“Gak juga.”
Aku mengeluarkan ponselku dan menyalakannya. Sial, bateraiku hanya tersisa tiga puluh persen, ucap hatiku. Mencari kontak Yuvi, aku segera meneleponnya. Semoga ia masih di sana, si chuunibyo itu...
“Halo, Ruma?”
Suara orang yang mengangkat telepon itu jauh lebih lembut. Lebih terdengar seperti...wanita!?
“Alicia!?”
Aku tahu aku seharusnya tidak terkejut jika mereka bersama, namun kenapa ia yang mengangkat ponsel adalah—tidak, aku memang mencari Alicia! Memang dia yang aku butuhkan!
“Hei, Alicia, kamu mahir dalam komputer, bukan?”
Ia sedikit ragu, namun menjawab dengan sebuah “Ya?” dengan singkat
“Alicia, bagaimana cara sebuah iklan bisa mengincar ke satu orang?”
Suaranya terdengar gugup, namun aku bisa mendengarnya dengan baik.
“Umm... mungkin itu personalisasi iklan. Dengan cookies, iklan bisa dirancang supaya hanya orang yang memiliki keinginan tertentu saja yang bisa menemukan iklan itu.”
“Cookies? Kue? Dan bagaimana kue ini bisa menentukan keinginan orang?”
“Uhh... sederhana, kok. Situs apa yang sering kamu kunjungi, barang apa yang pernah kamu kunjungi di toko online, semuanya meninggalkan cookies. Kumpulkan data itu, dan komputer bisa menebak keinginanmu”
Niira, yang dari tadi hening; membaca pikiranku. Dan mendahuluiku dalam menanyakannya.
“Kami mencari sebuah situs yang ditemukan dari iklan, tapi nggak ada sejarahnya di browsernya. Gimana caranya supaya kita bisa memunculkan situs itu lagi?”
Lawan bicara kami terdengar sedang berpikir di belakang. Beserta dengan suara Yuvi dan Zakiel terdengar sedang mengobrol di sana.
“Umm... buka website terakhir yang membuatmu menemukan iklan itu?”
Uh... benar juga. Aku dan Niira menekan beberapa tombol di layar itu, dan kembali membuka history browsernya: Toko Online yang menjual kamera mata-mata. Tentunya. Toko Online ini melimpah dengan iklan-iklan warna-warni, bahkan ada beberapa yang... kurang tepat untuk remaja SMA seperti kami.
“Rika, kamu ingat salah satu dari iklan ini?”
Ia menggeleng.
“Oke, Alicia. Ada cara lain?”
“Mungkin. Tapi aku harus tahu kalian mau melakukan apa.”, ucapnya tegas.
Jika aku memberitahukannya, apakah ia mau membantu kami? Kurasa begitu. Lagipula, dia adalah harapan terakhir kami untuk menyelesaikan masalah ini.
“Um... kami sedang mencari seseorang yang menghipnotis salah satu siswi SMA Reater untuk meminjam uang berjumlah besar—“
“Tunggu sebentar, aku akan meneleponmu lagi.”
Ia mengakhiri panggilanku seketika tanpa menunggu jawaban apapun dariku. Apakah itu berarti ia tidak mau terlibat? Tidak... mungkin ia melakukan semacam... ritual, atau apapun yang para hacker lakukan sebelum mereka melakukan hacking.
Setelah selang waktu yang cukup lama untuk membuat aku, Niira, dan Rika saling bertatapan hingga tiga kali karena keraguan, ponselku kembali berdering dari nomor tak dikenal.
“Oke Ruma. Aku mau kamu menyambungkan ponselmu ke komputernya, lalu tekan tombol bintang. Biar aku yang melanjutkannya.”
Untung saja, ponsel milikku memiliki model yang sama dengan ponsel Rika, jadi aku dapat mengikuti yang ia minta dengan meminjam kabel miliknya. Aku tidak mengerti apa yang ia rencanakan, namun aku, entah mengapa, merasa aku bisa mempercayainya. Apa ia melakukan ini untuk suatu alasan? Kenapa Alicia ingin membantu orang yang baru ia kenal, padahal ia bahkan tidak mendengarku sampai selesai? Kenapa Niira mau membantunya juga? Dan kenapa aku hanya mengikuti arus? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benakku. Aku sungguh ingin menanyakan ini kepada mereka. Namun, kurasa ini bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan motif mereka. Alasannya karena aku tidak ingin mereka meragukan keputusan mereka untuk membantuku, tentunya. Dan kenapa aku melakukan ini semua? Entahlah. Namun, aku sudah terlanjur terjebak sekarang. Sungguh, aku perlu berhenti mengikuti arus teman-temanku.
“Oke, berharaplah bahwa kita akan menemukan iklan itu lagi.”
Ucap suara yang berada dibalik ponsel itu. Entah bagaimana, ia mampu mengakses komputer milik Rika melalui ponselku. Bahkan pemiliknya sendiri terkejut. Dan aku sudah mampu membayangkan kerumitan dalam melakukan ini, jadi aku tidak akan bertanya cara ini bekerja. Aku hanya terdiam, tidak ingin mengganggu fokusnya.
“Um... tolong ucapkan sesuatu, aku nggak bisa fokus dalam keheningan.”
Seakan ia membaca ucapan hatiku, ia justru mengeluh karena keheningan yang kami buat.
“U-um... kamu bersama Yuvi?”
Tunggu, kenapa aku menanyakan itu? Aku sudah tahu jawabannya, dasar bodoh!
“Maksudku, kenapa kamu bertemu dengan Yuvi di hari libur?”
Dan kenapa aku memperbaiki pertanyaanku itu dengan pertanyaan yang lebih buruk, bodoh!? Aku tahu jawabannya! Aku memarahi mulutku sendiri yang mengucap pertanyaan bodoh dengan seenaknya. Kemampuanku dalam membuat percakapan ringan itu mendekati nihil!
“Kita baru aja menjenguk Ivan. Yuvi gak mau mengganggu jadwal latihanmu dan, aku mengutipnya, ‘Jika kita membawa Ruma juga, lebih baik kita membawa satu angkatan sekalian.’”
“Jadi bisa kusingkat, ‘Terlalu ramai’. Begitu?”
“Ya. Lagipula, kita gak dapat banyak hal darinya. Ia masih koma, meskipun sudah stabil. Kita berencana bertemu dengan orang tua dari Ivan setelah ini. Sebenarnya, itu adalah sebuah keajaiban mengetahui ia masih hidup setelah jatuh dari lantai empat gedung sekolah kita yang tinggi, menurut dokter. Tinggi tiap lantai kita itu sekitar tiga atau empat meter, kau tahu? Meskipun begitu...”
Ia tidak melanjutkan ucapannya. Pergerakan komputer itu pun berhenti pada sebuah tampilan situs yang terlihat jadul, bahkan menurut klasifikasi milikku.
“Apa ini yang kalian cari? Ini adalah apa yang berhasil kutemukan.”
“Ya, itu dia!”
Jawaban itu tidak datang dariku, melainkan datang dari gadis yang duduk manis di belakang kami, Rika. “Gak salah lagi. Wujudnya sama persis...meskipun berbeda...angka pada alamatnya.”
Aku melihat situs itu dengan seksama. Ini seperti dibuat oleh anak remaja yang baru belajar membuat situs, atau oleh orang dari sepuluh tahun lalu saat Internet baru pertama diluncurkan. Hanya ada lima buah gambar, dan sisanya berbentuk tulisan. Ini lebih mirip seperti artikel atau laporan perjalanan dibandingkan sebuah situs.
“Pinjaman Cepat, Tanpa Jaminan.”
Aku membaca judulnya. Bahkan mereka tidak memberikan nama yang unik untuk situs ini. “Dana cepat, tanpa batas pinjaman.”
Aku cukup yakin bahwa ini adalah situsnya. Rika terlihat sangat tegang melihatnya, jadi aku tidak punya alasan untuk ragu. Di bawah situs itu, terdapat tombol kontak, yang bahkan tidak memiliki gambar; hanya tulisan yang digarisbawahi. Namun, aku tidak mengerti kenapa orang bisa tergoda dengan ini...
“Tutup matamu, Alicia, Rika!”
Niira berteriak. Aku secara refleks ikut menutup mataku, meskipun ia tidak menyuruhku. Namun, saat memejamkan mata itulah aku melihatnya. Aura yang dibuat seperti tulisan, ukiran, dan gambar... Apa ini?
“Oke, aku sudah membentuk sebuah tameng sihir. Kamu bisa membuka matamu.”
Aku membuka mataku, dan kami masih di situs yang sama. Sihir macam apa ini? Apakah Alicia bisa terpengaruh juga? Apakah aku juga dalam bahaya jika melihatnya? Ia menghela nafasnya.
“Dissolve magic.”, ucap Niira, dan tulisan itu menghilang begitu saja. “Oke, kalian bisa membuka mata kalian.”
Rika membuka matanya perlahan-lahan, mengintip-intip sedikit saat melakukannya.
“Begitu, toh, cara kerja mereka. Hei Esia, apa kamu bisa tahu siapa mereka? Melacak mereka atau semacamnya melalui situs ini?”
“E-Esia, siapa itu? A-aku bisa saja mencobanya, namun hanya melihat dari alamat IP nya, situs ini berasal dari kota kita. Gak ada data kepemilikan, karena ia hanya menggunakan alamat IP publik. Bahkan aku gak tahu bagaimana cara mereka bisa mendapat izin pengiklanan seperti ini. Jika aku melacaknya, aku khawatir mereka tahu dan mengganti alamat mereka. Mungkin kalau aku memeriksa data registrar mereka...” Alicia, yang juga sebelumnya terdengar terkejut, menjawabnya sembari mengoceh panjang. Entah apa yang ia ucapkan.
“Kalau begitu, apa kamu bisa merobohkannya untuk sementara, lalu melacaknya?” Niira kelihatannya lebih paham dariku dalam masalah komputer. “Aku mengingat kakak pernah mengajarkanku soal merobohkan situs. DDoS atau semacamnya?”
“Begini, untuk melakukan Denial Of Service aku butuh komputer yang memiliki computing power dan jaringan yang setara atau lebih dari tujuanku, atau memiliki botnet aktif dengan jumlah yang cukup besar untuk menggantikannya. Aku bisa melambatkan koneksi mereka, namun—“
“Mohon maaf, bahasa mesin yang kutahu hanyalah DDoS dan V12, dan V12 benar-benar sebuah mesin.”
Alicia menghela nafasnya setelah mendengarkan pernyataan Niira. V12? Serius, Niira?
“Haaah…. intinya, aku nggak bisa merobohkannya karena aku hanya menggunakan laptop murahan dengan koneksi Wi-Fi gratis yang disediakan kafe. Namun, aku bisa melambatkan jaringan mereka, setidaknya. Mungkin roboh, kalau kemampuan membuat desain websitenya setara dengan kemampuan mereka dalam keamanan jaringan.”
“Tunggu idemu itu. Aku punya rencana.”
Aku sedikit berharap banyak dari Niira. Namun tentunya, rencananya itu konyol.
Niira berdiri dengan gugup di sebuah lorong kecil, di pinggiran kota Revore yang penuh dengan daerah industri dan rumah-rumah kumuh. Ia masih mengenakan gaunnya yang berwarna putih itu, dengan rambut sepanjang punggung dan kepang di tengahnya. Berikan aku mahkota, dan aku akan membuatnya terlihat seperti putri salju yang tersesat di kubangan.
Di hadapannya, seorang laki-laki kurus berambut jambul seperti menara. Atau lebih seperti es krim? Niira tidak mengenali orang ini, yang sedang berusaha menjalankan bisnis (ilegal) yang ia geluti.
“Hei, cantik. Kamu yang mencari jasa kami?”
Niira hanya mengangguk. “Aku butuh dua puluh juta Klair.”
Laki-laki itu terkejut mendengarnya. Ia tidak mampu menutupi ekspresi menyedihkannya itu. “U-untuk apa kamu butuh uang sebesar itu, gadis?”
“Memiliki wajah seperti ini tidak datang dengan sihir, kau tahu.”
“A-Aku bisa saja meminjamkannya, namun hanya bosku yang memiliki pinjaman sebesar itu. J-jika kau mau—“
“Baiklah. Yang penting jangan membawaku ke tengah hutan dan memerkosaku atau semacamnya.”, candanya, yang tidak menimbulkan tawa sedikit pun. Namun, memang tujuan ucapan itu bukan untuk ditertawakan.
Pria itu, entah mengapa terdengar sangat gugup. Ya, Niira memang cantik, dan itu datang dari mulutku, namun itu bukanlah sesuatu yang seharusnya membuat ia gugup. Apa mungkin ia mencurigai Niira? Tidak juga. Jika ia mencurigainya, ia tidak akan menawarkan Niira untuk bertemu bosnya. Mereka berdua berjalan bersama, dan Niira masuk ke mobil yang dibawa olehnya.
Sebelumnya,
“Menyelinap masuk?”
Kami berempat terkejut dengan rencana yang dimiliki Niira.
“Kita tahu bahwa yang ketemu dengan klien, atau korban, bukanlah bosnya. Namun, jika kita mempunyai kendali atas salah satu bawahannya...”
“Maka kita bisa bertemu dengan bosnya.”, lanjutku.
“Tepat. Jadi, kita akan mengontak salah satu anak buahnya melalui situs itu, lalu membuatnya memberikan lokasi bosnya. Entah dengan memanfaatkan limit tak terhingga itu, atau memukulinya sampai ia bekerja sama. Sungguh, aku ingin melakukan yang terakhir. Bagaimanapun juga, dia pasti tahu dimana bosnya, karena dari sanalah sumber uang mereka. Sebagai sarana keamanan, Acia, apa kamu bisa memasang semacam pelacak pada ponselku? Dan apa kamu bisa memastikan mereka nggak menghapus data pada server mereka itu?”
Alicia, yang mendengarkan rencana kami melalui ponsel, meragukan rencana ini. “Aci... Um-bisa untuk keduanya, namun kenapa membuat resiko seperti itu? Kenapa kita nggak, entahlah, langsung menutup operasi mereka secara paksa begitu aja? Atau ide lebih cermat lagi: Kenapa kita nggak menghubungi polisi? Apa kita benar-benar perlu menyelinap seperti itu?”
Alicia ada benarnya. Sesungguhnya, resiko menyelinap lebih berbahaya dibandingkan melawan mereka langsung. Namun...
“Kurasa alasannya karena jika kita menutup operasi mereka begitu aja, kita akan ditangkap polisi karena nggak memiliki bukti, dan mereka bisa memulai kembali operasi mereka dari awal.”, jawabku. “Juga, aku merasa polisi dengan sengaja menutup mata mereka.”
Itu adalah apa yang ada di pikiranku. Kurasa di zaman teknologi seperti ini, membuat iklan penipuan + hipnotis seperti ini bukanlah hal yang mudah. Peraturan semakin ketat, dan pengawasan semakin gila. Bahkan ada rumor yang berkata bahwa semua orang diawasi pemerintah semenjak perang, meski aku ragu mereka mampu menyiapkan orang sebanyak itu.
“Ya. Aku membutuhkan pengakuannya, dan data yang ada di server itu secara utuh; dan untuk itu kita harus masuk. Kita akan memberi dampak lebih besar dengan menangkap pengakuannya dan mempublikasikannya, dibandingkan memukulinya.”
“Aku setuju, walau aku mau memukulinya hingga menjadi abon... namun kenapa harus kamu yang masuk?”
“Karena aku percaya kamu akan menjadi bantuanku ketika aku dalam masalah. Lagian, ada kemungkinan orang yang akan datang adalah orang yang sama dengan orang yang sudah kamu kalahkan. Sedangkan mereka gak pernah liat wajahku, bukan?”
Ia terlihat seperti sudah memikirkan soal rencana ini matang-matang. Niira berencana untuk bertemu dengan salah satu anak buah sindikat ini, membuat pinjaman dengan jumlah yang sangat besar hingga anak buahnya harus membawanya ke bosnya. Lalu jika dia dibawa ke bosnya, ia akan membuat bosnya mengakui kejahatannya yang akan direkam, dan semoga mereka masih menyimpan data-data mereka di server itu. Jika beruntung, kita bisa membawa bukti ini ke polisi. Jika tidak... ya, kita akan memikirkan itu belakangan.
Rencana ini sungguh penuh lubang, namun ia terlihat yakin bahwa ini akan berjalan sesuai rencana. “98% kemungkinan berhasil. 2% kemungkinan gagal, karena hari ini horoskopku dibilang aku akan mengalami kesialan.”, ucapnya sebelumnya. Ia cukup percaya diri dengan rencana penuh celah ini. Namun, aku akan mempercayainya.
Setelah memasang alat pelacak dan perekam pada ponselnya, dan menggunakan alat perekam video digital berukuran kecil—yang ternyata benar-benar dibeli oleh Rika—Niira menguraikan lagi rencananya padaku.
“Ingat saja: Aku akan memberi deskripsi orang yang akan kita hadapi melalui alat perekam ini. Jika aku berkata sihir, berarti ia memiliki sihir. Jika aku berkata murni, berarti ia memiliki sihir murni dan begitu sebaliknya. Jika aku mengatakan hutan, berarti ikuti aku. Jika aku bilang perkosa, berarti aku aman. Jika aku mengatakan garam, berarti aku sudah selesai. Dan jika aku berkata jantan, berarti aku dalam masalah. Gak usah pedulikan kalimatnya. Kamu mendengar kata-kata ini, kamu ikuti perintah ini. Aku percaya padamu.”
Kalimat terakhirnya yang membuatku sangat gugup. Aku baru kali ini menjalankan sesuatu berisiko seperti ini, namun Niira mempercayaiku dengan hidupnya. Ya, mungkin hanya sebagian dari hidupnya, namun tetap hidupnya.
Lagipula, dia lebih kuat daripada aku. Kurasa ia bisa memukul mereka sekali dan mereka semua akan tumbang.
“Sihir, murni, hutan, perkosa, garam, jantan. Oke. Nggak akan ada masalah. Oke.”
Aku berusaha meyakinkan diriku, namun Niira cukup sekali lihat untuk tahu keraguan dan kurangnya pengalamanku.
“Jangan khawatir. Aku pun bisa bertarung, dan aku bahkan gak butuh sacred tachi seperti milikmu.”
“Ya, dan selama kalian bermain ‘Agen Rahasia Jimmy England’, aku menghubungi agen yang sungguhan di Divisi Kasus Spesial, dan kelihatannya ia akan menerima kasus ini jika kita punya bukti sungguhan. Aku sudah mengirimkan data-data yang sudah kita dapat sekarang padanya.”
Aku dan Niira sedikit terdiam, dan tidak butuh suara untuk membuatnya mencoba menjawab pertanyaan di benak kami.
“Ya, aku mengenal dia dari sebuah tugas di masa lalu dari ayahku. Dia kakak yang baik, dan kami kadang bertukar informasi.”
Sayangnya, bukan itu yang ingin kami tanyakan. Dengan penuh keraguan, rencana yang penuh lubang, dan bala bantuan yang masih ragu untuk membantu. Hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari buatku, yang selalu terjebak bersama Yuvi dan kegilaannya. Aku seharusnya tidak punya masalah apapun.
“Operasi: Interest Orchid, dimulai.”
Niira mengucapkan sebuah kalimat yang merusak kepercayaanku sepenuhnya. Ya, kita akan mati hari ini.
“Oke, Niira sudah bergerak.”
Alicia, yang tadinya ingin bertemu dengan orang tua dari Ivan, malah berakhir membantu kami, dan membiarkan Yuvi dan Zakiel berbicara dengan mereka. Suaranya dapat didengar olehku, namun Niira akan terlihat mencurigakan jika ia mengenakan earphone, jadi ia tidak mengenakannya. Namun, ia masih menyalakan alat perekamnya. Ponselnya juga masih merekam suara. Kami bisa mendengarnya, namun tidak sebaliknya.
Dari ucapannya barusan, seperti dugaannya, orang itu bukanlah bosnya. Ia memiliki sihir yang tidak mengalir itu, seperti orang yang sudah kulawan. Ia juga menginstruksikan aku untuk mengikutinya, dan bahwa dia aman. Dan aku berencana untuk menjaga dia agar tetap aman, jadi aku akan menjaga sedikit jarak.
Setelah mereka sedikit jauh, aku melompat turun dari atap tempatku mengamati keadaan, dan mengambil sepeda yang juga kupinjam dari Rika. Selain meminjam sepeda, aku juga meminjam pakaian; karena aku masih mengenakan pakaian olahraga sepanjang hari. Bahkan ia membiarkanku mandi di tempatnya, yang kini membuatku merasa hutang budi padanya.
“Jadi, ini harus berhasil, kita gak bisa membatalkan operasi bunga anggrek ini. Apa maksudnya ‘Interest Orchid’!?”, ucapku dengan sedikit kesal oleh nama operasi yang secara harfiah diterjemahkan menjadi bunga anggrek ini. Permainan kata-kata yang menyebalkan. Bahkan Yuvi bisa membuat nama yang lebih cerdas dari ini!
Sembari mengikuti mereka secara perlahan, mengikuti instruksi dari Alicia, kami mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh Niira.
“Sudah berapa lama kalian menjalankan ini?”
Ni...Niira, kamu sedang berbicara dengan salah satu agen sindikat peminjaman uang ilegal, bukan dengan sopir taksi online!
“Aku sih baru. Tapi si bos mulai dari dua tahun lalu, kata anak-anak yang lain.”
Dua tahun lalu? Berarti, bisnis mereka ini dimulai semenjak perang sipil dimulai dan selesai. Namun, uang dari mana?
Saat itu, terima kasih karena perang sipil yang terjadi, terjadi hiperinflasi yang mengacaukan ekonomi negara. Setelah perang berakhir dengan konyol—yang faktanya masih disembunyikan bahkan sampai saat ini—bank sentral berusaha memperbaiki masalah ekonominya. Namun bodohnya, negara kami kini mengalami deflasi. Maju kena, mundur kena.
Aku masih mendengarkan percakapan mereka sembari mengayuh sepeda ini, mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Kakiku agak pegal, namun siapa yang peduli.
“Pasti sulit mencari orang-orang yang menghilang setelah meminjam dari kalian.”
“G-gak juga. Bos selalu tau mereka dimana. Dan dia bakal nyuruh kami nangkep.”, jawab pria itu.
Ia benar-benar baru, ya? Dia membocorkan rahasia mereka dengan begitu saja. Itu, atau Niira benar-benar mampu menggodanya dengan suatu cara. Kegugupannya yang tidak hilang-hilang itu pasti menandakan sesuatu. Apa Niira menghipnotisnya? Aku tidak mampu menjawabnya. Aku mungkin akan menanyakannya.
“Belok kiri dalam seratus meter.” Suara Alicia berganti mengisi keheningan. “Setelah bertemu dengan bundaran, ambil lajur ketiga.”
‘Suaranya cocok untuk mengisi peran pengisi suara peta digitalku’, pikirku. Mungkin, jika ia ingin berhenti menjadi seorang hacker, aku akan menyarankannya menjadi pengisi suara.
Sejauh ini, mereka tidak berbincang hal apapun yang penting. Hanya seperti “Untuk apa uang sebesar itu” atau “Cara membayar” atau “Durasi”, hanya detil-detil yang tidak kami perlu ketahui, namun ia perlu itu agar ia terdengar seperti sungguhan. Niira tidak lagi terdengar seperti robot setelah ia mengetahui bahwa pria ini orang baru. Mungkin karena seharusnya orang yang mengunjungi situs ini terhipnotis, maka ia terdengar seperti robot untuk menipunya. Namun, setelah mendengar pria ini dan betapa ketidaktahuan dirinya akan pekerjaannya ini, ia mengurangi persona itu.
“Ruma? Niira berhenti. Kelihatannya mereka sampai. Sekitar 350 meter darimu. Ambil jalur kiri.”
Aku membelokkan sepedaku ke kiri, dan berhenti sekitar lima puluh meter dari mereka. Yang kami lihat di sana bukanlah seperti rumah gubuk yang menyeramkan, sebuah kantor tinggi yang memiliki kedok bisnis legal, maupun gudang kosong yang tak terpakai. Ini terlihat seperti rumah warga biasa. Dengan ukuran standar, memiliki dua tingkat dan kelihatannya juga ruang bawah tanah, cat berwarna putih dan hitam, dan lampu di dalam rumah yang terlihat menyala dari jendelanya. Jika Niira tidak menggunakan GPS, dan aku tidak menyadari bahwa tidak ada furnitur yang terlihat dari balik jendela itu, aku akan berkata pada Alicia bahwa kita mendapat lokasi yang salah. Namun, kelihatannya hasilnya akurat seperti yang ia berhasil lacak.
“Jadi, ini tempatnya? Kamu gak akan memerkosaku di hutan, tapi di dalam rumah?”
Ucapannya agak menyeramkan, namun sebenarnya ia menginstruksikan bahwa semuanya aman kepadaku. Ah, kenapa perkosa berarti aman, Niira!?
Aku berjalan sembari mendorong sepeda itu, mencoba mendekati rumah itu sedekat yang aku bisa, memainkan earphoneku untuk memberikan kesan seperti aku sedang mendengarkan lagu. Ini dia fase tersulitnya: Membuat bosnya mengaku.
“Ah, selamat datang. Seperti ucapannya, kamu memang terlihat cantik, nona.”
Suara yang berbeda datang dari dalam ruangan itu. Suaranya halus untuk seorang laki-laki. Bahkan, seperti anak-anak.
“Sayangnya, aku baru saja masuk usia legal sebulan lalu, jadi ucapan ‘cantik’ sebaiknya menjadi batas untukmu.”
Orang itu tertawa. “Baiklah, baiklah, kita akan berbicara bisnis, kalau begitu.”
“Kamu memiliki dua puluh juta Klair?”, tanya Niira, tanpa basa-basi sedikit pun. Aku bisa mendengarkan ketenangan dari balik suaranya, di tengah keributan dari pengawalnya yang berada di sekelilingnya.
“Dan apakah kamu meragukanku, gadis?”
“Nggak juga. Hanya, aku bingung bagaimana seseorang dapat memiliki uang sebesar itu di kantongnya.”
Dia tertawa lagi. Kali ini, tawanya terasa kering, seperti dipaksakan. “Ya, bahkan aku tidak mungkin menaruh uang sebesar itu di kantongku. Sebaliknya, aku meragukan kamu, gadis. Kamu menahan hipnotisku begitu saja. Kamu menggiring anak buahku untuk bertemu denganku. Untuk apa gadis seperti kamu membutuhkan dua puluh juta Klair?”
“Kupikir kamu bisa melihat orang itu dari wajahku. Kurasa tidak.”
Niira sedikit berpikir, aku bisa mendengar jeda itu. “Aku hanya membantu bisnis keluarga. Keluarga Rieko membutuhkan sejumlah dana untuk ekspansinya.”
“Darah keluarga Rieko... menarik.”, pria itu bahkan tidak terguncang sedikit pun mendengarnya.
“Ya, aku berdarah murni keluarga Rieko. Seperti sihir, bukan, mengingat seperti apa ayahku?”
Keluarga Rieko!? Dia adalah anak mafia? Berteman dengan siapa aku sebenarnya? Aku merinding begitu mendengar nama itu terucap dari mulutnya. Apakah ia benar-benar anak dari keluarga mafia yang menyeramkan itu? Mungkin itu hanyalah omong kosong yang ia ucapkan begitu saja. Namun, ada hal lain yang menjadi masalah.
Lagi-lagi, pria itu tertawa. Niira benar-benar sedang menghadapi bos mereka. Tanpa kusadari juga, pedang miniaturku sudah menyala-nyala merah dari tadi, merasa ia telah menemukan lawannya. Tunggu sebentar lagi, ya, bisikku pada pedang itu.
“Hei, Ruma. Aku baru aja mencoba mencari data pemiliknya. Rumah ini adalah salah satu dari rumah donasi yang dibangun pemerintah saat perang sipil selesai. Tapi, gambar rencana bangunannya sama sekali berbeda dengan apa yang kulihat di kameranya Niira. Dan rumah ini memakan dana terbesar dari seluruh proyek pembangunan kompleks pemerintah.”
“Seberapa besar?”, tanyaku.
“Sekitar seratus juta Klair? Walau ini dibuat saat inflasi terjadi, dana ini jauh lebih besar, bahkan untuk rumah yang berpenampilan seperti itu.”
“Dan dengan nominal seperti itu, kenapa gak ada yang mempertanyakannya!?”
Namun aku berpikir lagi. Saat itu inflasi sedang dalam kondisi terburuknya. seratus juta Klair bisa dibilang nominal yang cukup kecil, dibandingkan dengan sekarang.
Dengan kondisi saat ini, seratus juta Klair bisa digunakan untuk membeli tiga buah pulau, membangun sebuah istana, dan masih memiliki banyak kembalian untuk hidup selama tiga generasi.
“Baiklah, nona muda. Buktikan bahwa kamu adalah anaknya.”
Aku tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam, namun, itu tidak terdengar baik. Bagaimana caranya agar kedok Niira tidak terbongkar? Bagaimana cara ia tahu apakah Niira benar-benar anak keluarga Rieko atau tidak?
“Kamu sungguhan anak dari bedebah itu! Menakjubkan!”
A-apa? Bahkan aku tergugup di dalam hatiku sendiri. Memang Niira benar-benar hebat. Ia kelihatan seperti orang yang berpengalaman dalam penyamaran, ia sudah memikirkan setiap tindakan yang ia pilih. Atau jangan-jangan ia benar-benar...
“Namun tetap saja, aku tidak menyangka, benar-benar ada orang yang menantang limit pinjaman tak terhingga itu! Jika aku tidak mencantumkan ‘tanpa jaminan’ di situsku, aku akan membuatmu sebagai jaminan!”
Kita mendapatkan pengakuan pertamanya! Dan itu benar-benar terekam, bahkan tanpa Niira mengucapkan sepatah kata! Namun, hanya itu belum cukup untuk menahannya, dan Niira tahu itu, jadi ia tetap menggali.
“Oh, ya? Seperti orang-orang yang kamu tahan di bawah tanah, saat mereka tidak mampu membayar hutangnya? Itu terlihat seperti sebuah ‘jaminan’ untukku.”
“Ayahmu pun melakukan hal yang sama, kan, nona? Aku hanya berusaha untuk...meyakinkan mereka, bahwa bermain-main denganku dapat membuat mereka terkekang di sana. Bahkan aku memberi makan orang-orang menyedihkan itu!”
“Kau tahu? Aku tidak peduli. Kamu bisa meminjamkanku dua puluh juta atau tidak?”, Niira kembali menjadi gadis agresif yang tegas. Ayolah, Niira, kita hampir mendapatkan semua yang kita butuhkan...
“Bisa. Dan aku akan menyambungkannya langsung ke ayahmu. Ayahmu membantuku membuka bisnis ini, jadi aku akan memberi kalian keringanan waktu, namun hanya itu.”
“Ayahku membantu membangun usaha ini dan ia harus meminjam uang dari usaha yang ia ikut bangun. Ya, menabur garam dalam luka. Dan setelah kupikir ia cukup jantan...”, balas Niira.
Sial! Aku bergegas meninggalkan sepedaku, namun Niira kelihatan seperti ia tidak memiliki masalah apapun! Apakah aku menghampirinya, atau sebaiknya aku menolong orang-orang yang ditangkap terlebih dahulu?
“Alicia, sedikit perubahan. Hambat koneksi miliknya; Wifi, internet, server; apapun—sekarang!”
Itu menjadi ucapan terakhirku sebelum ponselku mati kehabisan baterai. Aku tidak lagi memiliki bantuan apapun sekarang. Aku berlari menuju rumah itu, namun aku baru menyadarinya.
Jadi, inilah kenapa Niira meminta bantuan. Sialan! Orang itu menaruh tameng yang mengelilingi seluruh rumah ini! Aku hanya menendang ke ruang hampa yang tidak bisa dilewati manusia itu. Namun yang terjadi adalah aku menabrak tembok tak kasat mata yang berdiri di sana.
“Tachi, aku membutuhkanmu sekarang, jadi keluarlah!”
Aku memanggil pedangku, dan seketika ukurannya membesar, jauh lebih cepat dari pagi ini. Aku mencoba memukul pembatas itu, menebasnya dengan Aura Slash, tak ada satupun yang berhasil. Sialan, aku harus menolongnya!
Ayo, Ruma... ingatlah apa yang sudah diajari kakek mengenai sihir. Semua hal yang pernah ia ajarkan padaku. Tiap patah kata yang pernah terucap olehnya. Namun, tidak ada yang muncul di kepalaku. Hanya sebuah siluet yang mengelilingiku, saat aku terjatuh karena kelelahan. Dan sekarang, hanya suara Niira yang teringat olehku, orang-orang yang diculik di bawah tanah yang butuh bantuanku, dan sebuah hutan dimana aku, Niira, dan Rika bertemu. Kenapa aku mengingat itu sekarang?
Aku berusaha mengumpulkan ketenanganku dengan napasku. Berjalan menyusuri garis di mana aura itu melingkar, aku mulai mengingat ucapannya tadi pagi.
“Tadi itu pertarungan yang keren.”, aku mengulang ucapannya.
Terik mentari sudah mendekati ufuk barat, jadi itu kurang lebih enam, sampai delapan jam yang lalu. Aku tetap berjalan mengelilingi sebagian rumah itu. Kemudian, aku melanjutkan kalimat selanjutnya, dan menemukan celah yang aku cari.
“Siapa yang tahu kalau tameng sihir itu rentan dari sisinya.”
*
Suara dentuman, pasir dan debu, bersatu menjadi sebuah kombinasi kegelapan yang menyesakkan. Asap, beserta serpihan dari tembok yang hancur lebur, beterbangan menyelimuti udara yang terperangkap oleh cangkang sihir yang telah meledak oleh energi miliknya sendiri. Arah angin telah menyelamatkanku. Serpihan itu menghembus ke arah selatan, mengikuti arah angin berhembus.
Tachiku masih menyala merah, mengaum dengan penuh kekuatan miliknya. Begitu pula aku, yang menerima kekuatan sihir milik tachi secara penuh, ikut menyala merah bagaikan terbakar.
Aura Shield. Skill pasif berupa tameng yang menyelimuti penyihir. Penyihir yang memiliki skill pasif seperti itu sangat banyak jumlahnya. Namun skill di tahap selanjutnya merupakan skill aktif, yang bisa dirapal. Skill ini akan membangun tembok berbentuk sepertiga lingkaran yang melindungi apapun yang ada di belakangnya. Meski tahap skill selanjutnya berbentuk lingkaran penuh, skill ini jauh lebih kuat. Jadi banyak orang yang memilih menggunakan empat buah dari sihir ini. Dan karena hanya ada sepertiga lingkaran yang tertutup, tentunya akan ada celah.
Yang aku kagumi hanyalah fakta bahwa Niira memprediksi bahwa hal ini akan terjadi. Ia berkata padaku tanpa ada alasan, bahwa tameng aura lemah di sisinya. Padahal tidak, tidak ada kelemahan pada sisi manapun dari tameng aura. Serang saja tamengnya dari sisi manapun sampai melemah, meski memang sisinya dapat membuat dampak yang lebih kuat karena jangkauannya lebih jauh—kenapa aku mengoceh soal ini?
“Permisi, di mana ruang keluhan pelanggan?”
Dia tertawa, dan akhirnya, ia bangkit dari kursinya. Ia duduk di tengah-tengah ruangan ini dengan hawa yang menyeramkan.
Barulah aku menyadari lagi, kenapa Niira tidak bertarung meskipun ia bilang ia mampu.
“Explosion Release!”
Orang itu meledakkan gelombang yang dahsyat, dan tertahan oleh tameng sihir miliknya. Menjadikan tekanan udara di dalam lingkaran ini meningkat secara cepat, memperburuk ledakan seperti bom yang diletakkan di presto bertekanan tinggi.
“Aura Shield!”
Aku menancapkan tachiku ke tanah. Tameng auraku langsung menyelimutiku, namun aku bisa melihat retakan yang terjadi pada auraku. Pedangku itu masih mengerti diriku, dan mendukung tamengku dengan sihirnya.
Namun Niira tidak bergeser sedikit pun. Bahkan ia tidak terguncang maupun terkejut. Ia bahkan tidak mengeluarkan senjata apa pun di tangannya. Gadis itu menahan ledakan itu tanpa bantuan apapun? Bahkan ledakan itu menggetarkan seluruh tubuhku.
Orang itu tertawa lagi. “Untuk merasakan ledakan auraku dan hidup tanpa segores pun, aku tidak sedikit pun meragukan keluarga Rieko, namun aku cukup kagum padamu, gadis kecil. Dan untuk kamu, darah Rieko, kamu cukup berani mempermainkan nama ayahmu.”, ucap pria itu.
“Apakah sekuat itu ledakan tadi?”, tanyaku.
“Ya, ledakan tadi sebenarnya setara dengan ledakan bom atom di negara Zikaria setengah abad lalu, dan diperburuk dengan kita berada di ruangan kecil yang dikurung dengan tameng sihir—bahkan rumah ini sudah rata dengan tanah. Jadi, ya, cukup mengagumkan.”
Niira yang justru menjawab pertanyaanku, tanpa merasa panik atau khawatir sedikit pun. Hei, jika kamu kagum denganku yang harus bertahan dari ledakan itu dengan perlindungan sebuah tachi, bagaimana denganmu yang bahkan tidak tergeser sedikit pun!?
“Dan untuk kamu, tuan Marten, ya, aku cukup berani untuk melakukannya. Bisa apa dia, memukulku?”
Barulah gerombolan manusia datang dari bawah tanah. Aku hanya beranggapan bahwa siapa pun orang yang dengan tidak beruntung berada di lantai atas sudah hancur menjadi abon. Sial, kenapa aku ingin makan abon hari ini??
Tubuh orang-orang itu tidak terlihat terluka. Ya, mungkin karena semua ledakan ini hanya mengarah ke atas, dan bukan ke bawah. Mereka semua mengenakan baju berwarna hitam, dan celana pendek. Tubuh mereka berotot, dan sebuah sihir kecil bisa kurasakan dari mereka.
“Ruma, kalau kamu mampu mengalahkan mereka semua, aku akan membantumu dan grupmu mengurus kasus Westernspy. Biar aku yang menangani orang yang satu ini.”
Aku hanya menggoyangkan tachiku sedikit, senyuman keluar dari mulutku.
“Tawaran yang menarik.”
Aku berjalan mendekati gerombolan itu. Semuanya entah menggunakan pedang panjang, menggunakan pistol, atau senjata lainnya. Namun, aku tidak bergeming sedikitpun. Mainan itu tidak akan sanggup melawanku sekarang!
Aku mulai berlari, mengayunkan pedangku secara horizontal. Satu orang, dua orang, tiga orang, mereka semua roboh dalam satu ayunan. Teriakan mereka sangat menyedihkan, bahkan aku sempat merasa kasihan pada mereka.
Salah satu orang itu berusaha menangkapku dari belakang. Aku menghantamnya dengan gagang pedangku, dan menebas lehernya. Syukurlah ia memiliki tameng sihir, aku tidak ingin melihat pertumpahan darah seperti itu sekarang.
Sebuah pisau menancap tepat di punggungku. Dengan segera aku menariknya, dan memperlihatkannya kemampuan regenerasi sihirku. Sebelum aku menancapkan pisau yang sama pada dadanya, dan menendangnya lebih dalam.
Aku naik ke atas orang itu, dan membelah tiga orang lagi dengan satu ayunan sebelum terjatuh.
Tiga tembakan ditembakkan ke arahku, dan satunya bersarang pada mulutku. Atau lebih tepatnya, kutahan dengan mulutku. Gerombolan ini terlalu lemah. Aku meludahkan peluru itu, dan menendang pistolnya dari tangannya. Aku menusuk tubuhnya, dan pedangku menembus tubuhnya dan menyerang temannya seperti sate.
Pistol itu mendarat di tanganku, dan aku menembak enam orang yang baru saja naik dari tangga sembari mencoba menarik pedangku.
Aku mundur beberapa langkah dari mereka yang tersisa, dan mengumpulkan kemampuan sihirku untuk satu skill yang sudah kucoba-coba.
“Dark Storm...”
Aku merasakan getaran yang dibuat oleh pedangku. Ia kembali menyala merah, mengalirkan semua energi miliknya menuju tanganku. Aku membuka mataku, memperhitungkan semua gerakanku. Adrenalinku memompa dengan cepat, mempercepat daya pikirku hingga ke batasnya.
“—Release!”
Aku dan tachi berputar-putar bagaikan tornado, mengiris semuanya bagaikan sebuah angin puyuh. Dan siapa pun yang terhisap ke pusaranku, mungkin mereka tidak akan melihat mentari lagi.
Aku sudah kehilangan hitungan berapa banyak orang yang tertarik ke pusaran Dark Storm milikku. Aku merasakan putaran itu melambat, dan aku menghentikan gerakanku dengan menapakkan kakiku. Ah, sial. Kepalaku terasa seperti masih berputar. Meski begitu, gerombolan itu sudah tumbang seluruhnya tanpa perlawanan yang berarti.
Dan pria paruh baya itu baru saja mau bertarung melawan Niira—bahkan mereka belum mengadu sihir mereka.
“Memangnya pertarungan sihir selama itu ya?”, tanyaku pada Niira.
“Iya bodoh. Sihir juga harus dipersiapkan dulu. Dan baru satu menit sebelum kamu menumbangkan mereka.”, ucap Niira kesal. Ia masih tidak memegang senjata apapun.
“Orang-orang tak berguna—bangun!”, ucap laki-laki itu dengan kesal.
Aku menyiapkan tachi milikku di depan dadaku, bersiap dengan kuda-kuda bertarungku. Kepalaku masih terhuyung-huyung karena putaran itu. Aku tidak akan menggunakan skill ini lagi sampai aku tahu cara menghindari pusing ini.
Sekarang, tinggal dua lawan satu. Pertarungan seperti ini sudah bukanlah mengenai keahlian satu orang lagi. Dan melihat kemampuan kami yang tidak seimbang, ini hanya tentang ‘siapa yang akan lebih bodoh dari yang lain’. Dan pria ini, ia bukanlah orang bodoh.
Aku tidak bisa bermain dengan ceroboh. Aku menoleh pada Niira. Apakah ia menanggapi pertarungan ini dengan serius? Bahkan, mereka berdua tidak membawa senjata—Oke, aku akan menarik itu kembali.
Laki-laki itu mengangkat tongkatnya, yang ternyata memiliki kemampuan bersembunyi seperti pedangku. Dan hanya dengan satu ketukan, cahaya mentari yang menyinari kami hilang, seakan seseorang mematikan saklar pada sinarnya. Bagaikan sebuah gerhana, langit yang kami lihat hanya berwarna merah dan ungu.
“Ayo, Niira. Mari kita bertarung tanpa cahaya.”
Niira hanya berdiri dengan tenang di sana. Ia sama sekali tidak terlihat gentar.
“Pak tua, kamu mau bermain sama gadis muda dalam kegelapan? Aku akan menelepon polisi sekarang.”
Apakah Niira benar-benar menyukai humor kotor seperti itu? Aku hanya melirik wajahnya yang kelihatannya benar-benar tertawa atas leluconnya itu. Sebagai seseorang yang menyukai seni dari sarkasme, aku tidak punya hak untuk berkomentar.
Pria tua itu hanya memberikan senyuman mengerikan itu dari bibirnya. Entah mengapa, aku merasa itu adalah caranya untuk berkata ‘Ya’.
Partikel-partikel debu bertebaran. Sinar mentari tertutupi oleh gerhana merah. Menghiasinya, aurora berwarna merah dan ungu yang melingkari penjuru kota ini, menutupi langit dengan warnanya yang mencekam. Api tiba-tiba berkobar-kobar di sekeliling reruntuhan bangunan ini, yang tidak memperindah suasana sama sekali. Kengeriannya menusuk tulangku, seakan memintaku untuk lari.
Laki-laki yang berada di hadapan kami ini kelihatan lebih tua dua kali lipat dari umur kami dijumlah. Aliran sihirnya yang luar biasa itu bagaikan ingin menelan kami bulat-bulat, yang sangat mengkhawatirkanku. Bahkan tongkat sihirnya mengeluarkan aura kegelapan yang kuat. Ya, jika satu ketukan mampu untuk menghentikan sinar mentari, aku tidak mampu membayangkan satu ayunannya.
Aku tidak pernah terlibat dalam adu sihir sebelumnya. Bahkan, aku tidak pernah menggunakan sihir murni seperti dengan Pengucapan atau semacamnya. Yang kulakukan hanyalah mengalirkan energi ke tachi milikku, dan memberikan visualisasi keinginanku padanya. Bukan adu penyihir seperti ini.
“Ruma.”
Gadis itu berbisik, menarik keluar kalung dari lehernya. Kalungnya terlihat menyala sinar putih bak rembulan. “Kita hanya perlu memperlambatnya.”
Aku hanya mengangguk. Tachiku menyala-nyala merah, bersiap untuk bertarung. Aku berdiri dengan pose bertarungku. Tachi berada di depan tubuhku, memberikannya segenap kemampuanku yang tersisa.
Laki-laki itu mulai mengayunkan tongkatnya. Tanpa kusadari, ayunan itu sudah menghantam kami berdua, melontarkan kami pada pembatas transparan yang ia bangun tanpa mengeluarkan energi apapun.
“Hahahaha...! Kalian mencoba melawanku? Dengan kemampuan menyedihkan kalian? Naif.”
Ia berlari secepat kilat, menerobos ruang yang ada antara kami dengan sekejap. Kami berhasil menghindar tepat waktu, namun serangan itu merusak separuh dari tameng di tubuhku. Aku hanya perlu mengulur waktu, ucapnya. Namun saat ini, apakah kita bisa mengulur waktu bahkan sedetikpun? Bahkan walaupun kami berhasil mengulur waktunya, bukan berarti kami akan pulang tanpa luka.
Apa kita mungkin akan bertahan lima menit dalam pertarungan ini? Aku sungguh meragukannya. Siapa orang yang mampu menghentikan aliran sihir sebesar ini, hingga aliran kekuatannya mampu meradiasikan dirinya sendiri?
“Kamu yang naif, pak tua.”
Niira berdiri dengan sedikit terhuyung. Rambutnya berantakan oleh debu-debu yang berserakan. Aura putihnya terlihat mulai memudar. Namun, cahaya lain datang darinya. Sebuah sinar kuat, yang membuat rambut keemasannya terlihat seperti berwarna putih.
“Kamu nggak sadar dengan pedangnya? Kamu melawan seorang Death Awakener.”
Itu adalah ingatanku sebelum aku tertidur.
*
Aku terbangun di sebuah kamar berwarna merah muda, dengan lampu yang menyala terang benderang. Ada empat, lima, enam orang yang duduk di hadapan ranjangku, tidak menghadapku sama sekali. Wajah mereka terlihat kabur-kabur, dan sekuat apapun aku mencoba, aku tak mampu melihatnya dengan jelas.
Aku mengerang kesakitan, punggungku kesulitan untuk bergerak. Mataku terlalu kabur untuk melihat mereka, dan telingaku hanya samar-samar mendengar suara mereka.
“Oh, Ruma sadar!”
Suara yang sangat familier datang ke telingaku, menyebut namaku dengan lantang. Orang-orang yang berada di sekitarnya mulai menoleh padaku, melihat wajahku.
“K-kalian...?”
Otakku masih kesulitan untuk berpikir. Kepalaku masih berdenyut denyut, dan kurasa leherku keseleo. Namun aku cukup yakin, suara itu adalah suara Yuvi. Dan suara itu...
“Selamat sore, Ruma!”
Itu adalah suara milik Alicia, terdengar seperti meledekku.
“Ini dimana?”
Aku bisa menyatakan dengan pasti bahwa ini bukanlah kamarku. Pertama, cat kamarku tidak mungkin berwarna merah muda. Aku juga tidak memiliki kasur sekecil ini. Namun, orang yang kemungkinan menyukai warna merah muda pertama yang bisa kuingat...
“Kamarku, hehe!”
...adalah Alicia? Aku benar-benar berpikir kalau aku ada di kamar Niira! Kenapa aku bisa berada di rumah Alicia? Apa yang terjadi dengan pertarungan itu? Aku kembali mencoba untuk bangkit dari kasur itu, namun kepalaku makin terasa sakit saat aku melakukannya.
“Aaaah, Ruma! Aku baru aja benerin aliran sihirmu...”, keluh Niira, saat ia menghampiriku. “Kamu melepas terlalu banyak sihir saat itu, dan kamu kena magic deficiency!”
“Apa... yang terjadi?”
Niira mulai menceritakan semua yang aku lupakan saat itu.
**
Debu-debu itu memasuki paru-paru dan mataku. Meskipun aku berusaha untuk menghalau itu semua dengan sihir milikku, namun tidak ada efeknya sama sekali.
Gadis yang berada di sampingku terlihat sangat cemas, meski ia bersama dengan fragment nodachi miliknya yang kelihatan menyala-nyala. Mata berwarna coklat dan merahnya menatap lurus ke laki-laki tua itu, bersiap menghadang apapun yang dikeluarkannya.
Namun, gadis itu terlihat sama sekali tidak tahu pertarungan sihir. Dan dengan pengalamannya bersama nodachi itu yang singkat, aku merasa sedikit ragu dengan kemampuannya menghadapi orang ini. Meskipun begitu,
“Ruma,”
Bisikku pada gadis itu. Tubuhnya terlihat sangat tegang menatap orang itu. Ia kelihatannya mengetahui dengan jelas makhluk seperti apa yang dia lawan. Mungkin saatnya aku memanggil kemampuanku itu? Tidak, ini bukan waktunya.
Aku menarik kalung itu dari leherku. Berlian yang berwarna merah terang itu sudah menanti. Namun, energi yang ia miliki masih belum cukup. Hanya sedikit lagi... sedikit lagi, dan kita bisa menghentikan semua ini. “kita hanya perlu memperlambatnya.”
Aku mengalirkan semua fokusku pada berlian tersebut. Berlianitu mengeluarkan sebuah hawa panas, menelan semua energi yang kumiliki dengan cepat. Cepatlah... cepatlah. Hambat dia, Ruma. Aku membutuhkan kekuatan penuh milikmu!
Gadis itu masih berdiri dengan pose bertahannya, bersiap menahan serangan apapun yang orang itu beri. Namun, fragment itu masih belum mengenal pemilik barunya dengan baik. Bukannya bertahan, fragment itu justru menyerap energi milik pemiliknya untuk menyerang.
Ya, kurasa mereka baru menjalani pertarungan yang nyata hari ini, jadi ini seharusnya ini sesuai dengan ekspektasiku, mungkin lebih. Bahkan fragment itu sudah mulai bertarung untuk pemiliknya dengan keinginannya sendiri.
Orang itu mengayunkan tongkatnya, mengalirkan kegelapan yang ia dapat dari gerhana itu ke sebuah wujud semu. Bagaikan gelombang ledakan, ia melontarkan serangan jarak jauh hanya dengan satu ayunan saja. Aku bisa melihat kedatangannya, namun aku sama sekali tidak dapat menepisnya. Yang aku bisa lakukan saat ini hanya menghindar...ah, ayo lekas! Tinggal sedikit lagi!
Meskipun sihirnya itu membuat sebuah wujud semu, bukan berarti kita tidak akan menerima energi apapun. Dengan mudahnya kami terlontar terpelanting seperti kaleng kosong yang dihantam kereta.
“Hahahaha...! Kalian mencoba melawanku? Dengan kemampuan menyedihkan kalian? Naif.”
Dengan kecepatannya yang luar biasa, ia kembali berlari, berusaha menghantam kami dengan tongkatnya. Terima kasih kepada kekuatan yang diserap oleh nodachi itu, ia memberikanku lontaran kecil untuk menjauhkanku dari area dampaknya. Kelihatannya fragment itu baru saja melindungiku.
“Kamu yang naif, pak tua.”
Liontin itu bergetar, dan seakan memiliki jiwanya sendiri, melepaskan dirinya dari tali yang mengikatnya. Sinar putih menguasai warna merahnya. Berlian ini benar-benar menguras energiku. Dan tanpa sinar bulan yang menjadi sumber kekuatanku, tingkat pemulihanku tidak akan bekerja sepenuh yang aku mau. Namun, ini sudah lebih dari cukup.
“Kamu nggak sadar dengan pedangnya?”
Berlian itu menyinarkan cahaya yang terang benderang, sebelum kembali berubah menjadi warna merah yang membakar.
“Kamu melawan seorang Death Awakener.”
Aku melemparkan berlian itu. Sinar yang menyilaukan mata itu menembus langsung pada tubuhnya, masuk ke dalam tubuhnya.
Saatnya mengenalkan Ruma yang baru pada dunia.
**
Aku kini mengingatnya.
Tachiku, meluap oleh api yang menyelimutinya karena jumlah energi yang besar—tidak. Mungkin ia sudah menahannya untuk waktu yang cukup lama. Hanya aku yang tidak pernah mampu melepaskannya.
Aku tahu sejak awal seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh tachi itu. Namun aku yang tidak pernah terlibat perang mana pun tidak akan mampu menguasai kekuatannya secara penuh.
Warna merah itu berubah menjadi bara api yang hitam legam. Hitamnya tachi itu sangat pekat—seperti malam tanpa sinar bulan. Amarahnya mengalir ke tangan kananku, menembus ke tulang-tulangku.
Pria itu tidak diam di sana. Ia mulai berlari ke arahku dengan kecepatan kilatnya. Namun, tachiku tidak tinggal diam juga. Ia bergerak, dengan kemauannya sendiri, menangkal ayunan tongkat itu. Getaran bekas hantaman itu mengguncang tanah tempat kami berdiri, dan ia terpukul mundur.
Aku melompat mundur ke belakang juga, mengambil jarak antara kami berdua. Akhirnya, aku memijak tanah dan bukan reruntuhan. Aku memfokuskan aliran energiku pada tachi itu. Namun, sepertinya itu tidak dibutuhkan untuk saat ini.
Kakiku berlari sendiri menuju pria itu. Satu, dua, tiga ayunan dibuatnya. Percikan api memecah belah kegelapan ketika senjata kami beradu. Aku mendorong tongkat itu ke atas, dan menghantam perut pria itu dengan lututku. Itu tidak akan membuat kerusakan yang besar pada pelindungnya. Namun, melihat reaksi mundurnya, ia jelas merasakannya.
Aku kembali berlari, membelah udara dengan tachiku. Membuat sebuah garis lurus, dorongan udara tachi ku membelah batu yang ia buat untuk menahan seranganku.
Aku membuat ukiran bintang dengan jari telunjukku. Bagaikan garis semu, semuanya terukir di mataku—wujudnya bagaikan sebuah tanda bintang. Bintang yang akan menelan semua cahaya.
“Be engulfed by the darkness...”
Pria itu tidak tinggal diam, dan menghindar ke belakang. Kecepatannya sangat luar biasa. Dan aku yakin, itu bukanlah kekuatan penuhnya.
Namun pria tersebut menabrak sebuah tameng sihir sebelum ia mampu menghindar. Niira tentunya, yang dari tadi duduk manis, ternyata mau ikut ke pertarungan kami. Ia membuat sebuah tameng sihir yang menahan orang itu untuk menghindar.
“Night Storm—Release!”
Skala skill ini jauh lebih besar dari apa yang aku bayangkan. Sebuah garis gelap yang sangat besar, mengikuti arah pedangku bagaikan sebuah garis orbit. Bahkan, ukurannya mampu untuk menutupi semua yang menyinari ruang sihir ini dengan kegelapannya. Bagaikan sebuah meteor, ia mulai menghujani tempat kami berdiri, namun berputar di atas pedangku yang mengacung tinggi. Aku melompat, memberikan arah yang jelas pada semua kekuatan itu. Dan menghantamkan pedangku pada bedebah itu.
Ayunanku menghantam tepat ke bahu kanannya. Begitu pula dengan bintang itu, yang jatuh dan menelannya. Aku merunduk, mengarahkan ayunan kedua pada pinggangnya ke atas. Pria itu berusaha menahannya dengan tongkat sihir itu tanpa hasil. Sebuah ledakan keras menghempaskan semua kecuali kami dan senjata kami. Aku memundurkan pedangku, kembali memutar untuk mendapatkan momentum.
Ia mengambil kesempatan itu. Dengan tongkatnya, ia menghempaskanku ke belakang dengan seluruh tenaganya. Bintang kegelapan itu seketika hilang tanpa jejak. Yang tersisa hanyalah jejak-jejaknya yang mulai pudar. Tubuhku terpental, membentur beton jalanan tanpa apapun yang menghentikanku. Gaya gesek menyeret tubuhku beberapa meter, sebelum terhenti oleh batu besar dari reruntuhan rumah.
“Sudah kubilang. Naif.”
Aku mencoba bangkit, menggunakan batu itu sebagai pegangan.
Dan aku tersenyum.
“Itu dia, pak tua. Naif.”, ucapku, tanpa menghilangkan senyum itu dari wajahku.
Energiku cukup terkuras oleh skill gagal tadi, membuatku mengalihkan semuanya ke pemulihanku.
“Anak remaja memang begitu. Mereka naif. Berpikir bahwa apa yang mereka lakukan dapat membuat sebuah perubahan pada dunia. Oh, tapi bukan itu yang aku lakukan. Aku tidak mencoba mengubah dunia. Aku hanya mencoba menghentikan aliran sihirmu.”
Suara retakan terdengar sangat lantang. Di setiap retakannya, sedikit cahaya terang menembus langit merah yang menutupi kami. Di setiap detiknya, suara retakan itu makin lantang, dan makin cepat. Ia mulai menyadarinya setelah merasakan sakit di bahunya memenuhi seluruh tubuhnya.
“UWAAAAAAAGH!!!!”
Ia berteriak penuh amarah. Namun, sudah tidak ada gunanya untuk itu.
Night Storm bukanlah skill pedangku, namun skill pedang kakek Yuvi. Keunikannya, skill ini hanya mampu melumpuhkan, dengan cara membalikkan aliran sihir mereka dan membuat alirannya terhenti. Dampaknya sama seperti magic deficiency: Melemah, tidak mampu mengeluarkan sihir, sakit kepala yang luar biasa, dan terburuknya: Pingsan. Aku tidak perlu membunuhnya.
“Bagaimanapun juga, aku hanya perlu memperlambatmu.”
Semua pelindungnya akhirnya luruh. Semua kegelapan yang ada di langit, luruh tanpa sisa begitu ia terjatuh.
Pria tua itu mencoba bangkit kembali, namun, ia sudah terlambat.
“Lepas tembakan!”
Suara senapan otomatis dengan lantang mengisi keheningan yang mulai mengisi telingaku. Suaranya terdengar seperti samar-samar. Seakan senapan itu berada di bawah air. Aku juga tidak mampu melihat siapa mereka. Yang aku lihat hanyalah garis-garis abstrak, dengan sinar berwarna oranye dan biru berkedip-kedip. Ah, kelihatannya mereka adalah bala bantuan. Energi yang ada di kaki dan seluruh tubuhku sekejap menghilang. Begitu pula indera dan tubuhku.
**
“Dan setelah para pasukan dari Divisi Khusus datang, kamu pingsan begitu aja! Untungnya, ayah Alicia bisa datang menjemput kita!”, ucap Niira.
Ah, benar juga. Tapi itu menggangguku—aku tidak merasa melakukan itu. Ingatanku itu lebih terasa seperti menonton, daripada melakukannya. Apa itu?
“Oh, ya.”, ucapku.
Aku langsung menggenggam tangan gadis itu dengan segenap tenagaku yang memulih. Tangannya mulai memerah, dan wajahnya terkejut. Aku memberikan tatapan membunuh yang aku miliki, dan dia terlihat panik.
“Jelaskan apa yang kamu lakukan padaku tadi.”, ucapku tegas.
“Awawawa—oke, oke! Nanti aku kasih tahu! Sabar!”
Aku melepaskan genggamanku.
Namun, ada satu bayangan lagi yang belum kuketahui. Ia belum menengok ke arah sini, namun melihat dari rambutnya saja, aku bisa menebaknya. Kenapa ia ada di sini? Orang itu akhirnya menoleh ke arahku.
“Ah, Nona Neiki.”
“Pak Kepala Sekolah!? A-Bagaimana bapak—“
“Aku bisa berada di sini, karena ini rumahku juga.”
Tunggu, tunggu. Apa yang ia maksud? Apa dia ayah dari Alicia? Namun benar juga, aku belum pernah mendengar nama belakang Alicia sebelumnya. Apakah itu berarti—
“Jangan khawatir, Ruma, bukan hanya kamu yang terkejut. Hampir semuanya terkejut. Kecuali Niira. Dan Alicia, tentunya.”, ucap Yuvi.
Kakek tua itu tertawa. “Dan kupikir kalian sudah berkenalan cukup lama, mengingat bahwa kalian bekerja sama dengan cukup baik. Mungkin sebaiknya, kalian berkenalan ulang?”
Bekerjasama dengan baik? Kurasa itu pernyataan yang cukup subjektif. Niira hanya mengeluarkan satu skill sepanjang pertarungan. Alicia membimbingku, ya, dia adalah MVP. Erika adalah korban. Yuvi dan Zakiel, mereka mengurus hal yang lain dan aku tidak pernah melihat mereka sepanjang hari. ‘Bekerjasama dengan baik’ mungkin kurang tepat. Namun persetan dengan semua itu, aku hanya seseorang yang mengalir mengikuti arus.
“Oke, kalau begitu aku akan mengenalkan diriku dari awal.”, Alicia memulai perkenalannya untuk yang kedua kali. “Namaku adalah Alicia Reater. Aku siswi kelas 1-A, seperti Yuvi, Ruma, Niira juga. Kurasa, hanya Zakiel dan Rika yang berbeda kelas.”
Kini Erika, yang sebenarnya tidak terlibat apa-apa dengan kita, yang mengenalkan dirinya. Aku pun bisa melihat raut wajahnya yang bertanya-tanya, ‘Kenapa aku disini?’, tapi ia tidak bisa lari.
“Um... namaku Erika Izabelle. Aku kelas 1-F. A-aku yang dibantu Ruma dan Niira tadi pagi, jadi mungkin ini bukan—“
“Santai aja, santai aja!”, Niira berucap lantang sembari merangkul bahunya. “Aku juga baru ketemu Rumi tadi pagi!”, ucapannya sedikit menenangkan Rika, namun ia terlihat seperti orang bingung yang mengikuti komplotan yang salah. Benar-benar ekspresi orang tersesat. Namun Niira dengan gaya santainya dapat mengurangi dampaknya. Dan kenapa Niira sangat suka mengubah-ubah nama orang!?
“Aku Haniira Rieko. Ya, aku memiliki hubungan darah dengan Randolph Rieko, si mafia menyeramkan dan segala macamnya itu. Ya, aku kelas 1-A. Ruma gak sempat kenal aku, tapi dulu aku sempat sekelas dengan Yuvi saat SD.”
“Ya, sampai kamu pindah tiba-tiba!”, keluh Yuvi. “Aku Yuvi Arata. Salam kenal!”, ucapnya, sembari memukul dadanya dengan kepalan tangannya, seperti semacam tanda hormat.
“Aku akan meniru kalimat singkat, padat, dan jelas milik Yuvi, kalau begitu. Aku Zakiel Herio, kelas 2-A. Salam kenal.”
Mereka semua terdiam sejenak. Setelah beberapa detik kekosongan yang canggung, barulah aku menyadari bahwa mereka menungguku.
“Oh, giliranku?”, tanyaku, yang sebenarnya sudah kujawab sendiri.
“Aku Ruma Neiki. Nah, setelah kita berkenal-kenalan lagi, apa ada sesuatu yang kalian diskusikan saat aku pingsan?”
Semuanya terdiam sejenak. Apakah kita dalam masalah? Apakah ini karena aku menolong Rika tadi pagi dan siang ini? Ekspresi mereka acak-acakan, aku tidak bisa menyimpulkan apapun darinya.
Namun kepala sekolah akhirnya memulai percakapan yang kelihatannya tidak menyenangkan ini.
“Ini soal sekolah. Sekolah kita sebenarnya, dalam masalah yang cukup rumit.”
Wajah Alicia pun terlihat pahit. Dari semua orang yang ada di ruangan ini, ekspresi Alicia lah yang paling mudah dibaca.
“Masalah mengenai Ivan, pak?”, tanyaku.
“Benar.”, ucapnya tegas.
Ia sama sekali tidak berekspresi. Ia tidak terlihat marah seakan kita dalam masalah, namun ia juga tidak terlihat seperti ia berencana memberikan berita yang baik.
“Polisi menduga...bahwa ia tidak melompat oleh kehendaknya. Bukti-buktinya berkata bahwa ia didorong. Namun, rekaman video hanya menangkap kalian bertiga: Yuvi, Ruma, dan Zakiel, pada sepuluh menit sebelum kejadian, dan kamera itu mati tiba-tiba.”
“Namun, saat itu kami mencoba bertemu dengan Zakiel!”, ucapku. “Saat itu, kami mencari Zakiel ke seluruh sisi sekolah, namun kami menemukannya saat ia mencoba melompat dari gedung!”
“A-aku, mencoba melompat dari gedung?”, tiba-tiba, Zakiel kebingungan. “Aku tahu bahwa kalian mencariku di hari itu, tapi, melompat dari gedung?”
“Apa yang kamu maksud, Zakiel? Ruma harus menendang perutmu agar kamu mundur dari tepian gedung.”, ucap Yuvi.
Bagaimana ia lupa bahwa ia berencana melompat? Wajahnya terlihat kebingungan saat ia mendengar pernyataanku. Namun, Yuvi, yang saat itu bersamaku, dan Niira, yang aku cukup yakin juga berada di sana, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Zakiel, kamu lupa? Kamu mencoba melompat dari gedung dengan cara yang sama dengan Ivan. Bahkan, kamu menangis-nangis entah mengapa.”, Yuvi melanjutkan ucapannya. Zakiel menoleh ke arahnya, wajah yang penuh kebingungan masih tertulis di sana. Dan anehnya, ia terlihat benar-benar tidak tahu apa-apa.
“Aku juga melihatnya.”, ucap Niira. Seperti yang sudah kuduga, ia berada di sana juga. “Sebenarnya, akulah yang memastikan supaya gak ada orang yang liat kalian di sana. Dan aku melihat saat Zakiel tiba-tiba naik ke pinggiran gedung, namun, sebelum aku bisa mencegahnya, kalian berdua datang duluan.”
Ia menoleh padaku dan Yuvi, yang memang datang di saat yang tepat saat itu. Kemudian ia melihat pada Zakiel, yang mulai memegangi kepalanya karena kebingungan.
“Zakiel, kamu benar-benar gak ingat?”
Ia menggelengkan kepalanya. Ia mencoba berpikir dengan keras saat itu, berusaha mengingat. “Aku ingat, kok! Saat itu aku bermain game di ponselku sampai lelah, lalu—“
“Bermain game?”, potong kepala sekolah, pak Revan. “Jangan bilang bahwa game yang kamu maksud adalah game yang dibuat dari klub itu, ‘Zombie World’?”
Kita semua tidak mengerti dengan pertanyaan yang ia berikan.
“Ponsel Ivan juga ditemukan di atap, aplikasi terakhir yang ia buka adalah Zombie World. Polisi menyelidiki aplikasinya, namun mereka tidak menemukan kaitan apapun, jadi mereka mengabaikannya.”
Kaitan macam apa itu? Dua orang mencoba melompat dari gedung, salah satunya berhasil, dan kaitan antara mereka berdua adalah sebuah game indie buatan anak SMA yang kebetulan menjadi viral? Dengan alasan apa orang mau melompat dari gedung untuk itu, save-nya terhapus?
“Buat apa orang lompat buat game itu, save-nya kehapus?”, Niira menculik kata-kata dari pikiranku.
“Meskipun begitu, kaitan adalah kaitan, seberapa anehnya itu. Dan sekarang kita tahu, kalo orang bisa menghipnotis melalui internet.”, ucap Yuvi.
“Dan kita tau ke mana kita harus mencari pertama kali... meskipun merepotkan. Ada yang bisa mengingatkanku, kenapa kita melakukan ini?”, tanyaku sungguh-sungguh. Apa sebenarnya alasan kita melakukan ini? Apa ini sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh lima, enam orang siswa SMA yang bahkan baru berkenalan?
“Perlukah saya ingatkan, bahwa kamu dan Yuvi menjadi tersangka utama dalam kasus ini?”
“Apa!?”, kami berdua terkejut mendengar pertanyaan pak Revan. “Tapi, pak, kami berdua sudah turun dari atap setelah bertemu Zakiel! Bahkan Alicia tahu soal itu!”
“Namun kamera itu mati setelah kalian berdua datang. Itulah kenapa polisi mencurigai kalian. Dan itulah sebabnya kamu langsung dibawa oleh Alicia dan kawan-kawannya dari Divisi Kasus Khusus menjauh dari sana.”
Aku mencium hal buruk dan rumit yang tadi diucapkan oleh pak Reater akan datang ke telingaku. Dan kelihatannya itu lebih buruk dari yang kuduga.
“Dan itu juga alasan kenapa Anda menunjukkan berkas yang kemarin itu pada kami, pak?”, tanya Yuvi.
Pria itu mengangguk.
“Kelihatannya kalian telah dijebak. Dan orang yang melakukannya sama sekali bukan orang amatir. Bahkan mungkin polisi juga ikut terlibat dalam konspirasi ini. Jika orang-orang dari Divisi Khusus sampai turun tangan...”
Pria itu memejamkan matanya. Menarik napasnya secara perlahan, lalu membuangnya. Kemudian menatap pada kami semua.
“Sebenarnya, ada permintaan dari saya untuk kalian semua.”
*Raavi's Afterwords!"
Halo! Aku sekarang mulai memindahkan Silver Butterfly ke blog ini, namun hanya yang sudah komplit saja. Aku akan memperbarui blog ini terlebih dahulu sebelum melakukan update di Wattpad. Kenapa? Karena Wattpad agak sedikit menyebalkan rasanya. Dan di sini, aku tidak tahu seberapa banyak orang yang sudah membaca cerita ini (yang kurasa mendekati nol), jadi aku tidak merasa sedih karena tidak ada yang membacanya! Ya, cerita ini memang sampah, jadi sewajarnya tidak ada yang membacanya. *Sigh* Mungkin aku juga akan membuat cerita baru di sini juga.
Edit 1: Aku tidak tahu caranya membuat Post title. Ternyata ada di atas. Dan aku baru tahu kalau di blog juga ada viewcount, dan aku yakin aku akan terganggu melihatnya. Persetan.
Edit 2: Astaga, ternyata editingku tiba-tiba berantakan, dan banyak komentar-komentar konyol bekas Author tersisa. Note to self: Jangan langsung copy-paste dari Microsoft Word ke Blogger. Sialan.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk meninggalkan komentar yang membangun! Komentar kamu bisa membantuku mengembangkan kemampuanku lebih jauh lagi, dan komentarmu juga membuatku yakin kalau ada yang baca blogku...